Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
Malam hari ... sekitar pukul tujuh malam, semua orang sudah selesai berdandan dan sudah siap untuk pergi ke perjamuan. Terlihat jika Nadira masih berada di dalam kamar, sedangkan semua orang sudah berada di ruang tamu.
Edgar menghela nafas beratnya karna merindukan sang Ibu, jika saja yang Ibu ada disini ... mungkin kebahagiaan nya akan sempurna. Tapi di saat ia sudah berada di titik puncak, sang Ibu malah sakit dan itu membuat Edgar sedih.
''Mas, Nadira ke mana sih? Kok lama banget.'' Ucap Rima yang sudah tidak sabaran.
Edgar melihat jam di pergelangan tangannya dan berdiri dari sofa untuk memanggil Nadira, sementara Nadira yang berada di dalam kamar sedang menelpon seseorang yang akan membantunya.
(Pokonya waktunya harus tepat! Jangan sampai gagal.)
(Baik, tenang saja.) Jawab seseorang dari sebrang telpon.
"Nadira." Panggil Edgar, yang membuat Nadira langsung mematikan telponnya.
''Iya.'' Jawab Nadira yang berpura-pura sibuk.
''Sudah siap?'' Tanya Edgar di ambang pintu kamar.
Nadira mengangguk lalu mengambil tas dan menghampiri Edgar.
''Bagaimana penampilanku?'' Nadira memutarkan tubuhnya.
''Kamu cantik, dan yang tercantik.'' puji Edgar yang akan mencium bibir Nadira, namun Nadira segera mengelak.
''Mas, aku sudah pakai lipstik! Nanti belepotan.'' 'Cih, nggak sudi aku di cium sama bibir murahan mu itu Mas! Jijik aku, huueeekkk.'
Edgar tersenyum dan menggenggam tangan Nadira, ''Ayo kita berangkat.''
Mereka bertempat pun pergi dari rumah menuju lapangan Desa yang sudah ramai para pejabat yang sudah menunggu, termasuk beberapa warga sekitar yang ikut meramaikan perjamuan.
•
•
•
Tiga belas menit di perjalanan, mobil Edgar pun telah sampai di lapangan desa. Edgar dan semua orang keluar dari dalam mobil lalu di sambut riang dengan tepuk tangan dari semua orang sambil menyuaraki nama Edgar dengan bangga.
Edgar dengan ramah menyalami para pejabat dan merasa bangga pada dirinya sendiri karna sudah berhasil di titik seperti ini, namun tidak bagi Nadira yang malam ini begitu cantik dan anggun seperti air danau yang tenang tapi menghanyutkan.
Semua orang berbincang bincang hingga sampailah seorang pejabat yang tengah berpidato dan menyangjung tinggi Edgar yang akan memimpin desa agar jauh lebih baik dan tidak akan pernah melakukan korupsi.
Semua orang bersorak gembira dengan janji janji yang di sampaikan, hingga Edgar sendiri yang maju dan berpidato panjang lebar sambil menyampaikan misi dan fisinya yang akan dia lakukan kedepannya.
Ketika Edgar dan walikota akan berjabat tangan, layar yang besar di belakang mereka menampilkan adegan tak senonoh Edgar dan Rima adik iparnya. Membuat semua orang yang melihat itu melototkan mata mereka.
Edgar melihat kebelakang dan terkejut melihat dirinya ada di layar sebesar itu.
Bahkan layar itu berganti di mana adegan Edgar dan sekretaris bupati sebelumnya melakukan adegan panas di dalam kantor Edgar. Lalu berganti di mana Nadira di siksa oleh mertuanya, yang mana semua orang terkejut melihat adegan demi adegan silih berganti.
Semua orang riuh dan berbisik bisik hingga Edgar menggertakkan giginya, dan malu sekaligus dengan kejadian ini.
''Siapa yang melakukan ini! Cepat matikan brengsek! Matikan layarnya ...'' Teriak Edgar pada io yang menyelenggarakan acara.
Sandi melihat Rima dengan tatapan membunuh sekaligus tidak percaya apa yang dia lihat. Sedangkan dalang dari balik kejadian ini hanya tersenyum miring dalam hatinya dan merasa puas sudah mempermalukan Edgar dan adik iparnya sekaligus.
Bahkan tidak hanya itu, Vidio tak senonoh itu tersebar di sosial media secara berkala. Hingga semua orang bisa melihat dengan jelas namun tersensor di bagian tertentu dan hanya menampilkan wajah wajah yang sudah membuat Nadira merasakan sakit di hatinya.
Edgar yang berada di panggung merasa prustasi dan berteriak kencang agar semua orang tidak menonton video yang tersebar di ponsel mereka, lalu ia melihat Nadira yang duduk diam sambil memandangnya.
Kedua mata mereka saling pandang, lalu Edgar melihat dengan seksama di mana bibir Nadira menyungging sebelah.
DEG. DEG.
''Tidak, ini tidak mungkin!'' cicit Edgar.
Nadira berdiri dari duduknya dan melengos pergi. Sedangkan Edgar memandang kepergian Nadira dengan rasa tidak percaya di hatinya. Ketika Edgar akan menyusul Nadira, tiba-tiba dari arah samping ada yang memberikannya pukulan.
BUGH!
Sandi memukul sang Kakak hingga Edgar terhiyung jatuh.
''BRENGSEK!''
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
guntur 1609
mampus kau kan
2024-12-11
0
Sandisalbiah
masih belum puas sih dgn hukuman ini... krn rasa sakit yg di dera Nadira selama 7 thn hidup dgn suami berengsek yg gak berangkal juga perlakuan keji si Mulut selama ini
2024-05-15
0
Eliani Elly
next
2023-07-29
1