BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]

Ambareesh termangun sejenak saat melihat Bianca yang tertidur dengan pulas di kasurnya setelah menghabiskan makanannya. Sebenarnya, Ambareesh merasakan sesuatu yang menganjal dihatinya. Ambareesh melihat Bianca seperti melihat adik perempuannya. Dia kasihan kepada Bianca.

Dia mulai mengambil selimut lain dan tidur di bawah.

Pagi hari, Ambareesh terbangun. Dia terbangun karena ada tangan yang dingin masuk kedalam pakaiannya dan memeluk pinggangnya.

Wajah Ambareesh sangat datar, hingga aku sendiri tak bisa mengekspresikannya.

"Hei! Bangun!' Ambareesh melepas tangan mungil itu dari perutnya.

"Mmm...."

"Dia seorang Putri, lalu bagaimana bisa dia sampai disini?" Ambareesh duduk dan melihat Bianca.

Rambut Bianca kembali menghitam ekornya juga menghilang. "Bagaimana bisa dia berubah secepat itu?" Gumam Ambareesh kemudian dia masuk ke kamar mandi.

...----------------●●●----------------...

Ambareesh keluar dari kamar mandi dan melihat kamarnya yang sudah sepi. "Eh? Dimana Putri Siluman itu?" Ambareesh melihat sekeliling kamarnya yang sepi dan menutup pintu kamar mandinya.

"DOR!!!!!!"-"SWINGGGGS!!"

Bianca ternyata bersembunyi di belakang pintu itu dan mengejutkan Ambareesh dengan teriakannya. Tentu saja Ambareesh kaget dan dia refleks mengayunkan pedang mana birunya ke arah Bianca.

Ambareesh melihat mata Bianca yang hitam dan cerah. Dia menghilangkan pedang mananya. "Jangan mengejutkanku seperti itu. Kau bisa mati" Ucap Ambareesh sambil mengaruk tengkuknya.

Bianca berkaca-kaca. "Maaf... Maaf... Maaf..." Dia merentangkan kedua tangannya dan berjalan ke arah Ambareesh kemudian memeluknya.

"Menyebalkan! Jangan memelukku! Lebih baik! Kau mandi saja!" Ambareesh menarik pakaian Bianca agar dia melepaskannya. Kemudian, memasukkan Bianca ke kamar mandinya.

Ambareesh membuang napas panjang.

...----------------●●●----------------...

Ambareesh berjalan kelur dari kamarnya setelah mendapatkan sarpan dari Wadlle. Seperti kemarin, Bianca menempel padanya. Baju Ambareesh yang kebesaran saat dipakai oleh Bianca langsung ditarik oleh Ambareesh agar melepas pelukannya. "Aku gak bisa jalan!" Tegas Ambareesh sambil berusaha menarik tangan Bianca.

Ambareesh menyerah dengan hal ini. Dia membiarkan Bianca melakukan hal sesuka hatinya. Baik itu menarik-narik tangan Ambareesh, memanjatnya, menendangnya, memukul perut dan pungungnya, serta apapun itu. Ambareesh mengelus dada sambil membatin "Sebenarnya, kau itu seorang Putri atau Dokter sialan itu, membohongiku?"

Ambareesh melihat Wandlle datang sambil membawa Objek 269 dalam keadaan terikat diatas ranjangnya.

Objek 269 adalah anak laki-laki berusia 14 tahun. Satu tahun lebih tua dari Ambareesh. Objek 269 berbangsa Manusia murni. Wandlle membelinya dari ayahnya yang merupakan tukang judi dan pemabuk. Wandlle membeli objek itu, seharga 40 koin emas tanpa penawaran.

Awalnya, objek itu memberi reaksi tubuh yang sama seperti objek lain. Mengalami koma selama hampir tiga bulan. Kemudian, Objek tersebut bangun dalam keadaan iris merah yang tandanya, obat Wandlle dapat diterima oleh Objek itu. Objek itu dilatih oleh asisten barunya yang bernama Elvry. 269 memiliki kemampuan yang hampir setara dengan Ambareesh dalam ilmu sihir.

Kegagalan Wandlle terjadi akibat keteledorannya sendiri yang beranggapan bila tubuh Ambareesh dengan Objek 269 itu sama. Hingga Objek tersebut menumbuhkan sejumlah tanduk dibeberapa bagian tubuhnya; antaranya kedua matanya, pada bagian keningnya, kukunya yang mengeras dan menghitam dan pada kedua tulang bahunya.

Bianca takut melihat wujud itu. Elvry ikut dalam pengantaran dan penyiapan pertarungan Ambareesh dengan Objek 269.

"Apa-apaan ini?" Ambareesh bergidik saat melihatnya. "Mari keluar dulu" Elvry membawa Bianca keluar dari area yang di tutupi oleh dinding sihir. Entah mengapa, Bianca menurut dengan ucapan perempuan berwujud Iblis itu.

Wandlle berdiri di luar area itu. "227, kau siap?"

"Ya" Jawab Ambareesh sambil meregangkan kedua bahunya.

"Hati-hati, dia lebih cepat dari yang kau kira" Wandlle membuka pengikat sihir objek 269 itu.

"PATTTSSS! SYUUUUUT!"

Ucapan Wandlle benar. 0.2 detik adalah kecepatan per meter objek itu. Objek itu melesat dengan cepat. Dia mengepalkan tangannya dan melesatkannya ke arah Ambareesh.

Ambareesh sudah siap. Namun, tubuhnya tidak bisa bergerak karena objek itu terlalu cepat. Hingga, "BUGH! BAGGGGHHHHHKKKKK! KHAKH!" Ambareesh terhantam dengan keras pada dinding sihir milik Elvry.

"BWOSH! DUAGGGH!!!"

Objek 269 tidak memberi jeda waktu pada Ambareesh. Dia kembali melesat dan menghantamkan lututnya pada dagu Ambareesh.

"Padahal, Dia tidak bisa melihat. Bagaimana bisa?" Batin Ambareesh sambil melihat ke arah Wandlle yang senang. "Dia menikmati pertarungan ini. Tapi, bila aku kalah... Tentunya, aku akan mati dan tidak bisa keluar dari sini. Wuuushhhh" Ambareesh menyentuh dagu 269 dia mengeluarkan pedang mananya pada dagu 269 hingga pedang mana miliknya menembus kepala objek itu.

Pedang mana itu menembus kepalanya namun pedang itu terserap. Objek itu menempelkan bibirnya pada telinga Ambareesh. "Kau, Objek 227 lebih baik mati saja. Di dunia ini, rasa malu adalah rasa yang paling dihindari. Kau sama dengan orang-orang itu. Demi menutup rasa malumu akan kegagalanmu, kau rela membunuh Objek lain agar kau terlihat yang paling baik, bukan?" 269 menunjukkan seringaiannya kepada Ambareesh.

"Ini adalah provokasi. Dia berniat menyudutkanku"

Ambareesh menyeringai walaupun tidak dapat dilihat oleh 269. "Apa kau iri dengan hidupku yang lebih darimu? BRUAK!" Ambareesh menghentakkan kedua kakinya pada perut 269 hingga dia terhempas kebelakang.

"Aku tidak akan menyerah sebelum aku mengetahui puncak kehidupan ini. DRAP!! TRANKKKK!" Ambareesh berlari dan menyerang 269.

Pertarungan itu berakhir setelah Ambareesh merusak aliran mana 269 itu dari dalam. Ambareesh meledakkannya. Ini adalah sihir yang Ambareesh praktekkan untuk mengeluarkan pedang mananya dari dalam tubuh objek itu namun, kegagalannya membuahkan hasil. Objek itu mati. Lagi-lagi, Ambareesh seolah dilindungi oleh Malaikat keberuntungan.

Ambareesh mendatangi Wandlle dalam keadaan penuh luka sambil membawa rambut objek itu sebagai buktinya. "Te...pa..ti... Jan...ji...mu.. Bruk!" Selalu saja. Ambareesh selalu tak sadarkan diri setelah melakukan pertarungan.

Wandlle menangkap tubuh Ambareesh. "Sebenarnya, apa yang kurang dari obatku hingga membuat 227 selalu pingsan setelah bertarung?" Tanya Wandlle sambil membopong Ambareesh.

"Bagaimana dengan kapasitas mananya?" Tanya Elvry sambil menahan Bianca yang berusaha ke Ambareesh.

"227, memiliki kapasitas mana yang lebih besar dari rata-rata malaikat normal ataupun iblis normal. Bila dibanding dengan kapasitas mana milik Raja, dia berada di angka 9 dari 10" Jawab Wandlle.

"Oleh karena itu, aku tidak ingin membuangnya walaupun, sebenarnya pengobatan dia telah selesai sejak empat bulan yang lalu" Lanjutnya.

Hal tersebut adalah sesuatu yang tidak terduga. Hingga, membuat Elvry simpati dengan Ambareesh.

Kesimpati-an Elvry, diketahui oleh Ive setelah tiga tahun berlalu.

...----------------●●●----------------...

EMPAT TAHUN KEMUDIAN....

Ambareesh kini berusia 17 tahun dan Bianca berusia 13 tahun.

"227! Lihatlah! Aku menemukan bunga ini disana!" Bianca memberikan bunga biru dengan tangkainya yang panjang pada Ambareesh.

"Ck, buanglah. Bagaimana bila bunga itu memiliki racun? Kau akan membuatku susah saat kau sakit!" Tegas Ambareesh sambil duduk diatas rumput dengan bersandarkan batang pohon besar.

"HUMPH! Padahal aku sudah susah-susah mengambilnya!" Bianca mengerutu sambil memanyunkan bibirnya.

Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Kau jelek sekali saat begitu" Ucap Ambareesh sambil menutup wajah Bianca dengan buku bacaan yang dia pegang.

Bianca menarik perlahan buku itu. "Ya, walau begitu, 227 sukakan padaku?"

"Akh, perutku... tiba-tiba mual. Kurasa, aku keracunan sesuatu" Ucap Ambareesh dengan nada datar sambil memutar bola matanya dan menutup mulutnya dengan tangan kirinya.

"Cih! Gak seru!" Bianca melemparkan sihir es miliknya ke arah wajah Ambareesh.

"Memangnya, aku gila? Untuk apa aku menyukai bocah yang seumuran dengan adikku?" Gumam Ambareesh sambil mengusap wajahnya yang basah.

...----------------●●●----------------...

BONUS ILUSTRASI BIANCA:

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kematian]
2 BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3 BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4 BAB 1 [Objek 227]
5 BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6 BAB 1 [Keberuntungan]
7 BAB 1 [Guru]
8 BAB 1 [Alba Bianca]
9 BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10 BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11 BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12 BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13 BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14 BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15 Bab 1 [Akademi]
16 BAB 1 [Masa Orientasi]
17 BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18 BAB 1 [Pertempuran]
19 BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20 BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21 BAB 1 [De luce Arnold]
22 BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23 BAB 1 [Tenggelam]
24 BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25 BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26 BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27 BAB 1 [Permulaan]
28 BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29 BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30 BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31 BAB 1 [Ketemu Lagi]
32 BAB 1 [Kelemahannya]
33 BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34 BAB 1 [Hubungan]
35 BAB 1 [Persaudaraan]
36 BAB 1 [Hanya Untukmu]
37 BAB 1 [Pemaksaan]
38 BAB 1 [Tujuan Akhir]
39 BAB 1 [Misi Terakhir]
40 BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41 BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42 BAB 2 [Kehidupan Baru]
43 BAB 2 [Harta Terbesar]
44 BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45 BAB 2 [Ingatan]
46 BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47 BAB 2 [Naomy Xilea]
48 BAB 2 [Kebenaran 1]
49 BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50 BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51 BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52 BAB 3 [Kemiripan]
53 BAB 3 [Pulang]
54 BAB 3 [Naluri]
55 BAB 3 [Kebencian]
56 BAB 3 [Nyasar]
57 BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58 BAB 3 [Taruhan]
59 BAB 3 [Artl Kyzen]
60 BAB 3 [Percobaan]
61 BAB 3 [Firasat]
62 BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63 BAB 3 [Penerimaan]
64 BAB 3 [Kegilaan]
65 BAB 3 [Anggota Baru]
66 BAB 3 [Aoelabi Darla]
67 Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68 BAB 3 [Tubuh]
69 BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70 BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71 BAB 4 [Kepulangan]
72 BAB 4 [Kemampuan]
73 BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74 BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75 BAB 4 [DI LEMA]
76 BAB 4 [Istirahat]
77 BAB 4 [Berbaikkan]
78 BAB 4 [Razel]
79 Bab 4 [Hal Baru]
80 BAB 4 [Pengubah Alur]
81 BAB 4 [Kabar Baik]
82 BAB 4 [Gangguan]
83 BAB 4 [Percayalah]
84 BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85 BAB 5 [Pertama]
86 BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87 BAB 5 [Kesadaran]
88 BAB 5 [Harta Terpenting]
89 BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90 BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91 BAB 5 [Ketahuan]
92 BAB 5 [Perubahan Berskala]
93 BAB 5 [Genderang]
94 BAB 5 [Pembebasan]
95 BAB 5 [Kerinduan]
96 BAB 5 [Sistem Monarki]
97 BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98 BAB 5 [Kompasku]
99 BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100 BAB 5 [Napas Buatan]
101 BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102 BAB 5 [Keraguan]
103 BAB 5 [Saingan]
104 BAB 5 [Hobi Daeva?]
105 BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106 BAB 5 [Waspada]
107 BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111 BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112 BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113 BAB 5 [Kambuh]
114 BAB 5 [Kesalahan Besar]
115 BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116 BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117 Bab 5 Epilog [Kembali]
118 BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119 BAB 6 [Mengeluarkan]
120 BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121 BAB 6 [Tipu Muslihat]
122 BAB 6 [Keraguan Alder]
123 BAB 6 (Rencana)
124 BAB 6 (Doa dan Diam)
125 BAB 6 [Protagonis Lain]
126 BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127 BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128 BAB 6 [Pengusik]
129 BAB 6 [Sisi Lain]
130 BAB 6 [Kesadaran]
131 BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132 BAB 6 [Jalan Hidup]
133 BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134 BAB 6 [Kesinisan]
135 BAB 6 [Makan Malam]
136 BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137 BAB 6 [Serangan Dalam]
138 BAB 6 [Kehilangan]
139 BAB 6 [Perpisahan]
140 BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141 BAB 6 [OVT]
142 BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143 BAB 6 [Keinginan]
144 BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145 BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146 BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147 BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148 BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149 BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150 BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151 BAB 6 [Keaslian]
152 BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153 BAB 6 [Permainan Akhir]
154 BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155 BAB 6 [Keberuntungan]
156 BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157 BAB 6 [Di Lema II]
158 BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159 BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160 BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161 BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162 BAB 6 [Awal dari Akhir]
163 EPILOG [TAMAT]
Episodes

Updated 163 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kematian]
2
BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3
BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4
BAB 1 [Objek 227]
5
BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6
BAB 1 [Keberuntungan]
7
BAB 1 [Guru]
8
BAB 1 [Alba Bianca]
9
BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10
BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11
BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12
BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13
BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14
BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15
Bab 1 [Akademi]
16
BAB 1 [Masa Orientasi]
17
BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18
BAB 1 [Pertempuran]
19
BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20
BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21
BAB 1 [De luce Arnold]
22
BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23
BAB 1 [Tenggelam]
24
BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25
BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26
BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27
BAB 1 [Permulaan]
28
BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29
BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30
BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31
BAB 1 [Ketemu Lagi]
32
BAB 1 [Kelemahannya]
33
BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34
BAB 1 [Hubungan]
35
BAB 1 [Persaudaraan]
36
BAB 1 [Hanya Untukmu]
37
BAB 1 [Pemaksaan]
38
BAB 1 [Tujuan Akhir]
39
BAB 1 [Misi Terakhir]
40
BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41
BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42
BAB 2 [Kehidupan Baru]
43
BAB 2 [Harta Terbesar]
44
BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45
BAB 2 [Ingatan]
46
BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47
BAB 2 [Naomy Xilea]
48
BAB 2 [Kebenaran 1]
49
BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50
BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51
BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52
BAB 3 [Kemiripan]
53
BAB 3 [Pulang]
54
BAB 3 [Naluri]
55
BAB 3 [Kebencian]
56
BAB 3 [Nyasar]
57
BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58
BAB 3 [Taruhan]
59
BAB 3 [Artl Kyzen]
60
BAB 3 [Percobaan]
61
BAB 3 [Firasat]
62
BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63
BAB 3 [Penerimaan]
64
BAB 3 [Kegilaan]
65
BAB 3 [Anggota Baru]
66
BAB 3 [Aoelabi Darla]
67
Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68
BAB 3 [Tubuh]
69
BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70
BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71
BAB 4 [Kepulangan]
72
BAB 4 [Kemampuan]
73
BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74
BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75
BAB 4 [DI LEMA]
76
BAB 4 [Istirahat]
77
BAB 4 [Berbaikkan]
78
BAB 4 [Razel]
79
Bab 4 [Hal Baru]
80
BAB 4 [Pengubah Alur]
81
BAB 4 [Kabar Baik]
82
BAB 4 [Gangguan]
83
BAB 4 [Percayalah]
84
BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85
BAB 5 [Pertama]
86
BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87
BAB 5 [Kesadaran]
88
BAB 5 [Harta Terpenting]
89
BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90
BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91
BAB 5 [Ketahuan]
92
BAB 5 [Perubahan Berskala]
93
BAB 5 [Genderang]
94
BAB 5 [Pembebasan]
95
BAB 5 [Kerinduan]
96
BAB 5 [Sistem Monarki]
97
BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98
BAB 5 [Kompasku]
99
BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100
BAB 5 [Napas Buatan]
101
BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102
BAB 5 [Keraguan]
103
BAB 5 [Saingan]
104
BAB 5 [Hobi Daeva?]
105
BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106
BAB 5 [Waspada]
107
BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111
BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112
BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113
BAB 5 [Kambuh]
114
BAB 5 [Kesalahan Besar]
115
BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116
BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117
Bab 5 Epilog [Kembali]
118
BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119
BAB 6 [Mengeluarkan]
120
BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121
BAB 6 [Tipu Muslihat]
122
BAB 6 [Keraguan Alder]
123
BAB 6 (Rencana)
124
BAB 6 (Doa dan Diam)
125
BAB 6 [Protagonis Lain]
126
BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127
BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128
BAB 6 [Pengusik]
129
BAB 6 [Sisi Lain]
130
BAB 6 [Kesadaran]
131
BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132
BAB 6 [Jalan Hidup]
133
BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134
BAB 6 [Kesinisan]
135
BAB 6 [Makan Malam]
136
BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137
BAB 6 [Serangan Dalam]
138
BAB 6 [Kehilangan]
139
BAB 6 [Perpisahan]
140
BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141
BAB 6 [OVT]
142
BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143
BAB 6 [Keinginan]
144
BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145
BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146
BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147
BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148
BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149
BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150
BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151
BAB 6 [Keaslian]
152
BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153
BAB 6 [Permainan Akhir]
154
BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155
BAB 6 [Keberuntungan]
156
BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157
BAB 6 [Di Lema II]
158
BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159
BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160
BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161
BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162
BAB 6 [Awal dari Akhir]
163
EPILOG [TAMAT]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!