Part 17

"Eungh..."

Kelopak mata indah Anindya mengerjap, perlahan silaunya lampu memasuki pupil matanya membuat refleks tangan itu terangkat untuk menghindari cahaya itu.

Setelah kedua matanya bisa menyesuaikan dengan sinar lampu, barulah Anindya menjauhkan tangannya dari wajah cantiknya.

"Ini dimana?"

Tempat ini sangat asing bagi gadis itu. Sebuah kamar dengan berbagai alat make up dan berbagai jenis dress di atas sisi kasur lainnya membuat gadis itu keheranan.

Anindya bangkit dari tidurannya, tetapi bibir tipis itu memekik keras karena rasa terkejutnya saat melihat penampilannya saat ini.

Segera Anindya meraih selimut untuk membalut tubuhnya yang hanya berbalut dengan dress mini dengan belahan dada rendah.

Anindya mencoba mengingat-ingat akan apa yang sebenarnya telah terjadi pada dirinya. Anindya ingat betul jika sebelumnya dia tengah berada di dalam mobil seorang pria yang mau membantu dirinya dengan mengantarkan Anindya pada alamat William.

"Dimana pria itu? Sebenarnya apa yang telah terjadi?"rutuk Anindya.

Kaki jenjang gadis itu menuruni kasur kamar tersebut ia beralih memilah beberapa dress yang ada di sisi kasur lainnya. Berharap ada yang panjang dan dapat menutupi tubuhnya.

Sial, beberapa dress itu tak ada bedanya dengan yang dia kenakan saat ini.

Rambut panjangnya saja kini terurai begitu saja. Entah tangan manusia macam apa yang telah begitu lancang menyentuh tubuhnya dan mengubah dirinya bak wanita malam itu.

Rasa ketakutan semakin besar terasa karena suara handle pintu berputar serta suara obrolan antara pria dan wanita yang masuk pada gendang telinganya.

"Nenek, Anind harus gimana,"lirihnya.

Dia hanya bisa membalut tubuhnya hingga atas kepala dengan selimut tebal itu serta kaki Anindya yang mulai melangkah mundur karena perasaan takut akan dua sosok yang mulai membuka pintu kamar itu.

"Sudah sadar ternyata,"celetuk seorang wanita dengan bibir merah cetarnya.

"Kamu! Apa yang kamu mau, kenapa membawa Saya kesini hah, dan apa yang kalian lakukan pada tubuh Saya,"teriak Anindya menunjuk sosok pria yang beberapa saat lalu menawarkan bantuan untuk dirinya itu.

Tawaan renyah keluar dari pria itu lalu dia mengangkat tangannya yang berisi sebuah amplop tebal yang pastinya berisi gepokan uang merah dan biru itu. Pria itu mengecup gepokan uang itu dengan seringai menatap Anindya yang balas menatap tajam dirinya itu.

"Terima kasih, berkatmu Aku kaya. Ha ha ha,"ujar pria itu lalu berbalik meninggalkan Anindya dengan seorang wanita yang usianya bisa diperkirakan empat puluhan namun tetap cantik karena polesan di wajahnya.

"Mulai sekarang kamu ada milikku,"ujar wanita itu dengan tangan hendak menyentuh dagu Anindya.

"Pers*tan dengan milik siapa! Aku hanya milik Aku,"teriak Anindya dengan satu tendangan mendarat mulus pada perut wanita itu lalu mengambil langkah seribu keluar dari kamar l*knat itu.

"Akhhhh, shhht. Lucas kejar dia,"teriak Anne pada anak buahnya yang menghampiri dirinya.

"Tapi bagaimana dengan Anda Mami?"tanya Lucas.

"Kejar dia Lucas! Kejar!"titah Anne tak terbantahkan.

Pria bermama Lucas itu pun berlari keluar kamar itu dan mengajak dua rekannya untuk mengejar Anindya.

Sementara Anindya yang masih dengan balutan selimut itu pun kini telah sampai di area bar dengan musik dugem menggema nan memekakan telinga.

Dia yang sangat asing dengan suasana tersebut dibuat frustasi hingga beberapa kali menabrak para pengunjung disana.

"Itu disana,"teriak Lucas menunjuk Anindya yang ditengah-tengah kerumunan itu.

Anindya menatap sosok pria-pria bertubuh kekar yang ada di lantai dua itu. Tanpa dijelaskan pun, Anindya tahu jika mereka tengah mengejar dirinya.

"Woy jalan pakai mata!"bentak seorang yang baru saja Anindya tabrak.

"Jalan pake kaki bang,"saut Anindya sembari terus berlari.

Tapi kali ini Anindya dalam situasi genting, dia abaikan saja orang itu lalu gegas mencari pintu keluar ruangan dengan kerlap-kerlip lampu disko itu.

Sayangnya, dia yang tidak pernah berada dalam situasi dunia malam benar-benar bingung akan letak pintu keluarnya. Rasanya dia sudah berkeliling pada setiap sudut latar tersebut namun Anindya lagi-lagi buntu.

"Ya Allah, bagaimana ini? Kemana pintunya,"panik Anindya.

"Sepertinya disana,"lanjutnya kala melihat orang keluar.

Gegas Anindya membalik langkah kakinya menuju sudut yang ia yakini pintu keluar.

"Mau kemana hah!"

Tubuh Anindya terpelanting ke belakang karena tarikan kuat Lucas pada selimut yang membalut tubuh Anindya. Kini tubuh Anindya benar-benar terekspos karena selimut itu Lucas buang dengan sembarangan.

"Saya tidak mau ikut kalian, lepaskan!"pekik Anindya saat kedua tangannya di cengkeram kuat oleh anak buah Lucas.

"Sepertinya kamu minta kekerasan ya,"geram Lucas.

Plak...plak...plak...plak.

Empat tamparan secara bergantian mengenai kedua sisi pipi Anindya hingga sudut bibir gadis itu berdarah. Rasa pening juga mulai menderanya karena kerasnya tamparan Lucas.

"Bawa dia,"titah Lucas.

Dua anak buah bertubuh kekar itu menyeret Anindya yang telah lemas itu menuju sebuah ruangan private yang sebelumnya telah diberitahu oleh Anne.

Brugh.

Anindya di dudukkan begitu saja di atas lantai dengan kedua kakinya yang terlipat. Gadis itu tahu di depannya terdapat sebuah meja berisi berbagai minuman memabukkan serta sebuah kursi panjang. Dia tahu, karena melalui ekor matanya bisa melihat apa yang ada di depannya itu.

"Tuan-Tuan sekalian, ini adalah barang terbaru di club kami. Mami Anne menyiapkan ini sesuai pesanan Tuan Erick."

Anindya semakin menunduk hingga surai panjangnya menutupi seluruh wajahnya. Sebuah barang? Apa segitu rendahnya para wanita di mata mereka yang ber-uang? Rasanya Anindya sangat miris pada mereka yang terpaksa menjajahkan tubuhnya atau dengan senang hati karena keindahan dan keanggunan wanita hanya dianggap barang oleh mereka pria berduit dan hidung belang itu.

"Wah, Mami Anne memang paling tahu siapa yang paling senang ada barang baru. Tapi malam ini barang baru ini bukan untuk Saya, melainkan untuk William,"ujar Erik sombong menepuk bahu sang keponakan yang sedari tadi diam dengan wajah datarnya itu.

"Silahkan Tuan sekalian menikmatinya,"ujar Lucas lalu meninggalkan Anindya di tengah kumpulan tempat yang sangat mencekam.

Erik menyeringai, dia menatap sosok William yang hendak meminum sebuah soft drink yang sebelumnya telah dia campur dengan obat perangsang itu.

Kemudian netra Erik berganti pada sosok gadis yang duduk tersimpuh di atas lantai yang akan menjadi senjata ampuhnya.

Malam ini, Erik si pria ambisius itu akan meruntuhkan imej baik William dengan menciptakan skandal yang akan ramai pada jagat maya.

"Saya harus pulang, Paman. Urusan kita sudah selesai, dan apa yang Saya katakan bukan hanya sebuah ancaman semata,"ujar Wiliam tegas.

"Baiklah baiklah, paman akan mengingat semuanya. Tapi kenapa buru-buru? Apa kamu tidak ingin bermain dengan gadis disana..."

Erik menunjuk sosok Anindya yang masih betah menundukkan kepalanya itu.

"Tidak terima kasih. Lebih baik Paman segera tanda tangani kesepakatan ini."

Hawa panas mulai bergelenyar pada tubuh William, efek dari obat perangsang itu mulai mengalir pada peredaran darahnya. William mengumpati Erik dalam batinnya. Dia telah kecolongan, jika lebih lama berada di ruangan tersebut. Bisa dipastikan dia akan masuk dalam perangkap pamannya sendiri.

"Akan saya tanda tangani, tapi Saya mau ke toilet lebih dulu,"ujar Erik seraya berdiri dan meninggalkan William bersama gadis yang sebenarnya Anindya itu.

"Sh*t."

William memaki sosok Erik yang telah keluar dan sialnya saat dia mencoba membuka pintu itu telah dikunci oleh Erik dari luar.

Sial sekali nasibnya, dia yang baru pulang dari desa usai pencarian istri kecilnya. Malamnya dia harus menemui Erik, karena laporan anak buahnya jika Erik telah ditemukan dan berada di bar dimana ia berada saat ini. William menemui Erik untuk membuat kesepakatan agar pamannya itu tak lagi mengusik dirinya dan Bavers Group.

Pandangan William mulai berkabut, dia lepas jas pada tubuhnya lalu melemparnya sembarangan. Langkah kakinya perlahan berjalan sendiri ke arah Anindya yang tengah duduk bersimpuh itu.

"Ini sangat menyiksaku,"maki William.

Sret.

Ditariknya tubuh ringkih Anindya yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu.

"Kamu mirip istriku,"gumam William.

"B-Budi~"

***

TBC

Terpopuler

Comments

الفريزة

الفريزة

waduuh...gmn nie...

2023-08-08

0

ardiana dili

ardiana dili

lanjut

2023-08-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!