BAB 1 [Guru]

Dua minggu setelah Ambareesh berada di penelitian milik Wandlle.

Ambareesh dipindahkan menuju gedung yang jauh dari area gedung awal. Gedung yang diliputi dengan penangkal sihir ciptaannya. Ini digunakan oleh Wandlle untuk meminimalisir kaburnya Ambareesh baik sebelum maupun setelah Ambareesh mampu menggunakan sihirnya.

Kini, Ambareesh mendapatkan seorang guru yang telah menjalin kontrak dengan keuntungan 8:2 dengan Wandlle. Kontrak tersebut sangat menguntungkan bagi Wandlle. Rumornya, guru itu telah menandatangani kontrak seumur hidup demi adiknya yang sedang menjalani 'Pengobatan' yang sama dengan Ambareesh.

"TUAAAAAK!!!! BRUAKKKK!"

Guru itu, tidak tanggung-tanggung dalam melatih Ambareesh. Pedang kayu milik Ambareesh melayang ke langit dan tubuh Ambareesh terhempas jauh akibat tendangan guru barunya itu.

Ambareesh meringkuk.

"Berdiri. Jangan pura-pura sakit"

Guru itu tau bila Ambareesh tidak dapat merasakan sakit akibat obat-obatan yang Wandlle berikan padanya. Ambareesh tidak banyak bicara. Dia menatap langit di atasnya. Hanya langit warna merah yang bisa dia lihat. Langit itu, adalah dinding sihir ciptaan Wandlle.

"Aku bilang berdiri! Apa kau tuli 227?!" Tegas guru itu.

Ambareesh melihat guru itu. "Ha...." Guru itu menghela napas dan menepuk keningnya.

"Baiklah. Istirahatlah dulu" Ucap Guru itu sambil duduk di sebelah Ambareesh yang sedang tiduran.

"Ngomong-ngomong, siapa nama aslimu? Namaku Oliver. Kau bisa memanggilku Guru Ive" Sapa Ive sambil mengulurkan tangannya pada Ambareesh.

Ambareesh memunggungi Ive setelah melihat uluran tangan itu.

"Ah.... Ya, ahahaha. Kau pasti sulit untuk menerimaku sebagai gurumu. Aku dengar, kau belum bisa menggunakan manamu. Aku ingin tau juga, kenapa kau tidak bisa menggunakan manamu? Apa kau memiliki trauma dengan hal yang berhubungan dengan sihir?" Ive berusaha menjalin komunikasi dengan Ambareesh.

Namun, Ambareesh tidak memperdulikannya. "Aku benci Iblis"

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa delapan bulan berlalu begitu cepat. Iris ice blue Ambareesh perlahan berubah menjadi biru gelap akibat gen manusia yang disuntikkan oleh Wandlle. Telinganya ikut meruncing. Tak hanya itu saja, bahkan warna rambut Ambareesh mulai terlihat lebih muda dari warna langit siang.

Perkembangan Ambareesh dalam mempelajari pedang untuk pertarungan jarak dekat berkembang dengan signifikan. Kini, Ambareesh sudah mampu menangkis serangan Ive dan memberi serangan balik dengan cepat hingga membuat Ive kuwalahan bila tak menggunakan sihirnya.

"BRUAK!!!" Tubuh Ambareesh terhantam dinding sihir setelah diberi serangan sihir oleh Ive. Itu curang.

Ive mendatangi Ambareesh dan mengulurkan tangannya. "Plak!" Ambareesh menepisnya. "Jangan mengkasihani aku. Cukup ajari aku saja" Ucap Ambareesh.

Ive melihat telapak tangannya yang ditepis oleh Ambareesh. Dia tidak terlalu terbawa perasaan.

"227, hari ini kau belajar ke tahap pengenalan mana" Dia mulai mengajari Ambareesh tentang sihir.

"Duduklah. Ini akan agak panjang" Lanjut Ive.

Ambareesh duduk di rumput dan sesekali melirik Wandlle yang sedang mengawasinya dari jauh. Wandlle melambaikan tangannya pada Ambareesh.

Ambareesh kembali melihat Ive.

