Tujuh tahun pernikahan.
...🍀🍀🍀...
Nadira tengah berjalan di trotoar kota, namun ia tidak sengaja melihat mobil suaminya yang berhenti di lampu merah.
'Itukan mobil Mas Edgar, plat nomernya juga sama.'
Nadira mengerutkan keningnya merasa heran, kemana suaminya akan pergi di saat waktu bekerja.
''Perasaan ini bukan waktunya makan siang deh.'' Nadira melihat pergelangan tangannya, lalu dengan cepat meminta ojek online yang sedang diam menunggu orderan untuk membuntuti mobil suaminya.
''Buntuti mobil itu, jangan sampai ketahuan.''
''Baik Mbak.''
Nadira dengan rasa cemas di hatinya trus mengikuti mobil sang suami, ia penasaran kemana mobil itu akan berhenti ... hingga lima belas menit di perjalanan, akhirnya mobil suaminya masuk ke salah satu hotel sederhana.
Nadira menggertakkan giginya, kedua tangannya mengepal kuat menahan amarah. Nadira benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang suami yang sudah di luar ambang batasannya.
'Cih, ini kah yang di namakan khilaf? Hah, untung saja aku sudah sadar dari guna gunanya! Kalau tidak, sudah pasti aku masih termakan cinta palsunya.'
''Mbak, itu suami Mbak yaaa?''
Nadira menoleh dan mengangguk dengan enggan.
''Wahh, ini harus di viralkan Mbak! Biasanya cowo tukang selingkuh nggak bakalan jera kalau belum di kasih pelajaran ... Em, gini aja Mbak, Mbak labrak aja ke dalam nanti saya bantuin vidioin biar ada bukti. Yaaa, siapa tau nanti Mbak masuk tv.''
Nadira terkekeh melihat kang ojek yang semangat.
''Terima kasih atas bantuannya, ini ongkosnya dan terima kasih sudah menemani saya.''
Kang ojek itu mengangguk dan pergi, lalu mengambil ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Edgar.
Sementara Edgar dan selingkuhannya sudah berada di dalam kamar hotel, dan ia tengah merebahkan diri sambil menunggu gadis panggilannya yang sedang mandi.
Edgar tengah menyeder sambil memainkan ponselnya, namun ia dikejut saat Nadira tiba-tiba menelponnya. Edgar langsung gugup dan dilema apa ia harus menjawab telpon dari Nadira atau membiarkannya.
Ia melihat ke arah kamar mandi, lalu melihat layar ponsel yang terus berdering. Edgar menghela nafasnya lalu menjawab panggilan dari Nadira.
(Hallo, sayang.)
(Mas ... Mas lagi di mana?)
(Mas lagi ada rapat di luar sama pejabat untuk perjamuan nanti malam.)
(Ouhhh, apa perjamuannya di hotel ya Mas?)
DEG.
(Nggak kok, kata siapa?)
(Ini aku lihat mobil Mas terparkir di depan hotel Marinda, kebetulan aku ini lewat hotel Marinda habis jenguk Ibu di Rs.)
Edgar membelalakan kedua matanya, lalu turun dari ranjang sambil membenarkan kancing baju dan celananya.
(Mas.)
(Iya Dir. O-ooh .. itu, Mas memang sengaja parkir di di depan hotel Marinda, soalnya di restoran parkirannya penuh.) Jawab Edgar bergegas keluar dari kamar hotel, tidak lupa menaruh uang di nakas dan bergegas keluar.
(Mas kenapa, kok kaya orang sedang lari.)
(Nggak, siapa yang lagi lari ... Mas lagi jalan dari Restoran mau nyamperin istri cantikku.)
(Yaudah, Nadira tunggu disini yaa kalau Mas mau kesini.)
(Iya, Mas kesana sekarang.)
Sambungan telpon pun putus, Edgar tengah berada di lobi hotel namun ia terkejut saat kedua matanya melihat Nadira berada tepat di luar pintu keluar.
'****!'
Edgar bergegas berlari ke arah belakang, dan meminta izin pada staf hotel agar ia keluar dari belakang. Setelah di luar ... Edgar menarik nafas dan menetralkan detak jantungnya.
''Sayang ...'' Panggil Edgar, melambaikan kedua tangannya.
Nadira tersenyum.
''Kamu udah lama sayang?''
''Nggak kok, Mas kenapa? kak kaya orang habis di kejar kejar.''
''Iya, Mas lari dari Restoran kesini ... takut istri cantikku menunggu.''
