"Ayo Tuan, kita bisa ketinggalan pesawat, "ucap Alex pada William.
William sendiri tampak gelisah, dia terus melihat rumah Anindya dan jalan kecil di depannya.
Bibir pria itu terus menggerutu mengharapkan istrinya itu akan segera muncul.
"Kenapa Anindya pakai acara ke pasar sih, Kamu juga kenapa tidak menggunakan pesawat pribadi saja"gerutu William.
Keberangkatannya ke Jakarta hari ini sangat mendadak, sehingga William belum mengatakan hal tersebut kepada Kanaya.
Ingin dia menghubungi Anindya, tapi sialnya dia justru tidak memiliki nomor gadis itu. Katakanlah dia pria yang teramat tidak peka di dunia ini. Sudah mengenal bahkan menjadi suami Anindya, dia justru tidak pernah meminta nomor ponsel Anindya.
"Tuan jika kita lebih lama lagi disini, kita benar-benar akan terlambat. Kantor pusat sedang tidak baik-baik saja setelah Nyonya Wanda tahu Anda tidak ada disana, "ujar Alex lagi.
"Akhhh, sial. "
William menggeram frustasi dengan menggusar rambutnya. Pria itu tengah berpikir keras bagaimana ia berpamitan pada Anindya. Dia juga memikirkan bagaimana reaksi gadis itu saat pulang dari pasar tidak menjumpai dirinya di rumah kecil itu.
"Alex, ambilkan Saya kertas dan pena!"titah William.
"Maaf Tuan, tapi untuk apa? "tanya Alex.
"Alex!"hardik William.
Sebuah hardikan yang penuh penekanan membuat Alex tidak lagi bertanya dan memilih menyerahkan sebuah kertas lengkap dengan pena.
William meletakkan bobot tubuhnya pada kursi usang di depan rumah Anindya lalu tangan pria itu mulai bergerak menulis kalimat demi kalimat yang rencananya akan ia berikan pada Anindya.
Setelah itu, William meminta Alex untuk mengantarkan dirinya menuju rumah Bu Sartika. Karena hanya perempuan bertubuh tambun itu yang ia percayai bisa menyampaikan kertas itu untuk Anindya.
"Tolong sampaikan permintaan maaf Saya juga ya bu untuk Anindya, "ucap William seraya menyerahkan secarik kertas itu pada Sartika.
Sartika mengernyit heran pada pria yang pernah menempati kontrakannya itu. Pasalnya William justru menitipkan surat untuk Anindya yang notabene-nya adalah istri William.
"Saya buru-buru, sedangkan Anin pasti akan lama pulang dari pasarnya, "ucap William menjawab rasa penasaran Sartika.
"Oh, iya Budi. Nanti Saya kasih ke Anin suratnya, "ujar Sartika.
Akhirnya William bisa bernafas dengan lega.Setidaknya dia sudah berpamitan pada Anindya walaupun tidak langsung. Niat pria itu, setelah masalah di pusat bisa ia selesaikan barulah William akan kembali ke desa untuk menjemput Anindya.
Kini William dan Alex telah berada di mobil untuk melakukan perjalanan menuju Jakarta.
Alex yang sedari tadi penasaran akan sosok gadis bernama Anin yang terus menerus di sebut oleh Tuannya itupun tidak bisa menahan dirinya.
"Tuan, gadis bernama Anin itu siapa? "tanya Alex.
William menatap ke depan, tepat pada kaca spion dimana Alex tengah melihat dirinya juga disana.
"Istriku, "ujar William singkat namun mampu membuat Alex terkejut bukan kepalang.
Cit.
Mobil itu berhenti mendadak karena pijakan rem yang Alex lakukan secara tiba-tiba. Hampir saja William mencium punggung jok mobil di depannya jika saja ia tidak mengenakan sabuk pengaman.
"Kamu gila hah! "bentak William.
Asistennya itu memang terkadang senang sekali membuat William naik pitam.
"Maaf Tuan, Saya tadi refleks karena jawaban Anda tadi sulit Saya percayai, "ucap Alex sambil kembali menekan gas mobil.
"Ck, percaya atau tidak itu terserah kamu, tapi itu memang faktanya, "ucap William.
Walaupun ia menikahi Anindya karena insiden tak terduga serta ia yang belum bisa meyakinkan akan rasa di hatinya pada gadis itu. Tetapi, William adalah tipikal pria yang setia pada satu wanita.
"Jika Nona Anin memang istri Anda, lalu bagaimana dengan Nona Clara Tuan, "ujar Alex kembali melirik William melalui kaca spion.
Namun kali ini pertanyaan dari Alex tidak mendapat respon apapun dari William. Pria itu memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan yang dia anggap tidak penting itu.
Alex sendiri hanya bisa merutuki dirinya yang telah mengungkit nama sosok wanita yang pernah hadir dalam hidup Tuannya itu. Dan karena rasa bersalahnya, Alex memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat.
Sementara itu, di desa. Terlihat Anindya yang tengah berjalan dengan sekantong belanjaan penuh. Hari ini dia berencana akan memasak opor ayam.
Opor ayam adalah makanan istimewa bagi orang yang hidup di kalangan menengah ke bawah seperti Anindya.
Bicara perihal menu makanan spesial itu, sebenarnya pagi ini kali pertama Anindya mendapatkan nafkah dari William. Tidak banyak, hanya lima lembar berwarna merah.
Tapi itu sudah membuat Anindya merasa sangat senang, karena bagi dia yang merupakan seorang gadis mandiri, mendapat pemberian dari orang lain merupakan sebuah hal yang sangat membahagiakan.
"Kok pintunya nggak dikunci sih? Budi kemana ya? "celetuk Anindya.
Takut rumahnya kemalingan, kaki Anindya semakin cepat untuk masuk ke rumahnya. Walaupun dia tidak memiliki barang mewah, namun tetap saja rasa takut itu ada.
"Semuanya lengkap sih, "ucap Anindya lega. "Tapi Budi kemana ya? Apa dia ada urusan penting lagi ya? "gumam Anindya.
Tidak ingin ambil pusing dengan perginya William yang Anindya pikir akan kembali lagi. Gadis itu memilih menuju dapur untuk membuat opor ayam.
"Semoga nanti Budi suka dengan masakanku yang ini, "gumam Anindya penuh harap.
Dengan perasaan senang serta membayangkan dia dan William akan menikmati opor ayam bersama itu membuat senyum Anindya tidak pernah pudar.
Sampai ketika suara ketukan pintu mengharuskan gadis itu mematikan kompornya.
"Iya! Tunggu sebentar, "saut gadis itu seraya berjalan mendekati pintu.
Ceklek.
"Eh Bu Sartika, ada apa Bu? "tanya Anindya.
Dari seluruh penghuni di desa itu, menurut Anindya hanyalah Bu Sartika lah yang paling baik dan tulus kepadanya.
Tidak seperti penduduk lainnya yang senantiasa menatap remeh serta tatapan tidak suka pada Anindya.
"Ini tadi Budi nitip surat ke ibu buat kamu, katanya dia buru-buru jadi nggak bisa nunggu kamu, Nin, "ucap wanita itu sambil mengulurkan surat tersebut kepada Anindya.
Anindya yang penasaran menerima surat itu dengan senang hati. Dia pikir isi dari surat itu seperti surprises atau yang Monic sering ceritakan.
"Iya Bu, terima kasih."
"Sama-sama Nin. "
Anindya kembali menutup pintunya setelah kepergian Sartika. Dengan hati berdebar, ia meletakkan bobot tubuhnya pada kursi kayu yang ada disana dan mulai membuka surat tersebut.
*Anin, maafin Aku ya.
[Aku harus pergi karena ada urusan mendesak. Maaf tidak sempat berpamitan langsung sama Kamu.]
[Anin, Kamu di rumah baik-baik saja ya. Nanti Aku bakal kembali jika urusan sudah selesai, atau mungkin akan ada yang menjemputmu Nin. ~William*.]
Pesan itu terlalu singkat untuk seorang Anindya. Dia membaca berulang-ulang untuk memastikan jika pemahamannya telah salah.
Tapi tetap saja semuanya tertuju pada hasil dimana William pergi tanpa pamitan lebih dulu kepadanya. Ingin sekali Anindya menangisinya tapi dia bingung apakah itu patut untuk dilakukan olehnya.
"Aku ingin menangis, "gumam Anindya.
***
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
anita
thor di surat itu kan tertanda william apa anin gk bingung ya?william itu siapa
2023-10-08
1
Micchan Mitsubou
maaf thor ceritanya agak sedikit gak nyambung ke bab sebelumnya maaf nih thor kalo tersinggung 🙏
2023-07-20
2