Part 15

"Tuan, orang kita melaporkan jika mereka tidak menemukan Nona Anindya,"ujar Alex.

William yang tengah memegang pena untuk memberikan tanda tangan pada berkas itupun menghentikan kegiatannya. William mendongak dengan sorot mata meminta penjelasan.

Alex mulai menjelaskan jika saat dua orang suruhannya pergi ke desa sesuai perintah William untuk menjemput Anindya, namun menurut anak buahnya rumah kecil Anindya telah kosong bahkan kabar yang mereka dapatkan jika rumah itu bukan lagi milik Anindya.

"Lelucon macam apa ini Alex? Temukan Anindya bagaimanapun caranya,"ucap William tegas.

"Baik Tuan."

Alex melangkah keluar ruangan William. Sementara William yang kembali mencoba fokus pada seluruh pekerjaannya justru tidak bisa pria itu kembali fokus.

Pria itu beranjak dari kursinya lalu berjalan ke arah jendela besar yang bisa membuatnya melihat bagaimana aktivitas penduduk kota metropolitan.

William harap, dengan cara tersebut bisa membuat fikirannya tenang. Dan bisa membantunya kembali fokus bekerja.

Sialnya, William justru merasa semakin gusar. Dia merasa tidak bisa diam di dalam ruangan tersebut.

"Ada apa denganku? Seharusnya Aku sudah bisa tenang, ada orang-orangku yang mencari Anindya,"celetuk pria itu.

Rasa gusar William semakin besar saja membuat pria itu memutuskan untuk keluar ruangannya dan menemui Alex di ruangan pria itu.

"Kita ke desa, sekarang Lex,"ujar William tegas.

Alex tentu saja terkejut mendapat mandat dari Tuannya itu. Namun karena William yang telah melangkah lebih dulu membuatnya mau tak mau mengikuti langkah pria itu

Dalam langkah cepatnya, Alex mencoba menghubungi wakil CEO Bavers Group untuk menangani perusahaan sementara waktu. Toh. Masalah pencurian data, dari pihak Bavers Group masih mempunyai file cadangan yang bisa digunakan. Hanya sisa masalah kecil lainnya.

"Apa kita perlu pulang lebih dulu untuk mengambil pakaian Anda, Tuan?"tanya Alex usai pria itu memasang sabuk pengaman dan duduk dibelakang kemudi.

"Tidak perlu,"jawab William singkat.

"Baik Tuan."

Dengan kecepatan tinggi sesuai permintaan William, mobil itu melaju dengan tujuan desa tempat tinggal Anindya.

Beberapa jam kemudian. Setelah menempuh perjalanan darat cukup jauh, akhirnya William sampai di desa dan kini pria itu telah berdiri di depan rumah kecil dimana istri bar-barnya tinggal.

Tanpa peduli dengan pakaian formal yang tengah ia kenakan yang pastinya jika Anindya melihatnya membuat gadis itu bertanya-tanya. Willian tetap memantapkan niatnya mengetuk pintu.

Tok...tok...tok.

"Anin! Ini Aku, Nin,"serunya.

Sampai beberapa kalinya William menyerukan nama Anindya, barulah pintu itu terbuka. Namun yang muncul dari bilik pintu bukanlah Anindya melainkan sosok prita dengan tank top yang membalut tubuh wanita itu.

"Eh, bukannya kamu..."

Kalimat Prita terputus karena melihat sosok yang ia kenal sebagai suami Anindya sangat jauh berbeda penampilannya dari terakhir kali Prita melihatnya.

William tampak lebih berkelas yang semakin menonjolkan ketampanan pria itu.

"Aduh, mau cari siapa?"tanya Prita dengan nada lembutnya.

Ketampanan William memang tidak bisa diganggu gugat, membuat Prita yang tadinya ingin marah berubah lembut dan mengeluarkan keahliannya menggoda.

Sedangkan William yang melihat perubahan sikap Prita itu justru tampak jijik, bahkan saat Prita hendak menyentuhnya. Dengan cepat William menghindarinya.

"Maaf, tolong jaga batasan Anda,"ujar Alex yang kini menjadi tameng William dari ulat bulu seperti Prita

"Dimana Anindya?"tanya William tanpa menampilkan wajahnya dari balik punggung Alex.

Prita mencebik kesal karena dia yang mendapat penolakan keras dari William.

"Kenapa masih nanya-nanya gadis pembawa sial itu? Dia sudah diusir, karena tanah ini sudah milik orang lain,"cetus Prita sembari memainkan rambutnya.

Walaupun William sebelumnya sudah mendengar penjelasan dari Alex. Namun, saat melihat yang kini menempati rumah kecil Anindya adalah Prita tentu saja membuat pria iru marah.

Tanpa banyak bicara, William berbalik kembali masuk ke dalam mobilnya. Begitupula dengan Alex yang menyusul pria itu.

"Wah, sepertinya suami Anind sebenarnya orang kaya deh. Sial, dulu kenapa Aku pakai cara jebak.Anin sama dia sih,"maki Prita untuk dirinya sendiri.

***

"Sebentar ini apa ya? Kok kayak alamat gitu,"gumam Anindya.

Gadis itu tengah membaca ulang surat yang William berikan sebagai ucapan pamit pria itu. Setelah membaca dengan seksama, kini Anindya baru sadar sebuah tulisan kecil dibaliknya yang merupakan sebuah alamat.

"Apa ini tempat Budi tinggal ya? Tapi ini di Jakarta, bukannya dia bilang asal Lampung?"

"Atau jangan-jangan ini tempat kerja barunya Budi Iya, pasti kayak gitu,"monolog Anindya.

Disaat gadis itu sibuk bermonolog dengan dirinya sendiri. Monic tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya yang sudah ditempati bersama Anindya selama dua hari belakangan ini.

"Lagi apa Nin? Sibuk banget,"tanya Monic.

"Mon, biasanya kalau ada alamat di sebuah surat itu kira-kira alamat apa ya?"tanya Anindya.

"Tergantung...Bisa alamat rumah, alamat kantor atau alamat lainnya."

Anindya terdiam mendapat jawaban dari sahabatnya itu. Ternyata bertanya pada Monic juga masih membuatnya kebingungan.

"Monic! Keluar dulu, ada yang mau ibu tanyakan."

Itu Sari, ibunya Monic. Mendapat panggilan dari ibunya segera saja membuat Monic beranjak dari atas kasur dan menuju sang ibu.

Anindya yang telah selesai melihat isi kopernya pun merasa haus melanda tenggorokannya.

Gadis itu berjalan keluar kamar Monic untuk mengambil air putih di dalam dapur.

Saat perjalanan menuju dapur, tanpa sengaja Anindya mendengar percakapan Sari dengan Monic di kamar Sari mengenai dirinya.

Langkah kaki Anindya terhenti. Karena rasa penasarannya yang sangat besar memberikan keberanian Anindya untuk mendekat dan mencuri dengar.

"Kapan teman kamu itu keluar dari rumah ini?"tanya Sari.

"Bu, Anin baru dua hari disini loh. Dia sedang kena musibah, kasihan dia Bu."

"Tapi Ibu nggak mau kita kena sial karena sudah menampung dia disini."

"Bu kok ngomongnya gitu sih."

Anindya menundukkan kepalanya saat mendengar ketakutan Sari karena menampung dirinya di rumah wanita itu.

"Lah emang iya. Dia yang menjadi penyebab ibu dan neneknya meninggal."

Tidak kuat, Anindya tidak kuat menahan diri lagi. Dia gegas meninggalkan depan kamar Sari lalu kembali ke kamar Monic.

Disana ia segera membereskan pakaiannya kembali ke dalam tas.

"Aku tidak bisa disini lagi," celetuk Anindya.

Dia memutuskan untuk pergi ke alamat yang ada di surat dari pria itu. Tidak peduli jika itu bukan alamat rumahnya. Karena saat ini, Anindya benar-benar tidak tahu harus kemana lagi.

Setelah menulis notes untuk Monic di atas kasur. Anindya berjalan meninggalkan rumah tersebut dengan sebuah tas berada di atas punggungnya.

"Terima kasih Monic, Aku pergi dulu,"celetuk Anindya sebelum gadis itu berjalan menjauhi rumah Monic.

***

TBC

Terpopuler

Comments

ardiana dili

ardiana dili

lanjut

2023-08-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!