"Anin! "
Sebuah seruan sosok yang sangar familiar di telinga Anindya membuat gadis itu mempercepat langkahnya.
Bibir gadis itu terus menggerutu kesal karena sosok pria itu tanpa bosan mengganggu dirinya, padahal sudah ada Prita disisinya.
"Apa lagi sih Mas? "dengus Anindya ketika Yoga sudah menghadang jalannya.
Pria itu merentangkan kedua tangannya di depan Anindya, membuat Anindya tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Ada yang ingin Aku bicarakan, Nin, "celetuk Yoga. "Tolong, jangan usir atau menghindar lagi, "lanjutkan dengan wajah memelas.
Anindya melipat tangannya, sebenarnya malas sekali berhubungan dengan Yoga. Tapi sayangnya, sepertinya Yoga salah satu orang yang bermuka tebal.
Andai saja dia bisa melaporkan pria itu pada pihak berwajib sudah tentu sudah dari dulu ia lakukan.
Tapi apalah daya untuk seorang Anin yang hidup sebatang kara, tidak mungkin bisa melawan keluarga Yoga yang notabenenya keluarga terpandang di desa mereka.
"Mau bicara ya tinggal bicara"cetus Anindya.
"Kita cari tempat yang nyaman ya Nin, jangan disini, "ucap Yoga.
"Ah i-iya sudah disini saja, "putus Yoga saat mendapatkan tatapan tajam dari Anindya.
Yoga menatap sekelilingnya, beruntung suasana cukup sepi membuatnya bisa untuk memulai pembicaraan dengan Anindya.
"Anin, Aku masih sangat mencintaimu Nin. Aku tidak ingin kita pisah, Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Setiap malam Aku selalu sulit tidur karena mikirin kamu terus, "ucap Yoga manis.
Yoga memang seorang yang bermulut manis, dan mungkin itu yang menjadi sebab Anindya pernah jatuh dalam pelukan pria itu.
Senyuman Yoga tercetak, saat Anindya tidak menolak genggaman tangannya. Dia pikir gadis cantik di depannya itu sudah mulai kembali luluh dalam pesonanya.
"Tapi Aku sudah menikah, Mas."
Dari satu tangan berganti menjadi dua tangan Anindya yang digenggam Yoga.
"Kalian hanya menikah siri, tidak ada cinta diantara kalian. Mintalah cerai sam pria itu lalu kembalilah kepadaku dan kita hidup bahagia bersama, "ucap Yoga seraya memberikan tatapan penuh cinta pada Anindya.
Tatapan yang selalu bisa membuat jantung Anindya berdetak kencang.
"Lalu Prita? "tanya Anindya.
Yoga menghela nafasnya panjang. Dia ingin memiliki Anindya tapi disisi lain dia juga tidak bisa terlepas dari Prita. Keduanya menempati hati pria itu dengan posisi masing-masing.
Dasar lah pria, tidak pernah cukup dengan satu wanita.
"Aku janji meski Prita yang menjadi istriku, tapi Kamu tetaplah pemilik hati ini. Nanti kita akan menghabiskan waktu bersama walaupun kita tidak menikah dalam agama. Mungkin nikah siri, "ujar Yoga enteng.
Suara tawa yang sangat keras keluar dari bibir Anindya, bahkan gadis itu sampai terpingkal-pingkal memegang perutnya yang sakit.
Sementara Yoga sendiri terlihat menatap bingung akan Anindya yang tiba-tiba tertawa itu.
"Nikah siri katamu?"
Tawa Anindya seketika berhenti dan berganti dengan senyuman sinis menatap nyalang Yoga.
Meskipun merasa Anindya tampak tidak seperti di awal tadi, namun Yoga sebisa mungkin tetap bersikap seperti biasanya dengan gaya slay-nya.
"Iya, tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku yakin bisa bersikap adil juga Aku akan membangunkan rumah megah untuk kamu dan keluarga kec... "
Plak.
Suara Yoga hilang seketika dan berganti dengan suara tamparan yang Anindya lakukan pada pipi pria itu.
Tidak hanya sekali, tapi berulang kali Anindya menampar bolak-balik pipi pria itu sampai sudut bibir Yoga berdarah.
"Sekali brengsek tetaplah br*ngsek. Simpan impianmu tentang nikah siri itu, meskipun Aku dan Budi menikah bukan karena cinta namun setidaknya dia tidak pernah berpikir untuk mendua, "ucap Anindya dengan tatapan tajamnya pada Yoga.
"Anin! Berani sekali kamu, "bentak Yoga menatap tajam mantan kekasihnya itu.
"Kenapa tidak berani hah? Seharusnya dari dulu Aku menampar wajah tidak tahu dirimu itu. Seharusnya Aku juga lebih..."
Anindya memejamkan matanya dengan tangan terangkat menutupi wajahnya, karena saat ini Yoga mengangkat tangan siap memukul gadis itu.
"Siapa kamu? Berani sekali mau memukul wanita Saya."
Dia? Anindya perlahan membuka kelopak matanya. Di depan tubuhnya kini bukan lagi sosok Yoga yang hendak memukulnya itu. Tetapi tubuh tegap dengan pakaian office boy-nya.
Dia William atau yang Anindya kenal sebagai Budi yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Bak seorang pangeran yang melindungi putri dari penjahat, itulah bayangan yang Anindya rasakan saat ini.
"Lepas! Kamu tidak pantas ikut campur urusan kami, "desis Yoga.
Yoga tampak susah payah melepaskan tangannya dari cengkeraman William. Namun sepertinya usaha Yoga itu sia-sia, karena baik tenaga maupun postur tubuhnya kalah jauh dengan William.
"Sepertinya kamu lupa, jika dia adalah istri Saya,"geram William.
Tangan pria itu semakin kuat mencengkeram lengan Yoga, bahkan tidak hanya mencengkeram namun William juga juga memutarnya sampai suara tulang Yoga terdengar.
"Aw, sshht."
Anindya juga tampak khawatir. Dia tahu siapa sosok Yoga yang orang tuanya sendiri kepala desa membuat gadis itu takut jika sampai Yoga terluka maka itu akan membahayakan William.
Terlebih dirinya sudah tentu tidak akan bisa berbuat lebih.
"Budi... Sudah Bud, Jangan diteruskan, "ucap Anindya sambil memegang lengan William agar pria itu menghentikan aksinya.
William melepaskan cengkeramannya sampai membuat Yoga terjungkal pada tanah.
"Jangan pernah ganggu Anin lagi! "desis William sebelum pria itu pergi meninggalkan Yoga dengan menarik tangan Anindya dalam genggamannya.
William terus membawa Anindya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Senyuman lebar terlihat jelas pada sudut bibir Anindya saat ia melihat bagaimana William menggenggam tangannya dan berjalan di depannya.
Ini perasaan yang luar biasa bagi seorang Anindya, dulu dia tidak pernah tahu bagaimana rasanya dilindungi oleh seseorang sekalipun itu Yoga yang dulu adalah mantan kekasihnya.
"Terima kasih, "gumam Anindya lalu kembali berjalan cepat agar langkahnya seimbang dengan kaki William.
"Kamu tidak di apa-apakan sama pria itu? "tanya William saat ia dan Anindya telah masuk ke dalam rumah kecil milik Anindya.
Anindya menggelengkan kepalanya, dirinya baik dan saat ini semakin merasa baik karena perhatian yang William berikan untuk dirinya.
"Syukurlah,"ucap William dengan menghela nafas leganya lalu menarik tubuh Anindya dalam pelukannya.
"M-maaf Budi, bisa lepaskan Aku, "lirih Anindya.
Mendengar suara Anindya membuat William sadar akan apa yang telah dia lakukan. Dengan cepat William melepaskan pelukannya lalu berbalik membelakangi Anindya.
"Maaf,"cicit William.
Anindya terkekeh, melihat pria itu salah tingkah nyatanya sangat menggemaskan.
"Tidak apa kok. Toh, kita juga suami istri, semuanya halal untuk kamu sentuh, "celetuk Anindya yang langsung menepuk bibirnya saat sadar akan apa yang dia lakukan.
Sementara William cukup terkejut dengan kalimat Anindya namun dia hanya mampu berdehem agar tidak semakin parah salah tingkahnya.
"Anu, itu Aku ke dapur dulu. Kamu pasti lapar, Aku mau buat minum eh maksudnya makanan, "ucap Anindya lalu terbirit-birit menuju dapur kecil miliknya.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
shadowone
"walau bukan nikah secara hukum tapi nikah agama nikah siri" gitu thor.
2023-08-16
0
Lilis mulyati
wah kyanya klau si yoga ngadu sma ortu terpaksa wiliam membuka identitasnya dan smoga wiliam mrekam ucapannya yoga biar smua warga mendengar rkam suaranya si yoga sebrengsek apa tuh anaknya kpla desa yg bukan jbtan ortunya jauh diatas suaminya si anin
2023-07-18
0
Aqella Lindi
lanjut thor jgn lama2 ntar lupa cerita ny bgus soal ny
2023-07-17
0