Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
Di malam hari, ketika semua orang sudah tertidur lelap. Nadira membuka kedua matanya dan terbangun dari tidurnya ... ia melihat ke samping di mana Edgar sang suami sudah tertidur lelap.
Nadira dengan dingin menatap Edgar dan mengambil bantal. Ingin sekali ia membekap muka Edgar hingga Edgar tidak sadarkan diri, namun ia tidak mungkin membunuh Edgar karna ia tidak mau menjadi seorang kriminal.
'Lihat saja mas, kau akan dapat balasan yang setimpal dariku! Tapi untuk kali ini, aku masih membutuhkan mu untuk menjadi bidak caturku.'
Nadira turun dari ranjang dengan perlahan, lalu mengambil cctv yang dia sembunyikan di bawah ranajang.
Perlahan Nadira keluar dari kamar tanpa suara, melihat kanan kiri dan memastikan jika tidak ada yang bangun dari tidurnya. Bergegas Nadira menempelkan cctv kecil itu di sudut yang tersembunyi hingga orang rumah tidak akan ada yang tau bahwa ada ccvt di dalam rumah, tidak lupa Nadira menaruh cctv di area dapur ... dimana tempat suaminya berzinah dengan adik iparnya sendiri.
''Selesai! Tinggal satu lagi yang belum terpasang.'' Ucap Nadira, melihat satu cctv kecil di tangannya. Ia akan menaruh ccvt itu di kantor suaminya ... namun ia belum menemukan cara bagaimana cctv ini bisa terpasang di kantor suaminya.
''Kita lihat besok, aku pasti akan memasang ini di kantor mu Mas.''
Setelah selesai ... Nadira masuk ke kamarnya dan terbaring kembali, Ia sudah punya sejuta rencana yang tersusun di otaknya agar keluarga toxic ini tidak semena mena.
•
•
•
•
Pagi hari ... Nadira seperti biasa mengerjakan pekerjaan rumah dan membuat sarapan untuk semua orang, di mana sang mertua yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menyunggingkan bibirnya karna melihat rumahnya sudah rapih dan bersih kembali.
'Cih, wanita mandul itu sudah kembali ke setelan pabrik toh? Ha ha ha ... pasti semalam Edgar sudah memberikannya pelajaran, hingga si wanita mandul itu tidak punya pilihan lain.' Gumam ibu Mumun dalam hati sambil terkekeh.
Ibu Mumun berjalan ke arah dapur, di mana Nadira tengah menggoreng telor. Ia melipatkan kedua tangannya di dada dengan muka angkuhnya.
''Dasar wanita mandul, udah tau nggak bisa ngasih keturunan buat anak saya! So soan mau pamer perhiasan sama saya,'' Ujar Ibu Mumun, sambil menuangkan air ke gelas. ''Kalau nggak bisa hidup tanpa anak saya, nggak usah banyak ngelawan! Masih mending nggak di buang sama Edgar.''
Dira hanya melirik dengan ekor matanya dan menggelengkan kepalanya, ''Perasaan ada yang ngomong, tapi kok nggak ada orangnya ya! Ehh apa jangan jangan ada setan lagi di rumah ini.''
UHUUK!
Ibu Mumun langsung tersedak minumnya, saat mendengar cicitan Nadira.
''Apa kamu bilang! Kamu ngomong apa barusan, Hah!'' Bentak Ibu Mumun, yang sudah melototkan kedua matanya.
''Eh, rupanya ada Ibu disini? Aku pikir tadi setan lewat.''
''Bener-bener kurang ajar kamu yaaa!''
PLAAK!
Untuk kesekian kalinya, pipi Nadira di tampar dengan kencang. Namun kali ini Nadira menyunggingkan bibirnya, karna ini yang dia mau. Nadira segera menoleh ke arah mertuanya dengan wajah sedih sambil memegangi pipinya.
''Kenapa Ibu jahat sama Dira? Dira salah apa ...''
''Udah tau salah, kamu masih bertanya hah! Menantu kurang ajar.''
Ibu Mumun membabibuta memukul dan menampar Nadira, hingga Nadira menjerit kesakitan. Tak lama semua orang datang untuk melerai.
''Ibu! Ibu itu kenapa?'' Edgar memeluk Nadira, dan melihat keadaan istrinya yang kacau.
Sedangkan Sandi menghalangi Ibunya agar tidak menyerang Kakak iparnya.
''Istri kamu itu yang duluan! Ngatain ibu setan.''
''Hisk ... nggak kok Mas, mana berani Dira ngatain Ibu setan. Dira lagi goreng telor buat Mas sarapan, tapi ibu tiba-tiba datang dari belakang langsung jambak Nadira.''
''BOHONG!''
''Bener kok Mas, Nadira mana pernah bohong selama ini ... Ibu tiba-tiba jambak rambut Dira, trus juga Ibu ambil kalung Nadira, Mas.''
Ibu Mumun membelalakan kedua matanya, ia tidak merasa merampas perhiasan Nadira.
''Dira! Kalau ngomong itu jangan ngelantur kamu, udah jelas-jelas kamu kok yang ngatain saya setan!''
Dira memeluk Edgar dan menggelengkan kepalanya, ''Kalau Mas nggak percaya sama Dira, Mas boleh periksa saku bajunya Ibu.''
''DIRA!''
''Dira nggak bohong Mas.''
''Bu ...'' Edgar menatap sang Ibu.
''Nggak! Ibu nggak pernah ngambil apapun dari Dira. Mana ada kalung Dira di sak--'' Kata kata ibu Mumun berhenti, ketika tangannya di masukan ke saku dan merasa jika ada sesuatu yang dia pegang.
Ibu Mumun langsung melihatnya, dan terkejut jika di sakunya benar-benar ada kalung yang Nadira pakai semalam ... membuat Ibu Mumun shock setengah mati.
''Tuh 'kan Mas, Dira nggak bohong.''
Edgar langsung mengambil kalung Nadira dari tangan sang Ibu, dan menggertakkan giginya. ''BU!'' Bentak Edgar.
Ibu Mumun menggelengkan kepalanya, ''Nggak! Bukan Ibu.''
Edgar memejamkan kedua matanya dengan geram, ia ingin marah tapi ia sadar jika itu ibunya. ''Bu, Ibu sudah memiliki perhiasan banyak. Biarkan Nadira hidup tenang dan jangan buat kerusuhan di pagi hari, Edgar mohon ...''
''Tapi, bukan ibu yang mengambil. Mungkin Nadira yang sengaja memasukkan kalungnya sendiri di saku Ibu.''
'Cih, dasar pemikiran kulot! Mana mungkin Mas Edgar percaya kali ini, karna bukti sudah dia lihat sendiri. Ahhh Ibu mertua ... tanpa Ibu sadari jika memang aku yang memasukan kalung itu kedalam saku mu."
Diam diam Nadira tersenyum dalam hatinya, langkah pertamanya kali ini sudah berhasil ... di mana dia akan membuat Edgar tidak mempercayai Ibunya sendiri.
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
guntur 1609
bagus tuh dira
2024-12-11
0
Sandisalbiah
ibu dan anak sama² gak waras.. lagian si Edgar ini gak punya otak apa gimana.. selingkuh dgn adik ipar sendiri..
2024-05-15
1
Eliani Elly
👍👍👍
2023-07-29
1