BAB 1 [Perjuangan Tulus]

Elvry menuruti ucapan Ambareesh. Dia datang sambil membawa data tentang diri Ambareesh.

"Lalu, dimana data milik Bianca?" Ambareesh bertanya pada Elvry sambil membaca data dirinya.

"Maaf, aku tidak menemukan data tentang Bianca sedikitpun" Jawab Elvry.

"Hah? Apa kau berusaha membohongiku? Oh, jangan-jangan kau berniat menjauhkanku dengan Bianca? Jangan sok simpati padaku. Kèpedulianmu yang seperti ini, membuatku jijik saja. Kau tidak ada bedanya dengan dokter itu" Ambareesh mengembalikan dokumen tentang dirinya.

Dia beranggapan dokumen itu adalah palsu atau bila itu dokumen asli, bisa saja itu jebakan. "Jangan percaya dengan siapapun" Itu adalah pengangan teguh Ambareesh dari ucapan Ayahnya.

Ive datang sambil membawa data diri Ambareesh ke kamar Ambareesh untuk membujuknya. "Data milik Bianca tidak ada itu memang sebuah kebenaran. Ada kemungkinan bila data itu disembunyikan oleh Wandlle. Percayalah pada asisten Elvry" Bujuk Ive.

Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Percaya pada asisten dokter itu? Ah, tentu saja" Ambareesh tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.

Ive senang mendengarnya. Namun, Ambareesh kembali melihatnya sambil menunjukkan ekspresi jijiknya. "Apa kau pikir aku akan bicara seperti itu? Cih, menjijikkan sekali untuk percaya dengan asisten dokter itu. Kau berusaha sekeras ini karena kau diam-diam menyukainya kan guru? Jauhkan genre romansa mu dari hadapanku. Menjijikkan tau" Ucap Ambareesh sambil membalik posisinya berdiri.

Ive mengepalkan tangannya dengan kuat kemudian dia melesatkan tinjuannya itu pada Ambareesh. "WOSH!" Ambareesh berpindah dibelakang Ive sambil mengarahkan ujung jari telunjukknya pada leher Ive bagian kanan.

"Guru, kau kesal karena ucapanku benar?"

Mata Ive bergetar.

"Guru, apa kau lupa aku ini objek apa?"

Ambareesh mendekatkan bibirnya pada telinga Ive.

"227, tidak segan untuk membunuh gurunya sendiri bila masih membela asisten dokter itu" Ucap Ambareesh.

Ive tidak tau bila Ambareesh sebenci ini dengan asisten Wandlle. "227, Asisten Elvry sudah mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil data tentangmu. Apa kau tidak memiliki rasa terima kasih sedikitpun kepadanya?"

"Aku? Berterima kasih kepada seseorang yang digaji untuk membantu dalam eksperimen itu? PFFT! Harusnya, kau menceramai dirimu sendiri guru. Aku berbicara denganmu belum tentu aku juga mempercayaimu. Yang kubutuhkan bukan hanya bukti berupa ucapan. Melainkan, bukti yang berupa tindakan pula" Ucap Ambareesh sambil tersenyum dibelakang Ive.

Sosok pria yang kini berada di atas tembok tinggi itu, menepuk jidatnya. "Alfarellza sialan! Susah payah aku membantumu, kau benar-benar sesulit ini. Hah! Tapi, ini sifat yang bagus. Ada keuntungan juga bila kau kehilangan ingatanmu tentang masa lalumu. Syuut!" Sosok itu berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar tembok besar itu. Dia terjatuh dengan elok dan mendaratkan kakinya dengan empuk.

...----------------●●●----------------...

Ive meninggalkan data diri Ambareesh di kamar itu. Bianca, mendengar semua perbincangan tersebut dari balik pintu. Bianca menundukkan kepalanya sejenak.

"Ambareesh, kenapa kau bisa sedingin itu pada orang lain yang berniat membantumu dengan tulus"

Bianca tidak tau apa-apa dengan masa lalu Ambareesh. Sebab, Ambareesh tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada siapapun.

...----------------●●●----------------...

Elvry bersikeras untuk membuat Wandlle sibuk dan dia menambahkan racun pada minuman berkafein milik Wandlle.

Wandlle akan meminum kopi tersebut. Dia mulai meniup dan melihat kopi itu yang tidak memantulkan bayangannya. Wandlle melirik Elvry yang sedang menunggunya untuk meminum kopi tersebut.

"Apa ini kopi untukku?" Tanya Wandlle.

Elvry tersenyum tipis.

"Tentu dokter. Bila bukan untuk Anda, lalu untuk siapa lagi?" Balas tanya Elvry.

Wandlle meletakkan kopi itu. Dia tidak meminumnya sedikitpun. "Elvry duduklah. Menurutmu, bagaimana perkembangan objek 227?" Tanya Wandlle sambil memakai sarung tangannya.

"Dia tertutup dan sulit diajak berbicara" Jawab Elvry sambil duduk di sofa.

"Benarkah? Kalau begitu, kau sudah pernah berbincang dengannya?" Tanya Wandlle.

"Iya dokter, saya berusaha menjalìn komunikasi dengannya" Jawab Elvry.

"Apa yang kau inginkan dari 227?" Wandlle to the poin sambil mendorong minumannya pada Elvry. "Minum itu, jangan terlalu tengang di depanku" Ucap Wandlle sambil tersenyum padanya.

"Saya tidak minum kopi" Ucap Elvry.

"Cobalah dulu, kau akan suka setelah mencobanya" Ucap Wandlle.

"Saya akan meminumnya nanti" Ucap Elvry.

"Aku menyuruhmu untuk minum itu sekarang. Jangan menguji kesabaranku" Wandlle tau bila kopi itu mengandung racun.

Elvry segera mengambil kopi itu. Tangan Elvry terlihat bergetar. "Kenapa tidak diminum?" Wandlle berusaha menyudutkannya.

Elvry menunjukkan senyuman tipisnya. "Ini akan menjadi kopi pertama yang akan saya minum" Ucap Elvry.

"Kalau begitu, habiskan dan buka mulutmu. Aku akan memastikan bila kopi itu telah kau telan dengan baik" Ucap Wandlle.

Elvry tertusuk senjatanya sendiri.

Dia mulai meminumnya didepan Wandlle yang sedang menunggunya.

Kopi itu habis. Mata Elvry terlihat berlinang sambil membuka mulutnya. "Apa ada tempat yang kau sukai disini?" Tanya Wandlle sambil mencondongkan tubuhnya dan menompangkan dagunya di punggung tangan kanannya.

"Taman tempat 227 beristirahat"

"Baiklah, sekarang temui 227. Aku akan menyiapkan liangmu" Ucap Wandlle dengan santai sambil berdiri dan menepuk perlahan kepala Elvry kemudian, dia keluar dari tempat itu.

"HEUMMMPH!" Elvry berlari ke arah toilet untuk memuntahkan kopi beracun itu.

Kedua telapak tangan Elvry nampak bergetar. Wandlle adalah sosok cerdas dan licik. Dia bukan tandinganmu Elvry.

Sosok Pria berjubah hitam diatas tembok besar itu, melihat Elvry. Dia tiba-tiba menyeringai. "Aku tidak menyangka bila penyakit itu masih ada di zaman ini. Sayang sekali, aku sudah malas untuk ikut campur. Saat ini, aku hanya bisa melihat saja. Ya, lagipula semuanya akan berakhir setelah Aosora Arthur kembali dikehidupan yang sebenarnya" Ucapnya sambil duduk dan memakan buah sihir ditangannya.

...----------------●●●----------------...

Elvry mendatangi Ambareesh yang tengah berlatih dengan Ive. Mata Elvry memang tidak berlinang. Tapi, bawah kelopak matanya yang merah, tidak bisa disembunyikan bila dia memang telah menangis.

