Dua minggu setelah Ambareesh berada di penelitian milik Wandlle.
Ambareesh dipindahkan menuju gedung yang jauh dari area gedung awal. Gedung yang diliputi dengan penangkal sihir ciptaannya. Ini digunakan oleh Wandlle untuk meminimalisir kaburnya Ambareesh baik sebelum maupun setelah Ambareesh mampu menggunakan sihirnya.
Kini, Ambareesh mendapatkan seorang guru yang telah menjalin kontrak dengan keuntungan 8:2 dengan Wandlle. Kontrak tersebut sangat menguntungkan bagi Wandlle. Rumornya, guru itu telah menandatangani kontrak seumur hidup demi adiknya yang sedang menjalani 'Pengobatan' yang sama dengan Ambareesh.
"TUAAAAAK!!!! BRUAKKKK!"
Guru itu, tidak tanggung-tanggung dalam melatih Ambareesh. Pedang kayu milik Ambareesh melayang ke langit dan tubuh Ambareesh terhempas jauh akibat tendangan guru barunya itu.
Ambareesh meringkuk.
"Berdiri. Jangan pura-pura sakit"
Guru itu tau bila Ambareesh tidak dapat merasakan sakit akibat obat-obatan yang Wandlle berikan padanya. Ambareesh tidak banyak bicara. Dia menatap langit di atasnya. Hanya langit warna merah yang bisa dia lihat. Langit itu, adalah dinding sihir ciptaan Wandlle.
"Aku bilang berdiri! Apa kau tuli 227?!" Tegas guru itu.
Ambareesh melihat guru itu. "Ha...." Guru itu menghela napas dan menepuk keningnya.
"Baiklah. Istirahatlah dulu" Ucap Guru itu sambil duduk di sebelah Ambareesh yang sedang tiduran.
"Ngomong-ngomong, siapa nama aslimu? Namaku Oliver. Kau bisa memanggilku Guru Ive" Sapa Ive sambil mengulurkan tangannya pada Ambareesh.
Ambareesh memunggungi Ive setelah melihat uluran tangan itu.
"Ah.... Ya, ahahaha. Kau pasti sulit untuk menerimaku sebagai gurumu. Aku dengar, kau belum bisa menggunakan manamu. Aku ingin tau juga, kenapa kau tidak bisa menggunakan manamu? Apa kau memiliki trauma dengan hal yang berhubungan dengan sihir?" Ive berusaha menjalin komunikasi dengan Ambareesh.
Namun, Ambareesh tidak memperdulikannya. "Aku benci Iblis"
Hari demi hari berlalu. Tidak terasa delapan bulan berlalu begitu cepat. Iris ice blue Ambareesh perlahan berubah menjadi biru gelap akibat gen manusia yang disuntikkan oleh Wandlle. Telinganya ikut meruncing. Tak hanya itu saja, bahkan warna rambut Ambareesh mulai terlihat lebih muda dari warna langit siang.
Perkembangan Ambareesh dalam mempelajari pedang untuk pertarungan jarak dekat berkembang dengan signifikan. Kini, Ambareesh sudah mampu menangkis serangan Ive dan memberi serangan balik dengan cepat hingga membuat Ive kuwalahan bila tak menggunakan sihirnya.
"BRUAK!!!" Tubuh Ambareesh terhantam dinding sihir setelah diberi serangan sihir oleh Ive. Itu curang.
Ive mendatangi Ambareesh dan mengulurkan tangannya. "Plak!" Ambareesh menepisnya. "Jangan mengkasihani aku. Cukup ajari aku saja" Ucap Ambareesh.
Ive melihat telapak tangannya yang ditepis oleh Ambareesh. Dia tidak terlalu terbawa perasaan.
"227, hari ini kau belajar ke tahap pengenalan mana" Dia mulai mengajari Ambareesh tentang sihir.
"Duduklah. Ini akan agak panjang" Lanjut Ive.
Ambareesh duduk di rumput dan sesekali melirik Wandlle yang sedang mengawasinya dari jauh. Wandlle melambaikan tangannya pada Ambareesh.
Ambareesh kembali melihat Ive.
"Mana adalah energi sihir yang berasal dari al-"
"Langsung praktek" Sela Ambareesh. Dia tidak suka basa-basi.
"Baiklah" Ive ingin menangis. Namun, dia masih menunjukkan senyumannya.
"Anggap saja jantungmu itu mana. Lalu bayangkan jantungmu atau detakan jantungmu itu sebagai sumber dari aliran sungai itu. Sebelumnya, kau perlu mengosongkan pikiranmu. Imaginasi sangat diperlukan untuk menciptakan sihir. Orang yang tidak berimajinasi, tidak akan mempu mengeluarkan sihirnya. Kau harus memiliki keinginan kuat untuk belajar sihir. Contohnya, kenapa kau harus mempelajari sihir?"
Ambareesh membelalakan matanya mendengar ucapan Ive. Dia teringat dengan ucapan ayahnya. Ucapa Ive sama persis dengan ucapan Ravel.
"Kenapa aku belajar sihir?" Gumam Ambareesh. Ive mendengarnya. "Itu, karena aku ingin membunuh Wandlle dan Raja Iblis. Aku tidak peduli walau harus membunuh semua keturunannya" Gumamnya lagi.
"Ajari aku membaca, menulis, dan ajari aku cara bertahan hidup" Ucap Ambareesh.
Di mata Ive, Ambareesh ada bocah yang memiliki ganguan atau anak berkebutuhan khusus.
"227, apa kau masih ingat dengan namamu?"
