"Kita termasuk orang yang beruntung. Oleh karena itu, selagi kita masih hidup, kita harus dapat membantu non- Iblis agar tidak disiksa oleh pemerintahan absolut ini"
Hati kecil Ambareesh sedikit terbuka pada ucapan Zen.
"Oleh karena itu, bisakah Ambareesh bercerita kepada paman apa yang terjadi lusa yang lalu?"
...----------------●●●----------------...
DUA HARI YANG LALU...
Suara gemerisik minyak saat memasak ikan mulai terdengar di telinga Elf Ambareesh. Bau ikan yang sudah dibumbui bumbu membuat perut Ambareesh semakin keroncongan.
Ambareesh duduk di kursi makan menunggu masakan ayahnya sambil menggambar. Dan ayahnya duduk di depan Ambareesh sambil menunggu ikan matang.
"Lagi gambar apa itu?"
"Gambar ayah!" Jawab Ambareesh dengan antusias sambil memperlihatkan gigi- gigi kecilnya yang rapi.
"Wah! Ayah memegang pedang? Lalu siapa mereka?"
Ayah Ambareesh menunjuk ke dua gambar hitam di atas gulungan kertas.
"Mereka adalah Prajurit Raja Iblis. Jadi, ayah melawan mereka lagi!" Ambareesh menjawab sambil mengayunkan kakinya di bawah meja makan.
"Hoho! Kalau begitu pemenangnya pasti ayah kan!?"
"Ha'a! Ayah menang! Ayah mengeluarkan pedang sihirnya untuk melindungiku, Wosh! Mereka menyerah dan memohon belas kasihan Ayah!" Ambaresh sangat bersemangat.
Ayah Ambareesh tiba- tiba kehilangan senyumnya. Dia membelai rambut biru langit Ambareesh.
"Jadi, ayah melindungi Ambareesh?" Ambaresh mengangguk.
"Bukankah putraku ingin belajar sihir?"
"Tidak" Ambareesh menggelengkan kepalanya.
"Mengapa?"
“Nanti ibu akan memarahi ayah. Cukup Kak Ken saja yang menjadi anak harapan ibu. Aku ingin menjadi anak ayah selamanya" Ambareesh mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
"Tapi, bagaimana bila ayah tidak bisa melindungimu lagi? Kamu harus belajar sihir dan menjadi orang yang hebat. Orang yang membebaskan Bangsa non-Iblis dari kuasa Akaiakuma" Lirih Ayah Ambareesh dengan gaya berbisik.
"Kalau begitu, kenapa Ayah menikahi Ibu yang berbangsa Iblis?"
Ayah Ambareesh langsung terdiam.
"Ahahahahaha!" Dia langsung terbahak-bahak.
"Itu karena Ayah mencintai Ibumu tanpa melihat perbedaan kami. Ibu mu, menerima ayah apa adanya. Kau harus begitu Ambareesh. Mencari seorang wanita yang mau hidup susah denganmu dan bisa menerimamu apa adanya" Ucap Ayahnya Ambareesh.
Ambareesh memanyunkan bibirnya. "Ayah. Ikannya kapan matang? Aku lapar"
"EHEEHH!! IYA! MAAF AYAH LUPA!!!" Ayah Ambareesh langsung berdiri dan membalik ikan itu.
Sepiring makanan dibawa oleh sang Ayah sambil menuntuk putranya menuju kamarnya.
"Hari ini, Ibu sedang keluar ke rumah Nenek. Ibumu akan menginap disana bersama Kakakmu dan Bella selama beberapa hari. Apa Ambareesh akan baik-baik saja disini?"
"Apa Ayah ikut Ibu?"
"Tentu tidak. Ayah ada perkerjaan dan akan pulang sore. Ayah sudah menyiapkan lauk untuk makan siangmu. Nanti, bisa kamu ambil sendiri ya di dapur"
Ambareesh mengangguk sambil melahap makanannya. Ia mengayunkan kakinya beberapa kali karena menikmatinya.
Ayah Ambareesh mengenakan jubah panjang untuk keluar dari rumah. Dia lupa mengecek pintu belakang yang masih terbuka.
Seekor kucing kecil berwarna putih dengan mata biru dan merah masuk ke dalam rumah Ambareesh. Kucing itu, mengendus aroma ikan kemudian melompat ke meja makan.
"KLONTANG!!!!!" Suara barang jatuh, terdengar hingga ke lantai dua.
Ambareesh berhenti sejenak. "Ayah? Belum berangkat?!" Tanyanya.
Tak ada jawaban.
Ia turun sambil bersembunyi. Ia khawatir ada Iblis yang masuk ke dalam rumahnya.
"TAP!"
Ambareesh melihat seekor kucing kecil yang turun dari meja makan sambil membawa ikan atau lauknya nanti siang.
"Eh? Ikanku!"
Ambareesh segera turun dari tangga tanpa pikir panjang. Anak kucing itu, berlari keluar rumah membawa ikan Ambareesh.
Ambareesh yang belum pernah melihat dunia luar, menatap kucing yang berhenti 5 m di depannya sebelum keluar dari rumahnya.
"Aku tidak bisa keluar. Di luar ada Iblis. Tapi, bagaimana dengan ikan masakan Ayah? Ayah bisa sedih bila aku... Uh...!" Ambareesh segera melangkah perlahan ke arah kucing itu.
Kucing itu, seolah memancing Ambareesh. Kucing itu, mulai berlari begitu mereka dekat dan berhenti lagi ketika mereka berada pada jarak yang aman.
Ambareesh melihat ke belakang. Rumahnya terlihat kecil dan jauh dengan jarak 5 meter dari tempatnya berdiri. Dia menutup matanya dan menghela napas dengan panjang.
"Ayo kucing kecil... kucing...kucing..." Dia menjentikkan jarinya ke arah anak kucing itu sambil berjalan perlahan.
Anak kucing itu mundur kebelakang dalam keadaan mengigit ikan Ambareesh dan memasuki semak yang berjarak 15 meter dari rumah Ambareesh.
"HUH! AYOLAH! SRUK! BRUK! DEGH!"
Ambareesh sangat kesal. Ia segera masuk ke dalam semak tersebut dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok yang tak sengaja ia tabrak.
Sosok berzirah besi melihat ke arah punggungnya yang ditabrak oleh Ambareesh saat dia makan.
"Siapa?"
Mata merah menyala, membuat sekujur tubuh Ambareesh bergidik.
GREEET!!!
Rambut Ambareesh langsung ditarik oleh Prajurit Iblis itu.
Disisi lain, Ayah Ambareesh mulai melakukan penyusupan ke dalam Istana Akaiakuma yang ia ketuai untuk pemberontakan yang akan dilakukan oleh kelompoknya yang bertentangan dengan pemerintahan Raja Akaiakuma ke-9.
Dia bersembunyi sebelum memberi aba-aba yang lain untuk masuk dan menyerang Prajurit Iblis yang melintas.
Sepintas, dia teringat dengan rumah dan Ambareesh. "Sialan! Apa pintu rumah sudah ku kunci? Aku harus segera menyelesaikan ini semua" Ayah Ambareesh mulai memberi aba-aba untuk maju dan mereka mulai menyerang Prajurit Iblis di dalam sana.
"DRAP! DRAP!"
Ambareesh berlari menjauh dari tiga Prajurit Iblis yang dia temui itu. Dia terus berlari dan bersembunyi di jalan yang tak pernah dia lewati.
"WOSH! SYUUUT!" Iblis itu berteleport di depan Ambareesh. Tubuh Ambareesh reflek menunduk kemudian merangkak melewati sela kaki Prajurit itu dengan gesit.
Ambareesh kembali berlari hingga memasuki kawasan yang ramai orang.
DEGH! DEGH!!!
Sekeliling Ambareesh penuh dengan Bangsa Iblis. Mata mereka tertuju pada Ambareesh. Sekujur tubuh Ambareesh bergetar. Namun, mereka bodoh amat dengan keberadaan Ambareesh. Mereka kembali menjalani rutinitas mereka.
Ambareesh merangkak dibalik dagangan Iblis lainnya untuk bersembunyi dari Prajurit Iblis. Kemudian, Ambareesh berhasil meloloskan diri dari mereka karena dirinya yang tak bisa mengeluarkan aura miliknya.
Ia bersyukur atas kecacatannya itu.
Misi ayah Ambareesh gagal. Sebanyak 39 orang dari 101 orang yang andil dalam pemberontakan itu, terbunuh sia-sia oleh di tangan seorang pemuda berbangsa Manusia yang baru diangkat sebagai penasehat Raja De luce ke-9. Dia adalah Ha nashi.
"TRANKKKKK!!!! BRAKKKK!!!"
Pedang Ha nashi dan Ayah Ambareesh saling beradu. Keduanya melesat bersamaan akibat gelombang mereka yang sama kuat dan saling bertabrakan.
"Padahal kau adalah pemuda yang paling ku andalkan di kelompok ini, Ha nashi. Kau dengan tega menghianati saudara-saudaramu hanya untuk menjilat kaki Iblis itu!"
Ayah Ambareesh menguatkan kuda-kudanya dan menarik pedang mana birunya setinggi bahu kirinya.
"Saya sudah berjuang dengan Anda sejak usia saya mengijak 15 tahun. Anda sudah membimbing saya hingga sejauh ini. Sayangnya, kepribadian kita saling bertolakan Tuan. Anda adalah pembunuh yang lebih dingin dari Iblis"
"Bukan hanya itu saja, saya ingin menyelamatkan Ibu saya yang sedang sakit. Dan ini, satu-satunya jalan untuk saya" Lanjut Ha nashi sambil menurunkan pedang mana yang ia pegang.
Ayah Ambareesh melapisi pedang mananya dengan mananya kembali. "Ha nashi, kau akan menyesali hal ini. Seumur hidupmu, kau tidak akan bisa terbebas dari tangan Akaiakuma. WOSH! TRANKKKK!!!" Keduanya bertarung dengan hebat.
Namun, Ha nashi harus berakhir kalah ditangan ayah Ambareesh. Ayah Ambareesh lebih berpengalaman dari bocah yang merupakan muridnya sendiri.
Ayah Ambareesh mengacungkan pedang mananya pada leher Ha nashi. Mata Ha nashi terbelalak. "Tatapanmu, membuatku tertawa" Ucap Ayah Ambareesh menunjukkan senyum seringainya.
"GREP!" Ayah Ambareesh mencekik leher Ha nashi.
"Kau akan menyesal karena sudah membunuh 39 nyawa saudaramu sendiri. Nikmatilah penyesalan yang tak'kan kau lupakan ini. BUGH!!!"
Dia menghantam dengan keras wajah Ha nashi hingga dia tidak sadarkan diri. Ayah Ambareesh memerintahkan bawahannya untuk menghancurkan wajah 39 anggotanya yang mati dan membawa barang berharga 39 orang itu untuk diserahkan kepada keluarga mereka sebelum mereka mundur.
"TUAN RAVEL! PUTRA ANDA! AMBAREESH!"
Mata ayah Ambareesh terbelalak saat salah satu anggotanya menyebutkan nama Ambareesh. "DIA..."
"Tidak mungkin! Kalian! Segera selesaikan secepat mungkin!"
"TUAN! ANDA SELAMATKAN DULU PUTRA ANDA! KAMI AKAN SECEPATNYA MENYELESAIKAN INI!" Tegas beberapa dari mereka.
"Tidak bisa. Kita datang bersama, oleh karena itu kita harus pergi bersama. Misi adalah nomor satu. Ini untuk keselamatan orang banyak. Paham?" Ravel (Ayah Ambareesh) mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan dia memberikan tatapan serius kepada semua anggotanya yang masih ada.
"PAHAM! KAPTEN!!!!" Tegas mereka sambil mengangkat pedang mereka setinggi-tingginya.
Ravel menahan kecemasannya dan dia langsung pergi menuju Ambareesh setelah bawahannya berteleport menuju persembunyian mereka untuk membersihkan jejak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Nila A.R
wah, ngeri... lihat juga karya aku kak. dan kita akan saling mendukung 🙏
2023-10-20
0