"Mana adalah energi sihir yang berasal dari al-"

"Langsung praktek" Sela Ambareesh. Dia tidak suka basa-basi.

"Baiklah" Ive ingin menangis. Namun, dia masih menunjukkan senyumannya.

"Anggap saja jantungmu itu mana. Lalu bayangkan jantungmu atau detakan jantungmu itu sebagai sumber dari aliran sungai itu. Sebelumnya, kau perlu mengosongkan pikiranmu. Imaginasi sangat diperlukan untuk menciptakan sihir. Orang yang tidak berimajinasi, tidak akan mempu mengeluarkan sihirnya. Kau harus memiliki keinginan kuat untuk belajar sihir. Contohnya, kenapa kau harus mempelajari sihir?"

Ambareesh membelalakan matanya mendengar ucapan Ive. Dia teringat dengan ucapan ayahnya. Ucapa Ive sama persis dengan ucapan Ravel.

"Kenapa aku belajar sihir?" Gumam Ambareesh. Ive mendengarnya. "Itu, karena aku ingin membunuh Wandlle dan Raja Iblis. Aku tidak peduli walau harus membunuh semua keturunannya" Gumamnya lagi.

"Ajari aku membaca, menulis, dan ajari aku cara bertahan hidup" Ucap Ambareesh.

Di mata Ive, Ambareesh ada bocah yang memiliki ganguan atau anak berkebutuhan khusus.

"227, apa kau masih ingat dengan namamu?"

Ambareesh mengangguk. "Aku akan mengajari semua hal yang kau ingin tau setelah kau bercerita tentang dirimu kepadaku. Mari saling mengenal" Ucap Ive sambil mengulurkan tangannya pada Ambareesh.

Ambareesh kembali melirik Wandlle yang masih memperhatikannya. Dia menepis tangan Ive. "Jangan terlalu akrab denganku. Kau taukan siapa aku ini? Objek utama. Dia tidak akan membiarkan aku merasa kesenangan sedikitpun. Cukup panggil aku 227 dan jangan bertanya lagi" Ucap Ambareesh.

Ambareesh takut dengan sosok Wandlle.

Wandlle kembali melambaikan tangannya. "227! Sudah waktunya untuk pemeriksaanmu~!" Panggilnya.

"Baik Dokter!" Ambareesh pergi meninggalkan Ive tanpa salam.

"Aku harus mengajarinya sopan-santun" Lirih Ive.

...----------------●●●----------------...

Wandlle kini memiliki asisten baru. Dia bernama Diana. Walau begitu, Diana tidak diperbolehkan untuk ikut dalam pemeriksaan Ambareesh. Mengingat Vivi yang terbunuh saat Ambareesh berniat kabur.

Wandlle mulai memeriksa satu persatu bagian tubuh Ambareesh secara menyeluruh. Wandlle tidak mengikat Ambareesh. Dia sedikit memberi kebebasan dalam pemeriksaan untuk Ambareesh.

Benjolan kecil muncul di kepala Ambareesh dibagian kanan di atas telinganya. Wandlle membelalakan matanya saat merasakan benjolan kecil yang terasa runcing itu.

Wandle segera membuka rambut Ambareesh untuk melihatnya lebih jelas. "Sial... Ini tanduk" Wandlle tidak mempercayainya saat melihatnya.

Hati Wandlle sangat berbunga. Dia mulai memeriksa kepala Ambareesh bagian kirinya. Tidak terlihat kemunculan tanduk disana. Wandlle langsung cemas.

Dia memeriksa iris mata Ambareesh. Kabanyakan Objeknya yang gagal akan menumbuhkan tanduk di bagian mata. Iris Ambareesh merespon akan cahaya. Tak ada tanda titik yang berkemungkinan untuk memunculkan tanduk disana. Hanya saja, iris Ambareesh mengalami *ditalasi pupil.

*Ditalasi pupil atau bisa disebut dengan pupil yang melebar. Hal ini, dapat terjadi secara normal ataupun efek dari trauma yang dialami, sakit, ataupun obat.

"227, apa ada area yang sakit?"

"Tidak" Jawab Ambareesh.

"Apa kau merasa pusing akhir-akhir ini?"

"Tidak"

"Jangan-jangan tanduknya hanya muncul satu?"

Perkiraan Wadlle benar. Dua tahun lamanya Ambareesh berada di penelitian itu, Ambareesh termasuk kedalam salah satu Objek Wandlle yang gagal.

Hal ini, disebabkan oleh tanduk Ambareesh yang abu-abu dan warna iris Ambareesh yang biru gelap.

...----------------●●●----------------...

Wadlle berniat mencari Objek baru yang layak. Namun, Ambareesh adalah objek terkuat miliknya. Wadlle sering kali menyuruh Ambareesh membunuh Objeknya yang gagal dengan iming-iming memberi sedikit kebebasan bagi Ambareesh dapat berkeliling gedung utama untuk mengurangi rasa jenuhnya.

Akibatnya, Ambareesh memiliki kecanduan untuk menyiksa objek lain demi mengurangi rasa sakitnya dan dia termakan dengan ucapan Wandlle.

Suatu ketika, Ambareesh pernah menagih janji Wandlle saat dia bertarung dengan Objek 227. Kini usia Ambareesh mengijak 10 tahun.

"Dokter, kapan kau akan membiarkanku keluar dari sini? Bukankah ini sudah tahun ke dua aku disini?" Tanya Ambareesh.

Wandlle menunjukkan senyumannya. "Kau masih belum berada di puncak 227. Saat kau berada di puncak dan mengalahkan semuanya yang ada disini, saat itulah kebebasanmu akan terwujud" Ucap Wandlle.

Ambareesh menatap mata Wandlle yang beriris merah.

"Apakah dengan membunuhmu aku akan menjadi yang paling dipuncak?" Ambareesh penasaran akan hal itu.

"Itu tidak mungkin" Jawab Wandlle.

"Kenapa?"

"Karena puncak dikehidupan ini adalah diri sendiri. Kau harus mampu melawan dirimu sendiri. Itu adalah puncak kehidupan menurutku" Ucap Wandlle sambil menunjuk dada kiri Ambareesh.

Ambareesh melihat tangan kanan Wandlle yang bersarung tangan itu. "Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Kau akan menjadi yang paling terpuncak setelah berhasil mengalahkan dirimu sendiri" Lanjut Wandlle.

Ambareesh memalingkan pandangannya. "Lalu, apa kau sudah mengalahkan dirimu sendiri?" Tanya Ambareesh.

"Sejauh ini, masih belum. Walau begitu, aku akan tetap berjuang untuk melampaui batasanku-"

"Dengan cara menyiksa orang lain?" Sela Ambareesh.

"Lebih tepatnya membantu mereka mendapatkan suatu hal yang sulit diterima. Kau tau itu apa?"

"Tanduk?" Jawab Ambareesh.

"Salah. Yang benar itu, penerimaan mereka. Sebenarnya, apa isi otakmu 227?" Wandlle meremas kepala Ambareesh.

"Yang jelas bukan kotoran" Jawab Ambareesh.

