Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
PRAAANGG.
Nadira tidak sengaja menjatuhkan makanan yang akan di bawa untuk sang mertua dan Rima.
''Nadira ...! Kamu itu becus nggak sih bawanya, Hah!'' bentak sang mertua merasa tidak suka, saat barang-barang miliknya pecah.
''Maaf Bu, akan Nadira bersihkan.''
''Bukan masalah bersihinnya, bodoh! Ini piring mahal, lebih mahal di bandingkan harga dirimu! Astaga ... malangnya nasib anakku karna menikahi wanita tidak berguna dan mandul seperti mu!''
Nadira menghela nafas sambil menggertakkan giginya dalam diam. ''Maaf? Bu.''
''Aaahh ...''
Nadira terkejut dan sakit secara bersamaan saat rambutnya di jambak kebelakang dengan kecang oleh mertuanya.
''Nggak bosan apa kamu minta maaf terus, hah! Ibu bosan setiap hari kamu hanya bisa berkata maaf, maaf, maaf ... terus!''
''Bu, sakit.''
''Sakit iyaa! Rasakan ini.'' Bu Mumun dengan tidak berpesaraan menginjak tangan Nadira dengan kencang, hingga tangan Nadira terluka terkena pecahan kaca piring di lantai.
''Ahkk, Ibu ampun ... ini sakit.'' keluh Nadira, saat telapak tangannya berdarah dan perih.
''Dasar menantu pembawa sial!'' sentak Bu Mumun mendorong kepala Nadira hingga terhiyung, lalu duduk kembali bersama Rima tanpa rasa bersalah.
Sedangkan Nadira hanya bisa terisak menahan sakit di tangannya karna banyak pecahan kaca piring yang menancab di telapak tangannya.
'Ya Allah ... sampai kapan aku harus seperti ini terus.' Keluh Nadira dalam hati.
•
•
•
Sore hari.
Sudah sejak pagi hingga sore, Nadira terus bergelut di dapur layaknya seorang pembantu, namun tidak sekali pun mertuanya menyuruh dirinya untuk duduk mengobrol bersama atau pun istirahat.
''Dira ...'' Teriak Ibu mertua, dari ruang keluarga.
''Dira ...''
''Iya, Bu.'' Nadira menghampiri mertua dan adik iparnya, yang berada di ruang keluarga.
''Kenapa Bu?''
''Dari mana aja sih! Lelet banget kamu. Tuh, Rima nggak sengaja numpahin Jus di karpet, cepat bersihkan sebelum jus itu menempel di karpet mahal Ibu.''
Nadira terdiam menghela nafas, lalu mengangguk dan melangkah untuk mengambil lap dan air di dapur. Taklama, Nadira membungkuk membersihkan karpet agar tidak basah dan meninggalkan bau.
Nadira hanya bisa bekerja dengan satu tangan, karna tangan kirinya ia balut perban akibat luka tadi siang. Sementara Rima dan mertuanya duduk di atas sofa sambil berbincang ria ... solah mereka tidak memperdulikan keberadaan Nadira sedikit pun. Bahkan malangnya, sang mertua sengaja membuang sisa makanan di lantai agar Nadira membersihkan nya.
'Astagfirullah hal azim ..." Gumam Nadira sesekali melirik ke arah mereka, ada sedikit rasa sakit dalam hatinya melihat keakraban mereka ... di mana Nadira tidak pernah di perlakukan baik seperti itu oleh mertuanya. Mungkin karna Rima masih tergolong menantu baru di keluarga ini, karna Rima dan Sandi baru menikah kurang dari satu tahun. Sementara dirinya dan Mas Edgar sudah menikah selama tujuh tahun lamanya.
Setelah Nadira merasa karpetnya sudah bersih dan kering ... Nadira berdiri untuk pergi, namun Rima memanggilnya.
''Mbak Dira.''
''Iya.''
''Sekalian bawa ini, aku mau istirahat dulu.'' Rima memberikan gelas bekasnya minum, ''Oh iya Mbak ... tadi aku bawa baju bekas buat kamu, soalnya baju aku banyak yang nggak ke pake di lemari. Dari pada sayang di buang, mending kamu pakai saja Mbak, lumayan masih pada bagus.''
Rima menunjuk ke arah koper yang sengaja ia bawa.
Terlihat Ibu Mumun tersenyum lalu mengelus kepala Rima dengan sayang. ''Kamu itu baik banget sih Rim ... Rim, beruntungnya anak ku dapetin kamu. Ibu do'akan supaya kamu cepet hamil yaa.''
''Amin ...'' Rima merasa bahagia.
''Heh, wanita nggak berguna! Tuh liat, Rima kurang baik apa sama kamu Dira ... dari pada kamu terus beli baju online, mending pake bekas Rima saja. Baju Rima 'kan pada mahal semua, jadi mulai bulan depan sampai lebaran nanti kamu nggak usah beli baju.''
''Iya, Ibu.'' Dira hanya pasrah, percuma ia melawan yang akhirnya akan ada perdebatan dan perbandingan antara dirinya dan Rima.
''Baguslah, menantu yang tidak punya rahim sepertimu seharusnya banyak bersyukur. Masih mending Edgar masih mau menampung kamu.''
Nadira hanya menunduk.
''Yasudah pergi sana, sudah siapin makan malam belum? Sebentar lagi Edgar datang.''
''Sudah siap semuanya Bu.''
''Bagus, cepat mandi sana! Tubuh mu bau busuk.'' Hina Ibu Mumun, sambil menutup hidungnya dan pergi.
•
Malam hari•
Semua keluarga sedang berkumpul di ruang makan, termasuk sang suami yang sudah pulang dari kantornya. Edgar adalah pria yang berusia dua puluh delapan tahun dan bekerja menjadi sekretaris bupati di desa mereka.
''Makan yang banyak, kau bekerja seharian di kantor.'' Ibu Mumun mengambilkan satu potong daging ayam pada Edgar.
''Ini ...'' Ibu Mumun memberikan satu daging ayam pada Rima, padahal itu bagian Nadira. ''Kau perlu nutrisi agar rahim mu sehat, Ibu yakin sebentar lagi kamu hamil.''
Nadira melihat ayam bagiannya yang sudah ada di piring Rima, ia menelan ludahnya karna ingin merasakan ayam itu juga. Sedangkan Rima yang tidak sengaja melihat raut wajah Nadira yang berubah, ia pun berinisiatif akan memberikan ayam itu pada Nadira dengan niat tertentu ... namun sang mertua dengan cepat mencegahnya.
''Nadira tidak suka daging ayam, dia hanya suka sayur sayuran! Kata nya dia sedang diet.'' Cetus nya sambil melotot pada Nadira.
Nadira hanya tersenyum dan mengangguk, lalu ia menyuapkan nasi yang banyak kedalam mulutnya. Namun ia terdiam saat sang suami menaruh ayam di atas piringnya.
''Makanlah yang banyak, sayang.'' Edgar tersenyum dan mengusap kepala Nadira dengan sayang, sementara Ibu mertuanya mendecih.
''Makasih, Mas.'' Ucapnya dengan senyum bahagia.
Inilah yang membuat Nadira tidak bisa pergi jauh dari suaminya, karna sang suami selalu memperhatikan dirinya dari hal hal kecil. Walau terkadang ia suka berpikir tentang kelakuan aneh sang suami akhir akhir ini.
Bagaimana tidak. Ia pernah menemukan potongan kuku palsu wanita di dalam tas kerjanya, bahkan pernah mencium kemeja kerja suaminya namun ada bau parfum wanita.
Tapi Nadira menepis kecurigaan nya, karna dia yakin jika Mas Edgar tipe orang yang setia padanya. Mungkin saja kuku itu tidak sengaja jatuh dan masuk kedalam tas suaminya, begitu pun masalah parfum.
Setelah selesai makan. Semua orang pergi mengobrol di ruang keluarga, namun lagi dan lagi Nadira harus membereskan bekas makan semua orang bahkan cucian piring di wastafel masih banyak.
''Haaahh ...'' Nadira menghela nafasnya dengan berat, jujur dalam lubuk hatinya paling dalam ... ia muak melakukan pekerjaan rumah.
''Dira ... bikin teh untuk semua orang.'' Teriak sang mertua, membuat Nadira geram.
''Astagfirullah ...''
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Maggie Toth Lim
aduhai ni lagi ada perempuan tolol tolak merdeka😁
2025-01-14
0
Acel𓅂
harus mampu kayaknya meninggalkan m
2023-10-26
3
Eliani Elly
🥺🥺🥺
2023-07-29
0