“Budi!”
William menghentikan langkahnya saat mendengar nama samarannya dipanggil oleh suara seorang perempuan.
Pria itu berbalik menatap Anindya yang melangkah setengah berlari ke arahnya. Di tangan gadis itu terlihat satu kantong plastik yang entah apa isi di dalamnya.
“Ini buat kamu,”ujar Anindya mengulurkan kantong plastik itu pada William. Kening William mengernyit menatap kantong plastik itu.
“Iish, ini itu cuma kue putu, enak kok,”ucap Anindya lagi.
“Budi! Ambil gih, Aku tahu kamu disini hidup sebagai perantauan pasti tidak mudah, jadi tadi Aku sengaja beli banyakan dan setengahnya buat kamu, ambil ya,”pinta Anindya.
Dengan sedikit keraguan dalam hatinya, William meraih kantong plastik yang berisi kue putu itu.
Anindya tersenyum manis kala William mau menerima makanan pemberiannya itu.
“O iya Kamu tinggal dimana?”tanya Anindya.
“Aku belum dapat tempat tinggal yang pas,”jawab William.
Keduanya melangkah beriringan keluar gerbang perusahaan tersebut sembari bercakap ria.
“Sepertinya di daerah tempatku tinggal ada yang menyediakan kontrakan gitu deh, coba kita tanyakan saja gimana? Biar malam ini kamu ada tempat tinggal,”ucap Anindya senang.
“Boleh,”ucap William singkat.
“Oke, ayo ikut Aku,”ajak Anindya riang.
Gadis itu berjalan mendahului William dengan sesekali membalik badannya menatap ke belakang berbicara dengan William lalu menghadap ke depan lagi, dan itu ia lakukan
berulang kali.
Sampai ketika ia menghadap ke belakang tanpa ia tahu ada seseorang yang kebetulan tengah berjalan berlawan arah.
“Aw,”pekik keduanya.
“Aduh, maaf nggak sengaja,”ujar Anindya berjongkok hendak membantu wanita itu.
Namun niatan Anindya itu ditolak mentah-mentah oleh wanita itu yang kini berdiri tegak menghadap dirinya.
“Ck, sial sekali hari ini bertemu dengan kamu disini,”sinis Prita.
Anindya yang kini mengenal siapa perempuan yang baru saja akan ia tolong itu pun melangkah mundur satu langkah lalu balik menatap ketus Prita.
“Oh iya, kebetulan kita ketemu disini. Sekalian saja Aku mau ngasih tahu tentang ini,”ujar Prita seraya mengangkat jemarinya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis wanita itu.
Anindya memalingkan wajahnya, tanpa ia bertanya dia sudah tahu jika cincin itu berasal dari Yoga, mantan calon suaminya.
“Berkat kamu yang kemarin menggerebek kami di kamar itu, Mas Yoga datang bersama orang tuanya untuk melamar Aku,”ucap Prita jumawah.
Prita memainkan jemarinya memutar dan mengangkatnya penuh kebanggan di depan Anindya.
Anindya tersenyum sinis pada wanita di depannya, membuat Prita yang berharap Anindya menangis itu terlihat kecewa.
“Ck, lalu untuk apa Kamu memberitahuku? Berharap Aku sedih? Nangis? Atau melakukan hal gila, sepertinya Kamu salah sangka Prita, karena itu tidak akan terjadi,”ujar Anindya lugas.
William yang berada di belakang Anindya masih diam disana untuk mengamati keduanya. Dia masih tidak ingin ikut campur lebih dulu.
Terlebih Anindya adalah orang yang baru ia kenal, jadi William hanya ingin melihat kecuali jika memang dirinya harus maju untuk membantu gadis itu.
Prita mencebik kesal mendengar ucapan penuh percaya diri dari Anindya itu.
“Aku cuma mau kasih tahu, perbedaan keluarga Mas Yoga yang begitu baik dan mau menerima Aku tidak seperti kamu yang melamar saja mereka tidak hadir,”sinis Prita.
Anindya menghela nafasnya panjang. Jika mengingat kenyataan itu memang tidak bisa Anindya mengelaknya.
Keluarga Yoga memang tidak begitu lapang menerimanya hanya karena dia yang bekerja sebagai office girl.
“Tidak masalah, Aku cuma mau kasih nasihat aja sih. Biasanya kalau laki-laki itu pernah selingkuh dia akan selingkuh lagi. Jadi, hemmm…sebaiknya kamu lebih jaga dia ya,”ujar Anindya tersenyum.
Prita menghentakkan kakinya di tanah karena rasa kesalnya itu yang sudah kehabisan kata untuk memanasi Anindya.
Anindya yang merasa sudah cukup puas membuat Prita kesal itu pun memutuskan untuk melanjutkan tujuannya mencari kontrakan untuk William.
“Budi! Ayo kita lanjutkan tujuan kita,”seru Anindya pada pria yang berada di belakangnya itu.
“Iya,”saut William lalu mendekatkan dirinya mengikuti Anindya.
Prita yang baru sadar kehadiran sosok William itu dibuat terperangah oleh ketampanan wajah pria itu.
Hingga tanpa sadar, mulut wanita itu terbuka lebar.
“Dia siapa? Kenapa tampan sekali. Ck, ini tidak bisa dibiarkan, Anin tidak boleh mendapatkan sesuatu yang lebih dari Aku,”rutuk Prita.
Anindya terus melangkah dalam diam dan dibelakang perempuan itu terlihat William yang terus mengikuti langkahnya.
“Ehem, Nin. Ehem, Anindya,”seru William.
“Ah iya kenapa Bud?”tanyacAnidnya terlihat terkejut.
“Kontrakan yang kata kamu mau di sewakan dimana ya?”tanya William.
Anindya menggaruk kepalanya yang berbalut hijab itu dengan senyuman canggung. Dia hampir lupa dengan tujuannya membawa William.
Bahkan karena kemarahannya pada Prita dia sampai melupakan jika arah rumahnya harus berbelok.
“Maaf kita melewatkan jalan, kita putar arah ya,”ucap Anindya tersenyum kecil.
William menganggukkan kepalanya lalu kembali mengikuti Anindya memutar arah dan berbelok pada sebuah gang.
Sampai ketika dia sampai di sebuah rumah minimalis ala pedesaan, terlihat Anindya mengetuk pintu rumah itu seraya memanggil nama si pemilik rumah.
“Bu Sartika! Bu ini Anind Bu,”seru gadis itu.
Tak lama terlihat seorang perempuan bertubuh gempal keluar dari dalam rumah itu.
Keduanya terlibat perbincangan yang tidak dapat di dengar oleh William, terlihat sesekali Bu Sartika melirik William dan menganggukkan kepalanya.
“Ayo Nin, bawa juga Mas ganteng itu,”seru Bu Sartika usai menutup pintu rumahnya.
Keduanya kembali berjalan mengikut langkah kaki hingga sampai di sebuah rumah petak kecil yang terlihat cukup layak di huni.
“Ini kontrakan saya Mas ganteng, tempatnya masih nyaman kok. Sudah ada kasur sama lemarinya juga. Cuma belum ada kipas saja, nanti kalau mas gantengnya jadi tinggal disini besok Saya belikan kipas angin,”celetuk Bu Sartika.
William memandang sejenak kontrakan tersebut, jika di perkotaan dengan kontrakan sebaik di depan matanya mungkin harga yang diberikan tidak semurah itu.
“Saya ambil saja Bu, oiya perkenalkan nama Saya Budi,”ucap William memperkenalkan dirinya pada Bu Sartika.
Bu Sartika menyambut uluran tangan William dengan senang hati, terlihat wanita bertubuh tambun itu tersenyum-senyum tidak jelas.
“Sudah ih Bu, ingat umur udah punya suami juga,”hardik Anindya melepaskan genggaman tangan Bu Sartika yang tidak ingin melepaskan tangan William.
“Ih, kamu ini Nin senang banget ganggu kesenangan Ibu,”rutuk Bu Sartika.
Anindya hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah wanita di depannya.
Setelah urusan mengenai dp kontrakan itu selesai dan Bu Sartika juga sudah meninggalkan keduanya.
Kini tinggallah William bersama Anindya disana.
“O iya, barang-barang kamu sih dimana Bud?”tanya Anindya.
“Masih di kosan lama, mungkin besok baru Saya ambil,”bohong William.
Anindya menganggukkan kepalanya, ia percaya begitu saja dengan apa yang William katakana itu.
“Ya sudah Aku pulang dulu ya,”pamit Anindya di angguki oleh William.
“Iya terima kasih sudah membantu mencari kontrakan,”ucap William.
“Iya sama-sama.”
Anindya melangkah meninggalkan Wiliiam menuju rumahnya yang terletak persis di depan kontrakan yang di tempati William itu.
“Dekat sekali, rupanya rumah gadis itu,”gumam William masih memandangi Anindya hingga gadis itu lenyap dibalik pintu rumahnya.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
anita
nama selingkuhan yoga anes pritawati mungkin,pokok namanya itu...😉
2023-10-08
0
Lela
bukanya selingkuhan nya namanya anes?
2023-07-25
1