Ambareesh mengangguk. "Aku akan mengajari semua hal yang kau ingin tau setelah kau bercerita tentang dirimu kepadaku. Mari saling mengenal" Ucap Ive sambil mengulurkan tangannya pada Ambareesh.
Ambareesh kembali melirik Wandlle yang masih memperhatikannya. Dia menepis tangan Ive. "Jangan terlalu akrab denganku. Kau taukan siapa aku ini? Objek utama. Dia tidak akan membiarkan aku merasa kesenangan sedikitpun. Cukup panggil aku 227 dan jangan bertanya lagi" Ucap Ambareesh.
Ambareesh takut dengan sosok Wandlle.
Wandlle kembali melambaikan tangannya. "227! Sudah waktunya untuk pemeriksaanmu~!" Panggilnya.
"Baik Dokter!" Ambareesh pergi meninggalkan Ive tanpa salam.
"Aku harus mengajarinya sopan-santun" Lirih Ive.
...----------------●●●----------------...
Wandlle kini memiliki asisten baru. Dia bernama Diana. Walau begitu, Diana tidak diperbolehkan untuk ikut dalam pemeriksaan Ambareesh. Mengingat Vivi yang terbunuh saat Ambareesh berniat kabur.
Wandlle mulai memeriksa satu persatu bagian tubuh Ambareesh secara menyeluruh. Wandlle tidak mengikat Ambareesh. Dia sedikit memberi kebebasan dalam pemeriksaan untuk Ambareesh.
Benjolan kecil muncul di kepala Ambareesh dibagian kanan di atas telinganya. Wandlle membelalakan matanya saat merasakan benjolan kecil yang terasa runcing itu.
Wandle segera membuka rambut Ambareesh untuk melihatnya lebih jelas. "Sial... Ini tanduk" Wandlle tidak mempercayainya saat melihatnya.
Hati Wandlle sangat berbunga. Dia mulai memeriksa kepala Ambareesh bagian kirinya. Tidak terlihat kemunculan tanduk disana. Wandlle langsung cemas.
Dia memeriksa iris mata Ambareesh. Kabanyakan Objeknya yang gagal akan menumbuhkan tanduk di bagian mata. Iris Ambareesh merespon akan cahaya. Tak ada tanda titik yang berkemungkinan untuk memunculkan tanduk disana. Hanya saja, iris Ambareesh mengalami *ditalasi pupil.
*Ditalasi pupil atau bisa disebut dengan pupil yang melebar. Hal ini, dapat terjadi secara normal ataupun efek dari trauma yang dialami, sakit, ataupun obat.
"227, apa ada area yang sakit?"
"Tidak" Jawab Ambareesh.
"Apa kau merasa pusing akhir-akhir ini?"
"Tidak"
"Jangan-jangan tanduknya hanya muncul satu?"
Perkiraan Wadlle benar. Dua tahun lamanya Ambareesh berada di penelitian itu, Ambareesh termasuk kedalam salah satu Objek Wandlle yang gagal.
Hal ini, disebabkan oleh tanduk Ambareesh yang abu-abu dan warna iris Ambareesh yang biru gelap.
...----------------●●●----------------...
Wadlle berniat mencari Objek baru yang layak. Namun, Ambareesh adalah objek terkuat miliknya. Wadlle sering kali menyuruh Ambareesh membunuh Objeknya yang gagal dengan iming-iming memberi sedikit kebebasan bagi Ambareesh dapat berkeliling gedung utama untuk mengurangi rasa jenuhnya.
Akibatnya, Ambareesh memiliki kecanduan untuk menyiksa objek lain demi mengurangi rasa sakitnya dan dia termakan dengan ucapan Wandlle.
Suatu ketika, Ambareesh pernah menagih janji Wandlle saat dia bertarung dengan Objek 227. Kini usia Ambareesh mengijak 10 tahun.
"Dokter, kapan kau akan membiarkanku keluar dari sini? Bukankah ini sudah tahun ke dua aku disini?" Tanya Ambareesh.
Wandlle menunjukkan senyumannya. "Kau masih belum berada di puncak 227. Saat kau berada di puncak dan mengalahkan semuanya yang ada disini, saat itulah kebebasanmu akan terwujud" Ucap Wandlle.
Ambareesh menatap mata Wandlle yang beriris merah.
"Apakah dengan membunuhmu aku akan menjadi yang paling dipuncak?" Ambareesh penasaran akan hal itu.
"Itu tidak mungkin" Jawab Wandlle.
"Kenapa?"
"Karena puncak dikehidupan ini adalah diri sendiri. Kau harus mampu melawan dirimu sendiri. Itu adalah puncak kehidupan menurutku" Ucap Wandlle sambil menunjuk dada kiri Ambareesh.
Ambareesh melihat tangan kanan Wandlle yang bersarung tangan itu. "Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Kau akan menjadi yang paling terpuncak setelah berhasil mengalahkan dirimu sendiri" Lanjut Wandlle.
Ambareesh memalingkan pandangannya. "Lalu, apa kau sudah mengalahkan dirimu sendiri?" Tanya Ambareesh.
"Sejauh ini, masih belum. Walau begitu, aku akan tetap berjuang untuk melampaui batasanku-"
"Dengan cara menyiksa orang lain?" Sela Ambareesh.
"Lebih tepatnya membantu mereka mendapatkan suatu hal yang sulit diterima. Kau tau itu apa?"
"Tanduk?" Jawab Ambareesh.
"Salah. Yang benar itu, penerimaan mereka. Sebenarnya, apa isi otakmu 227?" Wandlle meremas kepala Ambareesh.
"Yang jelas bukan kotoran" Jawab Ambareesh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments