Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
''Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang!'' Bentak Ibu Mumun pada Nadira yang baru saja pulang berbelanja.
''Jalan jalan Bu, dari pada stres di rumah.'' Jawab Nadira seadanya.
Ibu Mumun berdiri dari duduknya dan melipat kedua tangannya di dada. ''Oh ... bagus kamu yaa, sudah berani hambur hamburin uang anak saya! Dasar istri tidak berguna, bisanya cuma ngabisin uang anak saya saja.''
Nadira diam, namun dalam hatinya berkata. 'Ini uang hasil jualan online sama sahabat baikku selama dua tahun. Mana ada aku pakai uang mas Edgar yang seharinya hanya bisa ngasih aku uang lima puluh ribu.'
''Bu, mana pernah sih aku ngabisin uang Mas Edgar. Ibu tau sendiri kalau aku cuma di jatah lima puluh ribu sama mas Edgar! Mana cukup untuk beli semua barang ini. Lagian Bu, Nadira juga punya uang sendiri.''
''Alah ... wanita nggak guna seperti kamu itu mana mungkin ngasiiin duit, bohong aja kamu bisanya! Dari mana kamu dapat uang kalau bukan anak saya yang ngasih. Siniin nggak barangnya!'' Ibu Mumun ingin merebut berang bawaan Nadira.
''Nggak! Ini punya Nadira, Ibu ngapain mau ngambil barang Nadira. Dasar nggak punya sopan santun.'' Cicit Nadira sambil menyembunyikan beberapa paperbag di belakang punggungnya, karna Nadira merasa jika Ibu mertuanya ini benar-benar sudah keterlaluan.
''Sudah berani kamu melawan saya, Iya!'' Bentak Ibu Mumun melotot, lalu maju ingin mengambil barang Nadira namun Nadira melangkah mundur.
''Kalau iya kenapa, Ibu tidak suka? Apa Ibu tidak pernah berkaca kalau ibu sendiri yang sudah menghabiskan uang Mas Edgar buat beli emas yang ada di tubuh Ibu!''
''Nadira! Jangan lancang kamu sama Ibu.'' Rima yang tadi diam, kini maju untuk melawan Nadira.
''Diam kamu! Kau pikir aku tidak tau kebusukan mu Rima, cih wanita murahan seperti kamu nggak pantes bicara sama aku.'' Semprot Nadira, menatap Rima dengan jijik.
''Ibu ...'' Rengek Rima.
''NADIRA! Berani kamu hina menantu kesayangan saya!'' Ibu Mumun sudah tersulut emosi dan akan menampar Nadira, namun untuk kali ini Nadira dengan berani menahan tangan yang selalu memukulnya selama tujuh tahun ini.
''Cukup Bu! Cukup! Sudah cukup tangan kotor Ibu selalu memukul ku, Ibu pikir aku ini apa hah? Dengan se'enak hati Ibu selalu mukul Dira.''
SREET.
Nadira menepis tangan Ibu mertuanya dengan kasar.
''Lancang kamu Nadira.'' Teriak Ibu Mumun masih tidak terima, baru kali ini Nadira melawan dirinya hingga ia merasa harga dirinya di injak injak.
''Awas kamu Nadira ... saya adukan pada Edgar nanti.''teriaknya meraung tidak terima, apa lagi melihat Nadira yang masuk kedalam kamarnya dan membanting pintu.
''NADIRA ...''
• • •
Sedangkan Nadira yang sudah di kamar langsung mengunci pintu, dan menaruh barang-barangnya di atas ranajang. Ia mengeluarkan semua yang dia beli, termasuk cctv yang akan dia tempel di setiap sudut rumah bahkan di dapur.
Karna hanya dengan cara seperti ini Nadira memiliki bukti, ia memang memberikan kesempatan ke dua bagi Edgar ... tapi itu hanya untuk mengumpulkan bukti kecurangannya dan kejahatan Ibu mertuanya, yang selama ini terkenal di kalangan masyarakat dengan sebutan mertua baik hati dan bijak sana.
Nadira muak dengan kehidupan seperti ini ... dan ia akan pergi dari rumah ini, tapi harus dengan rasa hormat dan harga diri yang selama ini di injak injak oleh suami dan mertuanya.
Setelah melihat barang-barang yang dia beli, Nadira menyembunyikan cctv di bawah ranjang dan dia akan memasangnya ketika semua orang sudah lengah.
•
•
•
•
•
''Asalamualaikum ...'' Ucap Edgar yang baru pulang dari kantornya.
''Walaikum'salam!'' cetus sang Ibu, yang sudah duduk menunggunya sedari tadi.
Edgar yang melihat sang ibu hanya menghela nafasnya, ia tau jika sang Ibu pasti akan mengadu padanya tentang Nadira.
''Ohoo ... Ibuku yang cantik ini kenapa cemberut di sini?'' Edgar menghampiri sang Ibu dan duduk di sofa untuk menghibur Ibu Mumun.
''Ish! Ibu sedang kesal pada istrimu,'' ujar Bu Mumun melipat kedua tangannya di dada dan membuang mukanya ke samping.
Edgar tersenyum, ''Jangan marah-marah Bu ... nanti cantiknya hilang loh.''
''Bagaimana dia nggak kesal Mas, orang Nadira sekarang sudah berani melawan Ibu.'' Ucap Rima dari belakang, lalu menyodorkan satu gelas minum pada Edgar.
Edgar tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, yang mana membuat Rima tersipu malu.
''Memang apa yang sudah Dira lakukan?''
Sang Ibu langsung menoleh pada Edgar dan bercerita tentang kejadian tadi sore, dimana Nadira sudah berani melawan dan menghina Rima ... bahkan Nadira membawa banyak sekali kantong belanja.
''Ibu 'kan sudah bilang, jangan kasih dia uang banyak biar dia nggak besar kepala!'' sentak sang Ibu. ''Tuh, lihat hasilnya dia jadi besar kepala dan berani melawan.''
Edgar diam sejenak, ''Tapi Bu ... Edgar nggak pernah ngasih uang lebih sama Dira. Jika pun dira perlu sesuatu, Nadira pasti bilang.''
''Terus dia punya uang dari mana bisa belanja banyak, kalau kamu nggak ngasih!''
Edgar tersenyum, ''Nanti Edgar tanyain sama Dira ya Bu, Ibu jangan salah paham dulu sama Nadira.''
''Ishh .. iya iyaa! Gih tanya dari mana dia dapat uang buat belanja.'' Sang Ibu mendorong Edgar.
Edgar mengangguk dan berdiri, namun baru saja ia berdiri ... Nadira keluar dari kamar dengan tampilan berbeda. Di mana Nadira memakai perhiasan di seluruh badannya, bahkan Nadra memakai gelang kaki dan memakai cincin di setiap jarinya.
Ibu Mumun langsung melotot melihat Nadira memakai perhiasan, begitu pun Rima.
Nadira yang baru keluar dari kamar, berpura-pura mengibaskan tangannya hingga semua perhiasannya berbunyi. Padahal ia sengaja ingin memamerkan semua perhiasan dan baju barunya.
''Nadira ...'' Panggil Edgar dengan lembut.
Nadira menoleh dan langsung tersenyum, ''Ehhh suamiku sudah pulang ...'' Nadira melangkah dan memeluk Edgar, walau dalam hatinya ia merasa benci.
'Ba-Bagaimana wanita mandul ini punya banyak perhiasan!'
'Ihh ... itu 'kan baju di toko tadi yang harganya satu juta. Kenapa Nadira bisa beli.'
Kedua wanita berbeda usia itu sedang bergumam dengan pikirannya masing masing, karna mereka berdua begitu penasaran mengapa Nadira mendadak berubah.
''Hah, bengong kan kalian! Ini belum seberapa yaaa ... kalian tunggu saja.'' Cicit Nadira, mendelik tidak suka melihat tatapan mertuanya.
''Nadira, apa semua ini?'' Tanya Edgar.
Nadira terkekeh dan menggoyangkan lengannya, 'He ehe he ... ini mas? Ohhh ... ini loh mas, Nadira baru jual sawah almarhum bapak. Lagian Dira nggak bisa ngurus sawah, jadi Dira jual aja.''
Edgar terdiam, setau dirinya kedua Orangtua Nadira tidak memiliki persawahan apapun. Tapi ia tidak mau perduli dan tersenyum melihat Nadira tersenyum.
''Ohh .. yasudah kalau seperti itu, Mas lapar sayang.'' Edgar memegang perutnya.
''Kamu lapar mas? Tapi maaf aku nggak masak.''
''Loh kenapa nggak masak?''
''Aku capek Mas, masak terus di dapur selama tujuh tahun! Dan aku itu bukan pembantu! Aahhh ... kalau tidak, Mas minta makan aja sama selingkuhan Mas.''
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Sandisalbiah
keren Nadira.. kenapa gak dr dulu gini
2024-05-15
1
Eliani Elly
wah hebat Dira 👍 nah Bu Mumun selama ini kamu tidak bersyukur punya menantu yang baik maka nikmatilah derita yang akan otor siapkan untuk mu
2023-07-29
2
Ra Jib
buktikan kamu wanita tabah,.. semangat
2023-07-29
0