"Arak saja mereka Pak RT, desa kita sudah tercemar karena perilaku menjijikan gadis itu, "teriak seorang warga dengan menggebu.
"Iya, dia sama lacurnya seperti ibunya. Usir saja dia Pak RT, "saut warga lainnya.
"Ibu Saya bukan pelacur, dan Saya tidak pernah berzina,"raung Anindya dengan tangisan yang mulai membasahi pipinya.
"Alah, mana ada orang salah mau ngaku. Sudah jelas kami lihat kamu lagi tindih-tindihan dan hanya berdua saja di rumah itu lagi. Laki dan perempuan mau apalagi kalau nggak bakal zina di tempat sepi, ya nggak para warga?"saut si provokator.
"Iya Pak RT, mana ada maling mau ngaku!"
Si provokator dan Prita tersenyum senang karena sukses membuat warga semakin percaya dan terdorong akan isu yang dibuatnya.
Anindya dan William tampak duduk di sebuah kursi yang ada di persidangan desa dadakan itu.
William menatap wajah Anindya dari samping. Tampak gadis yang selalu ceria dan kuat itu kini hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Dia menangis?"gumam William.
"Sudah-sudah! Para warga harap tenang, kita dengarkan dulu keputusan dari Pak Kades, "seru Pak RT meminta kericuhan itu untuk berhenti.
Semua orang terdiam menanti keputusan Pak Kades yang sedari tadi diam sembari menatap William dan Anindya.
"Hey anak muda! Siapa namamu? "tanya kepala desa itu Pad William.
"Budi, "jawabnya singkat.
William masih tidak bisa memberitahu akan identitasnya yang asli sehingga dia kembali menggunakan nama Budi.
"Apa Kau sudah menikah? "tanya Pak Kades lagi yang kini mendapat gelengan dari William.
Kepala Pak Kades mengangguk-angguk dan itu kembali membuat warga tidak tenang.
"Gimana ini Pak Kades? Jangan diam saja, "teriak seorang warga yang sudah tidak sabar lagi.
"Nikahkan saja mereka berdua, "ucap Pak Kades.
Grasak-grusuk para warga terdengar cukup membingungkan. Namun karena itu adalah keputusan dari kepala desa mereka sehingga semua warga tidak ada yang berani membantahnya.
"Bagaimana, kalian berdua harus menikah sekarang juga!"tegas Pak Kades.
Anindya menatap William dalam, dia tidak kenal siapa itu William selain karyawan baru yang seprofesi dengan dirinya.
"Bud, nikahi Aku! Aku mohon, "ucap Anindya pelan.
Biarlah apa kata William untuk dirinya. hanya saja saat ini Anindya tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Terlebih saat sekilas dia melihat adanya sosok Prita, dan sosok Yoga yang baru saja datang.
Semua orang menanti jawaban dari William yang sedari tadi hanya diam membisu. Dan diamnya William itu membuat Anindya kalut.
Dia kembali menundukkan kepalanya dengan perasaan sedih di hatinya. Anindya pikir William tidak mau menikahinya.
Lagipula siapa dia bagi William? Keduanya hanyalah rekan kerja, dan juga pastinya William sudah memiliki seseorang dihatinya yang jauh diatas Anindya.
"Saya mau menikahi Anindya, "ucap William lantang.
Anindya membola saat mendengar ucapan William yang mau menikahi dirinya itu.
Dan jadilah disore hari tepatnya ba'da Maghrib itu William dan Anindya resmi menjadi suami istri dimata agama dan disaksikan oleh semua warga desa.
"Ck, seharusnya di arak saja. Kenapa cuma dinikahi sih, "gerutu Prita saat dia pergi mendahului semua warga yang masih ada di balai desa.
Yoga yang berjalan disamping Prita pun menoleh pada wanita itu dan berkata.
"Apa maksud kamu, Prita? Kenapa kamu berkata seperti itu? Jangan bilang semua ini ada hubungannya dengan kamu, "geram Yogi.
Sudah cukup sulit hatinya menerima kenyataan Anindya menikah dengan pria lain, dan jika tuduhan itu benar adanya, maka Yoga sungguh tidak akan memaafkan Prita begitu saja.
"N-nggak kok Mas, mana ada Aku ikut campur dalam urusan mereka. Lagian kan Aku juga baru datang bersama kamu, "dusta Prita.
Yoga menatap tajam wanita itu. Dia memang mengkhianati Anindya dan bermain serong dengan Prita. Tapi yakinlah, wanita yang dicintai dan ingin ia jadikan sebagai istri hanyalah seorang Anindya semata.
Dia dan Prita hanya pasangan ranjang saja, tidak lebih.
"Baguslah, "ucap Yoga lalu melanjutkan kakinya mendahului Prita lebih dulu.
Sedangkan Prita masih berdiri di tempatnya sembari mengelus dadanya.
"Hampir saja dia kena marah sama Mas Yoga, padahal kami sudah bertunangan. Tapi semakin kesini, Mas Yoga semakin beda sikapnya, "gumam Prita.
Kembali pada Anindya dan William. Setelah kejadian pernikahan dadakan karena ke gep warga desa. Tampak keduanya berjalan ke arah rumah mereka dengan perasaan canggung.
Anindya tidak tahu harus bagaimana menyikapi William yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
"Emmpt, terima kasih sudah mau menolongku, "ucap Anindya yang hanya dibalas deheman oleh William.
Sama halnya dengan Anindya, William juga kebingungan. Kesanggupannya tadi spontan ia lakukan karena melihat wajah menyedihkan Anindya.
Tetapi bukan berarti William menyesali akan hal itu, dia sama sekali tidak menyesali keputusannya menikahi Anindya.
"Kita sudah sampai, Bud, "ucap Anindya mengingatkan William yang masih saja melangkah.
"Eh, sudah sampai ya? Maaf tadi Aku melamun, "ucap William seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Anindya tersenyum melihat tingkah William itu.
"Kau kembalilah ke kontrakanmu, kamu pasti kedinginan karena kita tadi sama-sama basah. Sekali lagi terima kasih, "ucap Anindya lalu berbalik dan gegas meninggalkan William seorang diri.
Anindya terlalu malu berhadapan dengan William, terlebih tadi dia sempat memohon pada pria itu untuk menikahi dirinya.
Sesampainya di dalam rumah, Anindya menyandarkan tubuhnya pada pintu dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Anin, Anin, apa yang telah terjadi padamu? Kenapa nasib kamu sangat buruk sekali, "maki Anindya untuk dirinya sendiri.
"Hachi... Hachi, sepertinya Aku harus cepat mandi air hangat dan mengganti pakaian, "ucapnya saat merasakan hawa dingin semakin masuk pada pori-pori kulit tubuhnya.
Anindya gegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya menggunakan air hangat.
Tidak lama, dia hanya sebentar lalu gegas mengenakan piyama tidurnya.
"Ini lebih baik, "celetuk Anindya.
Dia berjalan keluar kamarnya, waktu menunjukkan pukul sepuluh. Dan Anindya harus memastikan jendela dan pintu rumahnya terkunci dengan benar.
"Bukannya itu William, kenapa di berdiri di depan rumah, "gumam Anindya.
Melihat William yang masih menggunakan pakaian yang sama serta pria itu yang tampak kedingingan, dengan cepat Anindya membuka pintu rumahnya.
"William! Ada apa? "tanya Anindya.
Kening Anindya mengernyit karena disisi William juga tampak tas berisi pakaian pria itu.
"Katanya yang punya kontrakan Aku tidak boleh disana lagi, "ujar William.
"Emangnya kenapa? Kamu bayar tepat waktu kan, biar Aku datangi Bu Sartika dulu, "ucap Anindya tampak emosi.
Gadis itu melangkah hendak menuju rumah Bu Sartika, tetapi langkahnya dicegah oleh William.
"Aku bayar tepat waktu kok. Cuma kata Bu Sartika, itu karena tadi sore kita sudah menikah, "ucap William.
Anindya terdiam mencerna maksud dari kalimat yang keluar dari pria itu. Hampir saja dia lupa akan pernikahan dadakan itu. Jika saja William tidak mengingatkan dirinya.
"Bu Sartika nyuruh kamu tinggal di rumah Aku? "tanya Anindya hati-hati.
Dan jawaban dari pria itu adalah sebuah anggukan pelan dengan wajah malunya.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
shadowone
budi thor, anin kan ga tau nama sebenar budi dan nikah itu tetep sah tapi dengan nama budi.
2023-08-16
0
الفريزة
up dong Thor 😔
2023-07-12
0
الفريزة
seru ni
lanjutkan Thor... udah gak sabar baca lanjutannya 🥰
2023-07-11
0