Bab 19

"Dia dimana?"gumam Anindya kebingungan.

Wanita itu menoleh sisi kasurnya yang kosong. Lalu beranjak dari atas kasur dengan menggeret selimut agar menutupi tubuhnya yang masih polos.

"Budi kemana? Kok nggak ada sih?"monolognya.

Anindya kebingungan karena sosok yang sebelum ia tidur masih memeluknya dengan erat, kini tiada dan meninggalkan dirinya seorang diri di kamar hotel tersebut. Sampai akhirnya netra Anindya menangkap sebuah paperbag di atas meja serta cacatan kecil di sampingnya.

Buat kamu. Aku pergi dulu karena ada urusan mendadak. Di depan ada orangku, setelah mandi dan bersalin. Dia akan mengantarkan dirimu.

Note kecil itu dapat Anindya pastikan dari William. Rasa takut ditinggalkan setelah diajak enak-enak pun hilang setelah dia membaca pesan itu dengan jelas. Kini tujuan Anindya adalah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terutama mandi wajib.

Mandi? Bukannya tadi William mengatakan akan mengajaknya mandi bersama bukan? Anindya memukul kepalanya karena pikiran mesumnya kembali menghantui.

Tidak ingin terjebak dalam bayangan panas bersama William, Anindya gegas melanjutkan niatannya untuk mandi. Setelah mandi dan memakai pakaian yang telah William berikan beserta kerudung di dalam paper bag itu. Anindya gegas keluar kamar hotel.

"Selamat siang, Nona. Saya Mandala, mari ikut Saya,"ucap seorang pria tampan tepat saat Anindya membuka pintu tersebut.

Anindya berjalan mengikuti sosok Mandala. Dalam otak kecilnya mulai bersliweran siapa sebenarnya sosok William itu? Bukankah William yang Anindya kenal hanyalah seorang pria dari kota Lampung yang bekerja sebagai office boy?

Tapi jika dia hanya seorang office boy kenapa bisa menyewa hotel? Maklum dalam prasangka seorang gadis desa seperti Anindya, hanya orang-orang ber-uang saja yang bisa menginap di kamar hotel.

"Maaf Mandala, apa Saya boleh bertanya tentang Budi?"tanya Anindya kala sosok Mandala telah duduk di balik kursi kemudi itu.

Mandala terdiam, dia tidak mengerti arah pembicaraan Anindya itu.

"Maaf Nona, Saya tidak mengenal sosok Budi,"ujar Mandala sambil mulai menyalakan mesin mobil untuk membawa Anindya sesuai perintah Tuannya.

"Eh masak sih, katanya Budi kamu orang suruhan dia. Kamu bukan penculikkan?"

Mandala terdiam. Dia yang tidak ingin salah bicara memutuskan untuk tidak menjawabnya.

"Maaf Nona, sebaikanya Anda tanyakan saja kepada Tuan William,"ujar Mandala mencari aman.

"Wil-william? Siapa yang Kamu maksud?"gagap Anindya penasaran.

"Dia yang menyuruh Saya menjemput Anda,"balas Mandala tanpa menolehkan kepalanya.

Satu pesan yang William berikan untuk Mandala. Jangan tatap Anindya lebih dari tiga menit, dan sebagai anak buah yang patuh tentu saja Mandala akan mengikuti perintah itu.

"Maksudnya? Bisa Kamu jelaskan,"desak Anindya.

Tetapi Mandala justru memilih diam dan fokus pada setir yang hendak ia putar itu.

Mau tidak mau rasa penasaran itu harus kembali Anindya telan, karena sosok pria muda di depannya itu memilih dia menanyakan langsung pada sosok William, yang namanya saja asing di telinga Anindya.

"Baiklah, Aku akan diam sampai bertemu dengan sosok Tuan William itu, Aku penasaran seperti apa rupanya itu?"batin Anindya.

Mandala menghentikan mobilnya. Lalu keluar lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Anindya. Mereka telah sampai di mansion Bavers, milik William.

Anindya yang baru saja keluar kembali melangkah mundur sampai tubuhnya mentok pada body mobil.

"Maaf Mandala, sepertinya kamu salah orang. Dimana Budiku? Budi tidak mungkin tinggal disini,"ucapnya.

Dia takut salah orang, Budi-nya hanya orang biasa. Dan pria bernama Mandala itu justru membawanya pada sebuah bangunan yang sangat mewah ini.

"Lebih baik Anda masuk Nona. Saya tidak pernah salah orang, dan nanti Tuan William akan menemui Anda setelah urusannya selesai,"ujar Mandala.

"William lagi William lagi, Saya mencari Budi."

"Apa dia menjadi pelayan di rumah besar ini?"lanjutnya lagi dengan dugaan barunya.

Mandala kembali tidak menjawab pertanyaan Anindya. Pria itu memilih untuk mengarahkan tangannya ke samping memberi kode agar Anindya berjalan di depannya memasuki mansion tersebut.

Ceklek!

Pintu besar dan menjulang tinggi itu terbuka lebar, para pelayan berjajar dari arah pintu.

"Selamat datang Nona Anindya,"seru mereka bersamaan.

"Eh i-iya."

Refleks tubuh Anindya turut membungkuk setiap kali para pelayan itu membungkukkan tubuhnya memberi hormat padanya.

"Kalian bisa tegakkan tubuhnya, Aku pegal menunduk terus,"gerutu Anindya.

"Maaf tidak bisa Nona,"ujar Eva, kepala pelayan mansion Bavers.

"Eva, saya serahkan Nona sama kamu,"saut Mandala.

"Baik."

Mandala membalik badannya, lalu meninggalkan Anindya bersama seorang pelayan wanita bernama Eva itu.

"Kalian benar tidak salah orang? Dan perlakuan ini sepertinya sangat berlebihan,"celetuk Anindya kala langkah kakinya mengikuti Eva yang menelusuri lorong ruangan demi ruangan yang sepertinya akan menjadi PR Anindya untuk menghafalnya.

"Mandala adalah orang kepercayaan Tuan, dan dia tidak pernah salah orang,"ujar Eva masih tidak berani mengangkat kepalanya.

Huft.

Anindya menghela nafas panjangnya. Dia benar yakin sepertinya akan percuma dengan menghadapi orang-orang ini. Jalan yang tersisa hanyalah menunggu sosok bernama 'William itu' dan menanyakan dimana keberadaan Budi.

***

"Ahhhg."

"Ck, berani sekali kamu menyentuh orang-orangku,"geram William.

William menatap sosok pria yang telah mengenaskan karena pukulan dari Alex dan dirinya. Dia adalah pria yang telah menipu Anindya dan menjual wanita itu pada Mami Anne.

Siang tadi, saat William menikmati tidur pulasnya dengan Anindya di kamar hotel. Suara dering ponsel yang tiada hentinya mengharuskan pria itu bangun.

Dan itu dari Alex. Alex meminta William untuk menemui sosok pria yang menjadi dalang keberadaan Anindya di tempat l*knat itu.

"Ampun Tuan, Ampun! Saya benar tidak tahu jika gadis itu adalah orangnya Tuan,"ucap pria itu memelas.

"Kamu tahu, gara-gara kejahatanmu, berapa mata pria yang telah melihat mulusnya kulit Anindya dan betapa indahnya rambut dia,"geram William.

Membayangkan akan hal itu kembali memancing emosi William. Kaki pria itu kembali melayangkan tendangan pada perut pria itu sampai membuatnya terjungkal.

Tidak hanya itu, William juga melayankan bogeman mentah pada wajah dan area perutnya, menjadikan pria itu terkapar tak sadarkan diri.

"Bawa dia Alex, masukkan dia ke dalam penjara. Dan satu lagi, buat tempat l*knat yang telah menerima Anindya itu tutup untuk selama-lamanya,"titah William dengan memalingkan wajahnya menatap jajaran rak-rak buku di ruangan tersebut.

"Baik Tuan."

Alex menyeret tubuh pria itu keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan William yang tengah mengatur dirinya agar saat ia keluar tidak dalam kondisi marah.

William berbalik hendak meninggalkan ruang pribadi miliknya.

Ting

"Sh*t, cepat sekali pak Tua itu mengetahuinya,"

Pesan singkat dari seorang Bavers, papanya William membuat pria itu kembali kesal.

***TBC

Terpopuler

Comments

ardiana dili

ardiana dili

lanjut

2023-08-10

0

❤Rainy Wiratama Yuda❤️

❤Rainy Wiratama Yuda❤️

Up date nya kalau bisa tiap hari dong..

2023-08-10

1

❤Rainy Wiratama Yuda❤️

❤Rainy Wiratama Yuda❤️

Benar Nin... William "Budi" mu akan menjadi pelayan di ranjang mu nanti 😉😄😄

2023-08-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!