Nadira melirik dari mana Edgar keluar lalu tersenyum getir. 'Kelakuan mu Mas ... Mas.'
''Ayo kita makan, atau mau jalan-jalan.'' Edgar membuka pintu mobil untuk Nadira.
''Aku mau pulang aja Mas, Mas masih kerja?''
Edgar melihat jam di pergelangan tanganya lalu mengangguk. ''Iyaa, kaya nya Mas harus balik ke kantor lagi deh.''
Nadira mengangguk dan meminta Edgar untuk mengantarkan nya pulang saja, karna ia yakin jika Edgar tidak mungkin kembali lagi ke sini.
''Baiklah, Mas antar kamu pulang dulu lalu Mas balik ke kantor lagi yaa.''
Nadira mengangguk.
•
•
•
Sementara di rumah, Rima baru saja pulang dan mendapati jika di rumah tidak ada siapapun.
Ia melihat dan mengecek apakah Nadira sudah pulang atau belum ... tapi ia tidak melihat keberadaan Nadira di dapur, lalu Rima mengecek di kamar Nadira tapi tidak ada juga, membuat Rima tersenyum senang.
Rima langsung berjalan ke arah kamar Ibu mertuanya dan menutup pintu. Ia melihat sekeliling kamar Ibu mertuanya lalu dengan cepat membuka lemari baju dan mencari apa yang ia incar sejak lama.
''Dimana barang itu! Setau ku Ibu menaruhnya di lipatan baju sebelah sini.'' Rima terus mencari di lipatan baju, lalu kedua matanya melotot saat barang yang dia cari ternyata masih ada di lipatan baju.
''Ahh ... ini yang aku cari.'' Rima melompat senang, tapi kemudian dia menutup mulutnya takut ada yang mendengarnya.
Setelah Rima mendapatkan apa yang dia cari ... Rima tersenyum senang, lalu memasukan benda itu ke belakang punggungnya dan bergegas keluar dari kamar sebelum ada orang yang mengetahui niatnya.
Saat Rima menutup pintu kamar dengan pelan, ia di kejutkan karna ada yang memanggil namanya.
''Rima.''
''Astagfirullah, Mbak! Kamu ngagetin aja.'' Rima mengelus dadanya dengan gugup. ''Kamu sudah lama pulang, Mbak?''
Nadira menggelengkan kepalanya, ''Baru aja.'' Jawab Nadira, lalu diam dengan heran melihat gelagat Rima yang mencurigakan. ''Kamu habis ngapain dari kamar Ibu?''
''Eh, itu ... anu, emmm ... Nggak habis ngapa-ngapain kok, aku cuma ngambil barang yang ketinggalan di kamar Ibu.'' Ucapnya lalu melengos pergi, namun Nadira masih merasa curiga dan bergegas keluar dari rumah untuk mengintip Rima dari jendela.
Sedangkan Rima yang sudah berada di kamar merasa senang karna Nadira tidak mencurigainya, lalu mengeluarkan sesuatu yang dia ambil dari balik punggungnya yang tidak lain adalah surat kepemilikan rumah yang mereka tempati.
''Ahhh ... untung saja aku sempat melihat di mana Ibu menyimpan sertifikat rumah ini.'' Rima mencium sertifikat rumah dengan senang.
''Ibu 'kan sudah mendadak gila ... jadi aku dan Mas Sandi berhak atas rumah ini.'' Ucap Rima, lalu menyembunyikan sertifikat rumah itu ke tempat yang menurutnya aman.
Sedangkan Nadira menyunggingkan bibirnya, ia sudah menduga jika Rima akan mengambil sertifikat itu di saat semua orang lengah.
'Wanita murahan seperti mu tidak pantas mendapatkan apapun dari rumah ini. Aku yang berjuang dan aku yang harus mendapatkan hasilnya, tidak dengan mu atau Mas Edgar.' Ucap Nadira dalam hati lalu bergegas pergi, karna dia akan bersiap siap untuk nanti malam pergi ke perjamuan desa. Dimana Edgar akan naik jabatan menjadi Bupati sekaligus kehancuran pertama untuk suaminya.
•
...🍀🍀🍀...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Sandisalbiah
harus di kupas tuntas sampai ke akar²nya, Dira.. biar gak tuman itu para manusia pendosa yg doyan zina
2024-05-15
1
Eliani Elly
lanjut
2023-07-29
2
Shuci_12ka
🤪🤪🤪🤪🤪 Kasian deh,, yang mau anu anu nggak jadi haha
2023-03-30
0