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kematian]
2 BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3 BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4 BAB 1 [Objek 227]
5 BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6 BAB 1 [Keberuntungan]
7 BAB 1 [Guru]
8 BAB 1 [Alba Bianca]
9 BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10 BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11 BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12 BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13 BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14 BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15 Bab 1 [Akademi]
16 BAB 1 [Masa Orientasi]
17 BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18 BAB 1 [Pertempuran]
19 BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20 BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21 BAB 1 [De luce Arnold]
22 BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23 BAB 1 [Tenggelam]
24 BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25 BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26 BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27 BAB 1 [Permulaan]
28 BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29 BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30 BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31 BAB 1 [Ketemu Lagi]
32 BAB 1 [Kelemahannya]
33 BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34 BAB 1 [Hubungan]
35 BAB 1 [Persaudaraan]
36 BAB 1 [Hanya Untukmu]
37 BAB 1 [Pemaksaan]
38 BAB 1 [Tujuan Akhir]
39 BAB 1 [Misi Terakhir]
40 BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41 BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42 BAB 2 [Kehidupan Baru]
43 BAB 2 [Harta Terbesar]
44 BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45 BAB 2 [Ingatan]
46 BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47 BAB 2 [Naomy Xilea]
48 BAB 2 [Kebenaran 1]
49 BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50 BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51 BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52 BAB 3 [Kemiripan]
53 BAB 3 [Pulang]
54 BAB 3 [Naluri]
55 BAB 3 [Kebencian]
56 BAB 3 [Nyasar]
57 BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58 BAB 3 [Taruhan]
59 BAB 3 [Artl Kyzen]
60 BAB 3 [Percobaan]
61 BAB 3 [Firasat]
62 BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63 BAB 3 [Penerimaan]
64 BAB 3 [Kegilaan]
65 BAB 3 [Anggota Baru]
66 BAB 3 [Aoelabi Darla]
67 Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68 BAB 3 [Tubuh]
69 BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70 BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71 BAB 4 [Kepulangan]
72 BAB 4 [Kemampuan]
73 BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74 BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75 BAB 4 [DI LEMA]
76 BAB 4 [Istirahat]
77 BAB 4 [Berbaikkan]
78 BAB 4 [Razel]
79 Bab 4 [Hal Baru]
80 BAB 4 [Pengubah Alur]
81 BAB 4 [Kabar Baik]
82 BAB 4 [Gangguan]
83 BAB 4 [Percayalah]
84 BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85 BAB 5 [Pertama]
86 BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87 BAB 5 [Kesadaran]
88 BAB 5 [Harta Terpenting]
89 BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90 BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91 BAB 5 [Ketahuan]
92 BAB 5 [Perubahan Berskala]
93 BAB 5 [Genderang]
94 BAB 5 [Pembebasan]
95 BAB 5 [Kerinduan]
96 BAB 5 [Sistem Monarki]
97 BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98 BAB 5 [Kompasku]
99 BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100 BAB 5 [Napas Buatan]
101 BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102 BAB 5 [Keraguan]
103 BAB 5 [Saingan]
104 BAB 5 [Hobi Daeva?]
105 BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106 BAB 5 [Waspada]
107 BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111 BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112 BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113 BAB 5 [Kambuh]
114 BAB 5 [Kesalahan Besar]
115 BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116 BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117 Bab 5 Epilog [Kembali]
118 BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119 BAB 6 [Mengeluarkan]
120 BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121 BAB 6 [Tipu Muslihat]
122 BAB 6 [Keraguan Alder]
123 BAB 6 (Rencana)
124 BAB 6 (Doa dan Diam)
125 BAB 6 [Protagonis Lain]
126 BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127 BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128 BAB 6 [Pengusik]
129 BAB 6 [Sisi Lain]
130 BAB 6 [Kesadaran]
131 BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132 BAB 6 [Jalan Hidup]
133 BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134 BAB 6 [Kesinisan]
135 BAB 6 [Makan Malam]
136 BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137 BAB 6 [Serangan Dalam]
138 BAB 6 [Kehilangan]
139 BAB 6 [Perpisahan]
140 BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141 BAB 6 [OVT]
142 BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143 BAB 6 [Keinginan]
144 BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145 BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146 BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147 BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148 BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149 BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150 BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151 BAB 6 [Keaslian]
152 BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153 BAB 6 [Permainan Akhir]
154 BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155 BAB 6 [Keberuntungan]
156 BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157 BAB 6 [Di Lema II]
158 BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159 BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160 BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161 BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162 BAB 6 [Awal dari Akhir]
163 EPILOG [TAMAT]
Episodes

Updated 163 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kematian]
2
BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3
BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4
BAB 1 [Objek 227]
5
BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6
BAB 1 [Keberuntungan]
7
BAB 1 [Guru]
8
BAB 1 [Alba Bianca]
9
BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10
BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11
BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12
BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13
BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14
BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15
Bab 1 [Akademi]
16
BAB 1 [Masa Orientasi]
17
BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18
BAB 1 [Pertempuran]
19
BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20
BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21
BAB 1 [De luce Arnold]
22
BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23
BAB 1 [Tenggelam]
24
BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25
BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26
BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27
BAB 1 [Permulaan]
28
BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29
BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30
BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31
BAB 1 [Ketemu Lagi]
32
BAB 1 [Kelemahannya]
33
BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34
BAB 1 [Hubungan]
35
BAB 1 [Persaudaraan]
36
BAB 1 [Hanya Untukmu]
37
BAB 1 [Pemaksaan]
38
BAB 1 [Tujuan Akhir]
39
BAB 1 [Misi Terakhir]
40
BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41
BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42
BAB 2 [Kehidupan Baru]
43
BAB 2 [Harta Terbesar]
44
BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45
BAB 2 [Ingatan]
46
BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47
BAB 2 [Naomy Xilea]
48
BAB 2 [Kebenaran 1]
49
BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50
BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51
BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52
BAB 3 [Kemiripan]
53
BAB 3 [Pulang]
54
BAB 3 [Naluri]
55
BAB 3 [Kebencian]
56
BAB 3 [Nyasar]
57
BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58
BAB 3 [Taruhan]
59
BAB 3 [Artl Kyzen]
60
BAB 3 [Percobaan]
61
BAB 3 [Firasat]
62
BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63
BAB 3 [Penerimaan]
64
BAB 3 [Kegilaan]
65
BAB 3 [Anggota Baru]
66
BAB 3 [Aoelabi Darla]
67
Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68
BAB 3 [Tubuh]
69
BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70
BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71
BAB 4 [Kepulangan]
72
BAB 4 [Kemampuan]
73
BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74
BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75
BAB 4 [DI LEMA]
76
BAB 4 [Istirahat]
77
BAB 4 [Berbaikkan]
78
BAB 4 [Razel]
79
Bab 4 [Hal Baru]
80
BAB 4 [Pengubah Alur]
81
BAB 4 [Kabar Baik]
82
BAB 4 [Gangguan]
83
BAB 4 [Percayalah]
84
BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85
BAB 5 [Pertama]
86
BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87
BAB 5 [Kesadaran]
88
BAB 5 [Harta Terpenting]
89
BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90
BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91
BAB 5 [Ketahuan]
92
BAB 5 [Perubahan Berskala]
93
BAB 5 [Genderang]
94
BAB 5 [Pembebasan]
95
BAB 5 [Kerinduan]
96
BAB 5 [Sistem Monarki]
97
BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98
BAB 5 [Kompasku]
99
BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100
BAB 5 [Napas Buatan]
101
BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102
BAB 5 [Keraguan]
103
BAB 5 [Saingan]
104
BAB 5 [Hobi Daeva?]
105
BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106
BAB 5 [Waspada]
107
BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111
BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112
BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113
BAB 5 [Kambuh]
114
BAB 5 [Kesalahan Besar]
115
BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116
BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117
Bab 5 Epilog [Kembali]
118
BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119
BAB 6 [Mengeluarkan]
120
BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121
BAB 6 [Tipu Muslihat]
122
BAB 6 [Keraguan Alder]
123
BAB 6 (Rencana)
124
BAB 6 (Doa dan Diam)
125
BAB 6 [Protagonis Lain]
126
BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127
BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128
BAB 6 [Pengusik]
129
BAB 6 [Sisi Lain]
130
BAB 6 [Kesadaran]
131
BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132
BAB 6 [Jalan Hidup]
133
BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134
BAB 6 [Kesinisan]
135
BAB 6 [Makan Malam]
136
BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137
BAB 6 [Serangan Dalam]
138
BAB 6 [Kehilangan]
139
BAB 6 [Perpisahan]
140
BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141
BAB 6 [OVT]
142
BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143
BAB 6 [Keinginan]
144
BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145
BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146
BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147
BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148
BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149
BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150
BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151
BAB 6 [Keaslian]
152
BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153
BAB 6 [Permainan Akhir]
154
BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155
BAB 6 [Keberuntungan]
156
BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157
BAB 6 [Di Lema II]
158
BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159
BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160
BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161
BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162
BAB 6 [Awal dari Akhir]
163
EPILOG [TAMAT]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!