"Budi!"
Anindya berlari cepat menuruni anak tangga saat telinganya mendengar suara pria yang sangat dikenalinya.
Seutas senyuman tipis William berikan pada istri kecilnya itu. Segera pria itu menyuruh Mandala dan Eva yang tadi tengah pria itu ajak bicara untuk pergi meninggalkan William.
"Budi, akhirnya kamu kesini. Aku sedari tadi tidak tenang di rumah besar ini,"kelakar Anindya menatap sekeliling, ia takut jika perkataannya akan di dengar oleh orang di dalam mansion tersebut dan mereka akan melaporkan pada Tuan William itu.
"Mansion maksudnya?"ralat William.
Anindya mengangguk cepat, dia tahu sedikit apa itu mansion. Dalam bahasanya yang dia tahu adalah rumah besar.
"Lebih baik kita jangan bicara disini, jika ada yang mendengarnya lalu memberitahu si Tuan William. Bisa gawat, nanti kamu di pecat sama orang itu,"ujar Anindya lalu menarik tangan William agar mengikutinya.
Kening William terlipat, dirinya akan memecat dirinya sendiri? Sepertinya, Anindya masih belum tahu tentang dia yang sebenarnya. Padahal dengan gaya pakaian dan perlakuan istimewa yang Anindya terima, seharusnya wanita itu tahu jika Budi yang dia kenal bukanlah pria biasa.
Anindya terus menarik tangan William, membawanya pada sebuah kamar yang sedari siang ia tempati.
Dengan menekan bahu William sampai membuat pria itu duduk di atas kasur lalu Anindya juga melakukan hal yang sama dengan mendudukkan dirinya disamping William.
Kemudian, Anindya mulai menceritakan perihal dirinya yang sangat penasaran dengan sosok William serta dugaannya jika William adalah majikannya Budi, yang telah sangat baik memberinya tumpangan di mansion mewah dan kamar yang luas.
"Budi, Aku benar-benar takut majikan kamu itu punya niat tersembunyi. Lihat, bagaimana bisa Aku yang hanya istri seorang pelayan mendapatkan perlakuan istimewa,"ujar Anindya panjang lebar.
"Siapa yang kamu pikir pelayan itu, Nin?"
"Ihh ya Kamu..."
Anindya membekap mulutnya yang terbuka lebar. Dia baru menyadari tampilan keren William di depannya. Meskipun dia tidak paham fashion, tetapi tetap saja Anindya yakin jika yang menempel pada tubuh William seluruhnya barang branded.
William yang ditatap sedemikian rupa oleh Anindya pun mengibaskan tangannya pada kemeja, menarik kerahnya semakin ke atas, serta memutar jam tangan yang pria itu kenakan.
"Budi, Kamu?"
"Iya Nin?"saut William dengan senyumannya.
William sudah tak sabar menunggu kalimat takjub dari bibri Anindya perihal jika wanita itu ternyata memiliki suami yang kaya raya seperti dirinya.
"Kamu..."
"Iya Nin,"
Anindya menarik tubuh William lalu memutar tubuh pria itu tiga ratus enam puluh derajat. Anindya juga menyentuh pakaian dan melihat jam tangan mahal milik William
"Kamu kenapa jadi begini? Kenapa sampai mencuri, ini nggak benar Budi...Aku nggak apa-apa kamu miskin, tapi jangan sampai mencuri seperti ini. Kembalikan lagi ya,"ujar Anindya.
Mulut William ternganga lebar. Ekspektasinya jauh sekali dengan pola pikir Anindya terhadap dirinya.
Kenapa sulit sekali memberitahu pada Anindya siapa dirinya yang sebenarnya. Padahal sudah sangat jelas, William menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
"Aku tidak mencuri, Nin,"lirih William.
"Nggak mencuri bagaimana? Aku tahu yang menempel sama tubuh kamu itu mahal semua Budi! Jadi lebih baik kamu lepaskan dan kembalikan saja. Nggak baik mencuri itu,"ujar Anindya menatap William dengan penuh permohonan.
William yang tidak bisa menahan diri lagi dengan memberi kode agar Anindya sadar siapa dirinya yang sebenarnya pun, memilih menarik tangan Anindya dan membawa wanitanya ke ruang utama dimana disana sebuah figura besar berisi foto William terpampang nyata.
"T-tunggu, ini seperti kamu deh Budi,"ujar Anindya menyamakan wajah William dengan Budi.
William menyugar kepalanya kasar. Anindya ini sebenarnya bodoh, polos, atau memang sejenis tidak peka? Sudah sejelas itu, tetapi Anindya masih belum menyadari maksud dari dirinya.
William melangkah maju lalu mensejajarkan dirinya dengan foto besar tersebut.
"Dengarkan baik-baik ya Nin, mungkin ini akan membuat kamu syok atau marah sama Aku, tetapi Aku punya tujuan dibalik itu semua. Ini...di dalam foto besar ini bukan orang lain, foto ini adalah Aku. Aku adalah William bukan Budi, dan Budi adalah William"jelas William.
Anindya terdiam menatap lurus pemandangan di depannya dengan ekspresi sulit dibacanya. Kemudian tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Anindya membalik badannya dan melangkah pergi begitu saja.
"Dia marah? Dia marah sama Aku,"monolog William.
Punggung Anindya yang telah hilang dari sudut pandangnya pun membuat William tergugah dan harus segera mengejar sosok istri kecilnya yang bersembunyi dibalik pintu itu.
Suara ketukan pintu terus terdengar sering tangan William yang mengetuk pintu kamar utama. Tidak hanya itu, William juga terus memohon agar Anindya mau membuka pintunya.
"Nin...Anin! Buka pintunya Nin! Aku bakal jelaskan semuanya,"teriak William.
Cukup lama William dalam posisi seperti itu, sampai hampir setengah jam lamanya perlahan suara kunci pintu dibuka lalu selang beberapa detik tampak handle pintu diputar dari dalam.
"Anindya, Aku bisa jelaskan semuanya,"ujar William mengejar Anindya yang gegas naik ke atas kasur dan membalut tubuhnya dengan selimut tebalnya.
"Baiklah, meskipun kamu diam tapi Aku akan menjelaskan semuanya,"ujar William.
Bibir William mulai bergerak menceritakan semua yang telah terjadi hingga sampai dia harus menyamar di perusahaan cabang sebagai Budi. William juga mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Namun pengakuan William itu justru membuat Anindya semakin menutupi dirinya dibalik selimut tebal.
"Kami berbeda, Aku seorang gadis miskin yang sebatang kara sedangkan dia pria yang sejak lahir dengan sendok dan garpu emasnya,"batin Anindya.
Rasa tak percaya diri menyeruak begitu besar dari dalam hati wanita itu. Dulu, Yoga yang hanya anak seorang kepala desa begitu mudahnya mempermainkan hatinya.
Apalagi ini, William yang statusnya sangat jauh dari Yoga tentu saja membuat Anindya minder dan takut. Terlebih ia mulai menyukai William dan mahkota milik Anindya juga telah ia serahkan pada William.
"Baiklah, kamu tidur saja. Aku lega sudah menceritakan semuanya sama kamu, Aku harap setelah bangun tidur kamu sudah tidak marah lagi,"ujar William.
Anindya merasakan pergerakan sisi kasur di belakang punggungnya yang ia yakini jika William tengah menuruni kasur besar tersebut.
"Bagaiamana ini?"tanya Anindya untuk dirinya sendiri.
***
"Apa kamu sudah menyelidiki siapa wanita yang William bawa? Dari keluarga mana dan seperti apa gadis itu,"ujar Tuan Bavers pada suruhannya.
"Semuanya sudah saya selidiki dan Saya letakkan di dalam berkas tersebut, Tuan."
Bavers mulai membuka segala laporan dari orang suruhannya itu perihal kabar jika William telah membawa pulang seorang gadis ke dalam mansion William, yang ia tahu tidak bisa sembarangan orang memasukinya.
"Kirim surat undangan pada mereka untuk makan malam di mansion utama,"putus Bavers.
"Baik Tuan."
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
shadowone
hahahahhahaha
2023-08-16
0
Lilis mulyati
smoga kluarga,will bsa,nerima,anin tnpa mending status anin
2023-08-13
0