Part 3

"Kau bukan orang sini ya? perantauan dari mana? "tanya Anindya untuk memulai obrolan antara dia dengan William yang ia tahu sebagai Budi.

"Lampung,"jawab William asal.

Anindya manggut-manggut mengerti. Gadis itu melangkah menuju rak untuk mengambil dua buah cangkir untuk membuatkan ia kopi dan untuk Budi juga.

"Semoga betah ya disini, kalau ada yang menyulitkanmu bilang saja sama Aku, "ujar Anindya menepuk dadanya dengan sombong.

Budi menyeruput kopi yang dibuat Anindya. Terasa sangat pas di lidahnya yang notabene pemilih dalam makanan maupun minuman.

William mengernyit menatap tingkah gadis di depannya itu.

"Emang kamu mau apa? "tanya William.

"Aku... Aku, emm... nggak ada sih,"jawab Anindya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

William hanya tersenyum mengejek kesombongan Anindya.

"Tapi setidaknya setelah itu, Kamu bisa cerita sama Aku biar plong gitu, "ucap Anindya.

"Hem."

Keduanya mengobrol, ah tidak lebih tepatnya Anindya yang banyak bicara sedangkan William hanya menjadi pendengar setia gadis itu dengan sesekali menjawab dengan kalimat singkatnya.

"Apa yang kalian lakukan hah! Bukannya bekerja malah mengobrol disini. Cepat kerja... kerja! "teriak Bu Siska dengan berkacak pinggang.

"Ya ampun Bu, kerjaan kami sudah selesai dan juga ini itu jam istirahat loh,"protes Anindya.

Dari seluruh staf cleaning service yang ada disana memang hanyalah Anindya yang berani melawan Bu Siska.

Ingin memecatnya pun tidak bisa, karena memang hasil pekerjaan Anindya baik. Bahkan karena sikapnya yang riang terkadang membuat Bu Siska turut terhibur.

"Kamu ini ya, selalu melawan kalau Ibu ngomong, "celetuk Bu Siska.

"Bukannya berani loh Bu, gini daripada Ibu capek ngomel-ngomel mending sini duduk Bu. Saya buatin kopi ya, "tawar Anindya menarik tubuh Bu Siska lalu membimbingnya duduk di kursi tepat di samping William.

Sementara itu, William yang melihat Bu Siska duduk di sebelahnya mengangguk pada wanita bertubuh tambun itu.

"Ini Bu, satu cangkir kopi favorit Bu Siska telah Anind buat, selamat di minum, "ujar Anindya meletakkan secangkir kopi itu di atas meja.

"Kamu ini, selalu saja seenaknya saja, "cebik Bu Siska.

"Loh ini mau nggak Bu, kalau nggak Anind ambil lagi loh kopinya, "ucap Anindya berancang-ancang mengambil cangkir itu.

"Enak saja, pamali ambil kembali barang yang sudah di kasih, "seru Bu Siska menarik kekehan Anindya.

Tawa yang renyah terlihat sangat natural dan menambah kesan cantik alami wanita itu. Hingga membuat William terkesiap melihatnya selama beberapa saat.

"Woy, malah ngelamun lagi! "hardik Anindya membuyarkan pria yang tengah tertegun itu.

"Ehem... ehem."

William berdehem berulang kali lalu menyeruput kembali kopinya itu. Bu Siska yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.

"Anin, maaf ya saat pernikahan Kamu, Ibu nggak bisa hadir, "ujar Bu Siska menyesal.

"Dia sudah menikah ternyata, "batin William.

Berpikir tentang itu, William memilih diam mendengar apa yang akan dijawab oleh Anindya.

"Nggak papa Bu, lagi pula nikahnya nggak jadi kok, "ucap Anindya tersenyum.

Sebuah senyum yang tidak masuk dalam arti sesungguhnya, sebuah senyuman yang sebenarnya terdapat kesedihan di dalamnya.

"Ya ampun, Saya tidak tahu Nin, itu gimana ceritanya? Kenapa Yoga, kan nama pacar kamu itu? Kenapa bisa batal. "

"Entahlah Bu, anggap saja bukan jodoh, "saut Anindya melirik William.

Pria itu paham, mungkin karena keberadaannya dirinya membuat Anindya merasa tidak nyaman untuk bercerita.

Ia bangkit dari duduknya, sebelum itu William menenggak kopi itu hingga tandas.

"Saya mau ke toilet dulu, permisi, "pamit William meninggalkan keduanya.

Pria itu melangkah meninggalkan pantry, membiarkan gadis berhijab yang baru ia kenal beberapa waktu lalu itu bercerita pada Bu Siska dengan tenang.

"Sudah lama, Aku tidak mendatangi cabang ini. Terakhir ketika masih remaja dan belum menjadi CEO, "gumam William.

Pria itu meraih sapu sebagai alat untuk ia jadikan alasan untuk melihat kondisi perusahaan tekstil itu.

Saat ia naik ke lantai empat, samar-samar William mendengar obrolan para karyawan yang mengeluh potongan gaji.

"Gaji Aku di potong dua puluh persen, padahal Aku cuma terlambat masuk satu kali, "keluh seorang karyawan.

"Lah Aku hampir saja di potong lima puluh persen gegara nggak sengaja nabrak kekasihnya manajer kita, keterlaluan nggak sih, untung saja Aku waktu itu mohon-mohon ya meski harus sakit hati di marahin habis-habisan sama wanita itu, "saut lainnya.

"Eh, kalian curiga nggak sih?"

seorang karyawan terlihat memelankan suaranya membuat William harus berpura-pura menyapu dengan jarak yang lebih dekat.

"Curiga kenapa? "

"Sama manajer kita itu, kan setahu Aku ya produksi itu setiap bulannya selalu meningkat. Tapi pas kemarin Aku cek di keuangan. Manajer pinjam dana perusahaan itu gede banget tahu. Aku pas protes ke bagian manajer keuangan, eh malah di marahi, "ujar karyawan itu.

Dari gaya bahasanya, William dapat menyimpulkan jika karyawan yang tadi bercerita panjang lebar itu termasuk staf keuangan.

"Ah masak? terus gimana? bisa bahaya sama perusahaan kalau terus gini."

"Dengar-dengar sih, akan ada utusan dari kantor pusat. Tapi itu kayaknya cuma kabar burung, makanya manajer kembali ke mode awal santai dan semena-mena sama kita, "ucap karyawan itu lagi.

William terus mendengarkan setiap perbincangan itu dengan seksama. Sampai Ketiga karyawan itu beranjak menuju kantin barulah ia meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang aman.

[Lex, kirim data laporan keuangan perusahaan cabang ke email Saya]-William.

Usai mengirimkan pesan pada asistennya itu, William memasukkan ponsel tersebut lalu melangkah menuju pantry kembali.

Waktu istirahat kantor masih tersisa setengah jam lagi. Dan itu bisa menjadi kesempatan William untuk memasuki area ruangan milik manajer keuangan.

Dengan langkah hati-hati dan mata yang jeli, William mengawasi sekitar. Setelah dirasa keadaan aman. William gegas memasuki area ruangan tersebut.

Ia mengobrak-abrik ruangan itu untuk mencari sesuatu yang bisa membantunya menyelesaikan masalah perusahaan cabang itu.

"Ck, dimana? Pasti ada berkas atau apa yang bisa membuktikan semua penggelapan dana,"gumamnya.

Waktu sisa dua puluh menit, namun William belum juga menemukan isi apapun. Ia beralih pada komputer di atas meja lalu dan menghidupkannya.

"Dapat, ceroboh sekali,"ucapnya menyeringai. Ia kirim file itu pada flashdisk yang dibawanya.

Waktu terus berjalan, namun entah mengapa rasanya begitu lama.

"Ayo cepatlah sedikit,"gumamnya dengan kepanikan.

Selain file itu, William juga mencari bukti keterlibatan Pamannya dalam penggelapan dana di perusahaan tersebut.

"Sip, Kamu tidak akan bisa mengelak lagi Paman,"ucap William menyeringai.

Ia rapikan kembali ruangan yang telah ia acak-acak sebelumnya. Dan setelah itu berjalan ke arah pintu untuk keluar dari sana.

Ceklek.

William memepet tubuhnya pada dinding dan pintu yang terbuka dari luar. Si manajer telah masuk dengan memegang ponsel pada telinganya.

"Semuanya aman, Tuan. Sesuai kesepakatan yang telah kita buat Tuan Erik. Dan jangan lupakan bagian Saya,"ucap si manajer itu dengan sosok dibalik panggilan tersebut.

William merekam aksi manajer yang ia yakini tengah bertelepon dengan Pamannya. Baru setelah itu dikala si manajer sibuk dengan panggilan tersebut. William gegas keluar dari sana.

"Memuaskan,"gumamnya tersenyum senang.

***

TBC

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!