"Humph.....nghhh"
Keringat dingin dengan napas yang berat dirasa oleh Ambareesh sambil menyimpal mulutnya dengan kain untuk menahan rasa sakitnya saat dia menarik tanduknya itu.
Rasa sakit dan nyeri itu, seolah memenuhi kepala Ambareesh. Ambareesh berhenti sejenak sambil memijat pelipis matanya yang sakit. "Sialan.... Apa ini karena aku tidak mengonsumsi obat dari dokter itu?"
Maksud dari ucapan Ambareesh adalah rasa sakit yang tidak pernah dia rasakan. Baru dia merasakannya saat ini. Karena tidak pernah merasakan sakit, Ambareesh merasakan tubuhnya yang ingin meledak karena tubuhnya tidak biasa merasakan rasa sakit selama 9 tahun ini.
"Apa ku potong saja dengan pedang mana?" Ambareesh mengeluarkan pedang mananya dan dia meletakkan pedang mana itu di belakang tanduknya sebelah kanan bagian atas telinga.
Iblis yang Ambareesh temui di dinding itu, tidak bisa tinggal diam. Dia segera muncul dihadapan Ambareesh.
"Aku tau bila kau itu keras pada dirimu sendiri. Tapi, apa dengan memotong tandukmu, itu adalah cara yang paling tepat?" Tanya Iblis itu di sebelah kiri Ambareesh.
Ambareesh terkejut. Dia refleks mengayunkan pedang mananya ke arah Iblis itu. Iblis itu menghindari ayunan Pedang Ambareesh.
"Refleks mu, menyeramkan sekali" Lirih Iblis itu sambil duduk kembali.
Ambareesh terdengar mendenguskan napasnya. "Kalau begitu, beritahu aku cara yang benar untuk menghilangkan tanduk ini! Lagipula! Aku tidak mendapatkan keuntungan sedikitpun hanya dengan satu tanduk dikepalaku!" Tegas Ambareesh.
Pria itu, memahami ucapan Ambareesh.
"Tandukmu, berbeda dengan tanduk bangsa Iblis. Kekuatanmu, sihirmu, manamu, dan semua yang berhubungan dengan serangamu, tersimpan di tanduk itu. Bila kau berusaha untuk memisahkan tandukmu dengan tubuhmu, itu sama seperti bunuh diri" Ucap Iblis itu.
Ambareesh mengkernyitkan keningnya. "Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan?"
"Terima dirimu sendiri. Itu adalah saranku. Sejujurnya, aku ini buang-buang waktu untuk mengatakan hal seperti ini padamu. Karena apapun itu, bunga yang sudah gugur ke tanah, tidak akan bisa kembali ke pohonnya. Walaupun, bunga itu sangat indah dan bermanfaat. Dia akan tetap dibiarkan mengering ditanah" Ucap Iblis itu.
"Hah? Apa yang kau katakan?" Pikir Ambareesh ucapan Iblis itu, keluar dari topik.
"Sudah lah. Ini adalah bantuan terakhirku. Kau jalanlah ke selatan. Disana ada desa yang bernama Shinrin. Desa itu sangat ram-"
"Tapi, tujuanku adalah desa Greendarea"
"Cih, Greendarea itu ada di utara Shinrin. Wilayah itu, sedang tidak aman. Bersembunyilah disana selama dua tahun. Saat usiamu 19 tahun, ke Akaiakuma lah dan dempet terus Pangeran ke-dua Akaiakuma. De luce Arnold" Ucap Pria Iblis itu.
Lagi-lagi Ambareesh mengerutkan keningnya. "Kau, memerintahku?" Tanyanya.
"Tidak. Ini hanya saran untuk mempermudah tujuanmu. Aku tidak semudah ini memberi saran kepada orang lain. Tapi, karena posisiku sudah seperti ini, tidak ada gunanya aku berusaha menjadi aku yang dulu" Ucapnya.
"Apa maksud dari posisi yang kau katakan?"
"Tak ada gunanya aku bercerita pada sosok mengenaskan sepertimu. Selanjutnya, kau harus mengenal sosok Aosora Alex"
"Apa dia sekutu Akaiakuma? Perlukah aku membunuhnya?"
"Tidak. Aosora hanyalah batu loncatan untuk mencapai puncak kehidupan yang kau inginkan. Ya, atau anggap saja sosok yang pantas untuk kau manfaatkan" Iblis itu menyeringai.
"Lalu, dimana aku bisa bertemu dengan Aosora?"
"Tentu saja dia belum terlahir. Hahahaha" Iblis itu terkekeh.
"Ha? Kau ini, tukang ngebual?"
"Anggap saja aku peramal" Ucap Iblis itu sambil menepuk punggung Ambareesh.
"Cih!"
Walau begitu, Ambareesh mempercayai ucapan Iblis itu. Dia berangkat menuju Shinrin.
Shinrin adalah desa besar yang dimiliki oleh Akaiakuma dan mayoritas di singgahi oleh bangsa manusia dengan sebagian kecil bangsa Elf ras putih.
Dalam perjalanan menuju tempat tersebut Ambareesh bertemu dengan Prajurit Iblis yang berjaga di kawasan tersebut.
Ambareesh tidak tau dengan sayembara Raja De luce ke IX.
Empat Prajurit Iblis disana. Melihat Ambareesh. "Hei, bukankah dia mirip dengan yang di ciri-cirikan dengan sayembara itu?"
"Ha'ah, mau menangkapnya?"
"Hei, bagaimana bila dia memiliki sihir yang kuat seperti yang ada dalam buku itu?"
"Tenang saja. Dilihat darimanapun, dia hanya bocah. Yok, kita akan mendapatkan hadiah yang besar setelah berhasil membawanya ke hadapan Raja De luce" Ucap Prajurit itu sambil menunjukkan senyumannya yang menawan.
Empat Prajurit itu, mendatangi Ambareesh. Tentunya, Ambareesh sangat mewaspadai mereka. Dia ingat sosok yang menggunakan zirah dengan senyuman yang menawan itu adalah sosok yang membunuh ayahnya.
Ambareesh mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Tunggu sebentar...." Iblis itu memperhatikan wajah Ambareesh.
"Wajahmu, seperti tidak asing" Lanjutnya sambil berhenti ditempat.
Iblis itu menyadarinya. "Hem? Wajah ini, bukankah dia mirip dengan pria yang di penggal itu?" Dia melihat ke arah teman-temannya.
"Pria yang mana? Yang dipenggal gak cuma satu anj*r!" Tegas mereka.
"Tsk! Itu loh, Zen mantan Komandan kita" Ucapnya sambil menunjuk matanya.
Mereka bertiga langsung melihat ke arah Ambareesh.
"PFFT! PUAHAHAHAHA! Mana yang mirip anj*r! Dilihat darimanapun. Dia lebih mirip malaikat berdarah dingin yang kau bunuh 9 tahun yang lalu itu!" Tegas salah satu dari mereka sambil tertawa.
"Oh! Iya! Aku ingat sekali! Dia punya seorang anak" Iblis itu mendekat ke arah Ambareesh dan menunjukkan senyumannya kembali. "Astaga~ Ku rasa, ini takdir yang baik untukku. Aku ak-" " TRASSSH! CRAT!" Ambareesh mengayunkan pedang mananya pada Iblis itu.
Sayangnya, Iblis itu menghindar namun, ada sesuatu yang tidak terduga. Iblis lainnya menjadi perisai seolah iblis itu, menariknya.
Darah, muncrat mengenai wajah Ambareesh.
"Akh, Sky..." Iblis yang dijadikan tameng itu melihat ke arah temannya. "Ah, kau harus senang karena pengorbananmu, kuterima dengan senang hati BRUK!" Iblis itu, menjatuhkan temannya yang dia gunakan sebagai perisai.
