Semakin hari, Ambareesh semakin membenci Wandlle. Wandlle tidak tanggung dalam melakukan percobaan terus menerus hingga Objeknya hampir mencapai 500 dengan angka objek akhir 931. Yang artinya, sebanyak 431 objek telah mati dikandang besar besar itu dengan kalkulasi peŕsentase pemerkiraan mati ditangan Ambareesh sebanyak 92% dibanding Wandlle yang telah membunuh objek 9 tahun yang lalu sebanyak 168 jiwa (Ayahnya tidak terhitung).
Artinya, Ambareesh telah membunuh 242 jiwa selama tujuh tahun ini dan total objek yang telah di bunuh oleh Wandlle sejak dia melanjutkan penelitian Ayahnya sebanyak 189 (Ini tidak dihitung dengan Ayahnya dan orang yang dia bunuh diluar penangkaran penelitiannya itu).
...----------------●●●----------------...
Malam hari, Ambareesh termangun di kamarnya sambil menepuk-nepuk kepala Bianca yang tidur di pahanya. "Aku harus keluar dari sini dan membawa dia pergi" Ambareesh simpati dengan Bianca. Dia sejak kecil sudah melihat pembunuhan yang terjadi disekitarnya. Ambareesh juga, sudah mampu menggunakan sihir teleportasinya. Dia sering kabur dari Wandlle saat akan diberi obat.
Bagi Ambareesh, Bianca itu adalah adik perempuannya. Dia melindungi Bianca mati-matian di penangkaran ini.
"TOK! TOK!" Pintu kamar Ambareesh diketuk. "Siapa?" Tanya Ambareesh.
"227, aku ingin bicara denganmu. Apa kau ada waktu?" Itu suara laki-laki dewasa. "Apa dia pekerja baru? Atau objek lain?" Ambareesh menurunkan kepala Bianca dan menyelimutinya.
Dia segera membuka pintu dan tetap bersikap waspada. "Siapa kau?" Tanya Ambareesh pada sosok itu.
Pria di depannya memiliki rambut hitam dengan dua tanduk kecil di keningnya. Pria itu membelakangkan poni rambutnya dan membuka kedua matanya dengan iris merah. "Salam kenal, apa kau suka dengan hadiah dariku?"
Ambareesh melihat pria yang memiliki tinggi sepataran dengan dia dari atas hingga ke bawah. Pria itu, datang dengan tangan kosong.
"Hadiah apa? Tunggu! Siapa kau ini?" Tanya Ambareesh.
"Bunga biru itu, apa kau mengingatnya?"
"Oh! Bunga dari bocah itu" Batin Ambareesh sambil mengangguk. "Itu menjijikkan sekali!" Tegas Ambareesh sambil melipat kedua lengannya didada.
"Maaf?" Tanya pria itu. Dia tidak paham.
"Pria memberi bunga pada pria. Apa otakmu sedang tidak beres?" Tanya Ambareesh sambil menunjuk kepalanya sendiri.
Pria itu mengosok tengkuknya. "Ahahaha, maafkan aku. Kau salah paham. Aku memberikannya sebagai ucapan selamat datang. Kau tau kenapa aku memberimu warna biru? Karena warna biru itu arti dari ketenangan dan kedamaian. Itu adalah puncak dari kehidupan" Ucap pria itu.
"Puncak kehidupan?" Ambareesh tertarik dengan topiknya.
"Iya! Kedamaian adalah puncak dari segalanya. Dan keadilan adalah pengiring yang harus dijalani untuk mencapainya. Kau termasuk dalam salah satu dari tujuh orang yang terpilih. Tandamu masih belum muncul dan kehidupanmu ini terjadi karena kau terikat dengan kutukanmu sendiri" Ucapnya.
"Kau ini, sedang membual apa sih?! Kau objek nomor berapa? Aku akan mengantarmu ke ruanganmu. Lain kali, jangan kabur seperti ini. Bila dokter itu tau, kau hanya akan menambah penderitaan mu!" Ambareesh menarik kera bagian belakang pria itu untuk kembali ke ruangannya.
"Ambareesh. Jangan melupakan nama itu" Pria itu berbicara sambil menahan tangan Ambareesh.
Ambareesh membelalakan matanya mendengar nama yang lama sekali tak dia dengar.
"Aku akan membuat alur agar kau bisa keluar dari sini. Bila kau memiliki kesempatan, maka lakukanlah sebaik mungkin" Ucap pria itu.
"Takdirmu tidak terbelengu seperti ini...Wuuuushhh" Pria itu menghilang bak angin.
Ambareesh melihat kedua tangannya yang bergetar. "Apa yang terjadi?" Dia ketakutan.
...----------------●●●----------------...
Beberapa hari telah berlalu. Ambareesh kepikiran dengan ucapan pria waktu itu.
"DUAGHHHH! BRUUUK!!!" Bianca melesatkan tandangan di udaranya pada Ambareesh yang sedang latih tanding dengannya hingga Ambareesh terjatuh akibat melamun.
"Eh! 227! Apa aku terlalu keras?!" Bianca sangat terkejut saat melihat Ambareesh jatuh terlentang.
Ive mengulurkan tangannya pada Ambareesh. "Apa yang kau pikirkan 227?" Ive menarik tangan Ambareeh untuk duduk.
Darah keluar dari hidung Ambareesh dan dia mengusapnya.
"Aku mau istirahat" Ucap Ambareesh sambil berdiri dan meninggalkan mereka.
Mata Bianca berlinang sambil menahan tangan Ambareesh. "227! Apa kau marah? Maafkan aku!"
Ambareesh melihat wajah Bianca. "Tenanglah, aku hanya lelah. Beri waktu aku untuk sendirian" Ucap Ambareesh sambil melepas tangan Bianca yang selalu dingin.
Bianca melihat Ive untuk meminta bantuannya. "Biarkan saja, usia remaja memang seperti itu. Kau pasti akan mengalami sendiri Bianca" Ucap Ive sambil nepuk kepala Bianca.
Bianca yang bandel tidak bisa diam bila dirinya jauh sedikit dengan Ambareesh. Dia pergi dari Ive saat lengah.
Bianca bersembunyi di semak sambil melihat Ambareesh yang tengah ketiduran dibawah pohon yang rimbun. Bianca mendekatinya perlahan.
Napas Ambareesh terlihat tersegal-segal. Bianca mengintip wajah Ambareesh dari samping kanan karena tertutup lengannya.
Air menetes dari mata Ambareesh dan mengalir ditelingannya. Bianca termenung melihatnya. Bianca membangunkan Ambareesh. "227... Kenapa kau menangis?" Dia menarik lengan. Mata Ambareesh terbuka.
"Apa yang kau lakukan?" Ambareesh menahan tangan Bianca.
"Kau mimpi buruk 227?" Tanya Bianca dengan polosnya. Ambareesh memegang tengkuk Bianca dan menariknya. Dia memeluk Bianca dengan erat.
Bianca tidak tau apa yang terjadi. Dia diam saja saat Ambareesh memeluknya. "Aku bermimpi kau mati ditanganku. Bisakah kau hidup lebih lama lagi Bianca? Apa kau tidak ingin melihat dunia luar?" Tanya Ambareesh sambil mengusap halus rambut Bianca yang diikat.
Bianca mengeleng di dada Ambareesh "Aku hanya akan hidup di tempat yang 227 berikan padaku" Jawab Bianca.
Ambareesh menundukkan pandangannya untuk melihat Bianca. "Ambareesh adalah namaku. Panggil aku dengan nama itu"
Empat tahun lamanya Ambareesh bertemu dengan Bianca, ini adalah pertama kalinya bagi Ambareesh memperkenalkan dirinya dengan jelas pada Bianca.
"Bianca, katakan padaku, kau berasal dari kerajaan apa?" Ambareesh kembali memeluk Bianca sambil memejamkan matanya.
"Alba" Jawabnya.
"Aku berjanji akan segera memulangkanmu secepat mungkin. Kau bisa bersabarkan?"
Bianca memeluk Ambareesh dengan perlahan dia menutup matanya. "Janji?" Tanya Bianca sambil menunjukkan jari kelingkingnya. "Janji" Balas Ambareesh.
...----------------●●●----------------...
Seminggu berlalu. Ambareesh bertemu dengan Ive untuk meminta bantuan agar bisa kabur dari tempat ini. Dia sudah 9 tahun disini.
Sebenarnya, Ambareesh bisa kabur dengan mudah menggunakan sihir teleportnya, sayangnya dia tidak bisa mengingat jalan yang pernah dia lewati. Semuanya seperti bayangan abstrak dan banyak sekali jalan yang pernah dia tau namun belum pernah melewatinya. Maksudnya, de javu.
Dalam pikiran Ive, dia sudah berencana bersama dengan Elvry untuk mengatakan rencana ini bila saatnya sudah tepat. Elvry ingin mencari waktu lengahnya Wandlle. Setidaknya, dia menunggu Wandlle keluar dari penangkaran berkedok penelitian itu.
Elvry ikut dalam perbincangan itu untuk mendengar alasan Ambareesh. Sayangnya, Ambareesh tidak menyukai keberadaan Elvry. Dia beranggapan Elvry sama dengan Wandlle.
Kemudian, Ive berusaha meyakinkan Ambareesh bila Elvry memang tulus ingin membantunya. Nyatanya, Ambareesh tidak semudah itu mempercayai seorang asisten dokter eksperimen.
"Kalau begitu, bawakan data tentangku dan Bianca. Dengan begitu, aku akan mempercayai ucapan Guru Ive" Itu adalah tantangan dari Ambareesh untuk Elvry.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments