Sayang bagi Ravel, Dia harus melihat Putranya yang akan ditikam oleh Prajurit Iblis.
"AMBAREESH!"
Dia berlari dengn kencang. Kemudian, WOSH! Jelb!!!
Dia menukar tempat Ambareesh dengan dirinya yang berjarak kurang dari 2 Meter dari Dia berada.
"Hempph"
Tusukan itu tidak terlalu dalam. Namun, Ravel tetap merasa sakit saat pedang itu menusuk punggung kirinya.
Ambareesh membuka matanya dengan lebar saat ayahnya muncul dihadapannya dan sudah dalam kondisi tertusuk.
Iblis disana, menyadari ciri tubuh Ravel yang nampak seperti buronan kelas S.
"SIALAN! DIA INI! KETUA PEMBERONTAK RAJA! HAHA! KITA BISA KAYA DENGAN MEMBAWA KEPALANYA!!!" Dua Iblis itu, kegirangan.
Ambareesh berlari ke arah Tiga Prajurit Iblis yang girang. Dia menendang kaki Prajurit Iblis itu dan memukul zirahnya tanpa tenaga.
Tiga Iblis itu, tertawa melihat aksi Ambareesh.
"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN!!!- KUKH!"
Ambareesh berteriak dan tersedak ludahnya sediri. Mereka semakin keras menertawakan Ambareesh.
"TEP! SYUUUT!!!"
Ravel Menapakkan kedua telapak tangannya di tanah. Kemudian, dia memusatkan berat tubuhnya pada kedua telapak tangannya dan melesatkan memutar tubuhnya di udara, lalu "DAGH!!!!" Ravel menghentakkan kakinya saat di udara ke arah salah satu Iblis disana. Ia menjepit leher Iblis yang menusuknya itu.
"BRUK!" Ravel membanting tubuh Prajurit Iblis itu.
Ambareesh takjub melihat aksi ayahnya.
"Ambareesh, tutup matamu" Ucap Ravel.
Ambareesh menurut. Dia langsung menutup matanya dengan kedua tangannya.
Ravel mencengkram wajah Iblis itu dan "BAMMM!!! PREACHHHH!!!!!" Kepala Iblis itu meledak.
Ravel mengangkat wajahnya yang penuh darah menatap dua Iblis yang berdiri diantara Ravel. "Haaa... Dia! Memang Malaikat Berdarah Dingin!!" Mereka berdua melarikan diri dari sana.
Julukan itu, melekat pada Ravel semenjak dirinya berusia 17 tahun.
Ravel berdiri kemudian dia mengangkat Ambareesh dan membawanya pergi berteleport menuju persembunyian kelompoknya.
"Ambareesh, buka matamu. Apa Putra Ayah ini baik-baik saja?"
Ambareesh membuka matanya saat Ayahnya sudah mengizinkan. Ruangan yang bersih dan terang lebih bagus dari rumahnya membuat mulut Ambareesh mengaga.
Ia melihat wajah ayahnya yang penuh darah. Ambareesh memegang pipi Ayahnya. "Apa Ayah terluka?"
Ravel agak terkejut mendengar Ambareesh khawatir padanya.
"Hahaha! Tentu saja tidak! Ayah ini pahlawan pelindung Putra Ayah kan?!"
"Ayah, aku ingin seperti Ayah. Bisa sihir!" Tegas Ambareesh sambil diturunkan dari gendongannya.
"Hem! Hem! Hem! Tidak semudah itu" Ravel mengelengkan kepalanya.
"Kenapa?!"
Ravel berjongkok di depan Ambareesh. "Yang pertama, kamu harus memiliki keinginan kuat untuk belajar sihir. Yang kedua, kamu bertarung hanya untuk melindungi orang yang perlu dilindungi, yang ketiga jangan percaya dengan bukti. Bukti itu, bisa dibuat-buat. Ambareesh harus melihat semua dengan pandangan yang luas. Baik dari segi orang pertama, kedua, ataupun ketiga. Karena, setiap pandangan orang itu berbeda. Mereka memiliki alasan sendiri untuk melakukan hal yang menurut kita salah. Yang keempat-"
"Aku tidak mau belajar sihir" Ambareesh langsung menyela.
"Ha? Kenapa!?"
"Banyak aturan" Ucap Ambareesh sambil membuang pandangannya.
Ravel terkekeh ringan.
"Aturan sangat diperlukan untuk melindungi satu sama lain. Jadi Ayah harap-"
"TUAN RAVEL!!! HA NASHI MENUNJUKKAN TEMPAT INI! SEKUMPULAN PRAJURIT IBLIS BERBONDONG MENUJU KEMARI!!!"
Seorang anggota Ravel berbagsa Malaikat berlari ke arah Ravel dan berteriak padanya. Malaikat itu, terdiam saat melihat Ambareesh sedang menatapnya.
Malaikat itu, terbelalak. "TUAN! MAAFKAN SAYA!" Ia langsung tengkurap di samping Ravel.
"Ayah, paman itu kenapa?" Ambareesh menunjuk Manusia itu.
"Dia Paman Gyels. Tunggu disini ya, jangan kemana-mana" Ravel menepuk punggung Malaikat itu untuk berdiri.
"Paman Gel?" Lirih Ambareesh.
Ravel dan Gyels berdiri sedikit jauh dari posisi Ambareesh.
"Cepat mana antara kedatangan Iblis dengan mengosongkan tempat ini?"
"Lebih cepat Bangsa Iblis 15 menit Tuan"
Ravel melirik ke arah Ambareesh.
"Kalau begitu, suruh yang lain untuk pergi dari tempat ini"
"Tuan! Apa Anda akan bergerak sendiri?!"
"Tidak. Aku hanya akan membakar tempat ini. Untuk harta yang kita dapat, aku percayakan padamu untuk membagikannya ke yang lain. Utamakan untuk keluarga saudara kita yang gugur" Perintah Ravel.
Gyels membungkuk kemudian dia membalik tubuhnya untuk berjalan keluar. Senyuman licik terpampang di wajahnya karena dia adalah penghianat yang sebenarnya.
"JLEB!!!! KHOOOOOKK" Pedang mana biru menusuk tengkuknya hingga menembus leher. Gyels melihat ke arah belakangnya, tepat pada mata Ravel yang berwarna kuning keemasan.
"Bodoh. BRUKKK!" Ucap Ravel sebelum tubuh Gyels terjatuh.
"Ayah! Apa dia paman jahat?"
"Iya, dia Malaikat yang berhati Iblis. Jadi, yang keempat, Ambareesh harus bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang tidak" Mata Ravel kembali membiru saat melihat Ambareesh.
"Bagaimana cara membedakannya?" Tanya Ambareesh.
"Bau dia lebih busuk"
"Aromanya, berbeda dengan Ha nashi. Dia murid yang bodoh karena membohongiku" Batin Ravel sambil menuntun Ambareesh keluar dari tempat itu.
Ravel memerintahkan untuk semua Anggotanya sebanyak 60 orang (dirinya tidak termasuk) untuk segera meninggalkan tempat ini.
Ravel mengengam tangan Ambareesh menggunakan tangan kirinya. Ambareesh melihat ayahnya yang biasa humoris padanya tiba-tiba menjadi orang yang serius.
Ravel mengangkatkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya. Mulutnya terus bergerak seolah dia sedang membaca matra.
"WUSSHHHH" Cahaya biru dan diikuti oleh angin terlihat di atas telunjuk Ravel. Lagi-lagi, Ambareesh takjub melihatnya.
Ia mencontoh gaya Ayahnya sambil comat-camit.
"DADELION BLUE. PATS!!!"
Cahaya biru yang diikuti oleh angin itu langusng menyatu dan menjadi bola yang padat di atas jari telunjuk Ravel.
"Woaaaaah"
Ravel melihat mata Putranya yang berbinar. "Hebat bukan?" Tanya Ravel dan Ambareesh mengangguk girang.
Bola mana sebesar bola tenis meja itu dilepaskan oleh Ravel dan bergerak perlahan mendekati rumah yang mereka gunakan sebagai tempat persembunyian.
Ravel mengangkat Ambareesh dan kembali mengendongnya. "Ayo pergi" Ucap Ravel.
"Eh??? Bagaimana?! Aku ingin melihat itu Ayah!" Ambareesh melihat kebelakang dan menunjuk bola mana itu.
Ravel mengusap kepala Ambareesh. "Kita lihat dari kejauhan saja ya, bola itu akan meledak saat menyentuh sesuatu.
Ucapan Ravel benar adanya. Bola mana itu "BAMMMM!!! PATTTTTSSSSS!" Meluluhlantakkan persembunyian mereka. Angin berhembus kencang dan diikuti dengan gempa karenanya. Debu-debu berterbangan dan beberapa pohon patah karena hempasan angin itu.
"JLEEEB!!!"
Entah darimana datang Iblis itu. Dengan tiba-tiba, pedang mana menembus dada Ravel yang baru saja menurunkan Ambareesh dari gendongannya kemudian memeluknya.
"BKAKK!!!"
Darah menyembur dari mulut Ravel ketika punggungnya ditikam oleh pedang mana berwarna merah yang menembus dadanya setelah Ambareesh memeluknya dan Dia dorong sebelum pedang mana itu, mengenai Ambareesh.
"Lari...." Ucap lirih Ravel sambil melepas tangannya dari tubuh Ambareesh.
"SPLASH! CRAT! CRAT!"
Darah menyembur di wajah Ambareesh saat kepala Ravel terpenggal.
Ambareesh mundur beberapa langkah kemudian, Ia berlari secepatnya.
...----------------●●●----------------...
Zen mendengar cerita Ambareesh hingga usai. Dia tau bila Ravel adalah ketua dari agensi gelap itu.
Zen mengusap tengkuk Ambareesh saat melihat mata Ambareesh yang berlinang. "Jadi, apa Ambareesh mau pergi bersama Paman? Paman akan mengenalkanmu kepada orang yang membantu Paman menumbuhkan tanduk ini" Tawar Zen.
Ambareesh melihat Zen. "Apa aku akan bisa sihir? Aku tidak bisa mengeluarkan manaku dengan benar Paman"
"Apa kamu tidak ingin melindungi Ibumu?"
"Sudah ada kak Ken. Untuk apa aku memikirkan Ibu? Ibu takkan khawatir bila Aku mati" Ucap Ambareesh.
Zen menutup mulut Ambareesh perlahan. "Kamu salah Ambareesh. Ibumu sangat mengkhawatirkanmu. Paman kemari karena dimintai tolong olehnya."
Ambareesh langsung teringat ucapan Ayahnya yang ketiga. Dia harus memiliki pandangan yang luas.
"Ambareesh, mau ya berlatih sihir dan menumbuhkan tanduk di desa terluar dan terjauh dari Pemerintahan Akaiakuma?" Tanya sekali lagi.
Ambareesh mengangguk. Ia tidak memiliki sedikit pun akan tempat yang akan menjadi bencana baginya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Yaser Levi
masih kecil sdh di hadpkan dgn kenyataan .ayah mati di penggal ..menyedihkan sekali
2024-07-31
0