Dua Iblis lainnya, mengarahkan pedang mereka pada Iblis itu. "Skyzen! Apa yang kau lakukan?!" Tegas dua Iblis lainnya.
Ambareesh melihat Iblis yang dia tebas.
"Apa kalian ingin berdrama di depannya?" Tanya Iblis itu sambil menendang lengan temannya yang dijadikan perisai.
"Skyzen! Angkat kedua tanganmu! Dan akui kesalahanmu"
"Kesalahanku? PUAHAHAHA! Apa kalian tidak bisa melihat?! Siapa yang menyerang dulu? Dan siapa yang menghalangi jalanku untuk menghindar?!"
Iblis bernama Skyzen itu sudah gila.
"Kalian harusnya, menolong dia sebelum dia kehabisan darahnya. Apa kalian berusaha membuatku menjadi tokoh jahat disini?!" Tanya Sky sambil membelakangkan rambut hitamnya.
Kemudian, Sky melihat ke arah Ambareesh.
"Hei bocah, katakan padaku dengan sejujurnya. Apa aku menariknya atau dia sendiri yang mengorbankan dirinya?" Skyzen menunjukkan senyumannya pada Ambareesh.
Tentunya, Ambareesh tidak ingin membuang kesempatan ini.
"Apa yang akan ku dapatkan saat aku menjawabnya dengan jujur?" Tanya Ambareesh.
"Aku akan melepaskanmu~" Jawab Iblis itu.
Ambareesh menunjukkan pedang mana birunya pada Iblis bernama Skyzen itu. "Aku tidak membutuhkan dirimu untuk membuatku terlepas" Ucap Ambareesh dengan nada angkuh.
"Ahaha! Kalau begitu, bagaimana dengan sumpah?" Tanya Iblis itu.
"Sumpah apa?"
"Sumpah untuk menjadikanmu sebagai prioritasku. Apapun yang kau mau aku akan menurutinya, kecuali kau meminta kematianku" Ucap Iblis itu.
Skyzen adalah Iblis yang cerdik.
"Kenapa kau bertindak seperti itu?"
"Karena, aku tidak suka orang memfitnahku" Jawabnya.
Skyzen mengangkat kedua bahunya sambil menelengkan kepalanya ke kanan.
"Sebenarnya aku tau~ Di dunia ini tidak ada orang yang baik sama sekali. Mereka yang terlihat akrab hingga mampu menceritakan rahasia mereka pada orang yang mereka percaya, pada nyatanya mereka yang dipercaya adalah penghianat sesungguhnya. Maaf sekali~ Aku memang orang yang memanfaatkan orang lain. Tapi, aku bukan termasuk makhluk seperti itu. Lebih baik, aku tidak memiliki lidah, daripada memiliki teman seperti itu" Ucap Skyzen.
Ambareesh melihat ke arah Iblis itu. Ini adalah sesuatu yang tidak dia duga dihidupnya. "Ya. Dia menyuruhnya kemudian Iblis itu mendorongnya ke arahmu" Ucap Ambareesh sambil menunjuk dua iblis disana.
Dua Iblis itu, membelalakan matanya dan mereka melihat Skyzen menunjukkan raut datarnya.
Skyzen melihat ke arah Ambareesh sambil menunjukkan senyumannya. "Terima kasih. Apa ada sesuatu yang kau inginkan sekarang?"
"Bunuh mereka berdua dan buat wajahnya tidak bisa diidentifikasikan" Ucap Ambareesh.
"Ha! A.. APA?! S-SKY! DIA BERBOHONG!" Mereka berdua segera berlari menjauhi Skyzen.
Skyzen membelalakan matanya sekejap kemudian, dia tersenyum kembali. "Aku suka gayamu. Wosh!! SYUUT!" Skyzen melesat kearah mereka berdua dan dia melesatkan pedang mananya.
Ambareesh melihat mereka bertiga dari tempat dia berdiri. "Teman dan penghianat huh?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments