Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
''Asalamualaikum ...'' Sapa Nadira saat sudah sampai di ruang inap Ibu mertuanya.
Bukannya di sambut dengan baik, terlihat Ibu Mumun sudah memasang muka masam dan tidak enak di pandang.
''Dasar menantu kurang ajar! Dari mana saja kamu, Hah!''
Nadira menghela nafasnya lalu menaruh buah di atas nakas.
''Tadi macet Bu, nggak ada angkot ke sini. Trus juga Nadira harus jalan kaki dari depan.''
''Alah, alesan aja kamu. Trus itu bawa apa kamu.''
''Bawa kue Bu!" cetus Nadira, 'Udah tau ini buah, masih nanya lagi.'
Ibu Mumun mencibikkan bibirnya. ''Itu buah bodoh! Mana ada kue.''
'Bukan aku yang bodoh! Tapi Ibu yang bodoh, udah tau ini buah, masih nanya lagi.'
''Ya, udah kupasin secepet.''
''Iya.''
Nadira mengambil beberapa buah lalu mencuci buahnya dan mengupas untuk Ibu mertuanya, namun sedari tadi sang mertua terus saja mengoceh tiada henti ... membuat kuping Nadira terasa panas mendengar ocehannya.
''Bu! Ibu itu bisa diem nggak sih? Kuping Nadira panas dengerin Ibu ngomong.''
''Kurang ajar kamu, dasar menantu durhaka! Udah mah numpang di rumah saya, sekarang sudah berani menyela ketika Ibu bicara.''
Nadira menatap Ibu mertuanya dengan dingin. Dalam hati Nadira ia menyesal sudah mau menjenguk Ibu mertuanya di rumah sakit, kenapa tidak biarkan saja dia mati sendirian.
THAK.
Nadira menaruh piring dengan kasar lalu berkata, ''Ibu yang nggak tau diri, udah mah diurusin tapi masih saja sombong! Kalau Ibu seperti ini terus, Dira tidak akan pernah menterorir lagi dengan sikap ibu.''
''Ya sudah kalau nggak mau ngurusin saya! Sana pergi, saya bisa nelpon Rima kok! Saya yakin jika Rima dengan senang hati mengurus saya disini.''
Nadira menyambar tasnya dan menyunggingkan bibirnya pada Ibu Mumun. ''Benarkah? Kita lihat saja apa Rima mau ngurus Ibu di sini. Cih, dia itu hanya memanfaatkan harta Ibu saja. Kalau ibu sudah kismin juga si Rima mana mau ngurusin Ibu.''
''Asalamualaikum.''
''Walaikum'salam! Sana pergi, dasar menantu kurang bersyukur.'' Teriak Ibu Mumun melempar buah yang Dira bawa, sedangkan Nadira terus berjalan dengan kesal.
''Bukan aku yang kurang bersyukur! Tapi Ibu yang kurang bersyukur udah dapetin menantu baik, sabar, canik kaya saya.'' Gerutu Nadira dengan kesal, lalu mengambil ponselnya untuk memesan ojek online ... namun seseorang dari depan tidak sengaja menubruknya.
DUGH!
“Aiii ...”
“Ceroboh! Dimana kedua matamu, Hah.” sentak pria itu, padahal ia yang menabrak Nadira.
Nadira mendongkakkan kepalanya dan terkejut melihat pria tampan dan tinggi di depannya, sampai-sampai Nadira tidak bisa berkata kata.
“A-ak-aku ...”
Kedua mata mereka saling pandang dalam diam, entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas keduanya terkejut dalam pandangan pertama.
“Den Rama sebelah sini,” ujar seorang wanita paruh payah.
Rama mengangguk dan pergi, namun baru saja dua langkah ... Rama menoleh ke belakang dan memandang Nadira sekali lagi lalu pergi untuk menemui seseorang.
Setelah kepergian pria tampan yang dia tunjuk, Nadira langsung menampar pipinya.
PLAK!
“Dira, selama ini kamu kemana? Kenapa di otakmu hanya ada Edgar saja, Lihatlah ... tertanya pria tampan banyak sekali selain suami mu.” Ucap Nadira, ketika ia menyadari jika banyak pria tampan di dunia ini ... namun di hidup dan pikirannya hanya berputar pada Edgar seorang.
•
•
•
•
Malam hari ... Edgar dan Nadira tengah makan malam berdua saja, karna Sandi dan Rima berada di rumah sakit menunggu mertuanya yang sedang terbaring di brangkar rumah sakit. Sebenarnya Ibu Mumun tidak sakit parah, hanya saja ia manja dan ingin menginap di rumah sakit gara gara pertengkaran bersama Ibu Yuyun kemarin.
“Sayang ... Mas punya kabar baik.”
“Apa itu Mas?” tanya Nadira tanpa melihat Edgar, dan sibuk menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
“Seminggu lagi, Mas di lantik menjadi Bupati gara-gara bupati sebelumnya ketahuan menggelapkan dana desa.” Ucap Edgar antusiasi.
Nadira terdiam lalu memandang suaminya, “Benarkah?”
Edgar mengangguk senang, “Iya ... nanti kita sekeluarga datang di perayaan lapangan Desa. Disana akan ada para pejabat penting, juga banyak masyarakat yang datang. Selama ini kamu kan orang pertama yang selalu dukung Mas, Mas mau di saat Mas di atas kamu adalah orang pertama yang berada di sisi Mas.”
Nadira tersenyum namun dalam hati merasakan sakit yang teramat dalam, jika saja suaminya ini tidak main perempuan ... mungkin saja kabar ini adalah kabar yang sangat membahagiakan baginya, tapi entah mengapa sekarang ia tidak suka melihat suaminya berada di titik puncak di atas penderitaan nya.
"Apakah kamu ingat Mas, kalau aku pernah berkata jika kau akan hilangan semuanya, bahkan aku berharap kau masuk kedalam neraka. Jangan salahkan aku karna perlakuan ku jahat kedepannya ... karna ini semua berawal darimu."
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Sandisalbiah
pejabat yg suka nyelingkuhin istri pasti juga gampang nyelewengkan jabatan buat kepentingan pribadinya
2024-05-15
1
Eliani Elly
lanjut
2023-07-29
2
Maria Magdalena Indarti
Edgar tunggu balasan dr Dira
2023-07-16
0