Elvry menuruti ucapan Ambareesh. Dia datang sambil membawa data tentang diri Ambareesh.
"Lalu, dimana data milik Bianca?" Ambareesh bertanya pada Elvry sambil membaca data dirinya.
"Maaf, aku tidak menemukan data tentang Bianca sedikitpun" Jawab Elvry.
"Hah? Apa kau berusaha membohongiku? Oh, jangan-jangan kau berniat menjauhkanku dengan Bianca? Jangan sok simpati padaku. Kèpedulianmu yang seperti ini, membuatku jijik saja. Kau tidak ada bedanya dengan dokter itu" Ambareesh mengembalikan dokumen tentang dirinya.
Dia beranggapan dokumen itu adalah palsu atau bila itu dokumen asli, bisa saja itu jebakan. "Jangan percaya dengan siapapun" Itu adalah pengangan teguh Ambareesh dari ucapan Ayahnya.
Ive datang sambil membawa data diri Ambareesh ke kamar Ambareesh untuk membujuknya. "Data milik Bianca tidak ada itu memang sebuah kebenaran. Ada kemungkinan bila data itu disembunyikan oleh Wandlle. Percayalah pada asisten Elvry" Bujuk Ive.
Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Percaya pada asisten dokter itu? Ah, tentu saja" Ambareesh tersenyum tipis sambil menundukkan kepalanya.
Ive senang mendengarnya. Namun, Ambareesh kembali melihatnya sambil menunjukkan ekspresi jijiknya. "Apa kau pikir aku akan bicara seperti itu? Cih, menjijikkan sekali untuk percaya dengan asisten dokter itu. Kau berusaha sekeras ini karena kau diam-diam menyukainya kan guru? Jauhkan genre romansa mu dari hadapanku. Menjijikkan tau" Ucap Ambareesh sambil membalik posisinya berdiri.
Ive mengepalkan tangannya dengan kuat kemudian dia melesatkan tinjuannya itu pada Ambareesh. "WOSH!" Ambareesh berpindah dibelakang Ive sambil mengarahkan ujung jari telunjukknya pada leher Ive bagian kanan.
"Guru, kau kesal karena ucapanku benar?"
Mata Ive bergetar.
"Guru, apa kau lupa aku ini objek apa?"
Ambareesh mendekatkan bibirnya pada telinga Ive.
"227, tidak segan untuk membunuh gurunya sendiri bila masih membela asisten dokter itu" Ucap Ambareesh.
Ive tidak tau bila Ambareesh sebenci ini dengan asisten Wandlle. "227, Asisten Elvry sudah mempertaruhkan nyawanya untuk mengambil data tentangmu. Apa kau tidak memiliki rasa terima kasih sedikitpun kepadanya?"
"Aku? Berterima kasih kepada seseorang yang digaji untuk membantu dalam eksperimen itu? PFFT! Harusnya, kau menceramai dirimu sendiri guru. Aku berbicara denganmu belum tentu aku juga mempercayaimu. Yang kubutuhkan bukan hanya bukti berupa ucapan. Melainkan, bukti yang berupa tindakan pula" Ucap Ambareesh sambil tersenyum dibelakang Ive.
Sosok pria yang kini berada di atas tembok tinggi itu, menepuk jidatnya. "Alfarellza sialan! Susah payah aku membantumu, kau benar-benar sesulit ini. Hah! Tapi, ini sifat yang bagus. Ada keuntungan juga bila kau kehilangan ingatanmu tentang masa lalumu. Syuut!" Sosok itu berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar tembok besar itu. Dia terjatuh dengan elok dan mendaratkan kakinya dengan empuk.
...----------------●●●----------------...
Ive meninggalkan data diri Ambareesh di kamar itu. Bianca, mendengar semua perbincangan tersebut dari balik pintu. Bianca menundukkan kepalanya sejenak.
"Ambareesh, kenapa kau bisa sedingin itu pada orang lain yang berniat membantumu dengan tulus"
Bianca tidak tau apa-apa dengan masa lalu Ambareesh. Sebab, Ambareesh tidak pernah menceritakan tentang dirinya kepada siapapun.
...----------------●●●----------------...
Elvry bersikeras untuk membuat Wandlle sibuk dan dia menambahkan racun pada minuman berkafein milik Wandlle.
Wandlle akan meminum kopi tersebut. Dia mulai meniup dan melihat kopi itu yang tidak memantulkan bayangannya. Wandlle melirik Elvry yang sedang menunggunya untuk meminum kopi tersebut.
"Apa ini kopi untukku?" Tanya Wandlle.
Elvry tersenyum tipis.
"Tentu dokter. Bila bukan untuk Anda, lalu untuk siapa lagi?" Balas tanya Elvry.
Wandlle meletakkan kopi itu. Dia tidak meminumnya sedikitpun. "Elvry duduklah. Menurutmu, bagaimana perkembangan objek 227?" Tanya Wandlle sambil memakai sarung tangannya.
"Dia tertutup dan sulit diajak berbicara" Jawab Elvry sambil duduk di sofa.
"Benarkah? Kalau begitu, kau sudah pernah berbincang dengannya?" Tanya Wandlle.
"Iya dokter, saya berusaha menjalìn komunikasi dengannya" Jawab Elvry.
"Apa yang kau inginkan dari 227?" Wandlle to the poin sambil mendorong minumannya pada Elvry. "Minum itu, jangan terlalu tengang di depanku" Ucap Wandlle sambil tersenyum padanya.
"Saya tidak minum kopi" Ucap Elvry.
"Cobalah dulu, kau akan suka setelah mencobanya" Ucap Wandlle.
"Saya akan meminumnya nanti" Ucap Elvry.
"Aku menyuruhmu untuk minum itu sekarang. Jangan menguji kesabaranku" Wandlle tau bila kopi itu mengandung racun.
Elvry segera mengambil kopi itu. Tangan Elvry terlihat bergetar. "Kenapa tidak diminum?" Wandlle berusaha menyudutkannya.
Elvry menunjukkan senyuman tipisnya. "Ini akan menjadi kopi pertama yang akan saya minum" Ucap Elvry.
"Kalau begitu, habiskan dan buka mulutmu. Aku akan memastikan bila kopi itu telah kau telan dengan baik" Ucap Wandlle.
Elvry tertusuk senjatanya sendiri.
Dia mulai meminumnya didepan Wandlle yang sedang menunggunya.
Kopi itu habis. Mata Elvry terlihat berlinang sambil membuka mulutnya. "Apa ada tempat yang kau sukai disini?" Tanya Wandlle sambil mencondongkan tubuhnya dan menompangkan dagunya di punggung tangan kanannya.
"Taman tempat 227 beristirahat"
"Baiklah, sekarang temui 227. Aku akan menyiapkan liangmu" Ucap Wandlle dengan santai sambil berdiri dan menepuk perlahan kepala Elvry kemudian, dia keluar dari tempat itu.
"HEUMMMPH!" Elvry berlari ke arah toilet untuk memuntahkan kopi beracun itu.
Kedua telapak tangan Elvry nampak bergetar. Wandlle adalah sosok cerdas dan licik. Dia bukan tandinganmu Elvry.
Sosok Pria berjubah hitam diatas tembok besar itu, melihat Elvry. Dia tiba-tiba menyeringai. "Aku tidak menyangka bila penyakit itu masih ada di zaman ini. Sayang sekali, aku sudah malas untuk ikut campur. Saat ini, aku hanya bisa melihat saja. Ya, lagipula semuanya akan berakhir setelah Aosora Arthur kembali dikehidupan yang sebenarnya" Ucapnya sambil duduk dan memakan buah sihir ditangannya.
...----------------●●●----------------...
Elvry mendatangi Ambareesh yang tengah berlatih dengan Ive. Mata Elvry memang tidak berlinang. Tapi, bawah kelopak matanya yang merah, tidak bisa disembunyikan bila dia memang telah menangis.
Ambareesh yang berusia 17 tahun, dipeluk oleh seorang wanita berusia 23 tahun. Tentu saja Ambareesh membelalakan matanya karena tiba-tiba dipeluk dari belakang. Begitupula dengan Bianca dan Ive.
"HEI! APA-APAAN! KAU INI!" Ambareesh menarik salah satu lengan Elvry. "Maafkan aku. Bisakah kita berbicara empat mata?" Suara itu terdengar serak. Ambareesh melepaskan tangan Elvry yang terasa berkeringat dan dingin.
Elvry tidak berani mengangkat pandangannya.
Ive yang mendengarnya, segera pergi membawa Bianca menjauh dari mereka berdua.
"Mereka sudah pergi. Sekarang, lepasin aku! Kenapa kalian perempuan suka sekali memeluk laki-laki?! Giliran laki-laki duluan, langsung ditampar!" Celoteh Ambareesh.
Elvry melepaskan pelukkannya.
"227, bolehkah ku panggil Belial Ambareesh?"
"Gak!" Ambareesh membalik arah tubuhnya dan melihat Elvry. Elvry menundukkan kepalanya. Mereka berdua, diam seperti patung. 2 menit berlalu tanpa ada satupun yang berbicara.
"Menyusahkan" Batin Ambareesh sambil memutar bola matanya.
Ambareesh sedikit membungkukkan tubuhnya dan membelakangkan rambut Elvry yang menutup wajahnya. "Katakan sesuatu! Aku tid-" Ambareesh membelalakan matanya saat melihat Elvry. Darah keluar dari hidung Elvry dan wajah Elvry terlihat pucat.
"Kau, sakit? Mending istirahat" Ucap Ambareesh.
"Maaf, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini. Gunakan waktu saat ini untuk keluar dari sini. Dokter Wandlle sedang sibuk menggalih" Ucap Elvry sambil mengalihkan pandangannya.
Ambareesh kembali mengerutkan keningnya. "Siapa lagi yang mau kalian suruh untuk ku bunuh?!" Ambareesh langsung paham dengan ucapan Elvry.
"227!" Elvry memegang tangan kanan Ambareesh dan meletakkannya di dada kirinya. "He'!"-"Bunuh aku. Rasa ini, membuatku sulit untuk bernapas. Dadaku sesak dan panas. Racun itu, mungkin sekarang sudah menyebar keseluruh darahku. Bunuh aku 227. Aku tidak akan menyesal bila mati di tanganmu" Elvry mengengam erat tangan Ambareesh.
"Apa maksudmu?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments