"Semoga dengan uang segini cukup untuk menyusul Budi, hanya dia satu-satunya bisa Aku harapkan,"gumam Anindya.
Gadis itu telah duduk di sebuah bus antar provinsi, menatap keramaian luar dari balik kaca jendela. Teriakan para calo saling bersautan mencari penumpang yang bisa mereka bawa pada deretan-deretan bis disana.
Anindya menggenggam erat secarik kertas berisi surat perpisahan dari Budi yang juga berisikan sebuah alamat disana. Dia harap dugaannya tidak salah, jika William ada di alamat tersebut.
Roda besar itu berputar, bis pun berjalan meninggalkan terminal. Anindya menatap sendu deretan jalanan yang dilewatinya. Dia akan sangat merindukan desa tempat ia dilahirkan dan ia tumbuh besar.
Tak terasa perjalanan beberapa jam telah Anindya tempuh, kini gadis itu telah tiba di terminal kota Jakarta.
Di kota sebesar Jakarta, tempat ini sangat asing untuk seorang Anindya. Dia yang biasanya hidup di desa, melihat bagaimana ramainya Jakarta sedikit membuat gadis itu kebingungan.
Gadis itu berjalan tak menentu sembari melihat alamat di atas kertas itu. Sekarang setelah sampai di kota Jakarta, keyakinan gadis itu untuk bisa bertemu dengan William terkikis sudah.
Ternyata Jakarta sangat luas dan terlalu sulit menemukan seseorang disini. Anin mulai bertanya-tanya pada beberapa supir angkut mengenai alamat di kertas yang ia pegang.
"Saya bisa nganter kesini, Neng. Tapi bayar tiga ratus ribu dah,"ujar seorang supir saat Anindya memperlihatkan alamat padanya.
Anindya mengintip isi dompetnya. Hanya sisa lima lembar uang berwarna merah, jika tiga ratus untuk supir ini. Maka hanya akan sisa satu lembar, Anindya rasa itu nominal yang sangat sedikit untuk tinggal di ibu kota.
"Terima kasih, Pak."
Daripada dia kehilangan uang tiga ratus ribu, Anindnya memilih untuk berlalu meninggalkan supir itu.
Tak pantang arang, Anindya kembali berjalan menanyakan alamat ditangannya. Hingga siang dengan terik matahari di atas kepalanya membuat gadis itu sadar sudah sejauh itu ia melangkah dari terminal.
"Sholat dhuhur dulu mungkin ya,"monolog Anindya.
Langkah kakinya terayun menuju sebuah mushalah kecil yang terdengar suara adzan berkumandang disana. Ada rasa syukur dari dalam hati Anindya, meskipun orang-orang kota kebanyakan sibuk dengan bekerja tapi masih ada yang menyempatkan diri untuk adzan dan beribadah.
"Setelah ini makan dulu apa ya, terus naik angkutan umum,"gumam Anindya.
Gadis itu baru saja selesai dengan ibadahnya dan bersiap meninggalkan mushollah tersebut. Tujuan Anindya beralih mampir pada sebuah rumah makan sederhana yang ada di dekat mushollah itu.
"Bu, pesan makanan paling murah ada?"tanyanya.
"Kalau paling murah mah nasi sama tempe doang Neng, mau?"ujar penjual itu yang mendapat anggukan cepat dari Anindya.
Tidak masalah dia hanya memakan dengan tempa, toh dia memang harus benar-benar berhemat.
Anindya meletakkan tasnya disamping tubuhnya lalu mulai menikmati makanan berupa nasi dan tempe itu.
Sederhana sekali tapi karena rasa lapar yang teramat membuat Anindya sangat menikmati makanan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Anindya telah menyelesaikan makanannya dan hendak membayar.
"Berapa Bu?"tanyanya.
"Lima ribu saja Neng,"ujar ibu-ibu itu.
Anindya mengangguk lalu beralih menatap tasnya yang ia letakkan disamping tubuhnya itu. Ada yang aneh, tas Anindya yang tadi tertutup rapat kini terlihat tebuka.
Firasat Anindya semakin tidak enak, saat ia mencari dompetnya yang tidak ada di dalam tasnya.
"Kenapa Neng?"tanya penjual itu.
"Anu, itu Bu. Sepertinya Saya kecopetan, dompet Saya tidak ada di dalam tas,"jawab Anindya dengan perasaan tidak enaknya.
Wanita itu menatap lamat sosok Anindya yang masih sibuk mencari dompet di dalam tasnya itu.
"Sudah Neng, makanannya Saya gratiskan kok,"ujar ibu-ibu.
"Benar Bu?"tanya Anindya yang mendapat anggukan dari wanita penjual itu
Mendengar itu sontak saja membuat Anindya senang bukan main. Gadis itu beranjak dari duduknya lalu menyalimi tangan wanita itu dengan kalimat terima kasih keluar dari mulutnya berulang kali.
"Kamu dari desa ya? Mau kemana?"tanya wanita penjual itu.
Anindya menceritakan dirinya yang berasal dari desa dan tengah mencari alamat dimana suaminya tinggal. Anindya juga menunjukkan alamat pada secarik kertas pada ibu itu.
"Wah kalau ini alamatnya jauh Neng,"ujar ibu-ibu itu.
"Si Neng kudu pakai angkutan beberapa kali,"lanjutnya.
"Gitu ya Bu, jadi kalau jalan kaki nggak bisa ya,"ujar Anindya.
"Nggak bisa Neng, gini saja gimana kalau ibu kasih uang buat ongkos kamu kesana saja,"ujarnya, yang langsung mendapat penolakan dari Anindya.
Prinsip dia yang dari desa dimana tidak suka menerima pemberian orang lain secara cuma-cuma membuat Anindya segan menerimanya.
"Kamu anggap saja ini hutang deh, nanti kalau sudah ketemu sama suaminya baru kamu kembalikan deh."
Pada akhirnya Anindya setuju dengan usulan dari wanita itu. Diterimanya uang lembaran senilai seratus ribu itu. Kata ibunya uang itu cukup untuk perjalanan ke alamat yang Anindya perlihatkan sebelumnya.
Sebelum meninggalkan warung itu, Anindya beberapa kali mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong oleh ibu-ibu itu. Kemudian Anindya berlalu untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
"Mau kemana, Neng?"tanya seorang pria yang mendekati Anindya yang saat ini tengah menunggu kendaraan umum itu
"Mau Saya anter nggak Neng?"tawar pria itu lagi.
Anindya terdiam, dia menelisik penampilan pria di depannya itu. Disini dia benar-benar tidak tahu dengan siapapun, lalu apakah boleh gadis itu menerima niat baik
Penampilan pria di depannya terlihat sopan dan rapi, terlebih saat pria itu mengatakan jika dia adalah seorang supir taksi online.
"Saya ingin ke alamat ini,"ujar Anindya pada pria itu.
"Wah, ini mah gampang. Saya bisa mengantarkan kamu kesana. Tenang saja, Saya tidak menyuruh kamu pesan lewat online, kamu nggak tahu caranya kan?"ucap pria itu yang mendapat anggukan dari Anindya.
"Khusus hari ini buat Mba-nya, Saya bisa mengantar sampai alamat ini, ayo ke mobil Saya, Mba,"ucap pria muda itu menunjuk sebuah mobil yang katanya sering dia pakai untuk taksi online itu.
Anindya yang melihat sopan dan santunnya pria muda tersebut pun percaya begitu saja, dia berjalan mengikuti langkah kaki pria tersebut lalu masuk ke dalam mobil tersebut.
Tidak jadi angkotan, jika dengan pria itu bisa mengantarkan sampai alamat tersebut, membuat Anindya merasa itu pilihan terbaik.
Selama perjalanan, Anindya hanya menatap jalanan dari balik jendela mobil. Entah karena faktor kelelahan atau apa, tiba-tiba rasa kantuk teramat dalam menghampiri gadis itu. Secara perlahan kelopak mata Anindya tertutup.
Sementara sosok pria muda yang mengaku sebagai supir taksi online itu pun tersenyum penuh kemenangan saat dia berhasil memperdaya gadis desa seperti Anindya yang selalu menjadi incarannya.
"Berapa harga untuk gadis perawan ya?"gumam pria itu dengan seringainya, setelah membayangkan berapa banyak uang yang bisa dia dapatkan setelah menjual Anindya pada seorang mucikari.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Lilis mulyati
mlang bngt nasib anin smoga anak buah si wili cpat dtang sblm terlambat aku protes sma author knapa author biarin si anin prgi dlu sblm dia bertemu sma orng suruhan wili jdi mlas bacanya klau konfliknya jdi berat
2023-08-06
1
الفريزة
hadeeuh..lemes bestie..jangan sampai Anindya di jual y thor 🥺😢
2023-08-06
0
ardiana dili
lanjut
2023-08-06
0