Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
''Ini si Dira kemana sih? bikin teh aja lama nya minta ampun! Bikin teh aja lama, gimana ngurus anak.''
''Diraaaaaa ...''
''I-Iya bu.'' Nadira segera membawa teh yang ibu mertuanya inginkan.
Terlihat Bu Mumun sudah berkacak pinggang menunggu Dira, yang lama sekali membuat teh untuk semua orang.
''Ini Bu, teh nya.'' Dira memberikan teh pada semua orang, namun Ibu Mumun merasa tidak suka.
''Bikin Teh aja lama banget sih! Pantes aja Tuhan angkat rahim mu, kalau bikin teh aja nggak becus.''
''Bu ...'' Edgar mencoba untuk menghentikan omelan sang Ibu.
''Kenapa? apa Ibu salah ngomong, kayanya nggak deh! Si Dira ini 'kan emang wanita mandul, kalau dia nggak mandul pasti dalam tujuh tahun pernikahan kalian sudah di kasih anak. Tapi ini apa? udah lama nikah kok nggak hamil hamil, pasti ada yang ngajak beres sama dia.'' Tunjuk Ibu Mumun pada Nadira.
''Bu, cukup yaa ... apa ibu nggak kasian sama Nadira? Dia seharian nemenin ibu di rumah.'' Ucap Edgar tidak habis pikir.
''Nggak! Ibu sama sekali nggak kasian sama dia, sekarang Ibu tanya sama kamu. Apa kamu nggak kasian sama Ibu yang udah tua belum juga gendong cucu.''
''Bu, kaya nya ibu udah keterlaluan deh sama Mbak Nadira. Ibu nggak kasian apa setiap hari ibu selalu menghina Mbak.'' Ucap Sandi, yang merasa jika ibunya sudah keterlaluan terhadap Kakak iparnya yang baik.
''Mas.'' Rima mencoba menghentikan suaminya, yang ingin berdebat dengan Ibunya.
''Kamu jangan ikut campur San!''
''Bukannya Sandi mau ikut campur Bu, tapi bagaimana Mbak Nadira mau hamil jika Ibu selalu mendiskriminasi Mbak Nadira yang mana aku yakin jika kelakuan Ibu pasti membuat Mbak Nadira stres.''
''Durhaka kamu yaa! Jadi kamu nyalahin Ibu? iyaa.''
''Bukan seperti it--''
''Asal kamu tau yaa! Ibu dari dulu sudah tidak merestui Kakak mu nikah dengan wanita mandul itu, tapi Kakak mu keras kepala dan mengancam akan bunuhdiri kalau tidak menikahinya.'' Tunjuk ibu Mumun terhadap Nadira.
PLAK.
Ibu Mumun menampar pipi Nadira, membuat semua orang berdiri terkejut. Nadira yang sudah tidak tahan, lalu pegi ke kamar dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
''Kenapa Ibu selalu berkata jahat seperti itu, selama ini aku sudah baik dan menuruti perkataan Ibu ... tapi kenapa Ibu jahat.'' Ucap Nadira? di sela isak tangisnya.
•
•
•
•
•
Malam hari. Nadira terbangun karna ia haus, namun saat ia menoleh ia tidak menemukan suami di sampingnya. Nadira pun bangun dan bersender di belakang ranajang.
''Kemana, Mas Edgar?'' Gumamnya dalam hati.
Nadira yang teringat ia haus, ia turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Namun saat ia menutup pintu, ia di kejutkan oleh suaminya yang tiba-tiba ada di hadapannya.
''Nadira.''
''YaAllah, Mas! Ngagetin aja.'' Nadira mengelus dadanya.
''Kamu mau kemana, sayang?'' Tanya Edgar, dengan nafas sedikit tidak teratur.
''Kedapur Mas, aku haus mau ambil minum. Mas dari mana?''
''Oh, itu anu ... aku dari teras ngerokok.''
''Ouh, ya sudah sana istirahat Mas, besok harus kerja.''
''Ah, iya.''
Edgar pun masuk kedalam kamar, namun baru saja Edgar menutup pintu kamar. Nadira tidak sengaja melihat Rima yang baru saja masuk kedalam kamarnya.
'Eh, habis dari mana di Rima.'
Nadira menoleh ke arah kamarnya dan ke arah kamar Rima secara bergantian, ada sedikit rasa curiga dalam hatinya namun Nadira menepis kecurigaan tersebut dan mengira mungkin Rima dari kamar mandi. Nadira pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Ketika Nadira duduk untuk meneguk minuman, ia tidak sengaja melihat ke arah lantai, di mana ada sebuah benda yang tidak asing ia lihat.
''Kenapa ada kon do m tergeletak di lantai?'' cicit Nadira yang jijik melihat benda itu.
DEG.
Entah kenapa, hati Nadira tiba-tiba tidak enak saat memikirkan suaminya dan adik iparnya yang barusan bersamaan masuk kedalam kamar.
''Astagfirullah, kok aku jadi soudzon yaa.'' Nadira menggelengkan kepalanya, lalu bergegas membuang ko do m itu dengan sapu walau ia merasa jijik.
Setelah selesai, Nadira mencuci kedua tangannya dan bergegas masuk kedalam kamar. Di mana suaminya sudah terlelap tidur. Nadira berbaring di sebelah suaminya sambil menatap wajah Edgar yang lumayan tampan, lalu netra matanya melihat ponsel suaminya yang menyala tanpa suara.
Rasa penasaran membuat Nadira ingin memeriksa ponsel suaminya, namun ia urungkan karna bagi Dira itu tidak sopan. Tapi, hatinya tidak tenang ... dengan penuh tekad akhirnya Nadira mengambil ponsel suaminya.
Nadira menyalakan ponsel suaminya, namun sayangnya terkunci. Nadira pun tidak tau password nya apa. Nadira tidak sengaja melihat notifikasi di atas layar ponsel dan mengusapnya.
Nadira melihat pesan dari seseorang yang bertuliskan.
'Terimakasih untuk malam ini, kau sangat hebat Edgar. Aku sangat mencintaimu.'
DEG.
Jantung Nadira terasa di tusuk oleh sebuah belah pisau tajam yang langsung menembus ulu hatinya. Bahkan Nadira tidak bisa menelan ludahnya sendiri karna shock mendapati kenyataan jika suami yang dia banggakan ternyata memiliki kekasih lain di luar sana.
'Tenang Dira ... Kau belum tau kebenarannya, siapa tau ini hanya salah kirim.' Nadira berperang dalam hatinya, untuk menepis segala pikiran buruk tentang suaminya.
Nadira bergegas menaruh kembali ponsel suaminya lalu bergegas tidur. Ia akan menanyakan kembali masalah ini langsung pada Mas Edgar di bandingkan ia memiliki prasangka buruk terhadap suaminya.
•
•
•
Esok pagi ... Seperti biasa, Nadira bangun jam lima subuh dan bergegas untuk menunaikan kewajibannya. Setelah selesai, Nadira bergegas untuk membuat makanan untuk semua orang dan bersih bersih rumah seperti biasa.
Nadira pun menyiapkan baju dinas suaminya, dan membuat teh kesukaan Mas Edgar lalu membangunkannya.
''Mas, bangun udah siang.'' Nadira menepuk pundak suaminya.
''Hmm ...''
''Bangun Mas, Dira udah siapin sarapan dan baju Mas.''
Edgar bangun sambil mengucek kedua matanya, lalu tersenyum melihat Nadira dan menarik tangannya. ''Istriku pagi-pagi gini udah cantik aja.''
CUP.
Edgar mengecup pipi Nadira, yang mana membuat Nadira tersenyum senang. Membuat Nadira mengurungkan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada suaminya, karna melihat Mas Edgar yang masih memperlakukannya dengan baik.
''Kau ini Mas, Dira belum mandi loh.''
Edgar memeluk Nadira dengan erat, ''Jangan tinggalin aku, aku nggak bisa hidup tanpa mu Dira.''
''Ih, Mas ini ngaco! Dira nggak bakalan ninggalin Mas kok, terkecuali kalau Mas yang meminta Dira pergi.''
Kedua orang itu saling tersenyum menatap satu sama lain, hingga pandangan mereka buyar saat Bu Mumun memanggil Dira dan masuk begitu saja ke dalam kamar.
''Dira!''
''Ibu.'' Dira terkejut dan langsung berdiri.
Inilah yang Nadira tidak suka, mertuanya ini tidak tau sopan santun. Yang mana datang ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dan main selonong saja.
''Kamu itu bisa nggak sih bersihin rumah! Lihat tuh masih banyak debu. Masih pagi udah masuk kamar aja.'' cetus Bu Mumun, mendelik tidak suka.
''Bu ... Nadira baru saja membangunkan aku.''
''Yasudah! cepat kamu mandi Ed, nanti telat masuk kantor. Dan kamu Dira, cepat ikut ibu.
Nadira mengangguk lalu mengikuti mertuanya, sedangkan Edgar turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
murni l.toruan
menantu itu bukan pembantu, Edgar punya gajikan.... buat gaji ART tidak mampu? Mak dan anaknya tidak punya otak
2025-01-14
0
Maggie Toth Lim
anak sepa la Nadira tu otak ngak cukup jadi perempuan.mau berlaki tapi otak nol
2025-01-14
0
guntur 1609
jangan blng rima dan Edgar selingkuh
2024-12-11
0