Alih-alih membantu. Wandlle adalah sosok Iblis yang sakit jiwa. Dia merusak semua jaringan tubuh objeknya dengan penelitian yang berkedok 'PENGOBATAN'.
Objek 106 adalah objek utama dalam penelitian itu sebelum datangnya Ambareesh. Objek 106 adalah sosok remaja laki-laki berusia 15 tahun dengan keturunan Malaikat-Iblis yang sangat sulit ditemui pada perkawinan silang.
Objek 106, sudah tidak mampu mengatur pemikiran, perasaan, perilaku, dan suasana hatinya dengan baik akibat psikisnya dirusak oleh Wandlle. Sehingga, untuk melampiaskan emosi yang meluap pada dirinya dan sulit baginya untuk mengeluarkan emosinya, tak jarang baginya untuk melukai diri sendiri.
Dia adalah Objek Utama yang cacat. Sebab, pada mata kirinya telah ditumbuhi tanduk berwarna abu-abu.
"WUTTTSH!"
Objek 106 memiliki kelebihan dalam daya serang, kecepatan, dan jangkauan serangannya.
Dia melesat ke arah Ambareesh yang baru memasuki ruangan Objek 106.
Dia terlalu cepat. Ambareesh tidak bisa menghindarinya.
"BRUAAAAAK!!!! BKAHKKKK!!!"
Tubuh Ambareesh terhempas ke belakang. Dada Ambareesh terasa sesak. Dia melihat Wandlle yang sedang memperhatikan di balik kaca transparan di atas sana.
Objek 106 berjalan ke arah Ambareesh sambil menyeret pedang mana ungu di tangan kanannya.
Ambareesh segera berdiri dan menjauh pada Objek 106 itu. Namun, Objek 106 tidak melepaskan pandangan mata kanannya yang putih dari dirinya.
Dia sosok yang paling menyeramkan yang pernah Ambareesh lihat seumur hidupnya.
Tubuh Ambareesh bergetar. Kakinya sulit untuk digerakkan. Objek 106 semakin dekat di depan Ambareesh bahkan, dia mampu melihat mulut 106 yang terus bergumam.
"Mati, mati, mati, mati, mati...." Ini adalah gumaman 106 sambil menyeret pedang mana ungu yang lebih panjang dari tinggi tubuhnya.
Ambareesh mulai berjalan sambil menepelkan tangannya ditembok sebagai tumpuannya.
Objek 106, berhenti sejenak. Dia kembali berjalan ke arah Ambareesh. Objek 106 kehilangan indera penglihatannya. Dia menggunakan indera peraba dan pendengannya.
Objek 106 mengikuti Ambareesh yang terus-terusan melarikan dirinya.
Mulut objek 106, berhenti bergumam. Dia berhenti ditempat. "Tidak memiliki aura, langkah kaki yang ringan, tinggi tubuh yang tidak lebih dari 130 cm. Kau bukan Dokter itu" Objek 106 duduk ditempat.
Wandlle sudah menduga hal ini akan terjadi. "Merepotkan" Lirih Wandlle dengan sabar menunggu pikiran Objek 106 berubah.
Ambareesh melirik Objek 106 sedang duduk di lantai tanpa memegang pedang mananya. Dia ikutan duduk jauh dari 106 untuk memperhatikannya.
Mulut 106 kembali comat-camit.
Ambareesh melihat Wandlle sedang memberinya kode untuk menyerang 106.
Itu tidak mungkin. Ambareesh bagaimana bisa menyerang 106 dengan tangan kosong. Dia tidak bisa sihir.
Wandlle tidak bisa mengandalkan Ambareesh. Dia langsung mengambil pengeras suara. "106, di depanmu itu adalah 227. Objek yang menjadi pengantimu"
106 langsung melihat ke arah pengeras suara itu.
"Dia berniat untuk melampauimu. Bila kau menang darinya, aku akan menjamin kebebasanmu hari ini juga"
Objek 106 segera berdiri dan mendongakkan kepalanya ke atas. Dia tidak sadar membelakangi Wandlle.
"Aku akan memotong lidahmu bila berbohong" Ucap 106.
Wandlle menyeringai. "Tentu saja. Bila kau bisa melakukannya. Lalu 207, aku akan mengurangi obatmu dan akan memberikan guru untuk pelatihan sihirmu. Dan juga, setelah kau berhasil menumbuhkan tanduk mu, aku akan melepasmu dari sini"
Itu semua bohong.
Ambareesh berhasil membuat Objek 106 mati dalam keadaan kepala tertusuk besi panjang yang Ambareesh pegang. Darah mengalir ke telapak tangan Ambareesh.
Itu terjadi karena ketidaksengajaan.
Ambareesh segera melepaskan besi panjang itu. "Bruk!" Tubuh 106 terjatuh ke belakang. Dia melihat tangannya yang bergetar melihat darah di tangannya.
Ambareesh mundur kebelakang hingga menyentuh tembok. "Tidak... Tidak.... Aku membunuh dia... maafkan aku"
Wandlle diatas sana tersenyum melihat Ambareesh berhasil mengalahkan 106. Dia keluar dari ruangannya menuju ruangan isolasi utama milik 106.
Wandlle melihat Ambareesh tengah menangis sambil mengaruk kepalanya. "Ini, awal yang bagus 227. Kedepannya, kau harus menjadi yang lebih kuat lagi" Ucap Wandlle sambil mengulurkan tangannya pada Ambareesh.
Ambareesh melihat pintu keluar yang terbuka. Kemudian, dia melihat Wandlle. Tangan kanan Ambareesh mengambil besi lain di sebelahnya.
Dia menarik besi itu dan "PRUAKKK!!!!!" Memukulnya ke kepala Wandlle kemudian, dia melompati jasad 106 dan berlari keluar dari ruangan itu.
Pandangan mata Wandlle menghitam. Dia memijat sela alisnya perlahan. Darah bercucuran dari pelipis kirinya.
Wandlle melepas kacamatanya yang lensanya pecah. Dia melihat ke arah pintu yang terbuka.
"Bocah itu...." Dia menyeringai lebar sambil berjalan santai keluar dari ruangan tersebut.
...----------------●●●----------------...
Ambareesh berlari. Dia terus mengambil jalan yang lurus, kemudian dia berbelok ke kanan karena dia tidak lagi menemukan jalan.
Seluruh jalan yang dilewati Ambareesh dipenuhi dengan pintu besi dan jendela kecil pada bagian tengah pintu besi itu.
98, 99, 104, 135, 136,... Angka-angka itu mewakili ruangan Objek seperti Ambareesh.
Jantung Ambareesh berdebar dengan kencang saat melihat tak ada jalan lagi. Di depan Ambareesh hanya tersisa tembok putih dan figura besar foto Wandlle disana.
Dia melihat kebelakang. Wandlle tidak mengejar Ambareesh. Namun, suara derapan kaki mulai terdengar. Ambareesh panik. Dia mulai membuka pintu ruangan itu satu-persatu. Tak ada satupun pintu yang tertutup tanpa kunci.
Para penjaga tempat itu menutup jalan Ambareesh. Mereka ada empat orang. Ambareesh mundur ke belakang hingga tubuhnya menyentuh figura besar itu. Kedua tangan Ambareesh berada di belakang punggungnya tepat di bawah kayu figura itu.
Empat penjaga itu mendekat ke arah Ambareesh sambil menodongkan senjata sihir mereka.
"Dia Objek 227. Dokter Wandlle berkata, bila dia tidak bisa menggunakan sihirnya namun, dia cukup cerdik" Lirih salah satu dari mereka.
Telinga Ambareesh berdenyut. Dia mendengar langkah kaki lain. Itu adalah langkah kaki Vivi.
Mata Ambareesh bertemu mata Vivi dibelakang para penjaga.
"Cepat tangkap dia. Jangan sampai...." Para penjaga melirik ke belakang. Mereka tidak bisa membuang pandangan dari sosok wanita cantik dengan suara yang halus itu.
"...Dia lolos.." Lanjut Vivi sambil menarik pematuk pistol yang dia bawa.
Ini kesempatan Ambareesh. Dia segera mendorong ke atas figura besar dan berat itu dan dia berjongkok untuk menahan beban itu. Kemudian, Ambareesh mendorong figura kayu itu ke depan dengan kuat ke arah Penjaga itu.
Dua penjaga diantara mereka yang paling depan, terhantam pinggiran figura pada bagian rahang bawah mereka. Mereka sempat kehilangan keseimbangam
Ambareesh kembali menggunakan kesempatan itu. Dia mendorong ke atas figura itu dan dia melompatinya setelah figura itu berada diatas mereka.
Vivi dengan cepat mengarahkan pistol itu ke arah Ambareesh yang berada di udara. Vivi memusatkan bidikannya pada lengan kiri Ambareesh.
"DAR! WOSH!"
Saat pistol itu menembakkan pelurunya. Ambareesh tiba-tiba menghilang dari udara. Ini hanya sebuah keberuntungan yang direncanakan oleh sosok lain.
Siapa lagi bila bukan....
"GREP! DAR!"
Ambareesh muncul di samping Vivi. Dia mengambil pistol itu dan langsung menembakkannya dari rahang bawah Vivi hingga menebus kepalanya.
"BRUK!"
Tubuh Vivi langsung jatuh kebelakang. Empat penjaga itu membelalakan matanya melihat kepala Vivi mengucurkan darahnya pada lantai putih.
Ambareesh mengarahkan pistol itu ke arah mereka berempat dengan tangan yang bergetar.
"Tidak sekarang Alfarellza. Ctak!" Ucap sosok di luar tembok itu sambil mematikkan jarinya.
DEGH!
Dada Ambareesh tiba-tiba merasa sakit. "BRUK!" Ambareesh jatuh berlutut di hadapan mereka berempat sambil menyentuh dadanya.
Mereka terkejut. "Dia kenapa?"
Ambareesh menatap ke langit-langit yang berputar. "BRUK!" Ambareesh tidak sadarkan diri akibat campur tangan sosok itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments