Part 10

"Monic... Monic? Itu ada apa? "lirih Anindya saat Monic tidak sengaja lewat di depan Anindya.

Beberapa orang dengan wajah asing, serta berseragam formal berjalan memasuki kantor tersebut. Dan itu yang membuat Anindya penasaran siapa sebenarnya mereka.

"Itu tim audit dari kantor pusat, Nin, "jawab Monic.

Walaupun Anindya hanya lulusan SMA, tapi dia tahu apa itu tugas dari tim audit. Dan jika sampai kantor tersebut di datangi tim audit dari pusat sudah pasti ada yang tidak baik-baik saja.

"Kantor ini nggak bakal bangkrut kan? "tanya Anindya takut.

"Semoga saja sih nggak, Nin, "jawab Monic yang tak kalah khawatirnya.

Dia tidak ingin hal itu terjadi, akan jadi seperti apa nasibnya jika kantor tempatnya bekerja gulung tikar. Bisa-bisa dia akan kelaparan.

Mengingat nasib sengsara yang bisa saja datang pada dirinya kapan itu saja. Anindya jadi teringat akan sosok William, suaminya yang sejak pagi tidak ia jumpai bahkan di kantor sekalipun.

Tadi pagi, William pergi terburu-buru bahkan pria itu sampai melewatkan sarapan paginya bersama Anindya.

"Monic, kamu lihat Budi nggak? "tanya Anindya.

"Budi, si OB baru itu ya? Aku nggak lihat Nin,"ujar Monic.

Anindya terdiam, dia harus mendiskusikan hal ini pada William, karena jika ia di pecat atau William yang di pecat maka nasib keduanya akan benar-benar kesusahan.

"Mereka bakal lama ya Nic? Aku harus pulang soalnya, "tanya Anindya.

"Mungkin, biasanya kalau mereka sampai nginep gitu di kantor. Apalagi ini desas-desusnya ada penyelewengan dana perusahaan gitu, "ujar Monic.

Anindya melihat jam pada ponsel bututnya, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore dan seharusnya dia sudah pulang.

"Kamu kan OB? Kita bisa pulang kali Nin. Urusan orang-orang pusat itu mah sama petinggi perusahaan ini bukan sama kita, "ucap Monic.

Anindya menyengir mendengar kalimat Monic. Dia yang hanya bawahan sudah tentu tidak ada urusannya dengan para petinggi-petinggi itu. Anindya hanya tinggal pulang dan menunggu kabar esok hari.

Yang pasti, Anindya berharap perusahaan itu tetap berjalan dan dia tidak di pecat.

"Ya sudah Aku pulang dulu ya Nic, "pamit Anindya.

"Iya Nin, hati-hati."

Anindya berjalan cepat keluar perusahaan. Dia harus segera menemui William dan membahas hal penting ini dengan pria itu.

Sesampainya Anindya di rumah, tampak William telah berdiri di depan rumah menunggunya.

"Budi, ayo masuk! Ada hal penting yang harus kita bicarakan, "seru Anindya seraya menarik tangan William dan membawanya masuk ke dalam rumah kecil itu.

Anindya meletakkan tas kecilnya sembarang di atas meja. Lalu dia mendudukan dirinya persis di depan William yang sebelumnya ia tekan bahu pria itu agar duduk di sofa.

"Ini gawat Budi, gawat!"pekik Anindya dengan wajah frustasinya.

Kening William mengernyit saat melihat Anindya yang bicara tidak jelas dan mengatakan adanya hal gawat yang terjadi.

"Anin, kamu bisa tenang dulu, Saya bingung maksud dari gawat itu,"ucap William seraya menahan tangan Anindya yang bergerak tak beraturan itu.

William membantu Anindya menarik dan membuang nafas perlahan agar gadis itu bisa lebih rileks.

Setelah merasa dirinya cukup tenang, barulah Abunya menceritakan akan kedatangan tim audit ke kantor serta kekhawatirannya tentang kantor yang bisa saja di tutup, yang kemungkinan akan berdampak pada nasib dirinya dan William yang akan menjadi pengangguran.

Mendengar alasan kepanikan Anindya, sontak saja membuat William tertawa keras.

Bagaimana bisa Anindya takut akan hidup sengsara sedangkan suami gadis itu sendiri seorang CEO yang memiliki kekayaan hingga tujuh turunan pun tidak akan habis.

"Budi! Ini serius, kamu jangan ketawa gitu, "rutuk Anindya dengan kesalnya.

Tawa William terhenti, namun menyisakan sebuah senyuman tampan pada wajahnya.

"Kamu tenang saja, kantor itu tidak akan tutup kok. Kamu tidak perlu takut kita jadi sengsara, "ucapnya.

"Kamu yakin dengan itu?"tanya Anindya menatap lamat William.

Pria itu mengangguk mantap, dan meminta Anindya untuk percaya pada kalimatnya tersebut.

"Sudah ya, kita berhenti mikirin hal yang tidak penting itu. Sebaiknya kita ke meja makan, Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, "ujar William.

Mendengar tentang makanan, perut Anindya yang tadi anteng tiba-tiba kopral meminta gadis itu untuk segera mengisinya.

"He he he, Aku memang belum makan dari tadi siang, "celetuk Anindya dengan cengirannya.

William tersenyum mendengar kekonyolan gadis itu. Karena perut Anindya yang terus meronta membuat gadis itu segera beranjak dan menuju meja makan kecil di rumahnya itu.

Sesampainya didapur dimana sebuah meja kecil tersebut berada, mulut Anindya dibuat terbuka lebar atas berbagai hidangan ala restaurant bintang lima yang tersaji di atasnya.

"Woah! Ini makanan orang kaya Budi, orang baik mana yang mau ngasih makanan enak ini sama kamu, "seru Anindya dengan binar matanya.

William menggaruk kepalanya, dia sengaja membeli makanan tersebut untuk Anindya tapi gadisnya justru mengira jika ada orang baik yang telah memberikan makanan mewah tersebut kepadanya.

"Sudah ah, siapapun itu semoga rizkinya tambah lancar ya Budi. Sekarang kita makan saja yuk! "ajak Anindya seraya membuka piring dan meletakkan nasi serta lauk-lauk yang lezat di atas nya.

Tidak lupa juga, ia menyajikan makanan untuk William.

Jika dilihat seperti saat ini, William dan Anindya tampak pasangan suami istri yang sangat harmonis dan penuh cinta.

"Anin,"panggil William.

Anindya yang tengah fokus makan itu pun menoleh dan bersamaan dengan itu tangan pria itu terulur dan menyentuh sudut bibir Anindya dimana saus tomat menempel sempurna di sana.

Keduanya terpaku dalam tatapan satu sama lainnya, seakan tatapan itu saling menarik satu sama lainnya. Perlahan wajah keduanya semakin dekat hingga jaraknya hanya beberapa senti lagi saja.

"I-itu sudah? "gagap Anindya.

Anindya yang tidak nyaman dengan posisinya itu lebih dulu sadar akan jarak yang teramat dekat itu dan pada akhirnya William yang sadar hampir saja dia tertarik untuk menyentuh bibir tipis Anindya segera menarik tubuhnya menjauh.

"Sudah Nin, "balas William dengan canggung.

Dengan perasaan canggung yang ada di setiap dada, keduanya kembali memulai makan sampai selesai dan tidak ada satupun yang bicara.

"Aku mau mandi dulu, "pamit Anindya mencoba menghilangkan rasa canggung itu.

"Iya, Aku keluar dulu ya Nin. Ada urusan, "pamit William juga.

Ingin Anindya menanyakan kemana William akan pergi, namun rasa canggung dan dia yang masih belum merasa punya hak untuk ikut campur pada urusan William pun memilih menganggukkan kepalanya saja.

"Jangan terlalu malam pulangnya, "ucap Anindya sebelum kaki William melangkah keluar pintu.

"Iya, pintu di kunci saat Aku tidak ada di rumah, "balas William yang mendapat anggukan Anindya

Setelah iru William melanjutkan niatannya untuk keluar yang Anindya pun tidak tahu kemana tujuan pria itu.

***

TBC

Terpopuler

Comments

Lilis mulyati

Lilis mulyati

seandainya si will jujur dri awal pasti anin gk akan kecewa klau dri pertma sdah ada kebohongan sdah pasti ujung akhirnya bkalan ada kekecewaan.sprti dinovel sblah yg judulnya suamiku seorang Presdir.kisahnya sngat tragis dan bnyak konflik beratnya.

2023-07-20

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!