"B-Budi,"gagap Anindya.
Dia tidak salah bukan? Sosok pria yang tengah mencengkeram dagunya adalah sosok pria yang tengah ia cari-cari beberapa hari ini.
Cengkeraman William terlepas begitu saja. Ditengah kesadarannya yang masih tersisa, dia yakin betul jika sosok gadis dengan pakaian seksinya itu adalah istri dari desanya.
Ingin dia tahu kenapa Anindya yang tengah ia dan anak buahnya cari-cari bisa berada di tempat laknat seperti ini. Tapi itu tidak bisa dia lakukan, reaksi obat perangsang itu semakin kuat untuk mengambil alih tubuhnya membuat William justru memilih menarik tubuh Anindya lalu memeluknya erat.
"Panas Nin, Aku panas sekali,"geram William dengan nafas memburunya.
Anindya yang tak berpengalaman perihal seorang pria ketika dalam mode gairah pun justru mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah William terutama kening pria itu. Anindya kira panas yang dimaksud William adalah pria itu tengah demam.
"Kamu sedang sakit, Budi?"tanyanya menatap wajah William yang mulai kemerahan itu.
"Aku tidak sakit, tapi Aku butuh obat dan itu kamu obatnya, Nin."
William melepaskan wajahnya dari tangan Anindya, dan tanpa ba bi bu ba lagi, pria itu menyerang area leher Anindya yang sedari tadi menggodanya.
"B-budi."
Anindya tentu saja terkejut mendapat serangan dadakan dan terkesan terburu-buru dari William itu. Tapi saat tanganya berusaha mendorong wajah William dari tubuhnya, pria itu justru beralih menyerang bagian dada Anindya, membuat gadis itu mulai terbuai dan hanya bisa merem melek karena perlakuan William pada area dadanya.
Brak.
Pintu itu terbuka keras karena dorongan seseorang dari luar. Itu Alex, sang asisten setia William. Suara dobrakan keras itu berhasil sedikit menyadarkan William dari kegilaannya. Dia yang teringat akan sosok Anindya yang kini telah berpindah di atas pangkuannya pun sontak saja menyuruh Alex berbalik.
"Bawa Aku ke hotel, cepat!"titah William dengan kaki lebar melangkah keluar ruangan tersebut.
Pria itu melangkah cepat keluar dengan posisi menggendong Anindya ala koala. Tak lupa, pria itu telah melapisi jas miliknya untuk menutupi area bahu nan menggoda milik Anindya itu.
"Tuan ada apa?"tanya Alex di sela pria itu mengejar langkah William yang tengah menggendong seorang wanita yang sedari tadi terus menyembunyikan wajahnya pada dada bidang William.
"Bawa Saya ke hotel, sekarang juga!"titah William dengan intonasi suara lebih keras dari sebelumnya.
"Baik Tuan."
Alex gegas membuka kan pintu mobil untuk William lalu setelah William masuk beserta Anindya juga. Barulah Alex berpindah membuka pintu kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh sesuai titah William.
Alex dibuat panas dingin selama menyetir karena dari kursi penumpang tampak jelas William yang tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuh Anindya.
"Tuan kenapa bisa segila ini sih,"batin Alex.
Pria itu tidak ingin turut terbawa suasana panas dari kursi penumpang memutuskan menekan tombol untuk memasang satir antara kursi kemudi dan penumpang. Barulah setelah itu dia bisa menyetir dan mencari hotel dengan tenang dan fokus.
Beberapa menit kemudian, mobil itu telah sampai di sebuah hotel terdekat. Bukan hotel bintang lima, karena Alex takut jika harus mencari hotel bintang lima pasti akan membutuhkan waktu lama. Pria itu takut akan terlambat William sampai di hotel.
"Tuan su..."
Brak!
Suara Alex menggantung karena dia yang belum selesai dengan kalimatnya namun sudah didahului oleh William yang telah membanting pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam hotel.
Dia tidak bisa terus berada di mobil, Alex turut keluar untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Sesampainya di lobi hotel Alex mendatangi meja resepsionis untuk menyelesaikan sewa kamar yang telah diserobot oleh William itu.
"Satu kamar lagi, tepat disamping kamar Tuan William Bavers,"pinta Alex.
Sementara itu di kamar hotel dimana William dan Anindya berada. Sesampainya di hotel, William yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi pun langsung menyerang Anindya dengan menyentuh area bibir dan tubuh Anindya lainnya.
"Budi, kamu sebenarnya kenapa?"cicit Anindya takut.
Walaupun dia mulai dikuasi nafsu karena sentuhan yang William berikan. Namun itu tetap saja membuatnya ketakutan karena tingkah agresif William.
William mengambil jarak tubuhnya dengan duduk lalu berkata.
"Ada orang yang memasukkan obat perangsang dalam minumanku, dan Aku benar membutuhkanmu. Tapi kalau kamu tidak mau, mungkin Aku akan cari cara lain,"ujar William.
"Obat perangsang? Emang ada cara lain untuk mengobatinya?"tanya Anindya yang langsung mendapat gelengan dari William.
Anindya dalam dilema, dia bingung apakah akan memasrahkan tubuhnya untuk William atau tidak. Tapi William benar-benar membutuhkan dirinya saat ini.
"Sentuh Aku Budi, sampai efek obat perangsang itu hilang dari tubuhmu. Aku istrimu, dan kamu berhak atas segala yang ada dalam tubuhku,"ujar Anindya setelah dia mengumpulkan keyakinan akan keputusan yang baru saja dia ucapkan itu.
William tersenyum, dia mulai melucuti pakaian yang menempel pada tubuh Anindya. Itu tidak sulit, karena gadis itu hanya mengenak sebuah dress yang sekali tarikan saja bisa lepas.
William terpaku saat dia melihat dengan mata telanjang akan kemulusan tubuh istri dari desanya. Dia pikir wanita desa tidak akan memiliki tubuh mulus. Tapi pikiran itu kini enyah, karena nyatanya tubuh Anindya tampak sangat mulus dan menggoda untuk dia sentuh.
"Aku akan sekuat tenaga mengontrol diriku,"ucap William.
Itu hanya sebuah ucapan, karena nyatanya saat pria itu menggauli sang istri. William lepas kontrol, bukan hanya karena efek obat perangsang dalam tubuhnya, namun itu juga karena rasa nikmat yang baru pertama kali pria itu rasakan.
Pria itu berjanji akan selalu melindungi sosok Anindya, dan dia akan terus berada disamping gadis yang kini telah ia ubah menjadi wanita seutuhnya itu.
Keesokan harinya, sinar mentari menyelinap pada sela-sela kain korden pada jendela kamar hotel itu. Membuat seorang Anindya terusik.
Tiba-tiba gadis itu terlonjak dan bangun dari tidurannya. Dia kebablasan hingga melewatkan waktu Subuhnya.
"Astaghfirullah, Aku kesiangan. Ini pasti sudah masuk mendekat siang,"rutuk Anindya dengan segala penyesalannya.
Dia merutuki dirinya yang ketiduran pulas sampai melewatkan waktu Subuh. Ah, Anindya baru teringat alasan dia kenapa bisa melewatkan waktu solat Subuhnya.
"Bagaimana nggak kesiangan, Aku digarap sampai subuh, itupun kayaknya Aku ketiduran tapi Budi masih saja main,"monolog Anindya.
Mengingat peristiwa semalam membuat wajah Anindya bersemu merah. Masih terekam jelas bagaimana tubuh tegap Budi yang berada di atas tubuhnya dan berulang kali mengg*ram kenikmatan.
"Ya ampun Anin, kamu ini baru saja menyesal karena sudah melewatkan Subuh. Kok sekarang malah jadi mesum sih,"rutuknya.
Sret.
"Eh? Ini?"
"Kamu lelah kan? Maaf semalam Aku terlalu lama mainnya,"ujar William tepat pada telinga Anindya.
Gadis itu masih dalam kondisi polos merasa geli saat William menarik tubuhnya dan kembali memasukkan Anindya dalam pelukan erat pria itu.
"A-Aku mau mandi,"cicit Anindya.
"Hem, nanti saja. Bareng,"ujar William semakin mempererat belitan tangannya pada perut datar Anindya.
Mendapat perlakuan seperti itu tentu saja menjadikan Anindya seperti batu yang tak berani bergerak sedikitpun. Karena jika ia bergerak pasti sesuatu dibelakang sana yang menyentuh tubuhnya juga akan berdiri tegak dan meminta keadilan.
"Tapi sepertinya dia benar, Aku memang masih kelelahan,"gumam Anindya sebelum wanita itu kembali memejamkan matanya menyusul William.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Lilis mulyati
kmu hrus kasih plajaran sma orng yg sdah memasukan anin ke tmpat laknat itu sekaligus,mncri orng yg sdah mnjebakmu
2023-08-08
0
الفريزة
wkwkwk..malam pertama William dan Anindya 🥰🤭
2023-08-08
0
❤Rainy Wiratama Yuda❤️
Syukurlah...
2023-08-08
0