part 5

Satu bulan kemudian, terlihat Anindya yang telah siap pulang dari perusahaan usai bekerja seharian penuh tengah menunggu William.

Selama satu bulan ini keduanya terlihat semakin dekat. William pun terlihat mulai nyaman dengan adanya Anindya sosok gadis ayu yang sering menemani dirinya itu.

"Ayo loh Bud, ngapain aja sih? Kok lama banget di dalam, "gerutu Anindya pada pria berseragam OB yang tengah berlari menghampirinya.

"Maaf, tadi ada sedikit kerjaan, "ucap William.

Keduanya berjalan beriringan menepaki jalan di sore hari ini. Sesekali Anindya mengajak William bercanda.

Saat keduanya telah tiba di gapura desa terlihat sosok Yoga yang tengah menaiki sepeda motor menghentikan lajunya saat melihat Anindya.

"Anind, "seru Yoga.

Anindya yang enggan berurusan dengan Yoga, terlebih rasa sakit hatinya masih begitu dalam memilih mempercepat langkahnya.

Yoga menuruni sepeda motor miliknya lalu sedikit berlari untuk mengejar langkah Anindya.

"Anin, bisa tidak jangan terus menghindar kayak gini, "ucap Yoga usai mencengkeram pergelangan tangan Anindya.

"Apaan sih. Lepas nggak? Aku mau pulang, "desis Anindya mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Yoga.

"Nggak, Aku nggak mau lepasin sebelum kamu nggak terus menghindar kayak gini, "ucap Yoga.

"Shhht, "desis Anindya saat merasa cengkraman Yoga semakin kuat pada pergelangan tangannya.

Plak.

"Maaf, sepertinya Anda sudah sangat keterlaluan, "celetuk William usai melepaskan paksa cengkraman Yoga.

"Siapa kamu hah! Jangan ikut campur urusan kami, Anin kesini kamu, kita harus bicara, "ujar Yoga mencoba menarik tubuh Anindya yang bersembunyi dibalik punggung William.

"Nggak! Aku nggak sudi bicara sama pengkhianat kayak kamu, lagi pula urusan kita sudah selesai di hari sebelum akad dimana kamu menggunakan kamar Aku sebagai tempat perzinaan, "teriak Anindya hingga wajahnya merah padam.

"Anind, saat itu Aku khilaf Nin. Tolong maafin Aku, kita bicarakan baik-baik, "ucap Yoga.

"Bullsh*t kamu Mas, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi tolong jangan ganggu Aku lagi, "teriak Anindya.

"Budi, sebaiknya kita pergi dari sini, "ajak Anindya menarik tangan William lalu membawanya pergi dari sana.

"Anin...Anin...Aku sudah batalin lamaranku sama Prita, Nin. Aku cuma cintanya sama kamu, "teriak Yoga.

Anindya bukanya tidak mendengar apa yang pria itu katakan. Namun bagi Anin kali ini apapun yang terjadi dalam hidup Yoga. bukan lagi urusannya.

"Dia mantan kamu?"tanya William usai jarak keduanya sangat jauh dari Yoga.

"Hem, dia pria tidak tahu diri yang pernah Aku kenal. Di hari pernikahan kami dimana waktu sebelum akad, dia justru asik berzina dengan teman sekantornya. Bahkan lebih menjijikannya mereka melakukan di atas kasur yang telah Aku hias untuk malam pertama kami,"jelas Anindya.

terlihat dari raut muka gadis itu tengah menahan amarah yang sangat besar.

William menatap wajah Anindya dari samping dengan raut muka terkejutnya.

William pikir gadis yang selalu ceria itu hidup tanpa beban. Ternyata dia tak hanya hidup seorang diri namun juga mengalami pengkhianatan begitu kejam.

"Apa Kau melampiaskan amarahmu? "tanya William.

"Hem, Aku menyiram mereka dengan jus semangka satu baskom, Aku juga mengusir keduanya disaat masih banyak orang, "jujur Anindya.

"Itu masih kurang, kenapa Kau tidak melaporkannya atau memviralkannya biar dia tidak punya muka lagi, "saut William menggebu.

Anindya tertawa lepas mendengarnya, hingga tawa itu membuat William diam-diam memperhatikannya.

"Tidak mau repot, biar Allah saja yang kasih hukuman buat mereka, "ucap Anindya.

"Kamu terlalu baik sama mereka Nin, "saut William.

"Baik apanya Bud? Orang Aku udah nyiram jus buah satu baskom besar sama mukulin Prita dan Yoga kok dibilang baik sih, "ucap Anindya.

"Ya tapi menurut Aku itu masih kurang, "balas William.

Anindya tidak menyauti ucapan William, dia hanya terkekeh untuk pria itu.

Keduanya kembali melanjutkan perjalanan dengan saling diam, hingga tak terasa keduanya sudah hampir masuk ke dalam gang.

Saat disana, tiba-tiba William mengatakan sesuatu yang membuat Anindya tidak mengerti.

"Nin, misal selama ini Budi yang kamu kenal itu bukan Budi bagaimana? "tanya pria itu.

"Maksudnya gimana Bud? Yang jelas ih kalau ngomong itu? "tanya Anindya.

William menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, dia tidak tahu bagaimana untuk menjelaskan semuanya pada Anindya.

"Ah tidak, lupakan saja lah, "ucap William.

