Pertempuran itu berakhir sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Raja Akaiakuma De luce.
Sekujur tubuh Ambareesh bermandikan darah. Warna rambutnya yang hampir putih, kini berwarna maron.
Kepala Raja Heraklesh berada ditangan Ambareesh. Dia adalah pemuda yang memenggal kepala seorang raja dan mengakhiri perang itu yang berlangsung hampir selama tiga minggu.
Kepala Raja Heraklesh, dibuntal dengan kain jubah miliknya dan dia tidak membiarkan seorangpun memegangnya. Ambareesh ingin menemui Raja De luce secara langsung dengan memberikan kepala itu dihadapannya.
Awalnya, Ambareesh dicegat oleh prajurit yang ingin mendapatkan hadiah lebih itu. Namun, Ambareesh menunjukkan pedang mananya kepada Ha nashi.
Hari itu, Ha nashi sedang membantu penjagaan gerbang istana dan dia dikejutkan dengan sosok yang datang dengan kondisi penuh dengan darah. Sehingga Ha nashi, mencegat Ambareesh untuk masuk ke dalam istana.
Ambareesh mengarahkan pedang mananya pada Ha nashi.
"Ini adalah permintaan rajamu. Aku hanya membawa apa yang dia inginkan" Ucap Ambareesh.
Ha nashi menyuruh beberapa prajurit di belakangnya untuk mengambilkan beberapa timba air untuk remaja dihadapannya ini.
Air dari timba itu disiramkan perlahan oleh Ha nashi dari kepala Ambareesh.
Air itu berubah menjadi merah setelah melewati Ambareesh. Rambut Ambareesh kembali berwarna biru langit yang lebih dominan ke putih.
Ambareesh menutup matanya dan mengusap perlahan rambutnya dengan tangan kanannya.
Ha nashi terkejut melihat wajah Ambareesh. Ha Nashi sangat ingat dengan model fisik dan wajah dengan tulang rahang yang tegas itu.
"Tu-an Ravel? Bukankah Anda sudah mati?"
Ha nashi terkejut bukan kepalang. Wajah Ambareesh dan postur tubuh Ambareesh sangat mirip dengan Ravel saat masih muda.
Ambareesh mengusap air di wajahnya kemudian dia membuka matanya setelah mendengar ucapan tersebut dari Ha nashi.
Mata Ambareesh berbeda dengan Ravel. Mata Ambareesh terlalu gelap.
"Eh?"
"Namaku Ambareesh" Ambareesh tidak ingat dengan nama orang tuanya. Dia hanya ingat dengan nama kakak dan adiknya.
Begitupula dengan Ha nashi. Dia tidak tau bila Ravel memiliki seorang Putra bernama Ambareesh.
Ha nashi langsung mengosok tengkuknya.
"Kau mirip sekali dengan seorang buronan. Ku pikir, buronan itu, hidup kembali setelah kepalanya terpenggal" Ucap Ha nashi.
Ambareesh mengangkat alis kanannya. "Mana ada orang bisa hidup setelah kepalanya terpenggal. Tsk! Cepat bukalah gerbangnya. Aku harus menemui Raja De luce. Teman-temanku, sedang terluka disana" Ucap Ambareesh sambil membelakangkan rambutnya yang basah kedepan.
Ha nashi tidak bisa membiarkan pemuda asing itu masuk di istana.
"Apa yang kau bawa?" Tanya Ha nashi sambil meraih gulungan jubah itu.
Ambareesh menjaga jarak dengan Ha nashi.
"Apa gunanya kau tau?"
"Aku akan membukakan gerbang setelah melihat isi kain itu" Ucap Ha nashi dengan intonasi halus dan tegas.
Ambareesh menatap mata hitam Ha nashi. Ha nashi teringat masa lalunya saat merasakan tatapan itu.
"Aku ingin tau apa pangkatmu hingga menahanku seperti ini" Ucap Ambareesh pada Ha nashi.
"Aku adalah Penasehat dan sekaligus Kepala keprajuritan Akaiakuma"
DEGH!
Ambareesh terkejut mendengar kata kepala keprajuritan Akaiakuma. Dia terkejut bukan karena drajatnya. Melainkan, itu adalah pangkat dari pamannya dulu. Dan tentunya,- "Kau mengenal Belial Zen?" Ambareesh mengepalkan tangan kanannya saat bertanya hal tersebut.
"Belial Zen? Oh, dia mantan Kepala keprajuritan sebelumku. Kenapa bertanya tentangnya?"
"Kau tau dia bangsa apa?"
"Dia bangsa Elf namun memiliki darah bangsa Ib. . .," Ha nashi, tiba-tiba merasa ragu untuk menjawabnya saat melihat kondisi fisik Ambareesh. Ha nashi sendiri, tidak mencium aroma bangsa apapun dari diri Ambareesh.
"Kenapa kau berhenti berbicara? Bukankah tidak adil bila manusia sepertimu memiliki pengkat tertinggi di kerajaan ini?" Ambareesh menatap Ha nashi dengan mimik mengejek.
Ha nashi tidak bisa menjawab ucapan Ambareesh. "Aku akan mengantarnya langsung menuju Raja De luce" Ucap Ha nashi sambil menepuk salah satu punggung prajurit disana yang berniat menyerang Ambareesh.
...----------------●●●----------------...
Lantai hingga dinding yang berlapis marmer putih dengan langit-langit ruangan yang memiliki tujuh lampu gantung dari kristal berwarna delima, membuktikan betapa kayanya kerajaan Akaiakuma.
Ambareesh hanya tersenyum kesal melihat semua kemewahan itu yang di ambil secara paksa dan hasil kerja keras para bangsa non-Iblis yang dibayar tidak sesuai dengan standarnya.
Anak tangga yang berjumlah 88 untuk menuju singgahsana itu, merupakan simbol dari tidak terbatasnya pemerintahan mutlak Akaiakuma semakin membuat semangat Ambareesh mengebuh-ngebuh untuk menghancurkannya.
Raja De luce yang sedang duduk di singgahsana itu dan ditemani oleh Putra Mahkota Akaiakuma De luce Arvolt sedang menatap Ambareesh yang sedang mengikuti Ha nashi memasuki ruang singgahsana itu. Namun, dia tidak ikut membungkuk ataupun memberi sapaan kepada Raja Akaiakuma ke-9.
"Siapa bajingan kurang ajar yang kau bawa itu Ha nashi?"
Arvolt melangkahkan kakinya satu persatu menuruni anak tangga itu.
Ambareesh menahan tawanya saat melihat betapa sulitnya dia yang harus naik-turun tangga sebanyak itu.
"Kalau Kerajaan ini runtuh, kau orang pertama yang akan menjadi tumbalnya" Ambareesh mengejek Arvolt dan dia menggunakan sihir teleportnya untuk naik di tangga terujung.
Ambareesh membuka buntalan kain itu di sela Arvolt yang memakinya.
Raja De luce ke-9, cukup sabar untuk memperhatikan perilaku Ambareesh.
Rambut berwarna hitam panjang, dilemparkan Ambareesh ke arah kaki Raja De luce ke-9. "Saya adalah pemuda yang berada digarda depan. Dan saya berhasil memotong kepala itu. Saya harap, Anda tidak melupakan imbalan yang telah Anda imingkan" Ucap Ambareesh sambil mengusap keningnya ke arah kiri.
Tanduknya muncul setelah dia mengosoknya.
Raja De luce ke-9, Ha nashi, dan Arvolt terkejut melihatnya.
Raja De luce ke-9 tertawa.
"OH! Jadi, kau adalah pemuda dengan tanduk satu yang kucari dua tahun yang lalu itu?!" Tanya Raja De luce ke-9 sambil berdiri untuk melihat Ambareesh dan tanduknya.
"Apa Anda senang melihat pemuda yang Anda car datang sendiri ke Kerajaan Anda sambil membawa oleh-oleh berupa kepala Raja Heraklesh ke 4?" Tanya Ambareesh.
Raja De luce yang memiliki tubuh lebih besar dari Ambareesh melipat lengannya didepan dada. "Bagaimana caramu membunuh Raja Heraklesh yang abadi itu?"
Ambareesh menjalin perjanjian.
Raja Heraklesh adalah salah satu siluman yang mampu mencium aroma Ambareesh dan dia adalah salah satu siluman yang mengenal Ambareesh dikehidupan sebelumnya. Raja Heraklesh memimpin sejak zaman sebelum Akaiakuma berdiri.
Pada saat peperangan itu memasuki wilayah perdesaan, dan persawahan yang hancur karena ke bar-bar pasukan Akaiakuma. Ambareesh, memblokade pasukan Akaiakuma yang seolah-oleh di blokade oleh pasukan musuh.
Tentunya, Ambareesh menyelinap keluar dari blokadenya itu untuk menemui Raja Heraklesh demi menghentikan perang itu.
Ambareesh menawarkan sesuatu yang masih belum tentu kemenangnya pada Raja Heraklesh. Ambareesh, merencanakan untuk segera melakukan pemisahan diri dari Akaiakuma. Rasa kercayaan Raja Heraklesh yang tinggi kepada Ambareesh, membuatnya menyetujuinya tanpa perpanjang kata lagi.
Raja Heraklesh, memberi syarat agar Kerajaan ini tidak jatuh pada Marga De luce.
Raja Heraklesh, enggan menyebutkan nama Kerajaan Akaiakuma.
Sehingga, Ambareesh memisahkan seluruh bagian tubuh Raja Heraklesh diwaktu yang bersamaan untuk menghindari regenasi abadi dari tubuh Raja Heraklesh ke-4.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments