Tok...tok... tok.
"Budi! Budi! "
William yang tengah memakai pakaiannya itu gegas menyelesaikan kegiatannya lalu melangkah keluar saat mendengar nama 'Budi' dipanggil.
Ceklek.
"Ada apa Nin? "tanyanya.
"Tolongin Aku Bu, "pinta Anindya.
William terkejut saat melihat penampilan Anindya yang kacau itu. Terlihat sekujur tubuh gadis berhijab itu basah kuyup. Entah apa yang telah terjadi padanya.
"Kenapa? "tanya William lagi.
"Keran di rumah aku tiba -tiba rusak, Aku nggak tahu cara benerinnya, kamu bisa kan bantuin Aku, "pinta Anindya.
William mengaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dia yang notabenenya orang kaya sejak lahir mana paham hal begituan.
Tetapi melihat wajah memelas Anindya membuat pria itu tidak tega.
"Bisa, tapi..."
"Yes! Sekarang kamu ikut Aku ya, "pekik Anindya girang lalu menarik tangan pria itu ke arah rumahnya.
Padahal William sendiri belum menyelesaikan kalimatnya.
Sesampainya disana, tepatnya didapur rumah kecil Anindya. Terlihat seluruh lantai dapur sudah basah dan licin akibat air yang terus menyembur dari keran tersebut.
"Ini parah sih, "gumam William yang masih bisa didengar oleh Anindya.
"He'em, makanya sekarang kamu bantuin menyambung keran itu lagi, "ujar Anindya seraya mendorong tubuh William.
"Iya sih, tapi nggak harus dorong juga, "gerutu William yang hampir saja dirinya tergelincir karena dorongan Anindya serta lantai yang licin.
Tubuh William sudah mulai basah karena semprotan air keran yang deras itu, dengan memiringkan wajahnya, William mencoba menutupinya dengan satu tangan pria itu.
"Terus ini gimana? "pekiknya.
Kepala William terus bergerak untuk menghindari semprotan air yang keluar melalui sela jemarinya.
"Loh, katanya bisa. Aku juga nggak tahu, "saut Anindya.
"Aku tadi belum selesai bicara dan kamu justru menarikku lebih dulu, "ucap William tidak terima akan kalimat Anindya yang terdengar menyudutkannya itu.
Anindya tampak kembali panik saat sadar jika William juga tidak bisa berbuat banyak. Bola matanya berkeliling seraya mencari tahu apa yang harus pria itu lakukan.
"Ah itu! Mungkin kamu bisa sambung kerannya pakai lem itu,"ucap Abunya menunjuk keran dan lem yang ada di dalam laci bawah.
"Susah, kau yang ambil! "seru William.
Tidak ada cara lainnya, Anindya perlahan melangkah mendekati lemari kecil lalu mengambil keran dan lem disana kemudian mengulurkannya pada William.
Dengan bekerja sama, dimana sesekali baik William dan Anindya bergantian menutup keran air saat salah satu dari mereka membalutkan lem pada keran.
"Akhirnya bisa selesai juga, "ujar William lega.
Anindya memukul bahu lengan William pelan lalu berkata.
"Nggak sia-sia juga kamu Bud, punya tubuh gede, "celetuk Anindya dengan kekehannya.
William mendengus kesal saat mendapat kalimat itu dari Anindya. Tetapi di hatinya dia merasa senang karena sudah membantu kesulitan yang Anindya alami.
"Tapi terima kasih banyak ya sudah bantuin Aku, "ucap Anindya tulus dengan senyuman manisnya.
Dan sangking manis senyuman itu, sukses membuat wajah William merona karen salah tingkah.
Kulit William yang putih membuat rona wajah memerahnya terlihat jelas dan itu dilihat oleh Anindya.
"Loh kok pipi kamu merah Bud? Kamu nggak bakal flu kan cuma gara-gara kena semprotan air keran, "celetuk Anindya.
Apa gadis itu polos atau bodoh, yang jelas gadis itu mengira jika merahnya pipi William karena kena air.
William memalingkan wajahnya karena ketahuan merona akibat senyuman Anindya itu. Beruntung si gadis itu tidak tahu apa penyebab aslinya. Ya, meskipun kesal karena pikiran polos Anindya.
"Ehem, sudah kan? Kalau gitu Saya harus kembali,"ucap William dibuat se-cool mungkin.
Anindya mengangguk lalu kembali mengucapkan terima kasih dengan janji jika besok dia akan membuatkan bekal siang untuk William.
William beranjak lebih dulu, lalu saat giliran Anindya hendak bangun dan berjalan justru nasib sial menimpanya.
"Akhhh, "pekik Anindya.
Anindya yang akan berjalan mengikuti William ternyata terjatuh karena licinnya lantai.
Dan pekikan gadis itu sukses membuat William kembali berbalik lalu hendak menghampiri Anindya dan menolongnya.
"Akh, aw. "
Lagi lagi karena lantai licin, yang membuat William juga harus menjadi korban dan terjatuh tepat di atas tubuh Anindya.
Posisi keduanya terlihat sangat intim, selama beberapa saat manik keduanya saling terpaku satu sama lainnya. Namun Anindya yang tersadar lebih dulu akan posisi tidak mengenakannya segera mendorong dada William.
"Bud... Minggir ih, berat tahu! "celetuk Anindya dengan tangan mendorong tubuh William yang ada di atasnya itu.
"Eh ih, i-iya, "gagap William.
William mencoba kembali bangkit dari atas tubuh Anindya, tetapi sialnya dia harus kembali terjerembab dan terjatuh lagi dengan posisi yang sama.
"Aw, bisa-bisa Aku sesak nafas, "ucap Anindya saat merasa sakit karena tubuhnya tertimpa tubuh besar William.
"Sebentar Anind! Saya lagi coba bangkit lagi. Kaki Saya sepertinya terkilir, "ucap William meminta Anindya menghentikan kegiatannya yang terus mendorong tubuh kekar pria itu.
Disaat keduanya tengah tertimpa sial yang berakibat jatuh dengan posisi sangat intim itu. Diluar rumah Anindya, terlihat Prita tengah membawa beberapa warga yang bersiap untuk menggrebek.
"Prita, kamu yakin apa yang kamu katakan itu? "tanya Pak RT.
"Yakin sekali Pak, tadi Saya lihat Anindya menarik tangan pria itu ke dalam rumahnya,"ucap Prita menggebu.
"Sudah Pak RT, kita masuk saja dan gerebek mereka sekarang! "saut seorang warga.
"Iya Pak RT, kita masuk sekarang juga, "saut lainnya yang mana semakin membuat suasana kacau.
"Baik-baik, kita akan masuk dan melihat apa yang telah terjadi, tetapi seluruh warga dimohon tenang, "hardik Pak RT.
Prita tersenyum lebar saat berhasil memancing keadaan dan membuat seluruh warga masuk ke dalam rumah Anindya.
Sementara dia sendiri memilih tetap berada diluar menanti akan apa yang terjadi selanjutnya.
"Anindya! Apa yang kalian lakukan?"pekik Pak RT saat melihat posisi Anindya dan William masih bertindihan.
"Waduh Pak RT, ini namanya sudah tidak bisa tertolong lagi. Mereka telah berzina Pak RT,"teriak seorang warga.
"Iya... iya, kita arak saja mereka keliling desa,"saut lainnya.
Anindya dengan kuat mendorong tubuh William dari atas tubuhnya yang mana membuat pria itu terjatuh dengan keadaan terlentang.
Anindya tidak menghiraukan rintihan kesakitan William, saat ini keadaan dirinya sedang tidak baik-baik saja dimata semua warga.
"Kita arak saja, wanita ini sudah melakukan zina, "teriak para warga.
"Tidak, saya tidak melakukan hal itu. Tolong percaya, "ucap Anindya dengan wajah melasnya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita bawa mereka ke balai desa saja, "putus Pak RT memecahkan seluruh keributan yang tercipta pada warganya.
Anindya dan William akhirnya di arak oleh seluruh warga menuju balai desa.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
shadowone
kok budi masi d situ bukanya d episod sebelumnya katanya budi uda mau ke jakarta tepat pada malam anin ketemu yoga bersama budi?
2023-08-16
0
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Sedikit membingungkan sih ini.. di part 5 diceritakan kalau Budi sudah pergi dari kontrakan karena pekerjaannya di kantor cabang sudah selesai dan diawalnya juga diceritakan bahwa dia sempat bertanya pada Anin jika dia "bukan" Budi yg sebenarnya tapi dia urungkan utk bercerita siapa dia sebenarnya. Nah di part selanjutnya malah cerita Budi yg memperbaiki keran dirumah Anin, terpeleset, digerebek warga atas fitnahan dari Prita kemudian dinikahkan trus malamnya Budi ke rmh Anin karena sudah tidak boleh mengontrak lagi karena mereka sudah berstatus suami istri ? ini jadi ceritanya yang benar yang mana ? bukannya budi kembali ke Jakarta ?
2023-07-11
2