"Tuan, bolehkah saya memeriksa mana di dalam tubuhmu?"
Mana, itu adalah sebutan dasar bagi penyihir dalam menentukan seseorang memiliki energi sihir.
Dengan kata lain, energi sihir berasal dari mana, entitas dasar yang ditentukan oleh seseorang sejak lahir, itu adalah hal yang penting untuk manusia miliki, terutama untuk orang-orang tertentu.
Aku? Aku tentu tidak memilikinya.
Entah karena alasan apa aku diharuskan menghadapi situasi tanpa kekuatan dan kemampuan, aku justru berpikir bahwa aku bukanlah pahlawan seperti yang mereka perkirakan.
"Baiklah."
Berdiri dan berjalan mendekati Pak Iruma, aku melihat ada Kristal Sihir yang ditunjukkan olehnya dibalik setelan jas putihnya yang dipegang oleh tangan kanannya.
Berhenti di depannya, aku meletakkan tanganku di atas Kristal Sihir untuk memastikan apakah ada warna di dalamnya atau tidak.
"Ini..."
Seperti yang kuduga, ini memiliki dua warna di dalamnya yaitu Merah dan Biru, keduanya adalah warna yang bisa dikatakan cukup untuk mengetahui kemampuan dan kekuatan yang kumiliki.
Bagaimana aku bisa memiliki warna untuk menentukan energi sihir atau lebih tepatnya mana dalam tubuhku? Sederhana, aku akan menjelaskannya.
Pertama, aku telah menggunakan potion pendukung tertentu, Magic Potion (M), potion yang mampu membuat energi sihir di dalam tubuh seseorang yang tidak memiliki energi sihir sama sekali, aku telah mengkonsumsinya di waktu sebelum aku beranjak dari kamar.
Kedua, alasan aku sengaja menggunakan Magic Potion (M) adalah aku berpikir kalau potion itu memiliki tingkat yang sama dalam tingkat sihir menengah atau disebut sebagai Second Class yang merupakan hal yang cukup untuk ditempati olehku.
Bagaimana aku tahu sebelum aku mempelajarinya di Studi Sihir? Aku akan menjawabnya di jawaban ketiga.
Ketiga, aku mempelajari informasi-informasi dasar yang dibutuhkan seperti; dunia ini, cara kerja pada pahlawan, sistem level, tingkatan dalam sihir, jenis-jenis monster, semua telah aku ketahui dan pahami selama dua minggu.
Dengan kata lain, aku berpura-pura bodoh agar berpikir aku adalah pahlawan biasa yang belum mengetahui seluk-beluk dunia ini, tapi tanpa mereka duga, aku telah mengambil langkah baru yang inisiatif untuk mengetahuinya dengan sendirinya rahasia-rahasia yang perlu dipelajari dan dipahami.
"Apakah anda sudah meningkat sejauh ini, Tuan?"
"Ya, bisa dikatakan seperti itu."
Meskipun hari-hari yang kujalani cukup sulit; dibully di Kamp Pelatihan Prajurit oleh seorang ksatria kerajaan yang memperlakukan aku dengan buruk yang ingin membunuhku dalam pelatihan adu pedang satu sama lain, ketidaksukaannya terhadap keberadaan aku dalam berjalan bersama Silvaire, serta kecurigaannya terhadap hubungan kami berdua, semua itu adalah hal yang telah aku pelajari selama ini di dua minggu sebelumnya.
Walaupun aku selalu dibully oleh ksatria sialan itu, Khairul, aku tetap tidak membalasnya menggunakan sihir atau item pendukung dalam melukainya karena aku pikir itu tidak berguna untuk dilakukan.
Kalaupun aku melakukannya, aku mungkin akan dianggap sebagai pahlawan keji yang dengan mudah mampu membunuh orang lain, terutama salah satu ksatria kerajaan yang ada di Kerajaan Hando.
Yah, situasi itu cukup mudah untuk dipahami olehku jadi aku tidak terkejut atas apa yang akan terjadi nantinya jadi aku menahan diri sebaik mungkin agar tidak meluapkan emosiku dihadapan banyak orang.
Tapi sebagai gantinya, aku selalu melakukan perburuan di malam hari terhadap monster-monster yang ada di Beginning Forest, aku membabi buta serangan sihir dasar dan menengah atas kekesalan yang tidak tertahankan atas sikapnya yang licik dan menyebalkan terhadapku.
"Tunggu sebentar, Tuan!"
Oi, kenapa kau malah meninggalkan aku sendirian di Studi Sihir? Bukankah kau seharusnya mengajari aku hal-hal yang tidak diketahui?