Ambareesh yang berusia 17 tahun, dipeluk oleh seorang wanita berusia 23 tahun. Tentu saja Ambareesh membelalakan matanya karena tiba-tiba dipeluk dari belakang. Begitupula dengan Bianca dan Ive.

"HEI! APA-APAAN! KAU INI!" Ambareesh menarik salah satu lengan Elvry. "Maafkan aku. Bisakah kita berbicara empat mata?" Suara itu terdengar serak. Ambareesh melepaskan tangan Elvry yang terasa berkeringat dan dingin.

Elvry tidak berani mengangkat pandangannya.

Ive yang mendengarnya, segera pergi membawa Bianca menjauh dari mereka berdua.

"Mereka sudah pergi. Sekarang, lepasin aku! Kenapa kalian perempuan suka sekali memeluk laki-laki?! Giliran laki-laki duluan, langsung ditampar!" Celoteh Ambareesh.

Elvry melepaskan pelukkannya.

"227, bolehkah ku panggil Belial Ambareesh?"

"Gak!" Ambareesh membalik arah tubuhnya dan melihat Elvry. Elvry menundukkan kepalanya. Mereka berdua, diam seperti patung. 2 menit berlalu tanpa ada satupun yang berbicara.

"Menyusahkan" Batin Ambareesh sambil memutar bola matanya.

Ambareesh sedikit membungkukkan tubuhnya dan membelakangkan rambut Elvry yang menutup wajahnya. "Katakan sesuatu! Aku tid-" Ambareesh membelalakan matanya saat melihat Elvry. Darah keluar dari hidung Elvry dan wajah Elvry terlihat pucat.

"Kau, sakit? Mending istirahat" Ucap Ambareesh.

"Maaf, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Gunakan waktu saat ini untuk keluar dari sini. Dokter Wandlle sedang sibuk menggalih" Ucap Elvry sambil mengalihkan pandangannya.

Ambareesh kembali mengerutkan keningnya. "Siapa lagi yang mau kalian suruh untuk ku bunuh?!" Ambareesh langsung paham dengan ucapan Elvry.

"227!" Elvry memegang tangan kanan Ambareesh dan meletakkannya di dada kirinya. "He'!"-"Bunuh aku. Rasa ini, membuatku sulit untuk bernapas. Dadaku sesak dan panas. Racun itu, mungkin sekarang sudah menyebar keseluruh darahku. Bunuh aku 227. Aku tidak akan menyesal bila mati di tanganmu" Elvry mengengam erat tangan Ambareesh.

"Apa maksudmu?"

Episodes
1 BAB 1 PROLOG [Kematian]
2 BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3 BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4 BAB 1 [Objek 227]
5 BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6 BAB 1 [Keberuntungan]
7 BAB 1 [Guru]
8 BAB 1 [Alba Bianca]
9 BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10 BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11 BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12 BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13 BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14 BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15 Bab 1 [Akademi]
16 BAB 1 [Masa Orientasi]
17 BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18 BAB 1 [Pertempuran]
19 BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20 BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21 BAB 1 [De luce Arnold]
22 BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23 BAB 1 [Tenggelam]
24 BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25 BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26 BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27 BAB 1 [Permulaan]
28 BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29 BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30 BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31 BAB 1 [Ketemu Lagi]
32 BAB 1 [Kelemahannya]
33 BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34 BAB 1 [Hubungan]
35 BAB 1 [Persaudaraan]
36 BAB 1 [Hanya Untukmu]
37 BAB 1 [Pemaksaan]
38 BAB 1 [Tujuan Akhir]
39 BAB 1 [Misi Terakhir]
40 BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41 BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42 BAB 2 [Kehidupan Baru]
43 BAB 2 [Harta Terbesar]
44 BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45 BAB 2 [Ingatan]
46 BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47 BAB 2 [Naomy Xilea]
48 BAB 2 [Kebenaran 1]
49 BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50 BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51 BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52 BAB 3 [Kemiripan]
53 BAB 3 [Pulang]
54 BAB 3 [Naluri]
55 BAB 3 [Kebencian]
56 BAB 3 [Nyasar]
57 BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58 BAB 3 [Taruhan]
59 BAB 3 [Artl Kyzen]
60 BAB 3 [Percobaan]
61 BAB 3 [Firasat]
62 BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63 BAB 3 [Penerimaan]
64 BAB 3 [Kegilaan]
65 BAB 3 [Anggota Baru]
66 BAB 3 [Aoelabi Darla]
67 Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68 BAB 3 [Tubuh]
69 BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70 BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71 BAB 4 [Kepulangan]
72 BAB 4 [Kemampuan]
73 BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74 BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75 BAB 4 [DI LEMA]
76 BAB 4 [Istirahat]
77 BAB 4 [Berbaikkan]
78 BAB 4 [Razel]
79 Bab 4 [Hal Baru]
80 BAB 4 [Pengubah Alur]
81 BAB 4 [Kabar Baik]
82 BAB 4 [Gangguan]
83 BAB 4 [Percayalah]
84 BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85 BAB 5 [Pertama]
86 BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87 BAB 5 [Kesadaran]
88 BAB 5 [Harta Terpenting]
89 BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90 BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91 BAB 5 [Ketahuan]
92 BAB 5 [Perubahan Berskala]
93 BAB 5 [Genderang]
94 BAB 5 [Pembebasan]
95 BAB 5 [Kerinduan]
96 BAB 5 [Sistem Monarki]
97 BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98 BAB 5 [Kompasku]
99 BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100 BAB 5 [Napas Buatan]
101 BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102 BAB 5 [Keraguan]
103 BAB 5 [Saingan]
104 BAB 5 [Hobi Daeva?]
105 BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106 BAB 5 [Waspada]
107 BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110 BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111 BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112 BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113 BAB 5 [Kambuh]
114 BAB 5 [Kesalahan Besar]
115 BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116 BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117 Bab 5 Epilog [Kembali]
118 BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119 BAB 6 [Mengeluarkan]
120 BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121 BAB 6 [Tipu Muslihat]
122 BAB 6 [Keraguan Alder]
123 BAB 6 (Rencana)
124 BAB 6 (Doa dan Diam)
125 BAB 6 [Protagonis Lain]
126 BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127 BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128 BAB 6 [Pengusik]
129 BAB 6 [Sisi Lain]
130 BAB 6 [Kesadaran]
131 BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132 BAB 6 [Jalan Hidup]
133 BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134 BAB 6 [Kesinisan]
135 BAB 6 [Makan Malam]
136 BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137 BAB 6 [Serangan Dalam]
138 BAB 6 [Kehilangan]
139 BAB 6 [Perpisahan]
140 BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141 BAB 6 [OVT]
142 BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143 BAB 6 [Keinginan]
144 BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145 BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146 BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147 BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148 BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149 BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150 BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151 BAB 6 [Keaslian]
152 BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153 BAB 6 [Permainan Akhir]
154 BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155 BAB 6 [Keberuntungan]
156 BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157 BAB 6 [Di Lema II]
158 BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159 BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160 BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161 BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162 BAB 6 [Awal dari Akhir]
163 EPILOG [TAMAT]
Episodes

Updated 163 Episodes

1
BAB 1 PROLOG [Kematian]
2
BAB 1 [Malaikat Berdarah Dingin]
3
BAB 1 [Penghianatan Dan Kebusukan]
4
BAB 1 [Objek 227]
5
BAB 1 [Neraka Dan Keinginan]
6
BAB 1 [Keberuntungan]
7
BAB 1 [Guru]
8
BAB 1 [Alba Bianca]
9
BAB 1 [Rasa Yang Paling Ditakuti]
10
BAB 1 [Sosok Yang Sama]
11
BAB 1 [Perjuangan Tulus]
12
BAB 1 [Awal Dari Kehidupan Barunya]
13
BAB 1 [Teman Dan Penghianat]
14
BAB 1 [Penyimpangan Sosial]
15
Bab 1 [Akademi]
16
BAB 1 [Masa Orientasi]
17
BAB 1 [Pelatihan Dan Kabar]
18
BAB 1 [Pertempuran]
19
BAB 1 [AKHIR PERTEMPURAN DAN PERTEMUAN]
20
BAB 1 [Pekerjaan Baru]
21
BAB 1 [De luce Arnold]
22
BAB 1 [Kagum Atau Suka]
23
BAB 1 [Tenggelam]
24
BAB 1 [Cerberus Dan Serigala Sihir]
25
BAB 1 [Tentang De luce Arnold]
26
BAB 1 [Rencana Berikutnya]
27
BAB 1 [Permulaan]
28
BAB 1 [Rasa Asing Dan Kerinduan]
29
BAB 1 [Ingin Memelukmu]
30
BAB 1 [Markas Para Bandit Aokuma]
31
BAB 1 [Ketemu Lagi]
32
BAB 1 [Kelemahannya]
33
BAB 1 [Posisi Ha nashi]
34
BAB 1 [Hubungan]
35
BAB 1 [Persaudaraan]
36
BAB 1 [Hanya Untukmu]
37
BAB 1 [Pemaksaan]
38
BAB 1 [Tujuan Akhir]
39
BAB 1 [Misi Terakhir]
40
BAB 1 EPILOG [Kematian & Kutukan]
41
BAB 2 PROLOG [Aosora Arthur]
42
BAB 2 [Kehidupan Baru]
43
BAB 2 [Harta Terbesar]
44
BAB 2 [Rahasia Marsyal]
45
BAB 2 [Ingatan]
46
BAB 2 [Orang Tidak Normal]
47
BAB 2 [Naomy Xilea]
48
BAB 2 [Kebenaran 1]
49
BAB 2 EPILOG [Kebangkitan]
50
BAB 3 PROLOG [Pertemuan dan Tugas]
51
BAB 3 [Serpihan Ingatan]
52
BAB 3 [Kemiripan]
53
BAB 3 [Pulang]
54
BAB 3 [Naluri]
55
BAB 3 [Kebencian]
56
BAB 3 [Nyasar]
57
BAB 3 [Kegigihan Aosora Arthur]
58
BAB 3 [Taruhan]
59
BAB 3 [Artl Kyzen]
60
BAB 3 [Percobaan]
61
BAB 3 [Firasat]
62
BAB 3 [Dua Titisan Dan Ruri]
63
BAB 3 [Penerimaan]
64
BAB 3 [Kegilaan]
65
BAB 3 [Anggota Baru]
66
BAB 3 [Aoelabi Darla]
67
Bab 3 [Sosok Aosora Arthur]
68
BAB 3 [Tubuh]
69
BAB 3 EPILOG [Kesadaran]
70
BAB 4 PROLOG [Ilusi]
71
BAB 4 [Kepulangan]
72
BAB 4 [Kemampuan]
73
BAB 4 [Kedatangan Alba ve Ranu]
74
BAB 4 [Pertemuan Yang Tidak Direncanakan]
75
BAB 4 [DI LEMA]
76
BAB 4 [Istirahat]
77
BAB 4 [Berbaikkan]
78
BAB 4 [Razel]
79
Bab 4 [Hal Baru]
80
BAB 4 [Pengubah Alur]
81
BAB 4 [Kabar Baik]
82
BAB 4 [Gangguan]
83
BAB 4 [Percayalah]
84
BAB 5 PROLOG [Deklarasi I]
85
BAB 5 [Pertama]
86
BAB 5 [Luciel Sang Malaikat Jatuh]
87
BAB 5 [Kesadaran]
88
BAB 5 [Harta Terpenting]
89
BAB 5 [Kebangkitan Gairah]
90
BAB 5 [Sosok Yang Mencintai]
91
BAB 5 [Ketahuan]
92
BAB 5 [Perubahan Berskala]
93
BAB 5 [Genderang]
94
BAB 5 [Pembebasan]
95
BAB 5 [Kerinduan]
96
BAB 5 [Sistem Monarki]
97
BAB 5 [Penculikan Dua Orang Besar]
98
BAB 5 [Kompasku]
99
BAB 5 [Nakal Dikit, Gak Ngaruh]
100
BAB 5 [Napas Buatan]
101
BAB 5 [Sosok Yang Dicari]
102
BAB 5 [Keraguan]
103
BAB 5 [Saingan]
104
BAB 5 [Hobi Daeva?]
105
BAB 5 [Alasan Takdir Harus Di Rahasiakan]
106
BAB 5 [Waspada]
107
BAB 5 [Jangan Meninggalkannya]
108
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-1]
109
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-2]
110
BAB 5 [Elf Tanpa Marga-3_Selesai]
111
BAB 5 [Artl Kyzen 2]
112
BAB 5 [Artl Kyzen-3_Selesai]
113
BAB 5 [Kambuh]
114
BAB 5 [Kesalahan Besar]
115
BAB 5 [De luce Arnold_Selesai]
116
BAB 5 [Kebangkitan dan Pemulihan]
117
Bab 5 Epilog [Kembali]
118
BAB 6 [Kedatangannya Dalam Fisik Lain]
119
BAB 6 [Mengeluarkan]
120
BAB 6 [Ketidaksadaran Alter]
121
BAB 6 [Tipu Muslihat]
122
BAB 6 [Keraguan Alder]
123
BAB 6 (Rencana)
124
BAB 6 (Doa dan Diam)
125
BAB 6 [Protagonis Lain]
126
BAB 6 (Perbedaan Keduanya)
127
BAB 6 [Sisi Tak Aman]
128
BAB 6 [Pengusik]
129
BAB 6 [Sisi Lain]
130
BAB 6 [Kesadaran]
131
BAB 6 [Tekad Untuk Hidup]
132
BAB 6 [Jalan Hidup]
133
BAB 6 [Pertemuan Yang Tak Disengaja]
134
BAB 6 [Kesinisan]
135
BAB 6 [Makan Malam]
136
BAB 6 [Janji Mati dan Permintaan Akhir]
137
BAB 6 [Serangan Dalam]
138
BAB 6 [Kehilangan]
139
BAB 6 [Perpisahan]
140
BAB 6 [Pembebasan Archie II]
141
BAB 6 [OVT]
142
BAB 6 [Rencana Penghianatan Luciel]
143
BAB 6 [Keinginan]
144
BAB 6 [Pemulaan Rencana Luciel]
145
BAB 6 [Perasaan Tersembunyi]
146
BAB 6 [Ketetapan Tekad Luciel]
147
BAB 6 [Menuju Rencana Luciel]
148
BAB 6 [Misi Di Aokuma-1]
149
BAB 6 [Misi Yang Terganggu]
150
BAB 6 [Pilih Yang Mana]
151
BAB 6 [Keaslian]
152
BAB 6 [Pertunjukan Atas Namamu]
153
BAB 6 [Permainan Akhir]
154
BAB 6 [Pertengahan Rencana Luciel]
155
BAB 6 [Keberuntungan]
156
BAB 6 [Mending Gak Tanya]
157
BAB 6 [Di Lema II]
158
BAB 6 [Buat Aku Penasaran]
159
BAB 6 [Saling Memanfaatkan]
160
BAB 6 [Pertunjukkan Terakhir Luciel-Penyerangan]
161
BAB 6 [Akhir Dari Rencana Luciel]
162
BAB 6 [Awal dari Akhir]
163
EPILOG [TAMAT]

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!