Ambareesh termangun sejenak saat melihat Bianca yang tertidur dengan pulas di kasurnya setelah menghabiskan makanannya. Sebenarnya, Ambareesh merasakan sesuatu yang menganjal dihatinya. Ambareesh melihat Bianca seperti melihat adik perempuannya. Dia kasihan kepada Bianca.
Dia mulai mengambil selimut lain dan tidur di bawah.
Pagi hari, Ambareesh terbangun. Dia terbangun karena ada tangan yang dingin masuk kedalam pakaiannya dan memeluk pinggangnya.
Wajah Ambareesh sangat datar, hingga aku sendiri tak bisa mengekspresikannya.
"Hei! Bangun!' Ambareesh melepas tangan mungil itu dari perutnya.
"Mmm...."
"Dia seorang Putri, lalu bagaimana bisa dia sampai disini?" Ambareesh duduk dan melihat Bianca.
Rambut Bianca kembali menghitam ekornya juga menghilang. "Bagaimana bisa dia berubah secepat itu?" Gumam Ambareesh kemudian dia masuk ke kamar mandi.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh keluar dari kamar mandi dan melihat kamarnya yang sudah sepi. "Eh? Dimana Putri Siluman itu?" Ambareesh melihat sekeliling kamarnya yang sepi dan menutup pintu kamar mandinya.
"DOR!!!!!!"-"SWINGGGGS!!"
Bianca ternyata bersembunyi di belakang pintu itu dan mengejutkan Ambareesh dengan teriakannya. Tentu saja Ambareesh kaget dan dia refleks mengayunkan pedang mana birunya ke arah Bianca.
Ambareesh melihat mata Bianca yang hitam dan cerah. Dia menghilangkan pedang mananya. "Jangan mengejutkanku seperti itu. Kau bisa mati" Ucap Ambareesh sambil mengaruk tengkuknya.
Bianca berkaca-kaca. "Maaf... Maaf... Maaf..." Dia merentangkan kedua tangannya dan berjalan ke arah Ambareesh kemudian memeluknya.
"Menyebalkan! Jangan memelukku! Lebih baik! Kau mandi saja!" Ambareesh menarik pakaian Bianca agar dia melepaskannya. Kemudian, memasukkan Bianca ke kamar mandinya.
Ambareesh membuang napas panjang.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh berjalan kelur dari kamarnya setelah mendapatkan sarpan dari Wadlle. Seperti kemarin, Bianca menempel padanya. Baju Ambareesh yang kebesaran saat dipakai oleh Bianca langsung ditarik oleh Ambareesh agar melepas pelukannya. "Aku gak bisa jalan!" Tegas Ambareesh sambil berusaha menarik tangan Bianca.
Ambareesh menyerah dengan hal ini. Dia membiarkan Bianca melakukan hal sesuka hatinya. Baik itu menarik-narik tangan Ambareesh, memanjatnya, menendangnya, memukul perut dan pungungnya, serta apapun itu. Ambareesh mengelus dada sambil membatin "Sebenarnya, kau itu seorang Putri atau Dokter sialan itu, membohongiku?"
Ambareesh melihat Wandlle datang sambil membawa Objek 269 dalam keadaan terikat diatas ranjangnya.
Objek 269 adalah anak laki-laki berusia 14 tahun. Satu tahun lebih tua dari Ambareesh. Objek 269 berbangsa Manusia murni. Wandlle membelinya dari ayahnya yang merupakan tukang judi dan pemabuk. Wandlle membeli objek itu, seharga 40 koin emas tanpa penawaran.
Awalnya, objek itu memberi reaksi tubuh yang sama seperti objek lain. Mengalami koma selama hampir tiga bulan. Kemudian, Objek tersebut bangun dalam keadaan iris merah yang tandanya, obat Wandlle dapat diterima oleh Objek itu. Objek itu dilatih oleh asisten barunya yang bernama Elvry. 269 memiliki kemampuan yang hampir setara dengan Ambareesh dalam ilmu sihir.
Kegagalan Wandlle terjadi akibat keteledorannya sendiri yang beranggapan bila tubuh Ambareesh dengan Objek 269 itu sama. Hingga Objek tersebut menumbuhkan sejumlah tanduk dibeberapa bagian tubuhnya; antaranya kedua matanya, pada bagian keningnya, kukunya yang mengeras dan menghitam dan pada kedua tulang bahunya.
Bianca takut melihat wujud itu. Elvry ikut dalam pengantaran dan penyiapan pertarungan Ambareesh dengan Objek 269.
"Apa-apaan ini?" Ambareesh bergidik saat melihatnya. "Mari keluar dulu" Elvry membawa Bianca keluar dari area yang di tutupi oleh dinding sihir. Entah mengapa, Bianca menurut dengan ucapan perempuan berwujud Iblis itu.
Wandlle berdiri di luar area itu. "227, kau siap?"
"Ya" Jawab Ambareesh sambil meregangkan kedua bahunya.
"Hati-hati, dia lebih cepat dari yang kau kira" Wandlle membuka pengikat sihir objek 269 itu.
"PATTTSSS! SYUUUUUT!"
Ucapan Wandlle benar. 0.2 detik adalah kecepatan per meter objek itu. Objek itu melesat dengan cepat. Dia mengepalkan tangannya dan melesatkannya ke arah Ambareesh.
Ambareesh sudah siap. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak karena objek itu terlalu cepat. Hingga, "BUGH! BAGGGGHHHHHKKKKK! KHAKH!" Ambareesh terhantam dengan keras pada dinding sihir milik Elvry.
"BWOSH! DUAGGGH!!!"
Objek 269 tidak memberi jeda waktu pada Ambareesh. Dia kembali melesat dan menghantamkan lututnya pada dagu Ambareesh.
"Padahal, Dia tidak bisa melihat. Bagaimana bisa?" Batin Ambareesh sambil melihat ke arah Wandlle yang senang. "Dia menikmati pertarungan ini. Tapi, bila aku kalah... Tentunya, aku akan mati dan tidak bisa keluar dari sini. Wuuushhhh" Ambareesh menyentuh dagu 269 dia mengeluarkan pedang mananya pada dagu 269 hingga pedang mana miliknya menembus kepala objek itu.
Pedang mana itu menembus kepalanya namun pedang itu terserap. Objek itu menempelkan bibirnya pada telinga Ambareesh. "Kau, Objek 227 lebih baik mati saja. Di dunia ini, rasa malu adalah rasa yang paling dihindari. Kau sama dengan orang-orang itu. Demi menutup rasa malumu akan kegagalanmu, kau rela membunuh Objek lain agar kau terlihat yang paling baik, bukan?" 269 menunjukkan seringaiannya kepada Ambareesh.
"Ini adalah provokasi. Dia berniat menyudutkanku"
Ambareesh menyeringai walaupun tidak dapat dilihat oleh 269. "Apa kau iri dengan hidupku yang lebih darimu? BRUAK!" Ambareesh menghentakkan kedua kakinya pada perut 269 hingga dia terhempas kebelakang.
"Aku tidak akan menyerah sebelum aku mengetahui puncak kehidupan ini. DRAP!! TRANKKKK!" Ambareesh berlari dan menyerang 269.
Pertarungan itu berakhir setelah Ambareesh merusak aliran mana 269 itu dari dalam. Ambareesh meledakkannya. Ini adalah sihir yang Ambareesh praktekkan untuk mengeluarkan pedang mananya dari dalam tubuh objek itu namun, kegagalannya membuahkan hasil. Objek itu mati. Lagi-lagi, Ambareesh seolah dilindungi oleh Malaikat keberuntungan.
Ambareesh mendatangi Wandlle dalam keadaan penuh luka sambil membawa rambut objek itu sebagai buktinya. "Te...pa..ti... Jan...ji...mu.. Bruk!" Selalu saja. Ambareesh selalu tak sadarkan diri setelah melakukan pertarungan.
Wandlle menangkap tubuh Ambareesh. "Sebenarnya, apa yang kurang dari obatku hingga membuat 227 selalu pingsan setelah bertarung?" Tanya Wandlle sambil membopong Ambareesh.
"Bagaimana dengan kapasitas mananya?" Tanya Elvry sambil menahan Bianca yang berusaha ke Ambareesh.
"227, memiliki kapasitas mana yang lebih besar dari rata-rata malaikat normal ataupun iblis normal. Bila dibanding dengan kapasitas mana milik Raja, dia berada di angka 9 dari 10" Jawab Wandlle.
"Oleh karena itu, aku tidak ingin membuangnya walaupun, sebenarnya pengobatan dia telah selesai sejak empat bulan yang lalu" Lanjutnya.
Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak terduga. Hingga, membuat Elvry simpati dengan Ambareesh.
Kesimpati-an Elvry, diketahui oleh Ive setelah tiga tahun berlalu.
...----------------●●●----------------...
EMPAT TAHUN KEMUDIAN....
Ambareesh kini berusia 17 tahun dan Bianca berusia 13 tahun.
"227! Lihatlah! Aku menemukan bunga ini disana!" Bianca memberikan bunga biru dengan tangkainya yang panjang pada Ambareesh.
"Ck, buanglah. Bagaimana bila bunga itu memiliki racun? Kau akan membuatku susah saat kau sakit!" Tegas Ambareesh sambil duduk diatas rumput dengan bersandarkan batang pohon besar.
"HUMPH! Padahal aku sudah susah-susah mengambilnya!" Bianca mengerutu sambil memanyunkan bibirnya.
Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Kau jelek sekali saat begitu" Ucap Ambareesh sambil menutup wajah Bianca dengan buku bacaan yang dia pegang.
Bianca menarik perlahan buku itu. "Ya, walau begitu, 227 sukakan padaku?"
"Akh, perutku... tiba-tiba mual. Kurasa, aku keracunan sesuatu" Ucap Ambareesh dengan nada datar sambil memutar bola matanya dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
"Cih! Gak seru!" Bianca melemparkan sihir es miliknya ke arah wajah Ambareesh.
"Memangnya, aku gila? Untuk apa aku menyukai bocah yang seumuran dengan adikku?" Gumam Ambareesh sambil mengusap wajahnya yang basah.
...----------------●●●----------------...
BONUS ILUSTRASI BIANCA:
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments