...¤ PADA CHAPTER INI MEMUAT TINDAKAN PENYIMPANGAN SOSIAL. MOHON HATI-HATI SAAT MEMBACA ¤...
Skyzen, terkenal dengan serangannya yang tiba-tiba atau mendadak. Dia pandai dalam melakukan penyergapan seperti seekor kucing yang berhasil menangkap burung.
Ambareesh melihat cara membunuh Skyzen yang brutal.
Setelah Skyzen menghunuskan pedangnya hingga tiga orang itu mati, dia mengiris wajah tiga jasad itu seperti topeng yang terlepas dari wajah. Skyzen menunjukkan seringaian lebarnya saat mengiris wajah mereka.
Kemudian, Skyzen mengulurkan tangannya pada Ambareesh. "Jadi, siapa namamu?" Tanyanya.
"227" Jawab Ambareesh.
Skyzen menaikkan salah satu alisnya. "Nama macam apa itu? Memangnya, kau ini barang?"
"Namaku, Ambareesh" Jawabnya.
"Hanya itu?"
"Ya"
"Namamu terdengar kuno. Tapi, itu pasti memiliki arti yang bagus"
"Ayahku yang memberikan nama itu. Ambareesh, artinya adalah raja langit. Suatu hari nanti, aku akan membuat langit yang berawan menjadi cerah" Lirih Ambareesh sambil mengalihkan pandangannya.
Iblis itu tersenyum.
"Senang bertemu denganmu Ambareesh. Namaku, Skyzen. Kau bisa memanggilku Sky dan aku dipihakmu. Ya~ walau begitu, aku tidak akan menghianati rajaku De luce" Ucapnya.
Ambareesh sudah menduganya.
"Lalu, bagaimana dengan kejujuranku tadi?"
"Santai saja~ Aku adalah orang yang menepati janjiku. Aku akan membebaskanmu dan aku akan berhenti mengikuti sayembara itu" Ucap Skyzen.
"Apa hanya itu saja?"
Skyzen terkekeh ringan.
"Kau orang yang perhitungan. Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan dua kali. Apa yang kau butuhkan?"
"Tiga permintaan" Tawar Ambareesh.
"Ha'? Memangnya aku jin dalam botol? Tsk! Baiklah. Apa itu?"
"Ajari aku sihir, biarkan aku tinggal ditempatmu, dan aku bantu aku untuk menjadi prajurit Akaiakuma" Jawab Ambareesh.
Itu adalah permintaan yang merepotkan.
"Aku tidak bisa mengajarimu ataupun menurunkan sihirku padamu. Begitupun dengan rumah" Ucapnya.
"Kenapa?"
"Aku belajar sihir secara otodidak. Sehingga, aku tidak tau bagaimana caraku untuk menjelaskannya padamu"
"Kalau begitu, biarkan aku melihat sihirmu. Aku akan memahaminya dan akan ku pelajari selama dua minggu. Aku sangat pintar dalam meniru sihir yang dipraktekkan" Jawab Ambareesh.
"Kau gigih sekali. Sebenarnya, kenapa kau meminta itu padaku?" Tanya Skyzen.
"Karena kau yang membunuh ayahku. Dan pergerakanmu sulit untuk dibaca. Aku menginginkan sesuatu seperti itu" Jawab Ambareesh dengan nadanya yang terdengar santai dan datar.
Skyzen sempat melongo. "Yang benar saja" Dia membelakangkan rambutnya.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, aku tidak bisa menjamin keamananmu untuk tinggal di rumahku. Apa kau tidak bisa memotong tandukmu itu?"
"Aku sudah mencobanya" Jawab Ambareesh.
"Anj*r"
Skyzen tersenyum kaku.
...----------------●●●----------------...
Skyzen memberikan jubah merah maron pada Ambareesh dengan kain dalaman berwarna toska.
"Untuk apa ini?" Tanya Ambareesh.
"Aku menetap dibagian pusat dan setiap hari selalu ada Iblis yang lalulalang. Kau harus berhati-hati kedepannya"
"Pusat? Dia tidak menempat di Shinrin? Apa takdirku akan berubah bila aku tidak di Shinrin?"
"Itu rumah dinas yang ada disana. Maksud rumah dinas itu, untuk mempermudah dan mempercepat jalanku saat bertugas" Lanjut Skyzen.
"Lalu, dimana rumahmu yang sebenarnya"
"Di Shinrin"
"Serius, apa ini sebuah kebetulan atau keberuntungan untukku?"
"Rumah itu sudah ditempati oleh keluarga Elf. Oh! Kurasa aku ada ide yang bagus"
Skyzen membawa Ambareesh menuju rumah miliknya di Shinrin.
Rumah itu terlihat sederhana dan ada lima pohon mangga disekitarnya.
Skyzen mendatangi satu remaja laki-laki dan satu anak perempuan.
"Luka dimana ayahmu?"
Dua orang itu melihat Skyzen.
"Paman Sky!" Mereka berdua antusias menyapanya.
"Jangan panggil aku paman! Aku masih 26 tahun!"
Ambareesh memperhatikan mereka. Perbincangan itu, seolah mereka berdua tidak tau sifat asli iblis yang ada dihadapan mereka.
"Apa hubungan mereka denganmu?" Pertanyaan Ambareesh menyela perbincangan hangat ketiganya. Mereka melihat Ambareesh yang ada di belakang Skyzen.
"Ugh! Kau dari bangsa apa?" Remaja laki-laki itu memasang raut jijiknya.
"Ambareesh, Mereka sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dan mereka juga menganggapku seperti keluargan-"
"Bagaimana bisa? Seorang Iblis sepertimu memiliki rasa seperti itu?" Ambareesh menundukkan pandangannya.
Skyzen memasang raut bingung.
"Hei, gini-gini aku juga punya hati tau"
"Lalu, kenapa kau tidak memiliki hati saat membunuh ayahku? Bukankah, hari itu ayahku sedang mengendongku dan dia juga memiliki keluarga?" Tanya Ambareesh.
"Itu berbeda. Sebab, keberadaan ayahmu sangat berpotensi berbahaya bagi tatanan Akaiakuma. Dia adalah sosok yang memimpin pemberontakan dan memiliki rencana untuk pembunuhan raja De luce" Jelas Skyzen.
Ambareesh memgatupkan mulutnya dengan erat.
Skyzen melanjutkan perbincangannya dengan Luka dan adiknya.
"Sialan! Kau juga sama! Kau hanya pura-pura baik demi popularitasmu saja dan kau baik kepada mereka hanya karena kau menginginkan mereka membalas budimu!"
Batin Ambareesh benar.
Seminggu setelah tinggalnya Ambareesh disana dia mulai mengenal sosok Skyzen dan ayahnya Luka. Skyzen memiliki hubungan yang tidak normal dengan ayahnya Luka.
Itu dilakukan ayahnya Luka demi membayar balas budi Skyzen dengan tubuhnya.
Ambareesh melihat semua itu.
Dia menutup mulutnya. Perutnya seolah ingin mengeluarkan makanannya. "Ada apa dengan pemikirannya? Kenapa mereka berhubungan layaknya seorang suami istri?" Ambareesh menutup telinganya dan meninggalkan tempat itu untuk mencari udara segar.
Ambareesh menopang kepalanya di atas telapak tangannya dengan menumpunya diatas kedua lututnya. "Dia sama saja dengan Iblis yang lainnya. Aku ingin sekali membunuhnya"
Ambareesh membelalakan matanya. "Apa dengan membunuhnya, aku bisa membebaskan keluarga ini dari jeratan Iblis itu?"
Ini bukan kepedulian Ambareesh. Dia hanya ingin melakukan sesuatu demi kepuasan dirinya sendiri.
Ambareesh menyeringai lebar, dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. "Aku ingin sekali melihat wajahnya saat memohon ampunan dan darahnya. Ah, Sialan!" Gumam Ambareesh.
Ambareesh kembali ke kamar itu. Dia mengintip. Wajah cantik dari ayahnya Luka terlihat pasrah menerimanya. "Apa-apaan wajah itu?"
Mereka belum selesai.
Ambareesh kembali melihat ke depan. Dia memikirkan cara untuk menyerang Skyzen tanpa ada penyerangan balik darinya. Dalam kondisi seperti ini, bila Ambareesh salah serang yang menjadi korban adalah Ayahnya Luka.
"Bagaimana dengan sihir pengucapan?" Lirih sosok lain disebelah Ambareesh.
Ambareesh sontak merinding dan terkejut. Dia mengeluarkan pedang mananya dan langsung melesatkannya ke arah kiri tubuhnya.
"Bzzt!" Sosok itu berpindah untuk menghindari pedang Ambareesh.
"Refleksmu tidak berubah" Ternyata dia adalah Iblis yang selama ini membantu Ambareesh.
"Kenapa kau selalu mengejutkanku?" lirih Ambareesh.
"Hobi baruku" Lirihnya.
"Tsk! Lalu, apa maksudmu dengan sihir pengucapan?"
"Oh, kau belum bisa melakukannya? Kalau begitu, tebas saja kepalanya. Dikondisi seperti itu, dia hanya akan fokus pada hal yang dia lakukan. Apa kau terkejut melihat pemandangan itu?" Tanya Iblis itu.
"Tentu saja. Mereka sama-sama memiliki pedang dan seolah bagi mereka tidak ada wanita di dunia ini" Ucap Ambareesh.
"Alfarellza, kepuasan seseorang itu berbeda-beda. Tapi, untuk yang ini sangatlah menyimpang. Lakukan seperti yang kau rencanakan. Ini adalah langkah awalmu untuk mencapai puncak hidupmu" Ucap Iblis itu.
"Lalu, kau mau kemana?"
"Aku akan tetap mengawasimu"
"Kenapa kau mengawasiku?"
"Tujuan kita sama. Untuk mencapai puncak kedamaian yang bersifat mutlak. Kedamaian tanpa adanya suara jeritan, teriakan, dan tangisan. Serta, kedamaian dengan penghormatan atas rasa keadilan yang tinggi. Wosh..." Iblis itu menghilang seperti angin.
"Kurasa, hanya Iblis itu yang berbeda. WOSH"
Ambareesh berpindah tempat tepat dibelakang Skyzen. Dia mengangkat pedang mananya diatas punggung Skyzen.
"JLEEEEB!!!! CRAT!" Pedang mana Ambareesh menembus ke tubuh Skyzen.
Skyzen melihat Ambareesh yang ada dibelakangnya. "Am..bareesh... Apa... yang... Kau lak... kukan? BRUK!"
Skyzen menjatuhi punggung Ayahnya Luka.
"Menjijikkan sekali. Harusnya, aku yang bertanya begitu padamu" Ucap Ambareesh sambil menarik pakaian Skyzen hingga terjatuh.
Ambareesh melihat Ayahnya Luka sedang melihatnya kemudian terburu-buru mengenakan pakaiannya.
Ambareesh menarik pedang mananya dari punggung Skyzen. Kemudian, dia menjabrak rambut Skyzen bagian belakang hingga Skyzen mendonggakkan kepalanya.
"Apa ada kata terakhir?" Tanya Ambareesh sambil menunjuk leher Skyzen dengan pedang mana birunya.
"Apa maksudmu dengan kata terakhir?" Tanya Skyzen.
Ambareesh mengusap pipi kanannya yang terdapat darah Skyzen. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Skyzen. Ambareesh menyeringai lebar.
"Aku ingin mendengar teriakanmu. TRASH!!!" Ambareesh menebaskan pedang mananya pada lengan kanan Skyzen hingga lengannya terputus.
"HEMPH!!! AAARRRRGGGHHHH!" Jeritan itu memilukan.
"Apa kata terakhirmu?" Ambareesh menyipitkan matanya dan masih menunjukkan seringaiannya.
"Hen..tik...kan!"
"TRASH!" Ambareesh memotong lengan kiri Skyzen.
"AAAAARGGGH!"
"Apa kata terakhirmu?"
Mata Skyzen mengeluarkan air matanya.
"Ampuni aku...." Suara Skyzen bergetar.
Ambareesh meringis lebar "TRASH!!! CRAT!" Ambareesh memenggal kepala Skyzen hingga darah Skyzen menyiprat di wajah dan pakaiannya.
Kepala Skyzen mengelinding ke kakinya dengan keadaan mulut yang menganga.
"Haha! Apa rasanya enak saat mati dalam keadaan terpenggal?" Tanya Ambareesh sambil tertawa.
Ayah Luka bersujud di belakang Ambareesh.
"Ambareesh, apa kau akan melakukan yang kau lakukan pada Tuan Skyzen juga pada ku?" Tanyanya.
"Tentu tidak. Kalau kau mati, siapa yang akan mengajariku sihir?" Balas Ambareesh sambil menjaga jarak dengan Ayahnya Luka.
Ayah Luka mendongakkan kepalanya dan dia melihat ke wajah Ambareesh. Dia memegang kaki Ambareesh.
"Terima kasih. Aku tidak tau harus membalas terima kasih kepadamu. Ah! Atau apa kau menginginkan hal itu?" Mata Ayah Luka kembali bergetar.
"Hal itu apa yang kau maks-"
"Cup!" Ayah Luka mencium celana Ambareesh bagian depan.
"-sud?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Yaser Levi
buset ada adegan gaynya..menjijikan
2024-07-31
0