"Disini cuma ada satu kamar,"ucap Anindya dengan wajah bingungnya.
William yang baru saja selesai mandi dan telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih hangat itu tampak menatap Anindya.
"Kita tidak mungkin tidur satu kasur berdua, Aku masih merasa sangat canggung, "lanjutnya lagi.
Netra William berkeliling pada rumah kecil Anindya. Rumah dengan satu kamar, satu dapur yang digabung dengan meja kayu dengan kursi plastik serta ruang tamu dengan kursi usangnya.
"Aku tidur disini,"ucap William lalu menjatuhkan bobot tubuhnya pada kursi yang terdengar suara kala ia tiduri itu.
Jujur, William mulai ragu akan ucapanya barusan saat dia telah mendudukan dirinya disana.
"Tapi kursinya kekecilan deh, "ucap Anindya menatap kursi reot itu.
"Tidak apa, boleh minta bantal dan selimutnya, Nin, "pinta William.
Terlalu gengsi bagi William untuk menarik kalimatnya. Dia akan berusaha menahan dirinya dengan tetap tidur di kursi kayu itu.
Anindya sendiri tampak beranjak dari duduknya lalu masuk ke dalam kamarnya. Tak lama tampak wanita manis itu berjalan ke arah William dengan membawa sebuah selimut bergaris yang biasanya seharga tiga puluh ribuan.
Anindya juga membawa sebuah bantal yang lalu keduanya ia serahkan pada William.
"Kamu beneran nggak apa-apa tidur disini? "tanya Anindya ragu.
Meski dia sama-sama bekerja sebagai seorang cleaning servis. Namun kadang, Anindya tampak heran dengan tubuh William yang tinggi dan gagah serta kulit pria itu yang putih bersih.
Tidak seperti dirinya yang kusam, ya untung saja warna kulit Anindya kuning langsat.
"Iya, kamu sudah balik ke kamar. Sudah malam juga,"pinta William.
Anindya menganggukkan kepalanya patuh karena memang dia merasa sangat mengantuk.
Gadis cantik yang masih setia memakai hijab itu pun berjalan menuju kamar, meninggalkan William di ruang tamu itu sendiri.
Krieet.
Bunyi kursi itu terdengar sangat nyaring saat William mulai merebahkan tubuhnya. Rasanya William ingin lari menuju kamar dimana Anindya berada.
Tubuhnya yang biasa tidur pada empuknya kasur kini harus berbaring pada kerasnya kayu.
Tidak hanya itu, suara nyamuk mulai berdenging di telinga pria itu, membuat William semakin kesulitan untuk memejamkan matanya.
Dulu, di kontrakan yang dia sewa, meski kecil namun diam-diam Alex datang dan melengkapi fasilitas kontrakan itu agar William nyaman dengannya.
Disaat dia tengah berperang melawan ratusan nyamuk yang semakin malam semakin asik mengeluarkan suara bisingnya, ponsel pria itu berdering lalu memperlihatkan nama Alex yang meneleponnya.
"Ada apa? "tanya pria itu.
"Tuan William, Anda dimana? Saya ke kontrakan Anda tetapi kosong. Saya ingin membantu Anda untuk kembali ke Jakarta, "oceh Alex.
William bangkit dari posisinya lalu berjalan mendekati jendela untuk memastikan ucapan Alex.
Benar saja, di depan bekas kontrakan William tampak Alex tengah bolak-balik dengan ponsel di telinganya.
Karena masalah yang terjadi begitu tiba-tiba diantara dirinya dan Anindya. Sampai membuat William lupa jika malam ini ia harus kembali ke Jakarta karena urusannya di kantor cabang ini telah selesai.
"Saya tidak jadi ke Jakarta malam ini, Saya masih ada hal yang harus di urus. Tiga hari lagi kesinilah,"titah William pada sambungan telepon tersebut.
"Tapi Tuan... "
tut... tut. tut...
Sambungan telepon itu diputuskan sepihak oleh William, dia tidak. ingin jika pembicaraan antara dirinya dan Alex menganggu Anindya yang telah terlelap itu.
William berjalan kembali mendekati kursi kayu itu, pria itu menatap dimana seonggok selimut yang baru saja ia singkap sebelum pria itu beranjak dari sana untuk melihat Alex.
"Semoga bisa tidur, "gumam pria itu lalu mulai membaringkan tubuhnya kembali.
Keesokan harinya, Anindya yang telah selesai mandi di pagi hari itu. Tampak dengan santai berjalan mengenakan sehelai handuk yang membalut tubuhnya serta handuk kecil menutupi rambutnya yang basah.
"Seperti mati lampi ya sayang, seperti mati lampu...aw!"
Seperti hari-hari biasanya, gadis itu bersenandung ala anak alay dengan tarian asal yang di sertai jingkrakan tak karuan bak penyanyi abal-abalan yang mengadakan konser di dalam rumahnya itu.
Tidak tanggung-tanggung, Anindya juga menggunakan sisir sebagai pelengkap yang ia gunakan untuk mic nya.
Dia berputar lalu melakukan gerakan ala rocker padahal nyanyiannya adalah lagu dangdut.
"Apa yang kamu lakukan, Nin? "ucap William dengan suara parau khas tidur.
Pria itu bangkit dari rebahannya di atas kursi kayu dan menatap Anindya yang masih melakukan pose ala anak-anak rocker gadungan.
Anindya yang mendengar suara seorang pria tentu saja terkejut. Perlahan, kepala gadis itu bergerak miring sampai membuat handuk yang membalut rambutnya terjatuh.
"Yaaa! Budi! Apa yang kamu lakukan di rumah ku, "teriak Anindya sambil melempar handuk kecilnya pada wajah William lalu lari ke dalam kamarnya.
Sepertinya gadis itu lupa, jika semalam status William telah sah menjadi suaminya.
William menarik handuk basah dari wajahnya itu, lalu mengelilingi ruangan mencari Anindya yang tadi sedang nge-dangdut itu.
"Budi! keluar dari rumahku, kamu ngapain disini, "teriak Anindya dari dalam kamarnya.
Gadis itu sangat malu, karena tingkah absurdnya dan dirinya yang hanya berbalut handuk itu dilihat jelas oleh William.
William mendengus kesal, dengan tubuh yang remuk karena tidur pada kerasnya kursi kayu. Pria itu berjalan mendekati kamar Anindya dan berdiri di depan pintu.
"Kamu lupa tentang semalam ya?"ucap William.
Anindya terdiam mencerna maksud dari pria yang tengah berdiri di depan kamarnya itu.
Anindya menutup mulutnya yang terperangah karena terkejut saat dia ingat dan paham maksud dari ucapan William.
"Kita sudah menikah, "ucap Anindya pelan namun bisa di dengar William dari balik pintu.
"Iya, kita sudah menikah. Jadi, kamu tidak akan mengusir Saya dari rumah ini kan, "ujar William.
Tidak ada sautan dari dalam kamar Anindya selama beberapa saat, membuat William sedikit lega. Pria itu berbalik hendak menuju kursi untuk membereskan selimut disana.
Ceklek.
Klontang.
"Aw, hey! kenapa melempariku dengan botol lotion, "celetuk William menahan rasa sakit pada kepalanya akibat lemparan botol yang masih penuh itu dari dalam kamar Anindya.
Anindya sendiri setelah melempari William dengan botol lotionnya pun berteriak.
"Biar kamu lupa sudah lihat Aku nggak pakai baju! "teriak wanita itu lantang.
Melupakannya dengan lemparan botol lotion? Keabsurdan macam apa yang Anindya lakukan itu pada William? Bukannya lupa, yang ada semakin membekas saja pada memori William karena kini ditambah simbol benjolan pada kepalanya.
"Mana bisa Aku lupa dengan lemparan botol, "balas William kesal.
Tak lama Anindya keluar dengan pakaian yang telah membalutnya pada tubuh serta kerudung pada kepalanya.
"Maksudnya itu kurang gitu? "tanya gadis itu dengan polosnya.
"Oke, Aku cari yang lainnya biar kamu lupa,"lanjutnya seraya mencari sapu di sana.
William panik, pria itu langsung mencegah gadis itu dengan memegang lengannya.
"Tidak perlu, tidak perlu. Saya sudah lupa kok. Benar, sudah lupa tentang peristiwa tadi, "dustanya, padahal masih begitu jelas bagaimana putihnya kulit kaki jenjang Anindya yang begitu indah.
Anindya melipat tangannya di depan dadanya lalu berkata. " Kau sedang tidak berbohong kan? Meskipun kita sudah menikah, Aku tidak ingin memperlihatkan bentuk tubuhku pada sembarang orang."
Sembarang orang katanya. Lalu akad semalam yang disaksikan oleh warga desa itu apa? Ya ampun, William sungguh ingin tertawa pada tingkah gadis di depannya itu.
"Iya benaran kok, "ujarnya seraya mengangkat jari perdamaian pada Anindya.
"Bagus deh,"ucap Anindya.
Gadis itu berjalan mendekati William lalu mengendus bau tubuh pria itu.
"Mandi sana! Bau iler tahu, "ejeknya lalu berjalan begitu saja ke arah dapur.
Dikatai bau iler untuk pertama kalinya seumur hidup pria itu, membuat William sigap menciumi bau tubuhnya sendiri.
"Bau iler? mana ada, cuma bau asem sih, "gumam pria itu.
Tidak ingin mendapat kata-kata tidak mengenakan dari Anindya, William memilih menurut untuk pergi ke kamar mandi dan melakukan ritual bersih-bersih seluruh tubuh dan kepalanya.
***
TBC
Hey para readers! Sebelumnya terima kasih sudah mengingatkan othor akan kesalahan pada part 6, serta nama para tokoh yang telah salah tulis. Sekali lagi terima kasih ya atas masukannya. LOVE YOU SEKEBUN KARET dah....he he
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments