"Tuan Muda, Anda yakin akan melakukan ini? "tanya Alex sekali lagi.
William tak menjawab dan lebih memfokuskan dirinya pada penampilannya yang menggunakan seragam office boy itu.
"Aku tidak pernah ragu dalam melakukan sesuatu, "jawabnya.
Alex hanya bisa memandang atasannya itu dengan perasaan tak menentu.
Sebagai asisten William yang selalu bertugas menjaga keamaan dan keadaan dari pria itu Alex tentu khawatir dengan ide William yang akan menjadi office boy di perusahaan cabang tersebut.
"Saya akan ikut Anda ke perusahaan tersebut Tuan, "usul Alex.
William tak menyaut, walaupun ia mencegah Alex, pria itu akan tetap mencari cara untuk menemaninya.
"Baiklah, tapi Kamu hanya sesekali disini karena orang-orang perusahaan pasti mengenali wajahmu dan bersikaplah layaknya orang asing saat kita bertemu, "ucap William.
"Baik Tuan, "saut Alex terlihat sangat lega.
William meraih sebuah tompel palsu dan menempatkannya pada pipi pria itu.
Setelah semuanya siap. William melangkah meninggalkan apartemen itu diikuti Alex dibelakangnya. Kedua berpisah saat sampai di bawah, dimana Alex yang mengendarai mobilnya sementara William memilih untuk memakai sepeda motor matic yang ia gunakan sebagai pendukung dalam aksinya.
***
"Selamat tinggal pernikahan impian, "ucap Anindya.
Bara api berkobar disamping rumahnya, gadis itu tengah membakar kasur miliknya.
Kasur yang ia baru beli dan sengaja ia siapkan untuk malam pertamanya justru menjadi kasur yang paling ingin ia musnahkan.
"Anin, apa yang kamu lakukan! Itu apinya besar sekali, kamu sudah gila ya, "teriak Bu Laksmi, tetangga Anindya.
Anindya diam memandang kasurnya sendu, ia tidak meladeni umpatan amarah dari tetangganya itu.
"Sudah nggak waras kamu ya Nin, pantesan pernikahan kamu dengan Yoga gagal. Orang kelakuan kamu kayak gini, "maki Bu Laksmi.
Tangan Anindya terkepal kuat, gadis itu berbalik lalu melangkah mendekati Bu Laksmi dengan tatapan tajamnya.
"Loh mau apa kamu Nin? Jangan macam-macam sama Saya, gini-gini Saya lebih tua daripada kamu, "ujar Bu Laksmi ketakutan.
Anindya berkacak pinggang di depan wanita itu dan berkata.
"Sudah tua ya? Sudah sekolah berarti dong Bu, tetapi kenapa mulut Ibu seperti orang yang tidak pernah disekolahkan ya? Ah atau jangan-jangan Bu Laksmi memang tidak pernah disekolahkan makanya kalau bicara asal dan tidak sopan, "ucap Anindya lalu berjalan meninggalkan Bu Laksmi.
"Woy Anin, kamu itu memang perempuan kasar dan pembawa sial. Pantas saja Melati kamu pergi ninggalin kamu sama Mbok Murti, mungkin karena sadar kalau kamu itu pembawa sial, "maki Bu Laksmi.
Brak.
Pintu rumah sederhana itu Anindya banting cukup keras sampai membuat Bu Laksmi menjengit karenanya.
"Aku juga tidak pernah ingin dilahirkan di dunia dengan keadaan seperti ini,"ucap Anindya sesenggukan.
Tangis Anindya pecah. Sekuat-kuatnya dia ketika berada di luar namun Anindya tetaplah gadis yang rapuh.
Sedari kecil ia hanya tinggal bersama Mbok Murti. Ayah Anindya meninggal dunia saat menyelamatkan dirinya yang tenggelam di sungai sedangkan Ibunya, Melati pergi usai meninggalnya ayah Anindya. Dan sekitar dua tahun yang lalu Mbok Murti juga turut meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Jika saja boleh memilih, saat itu lebih baik Aku yang mati tenggelam daripada ayah, "ucap Anindya dalam tangisnya.
Anindya menghapus air matanya dengan kasar, hari ini ia harus kembali bekerja sebagai Office Girl. Sebelumnya ia mengambil libur karena rencana pernikahannya namun sepertinya bekerja adalah pilihan yang tepat saat ini.
"Oke Anin, lupakan dua makhluk sampah itu dan semangat kerja dan tunjukkan pada dunia jika seorang Anindya tidaklah lemah, "ucap Anindya menyemangati dirinya.
Gadis itu telah mengenakan seragam pabriknya lalu mengeluarkan sepeda ontel kesayangannya.
Jarak rumahnya dengan pabrik tidaklah jauh jadi memakai sepeda ontel itu pilihan sehat seorang Anindya.
"Ayo maju... maju...ayo maju Anin. Merdeka! "sorak Anindya menyemangati dirinya dengan lirik lagu nasional.
Kaki jenjang Anindya mengkayuh sepedanya penuh semangat, beberapa menit kemudian gerbang perusahaan sekaligus pabrik tempatnya bekerja mulai terlihat.
Anindya semakin mengkayuh sepeda ontelnya dengan penuh semangat dan tanpa Anin sadari dari arah lain terlihat motor matic yang juga akan masuk ke dalam perusahaan tersebut.
Tabrakan antara keduanya pun tak terelakan.
"Akhhh... "
Brak.
Anindya terpelanting cukup jauh karena ia hanya mengendari sepeda motor sedangkan lawannya mengendarai motor.
Tubuh Anindya terpentok tembok gerbang. Gadis itu meringkuk kesakitan.
"Aw, Shhht. Sa-kit banget, "runtih Anindya memegang perut dan merasa sakit pada bagian tubuh lainnya.
Seluruh karyawan yang akan masuk ke dalam perusahaan terhenti karena peristiwa tersebut.
"Ya ampun, Anindya! Kamu baik-baik saja kan? "
terdengar suara Malika, salah satu office girl yang merupakan teman kerja Anindya berlari ke arah gadis itu lalu berusaha membantu Anindya bangkit.
"Kamu luka-luka Nin, pulang saja ya? Biar Aku izinkan ke Bu Siska, "ucap Malika merasa kasihan melihat kondisi Anindya.
"Aw, tidak usah Mal. Aku baik-baik saja kok, "ucap Anindya dengan senyumannya.
"Tapi Nin, itu lutut sama yang lainnya berdarah loh, "tunjuk Malika.
"Nanti di cuci terus di kasih plester saja cukup, "kekeuh Anindya.
Sementara itu terlihat di sisi lain pria yang beberapa saat lalu bertabrakan dengan Anindya terlihat tengah menundukkan kepalanya.
Pria itu tengah dimarahi oleh Bu Siska yang merupakan pimpinan dari staf cleaning service perusahaan tersebut.
"Kamu karyawan baru di sini bukan? Hari pertama sudah berbuat rusuh saja,"bentak Bu Siska.
Anindya yang melihat kejadian tersebut merasa kasihan padanya. Gadis yang baru beberapa waktu lalu ini merintih kesakitan terlihat mencoba bangkit.
" Kamu mau ke mana Nin? "tanya Malika.
"Bantuin aku dong,"pinta Anindya.
Malika walaupun kesal karena Anindya yang keras kepala namun gadis itu tetap membantu Anindya.
Keduanya berjalan menuju pria yang juga menggunakan seragam sama persis seperti kedua gadis itu.
"Bu Siska. Saya baik-baik saja kok Bu Jangan memarahi dia lagi, "ucap Anindya.
"Siapa juga yang khawatir sama kamu. Saya hanya ingin menertibkan dia sebagai karyawan baru."judes bu Siska.
Anindya hanya bisa mengelus dadanya, meski wanita itu judes namun Anindya tahu Bu Siska termasuk wanita yang peduli dengan anak buahnya terlebih di bagian cleaning service.
"Apapun itu alasannya Bu, sepertinya bukan kesalahan dia sepenuhnya karena saya juga tadi tidak melihat kiri kanan sehingga tabrakan tersebut tidak bisa terelakan Bu, "jelas Anindya.
"Jadi bisakah Ibu tidak memarahinya lagi," pinta Anindya.
Bu siska tidak menyahut ucapan dan permintaan Anindya wanita bertubuh Tambun itu memalingkan muka lalu melangkah meninggalkan mereka.
"Kamu OB baru ya, "ucap Anindya mengulurkan tangannya pada pria yang beberapa waktu lalu tabrakan dengannya.
"Aku Anindya, siapa nama kamu? "
Pria itu terdiam namun sudut matanya sedikit melirik pada sosok Anindya.
" Budi." ucap pria tersebut yang sebenarnya adalah William Bavers.
"Oke ini Malika, mari ikut Saya menemui Bu Siska, wanita yang tadi memarahimu untuk menanyakan bagian mana tugas kamu,"ujar Anindya
Pria itu masih terdiam hingga panggilan Anindya kembali menggema barulah William berjalan mengikuti gadis itu yang berjalan dengan bantuan Malika.
"Gadis aneh, "gumam William.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Ira
Semangat Anin kamu bisa
2023-11-06
0
Ira
Kasian benget sih Anin 😭
2023-11-06
0
Nani Mardiani
1 vote untuk karyamu thor, ceritanya bagus dengan pemerannya sosok cewe tangguh. Sukses thor dan semangattttt....
2023-08-13
0