Anindya tidak menuntut pria itu untuk menjelaskan lebih karena dia memang bukan tipe orang pemaksa.

"Akhirnya sampai juga, Aku ke rumah dulu ya, "pamit Anindya.

"Iya, selamat istirahat,"balas William.

Anindya berjalan meninggalkan William yang masih berdiri di kontrakannya itu.

Urusannya di perusahaan cabang itu telah selesai dan kini waktunya untuj segera kembali ke Jakarta.

Sebentar lagi dia akan meninggalkan desa ini beserta seluruh warganya termasuk juga gadis ceria seperti Anindya.

Lebih tepatnya malam ini William akan pergi ke Jakarta.

"Aku akan kembali untuk menemuimu Nin, "gumam William sebelum masuk ke dalam kontrakannya.

Keesokan harinya seperti biasa Anindya menunggu William yang ia kenal sebagai Budi itu di depan kontrakannya untuk berangkat bekerja bersama.

Namun sudah kesekian kalinya dia memanggil nama Budi dan mengetuk pintunya selama beberapa kali tidak juga menunjukkan tanda-tanda seseorang ada dalam.

"Budi... Budi! ayo berangkat kerja, keburu terlambat kita loh, "seru Anindya.

Masih hening tidak ada sautan dari dalam membuat Anindya kembali memanggil William.

Sementara itu dari arah lain terlihat Bu Sartika yang tengah berjalan menuju kontrakannya terlihat heran melihat Anindya yang memanggil-manggil William.

"Loh Nin, kamu ngapain panggil-panggil Budi? "tanya Bu Sartika.

"Biasa Bu, berangkat kerja bareng, "jawab Anindya dengan senyuman lebarnya.

"Loh, tadi Budi sudah berangkat pagi-pagi sekali. Orang tadi sempat berpapasan sama Ibu saat Ibu pulang dari masjid, "jawab Bu Sartika.

Kening Anindya mengernyit mendengar penjelasan dari Bu Sartika. Pasalnya, untuk apa William berangkat pagi-pagi sekali ke kantor? Walupun mereka cleaning service, tapi tak juga harus pagi-pagi buta ke kantornya.

"Ah ya sudah Bu, Saya duluan mau kerja, "pamit Anindya lalu gegas mengambil langkah panjangnya.

Tidak lama, gadis cantik dengan hijab berwarna biru dongkernya itu telah sampai di kantor. Netra Anindya berkeliling mencari William.

"Anind, kamu ngapain? Bukannya kerja malah berdiri kayak mandor, "omel Bu Siska padanya.

"Itu Bu, Saya lagi cari Buda mau minta tolong gitu, angkat galon ini,"kilah Anindya yang justru mengundang tawa Bu Siska.

"Angkat galon? Kamu lagi kerasukan setan kemayu dari mana Nin? Orang biasanya juga kamu bisa bawa dua, di punggung dan di tangan. Ha ha ha, sekarang malah mau nyuruh Budi, "ledek Bu Siska yang tampak senang sekali.

Wanita bertubuh tambun itu senang karena alasan konyol Anindya. Tap disini, Anindya juga cukup salah karena memberi alasan yang tidak seharusnya.

"Sudah ah Bu, Saya hari ini tugas lantai atas kan? "tanya Anindya mengalihkan pembicaraan.

Masih dengan menahan tawanya, Bu Siska menganggukkan kepalanya seraya menyodorkan alat kebersihan pada Anindya.

"Bodoh, bodoh kamu Nin! lain kali kalau mau buat alasan yang sesuai kenyataan napa, "rutuk Anindya saat jaraknya jauh dari Siska.

Tidak ingin kembali mendapat teguran dari Bu Siska, Anindya segera naik ke lantai atas perusahaan tersebut.

Dengan membawa alat kebersihannya, Anindya berjalan menuju ruangan manajer untuk ia bersihkan.

Dug.

"Aw,"ringis Anindya saat tanpa sengaja tubuhnya terbentur pada seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.

"Kalau lihat itu pakai mata dong, aduh kamu... eh Budi? kok kamu ada disini sih, "ucap Kanaya.

Gadis yang tadinya mencak-mencak kini tampak terdiam dengan menatap William yang baru saja menabrak dirinya.

"S-saya tadi kirain bagian lantai atas, ternyata saya salah Nin, "kilah William.

"Oh gitu, makanya kalau berangkat itu sarapan dulu biar fokus. Ya sudah, kamu tugasnya di lantai lima, Bud, "ucap Anindya tanpa menaruh rasa curiga apapun pada pria itu.

"Iya, kalau gitu Aku ke lantai lima dulu, Nin, "ucap William lalu berjalan dengan cepat meninggalkan Anindya disana.

Anindya tidak lagi mengingat jika dirinya ingin bertanya kenapa William berangkat ke kantor di pagi hari buta, karena baginya sudah tidak penting lagi. Toh, tadi dia sudah melihat William bukan? Tidak ada yang terjadi pada pria itu, begitulah jalan pikiran Anindya.

***

TBC

Terpopuler

Comments

shadowone

shadowone

di hari pernikahan kali thor. thor apa sih tulisan sendri bisa lupa.

2023-08-16

0

Micchan Mitsubou

Micchan Mitsubou

maaf thor nama selingkuhan nya si Yoga siapa ya?
di awal bab namanya Anes tapi di bab 4 dan 5 berubah jadi Prita yang mana yang benar thor 🙏

2023-07-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!