Aku ingin mengatakan itu pada Pak Iruma, tapi sayangnya dia sudah lenyap dari tempatnya berada menuju keluar ruangan. Aku tidak tahu kenapa dia terlihat tergesa-gesa, apakah dia ingin melaporkan ini pada Yang Mulia, Raja sekaligus Ayah Silvaire ataukah dia ingin melakukan sesuatu padaku, aku hanya bisa menunggu dia kembali.
Kalau dipikir-pikir, aku tidak hanya membunuh para monster di Beginning Forest, aku juga mendaftarkan diri sebagai seorang petualang di Guild Petualang yang ada di Kota Hando yang berada di tingkat Bronze Adventure, tingkat terendah yang mendapatkan misi mudah setiap malam hari aku melakukannya.
Awalnya aku cukup sulit karena berita tentangku telah disebarkan, Resepsi Guild, seorang gadis berambut ***** berwarna merah muda, berseragam petualang antara hitam, putih, dan merah menolak aku untuk menjadi seorang petualang karena aku tidak diizinkan untuk melakukannya.
Memang aku kesulitan saat berdebat dengannya, tapi lama-kelamaan aku mencoba terus-menerus menekannya untuk mengatakan bahwa aku sengaja mendaftarkan diri untuk biaya tambahan dalam bertahan hidup agar aku tidak merepotkan keuangan istana, dia pun setuju dan memilih menjadikan aku petualang setelah memeriksa aku dengan Kristal Sihir.
Yah, lagipula misi-misi yang dijalani oleh petualang sepertiku sangat mudah untuk dilakukan, terutama adalah menghabisi monster yang ada di Beginning Forest, misi itu ingin aku membawa bukti bahwa aku telah mengalahkan mereka.
Mengenai biaya yang aku dapatkan, aku telah menyimpannya sedemikian rupa diluar Kerajaan Hando agar aku bisa bertahan hidup saat aku membutuhkannya. Apalagi jika aku benar-benar akan dilepaskan dari Kerajaan Hando untuk memberantas pasukan iblis, aku membutuhkan biaya tambahan, itu sebabnya aku meletakkan di Beginning Forest agar aku bisa sedikit demi sedikit mengumpulkan uang tanpa diketahui oleh siapapun.
•••••
"Maaf membuat anda menunggu, Tuan Pahlawan."
Iruma dan salah seorang gadis berambut coklat panjang bergelombang di bagian ujung rambutnya ikut bersamanya, berdiri di sisinya ketika dia berhenti di dekat papan tulis sambil menghadap Hiragaki.
Hiragaki yang memperhatikan sosok yang belum dikenalnya, memandangnya dan bingung atas siapa, mengapa, dan kenapa dia berada di sisi Iruma, Kepala Penyihir Kerajaan Hando yang bertugas di Studi Sihir untuk mengajarkannya tentang sihir dasar.
"Dia adalah...."
Mempersilahkan pada gadis berambut cokelat panjang yang bergelombang di ujungnya, gadis itu tersenyum pada Hiragaki, membungkukkan sedikit tubuhnya dan kembali tegap, memegang dadanya untuk memperkenalkan dirinya.
"Saya adalah Shiriona Hima, anda bisa memanggil saya dengan nama saya tanpa perlu formal."
"Baiklah, Shiriona. Senang berkenalan denganmu."
"Ya, saya juga senang bertemu dengan anda."
Berjabat tangan dengan Hima, Hiragaki tersenyum, begitupun dengan Hima yang ikut tersenyum pada Hiragaki yang senang bertemu dengannya.
Sejujurnya Hima adalah seorang anak bangsawan yang sengaja tidak bertemu langsung dengan Hiragaki di Aula Umum karena dia tahu bahwa dia tidak pantas untuk bertemu dengannya melainkan Airen-lah yang pantas mendapatkannya, karena dia adalah seorang pewaris tahta kerajaan yang akan diberikan oleh Raja, Hima yakin Airen yang bagus untuk disisinya.
"Dia adalah murid saya jadi saya mengajaknya untuk bertemu dengan anda. Apakah anda tidak keberatan?"
"Ya."
"Ngomong-ngomong Tuan Pahlawan, apakah anda mau bersama saya pergi ke halaman depan diluar istana?"
"Apakah kita akan melakukan sesuatu?"
"Ya. Saya ingin anda menunjukkan sihir pada saya karena saya ingin tahu sejauh mana anda mampu melakukannya."
Menurut Hiragaki, Iruma masih terlihat ragu atas dirinya yang memiliki mana di dalam tubuhnya untuk dapat menggunakan energi sihir yang dapat digunakan untuk peperangan maupun bertahan hidup.
Tapi, Hiragaki memakluminya karena dia tahu bahwa Iruma meragukannya untuk memastikannya dengan mata kepalanya sendiri agar bisa tahu sejauh mana Hiragaki memahami hal-hal dasar yang diajarkannya tadi di Studi Sihir untuk langsung dipraktekkan di lapangan.
"Baiklah."
Setelah mereka berjalan selama kurang lebih 15 menit, mereka bertiga tiba di Halaman Depan diluar Kerajaan Hando.
Terdapat dataran hijau yang luas, rumput-rumput yang tingginya semata kaki, bidikan yang melayang di udara dengan penampilannya yang mirip seperti balok es dengan warna merah yang memutar dengan tengahnya terdapat lingkaran kecil merah, serta beberapa sosok yang muncul di permukaan daratan hijau yang bergeser dari sisi ke sisi yang bergerak cepat benar-benar terlihat menyulitkan.
Apakah aku bisa melakukannya?
Memperhatikan gerakannya yang cepat dari sisi ke sisi yang terdapat sosok hitam yang terbuat dari kayu-kayu tipis berjumlah 5 sosok, Hiragaki merasa ini adalah tantangan sulit untuk seorang pemula sepertinya yang baru belajar sihir.
"Apakah anda bisa melakukannya? Jika anda kesulitan maka saya akan–"
"Tidak, aku bisa melakukannya."
"Benarkah?"
"Ya."
Iruma yang memperhatikan wajahnya yang penuh percaya diri, tersenyum pada tekad yang dimiliki Hiragaki.
Tidak seperti murid yang ada di dekatnya, Hima yang berlatih mulai dari hal-hal mudah hingga tersulit, Hiragaki justru ingin melakukan rintangan yang tersulit terlebih dahulu yang membuat Iruma penasaran atas hasilnya seperti apa nantinya.
Menghela dan menghembuskan nafas, Hiragaki memejamkan matanya sejenak, memfokuskan pandangannya yang terbuka pada sosok yang terus-menerus bergerak dari sisi ke sisi, dia tersenyum.
Aku sudah tahu pergerakan mereka.
Dengan membayangkan sihir apa yang akan digunakannya, Hiragaki membuka telapak tangan kanannya, memandangnya dengan fokus yang tinggi dan memusatkan mana yang dimilikinya di atas telapak tangannya membuat pusaran angin kecil dapat terlihat menari-nari di atas telapak tangannya.
Setelah berhasil mengeluarkan pusaran angin kecil yang menari-nari, Hiragaki menutupnya, menyimpannya dan mengubahnya menjadi sebuah pistol yang menggunakan tangannya yang di ujung jari telunjuknya terdapat lingkaran kecil berwarna hijau muda yang samar-samar menyala.
Satu... dua... tiga...
Bola angin yang muncul di jari tiba-tiba melesat dengan cepat layaknya sebuah tembakan yang langsung mengenai sasaran di tengahnya, lingkaran merah kecil membuat es yang mengambang retak lalu hancur dalam sekejap.
"Ini..."
"He-hebat sekali..."
Walaupun Hiragaki agak kurang yakin atas apa yang dilakukannya, dia benar-benar mampu membidiknya tepat sasaran.
Alasan mengapa Hiragaki menggunakan sihirnya layaknya sebuah pistol, dia tahu bahwa menggunakan sihir biasa maka tidak akan berefek apapun, sebaliknya, itu akan menyebabkan kelima sosok terkena oleh bola angin miliknya membuat sasarannya tidak dapat terkena, bahkan untuk ketiga sosok di belakang, Hiragaki berpikir itu akan berhenti di kedua sosok hitam di depannya.
"Bagaimana anda bisa melakukannya, Tuan?"
"I-itu..."
Hima yang berlari mendekati Hiragaki, dia memegang kedua tangannya dan menatapnya dengan tatapan bersinar terang, penasaran bagaimana cara dia melakukannya dengan baik.
Setahu Hima, Hiragaki adalah pemula dalam sihir jadi dia lebih senior paham bahwa tingkatan latihan yang diterapkan oleh gurunya, Iruma terbilang cukup sulit untuk seorang pemula sepertinya. Tapi sepertinya Hima salah memperkirakannya, alih-alih dia penasaran dan terkagum, Hima justru ingin mempelajarinya dari Hiragaki karena bagaimanapun juga dia belum pernah melihat sihir ditembakkan seperti itu tanpa merapal mantra panjang di mulutnya.
Hima sendiri yang sudah mencapai tingkat Second Class, dia tetap merapal mantra sihir yang panjang agar mendapatkan keefektifan dalam serangan sekaligus memperkuat serangan sihir dengan mudah, terkecuali gurunya, Iruma.
Bagi Iruma, merapalkan mantra sihir tidak diperlukan karena dia sudah berada di tingkat tertinggi, Legendary Class, tingkat yang mampu untuk seorang penyihir melenyapkan Legendary Monster maupun Special Monster dengan mudah, bahkan untuk satu kerajaan maupun kota dapat dilakukannya tanpa perlu merapal mantra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments