Ch. 10:Berpacaran

"Dimana ini..."

Dalam keheningan dan kesunyian, seorang pria berambut biru navy bangun dari tidurnya yang lama, pandangannya yang mengarah ke sekeliling membuat dia penasaran dimana dia dan apa yang terjadi sebelumnya.

Setahunya, dia telah diserang oleh pisau tajam di bagian perut kirinya membuat seluruh tubuhnya terasa sulit digerakkan, dingin, tidak mendengar apapun, dan penglihatannya yang gelap membuat dia yakin ini adalah dunia lain.

"Kau akhirnya sadar ya, Hiragaki!"

"Kau... bagaimana mungkin aku bisa..."

"Ada apa? Apakah kau berpikir kau pindah ke dunia lain?"

Masih sulit untuk dapat memahaminya, Hiragaki menatap telapak tangannya yang dibuka dan ditutup kembali yang dapat merasakan gerakan halus melalui jari-jarinya yang dimainkannya.

Mitsuki dan Yamaguchi yang berdiri di sisi kasur, kebingungan atas apa yang sebenarnya dipikirkan Hiragaki, teman mereka atas apa yang terjadi sebelumnya.

"Bagaimana aku bisa hidup kembali?"

"Sederhana, kau tidak mati maupun dihidupkan kembali, kau hanya dalam kondisi kritis sebelumnya."

"Kondisi kritis?"

"Ya."

Mitsuki menjelaskan pada Hiragaki kalau sebelumnya dia sedang mengalami kritis dimana ginjalnya hanya tersisa satu yaitu ginjal bagian kanan, karena tusukannya begitu tepat sasaran mengenai ginjal bagian kiri maka dokter terpaksa memotongnya dan melepaskannya daripada membiarkan itu menetap yang akan membuat Hiragaki terasa sakit.

Beruntung Hiragaki dapat selamat hanya dengan satu ginjal, ditambah ada orang yang mendonorkan ginjal padanya membuat dia kembali sehat seperti sedia kala.

"Hanya itu cerita yang bisa aku sampaikan."

"Bagaimana dengan Shirinsa?"

"Gadis ****** itu ya..."

Entah kenapa kata-kata Mitsuki yang terdengar dingin dan tajam, ekspresinya berubah menjadi benci atas ingatan tentang dirinya yang dipermainkan dan Hiragaki yang ingin dimiliki sepenuhnya, Hiragaki dapat merasakan atmosfer dari diri Mitsuki sedangkan Yamaguchi tidak peka terhadap hal tersebut.

"Dia secara kebetulan terkena pistol di bagian kaki kanannya. Tak hanya itu, dia juga memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri menggunakan pisau yang menusuk jantungnya saat tahu bahwa kau sudah tiada."

Mendengar penjelasan dari Yamaguchi bukan dari Mitsuki, Hiragaki meliriknya untuk memastikan apakah itu benar atau tidak, Mitsuki menghela nafas dan mengangguk sebagai jawaban "ya" padanya membuat Hiragaki terkejut mendengarnya.

"Dia berpikir kalau usahanya sia-sia saat kau telah tiada jadi dia memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri, benar-benar gadis yang menyedihkan."

Bahkan Mitsuki yang melihatnya secara langsung di dekat Hiragaki, tidak menyangka bahwa gadis itu rela melakukan apapun demi mendapatkan Hiragaki, tapi berakhir bunuh diri saat dia telah mengetahui kesalahannya saat menyerang dan melukai tubuh bagian kiri Hiragaki.

"Tapi, aku iri pada keberuntungan dan keberanian dirimu ya, Hiragaki. Kau yang langsung menerjang masuk hanya dengan perisai mampu menembus pertahanan lawan dan mampu menghindari serangan tembakan dari mereka."

"Entahlah... aku sendiri tidak yakin atas hal tersebut."

Terlepas dari apakah itu beruntung atau tidak, Hiragaki yakin bahwa sebelumnya Shirinsa ingin dia tidak melukai dirinya yang artinya aba-aba untuk membiarkan Hiragaki masuk adalah perintah mutlaknya, setidaknya itu yang dia perkirakan selama insiden itu terjadi sebelumnya.

"Apakah Yawagusa baik-baik saja?"

"Ya, dia baik-baik saja. Meskipun awalnya dia mengalami trauma dan shock berat atas apa yang terjadi, perlahan-lahan dia sudah mulai membaik berkat dokter psikis yang membantunya kembali untuk menenangkan dirinya."

"Syukurlah."

Satu-satunya hal yang dikhawatirkan oleh Hiragaki bukanlah teman maupun dirinya, dia hanya ingat bahwa Shirinsa mengatakan padanya tentang hal-hal buruk yang dialami oleh Yawagusa selama dia disekap dan diculik olehnya seperti; pelecehan, pemerkosaan, serta penganiayaan dapat terlihat jelas di tubuhnya dan pakaiannya.

Saking mengingat itu atas apa yang terjadi pada Yawagusa, Hiragaki tidak dapat menahan kesedihannya yang membuat Mitsuki dan Yamaguchi terkejut atas tangisan lemah yang tak berdaya dari teman mereka.

"Hiragaki...."

"Apakah kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja selama Yawagusa sudah baikan."

Baginya, keselamatan Yawagusa adalah prioritas utamanya.

Ketika dia sedang dalam ketakutan, Hiragaki terus-menerus memikirkan kondisi Yawagusa yang membuat tubuhnya bergerak sendiri untuk mengambil perisai dari salah seorang tentara untuk digunakannya dan menerjang masuk ke dalam agar menemukan Yawagusa yang disekap oleh Shirinsa.

Semua kekuatannya bisa dikatakan berdasarkan dari kecemasan Hiragaki terhadapnya.

"Mari kita pergi, Yama!"

"Ya, kau benar."

Tidak tahan memperhatikan kesedihannya, mereka berdua memutuskan untuk membiarkan Hiragaki mengeluarkan tangisannya dengan nada pelan sendirian agar dia merasa lebih baikan di waktu berikutnya.

•••••

"Bagaimana kondisi Shirenzo?"

"Dia sudah baikan."

"Syukurlah."

Di dalam kamar yang jauh dari tempat Mitsuki dan Yamaguchi, Yawagusa sedang menghubungi mereka melalui panggilan suara menggunakan ponselnya yang cemas atas kondisi Hiragaki.

Menurut Yawagusa, dia sudah baikan sejak sebulan lalu saat Hiragaki datang untuk menyelamatkannya. Tak hanya Hiragaki, Mitsuki dan Yamaguchi juga berperan penting dalam menyelamatkannya membuat Yawagusa bersyukur pada kepedulian mereka terhadap dirinya.

Tapi, paling utama dan terpenting adalah keberanian yang dimiliki oleh Hiragaki, Yawagusa penasaran darimana datangnya keberanian di dalam diri Hiragaki untuk berani bertindak dalam menyelamatkannya. Alasan Yawagusa bisa tahu tidak lain ialah Mitsuki yang menjelaskannya saat mental Yawagusa sudah kembali ke kondisi normal.

"Kau sendiri bagaimana, Yawagusa? Apakah kau sudah baikan?"

"Ya, aku sudah membaik."

Walaupun Yawagusa yang sudah kembali normal mentalnya, dia tetap tidak menyangka bahwa dia harus memberikan keperawanannya pada pria lain yang tidak disukainya maupun dikenalnya melainkan hanya pria bejat yang sengaja melakukannya membuat dia terpaksa menyerah tanpa perlawanan.

Meskipun pria itu sendiri juga disuruh oleh gadis yang dia tidak kenali, Yawagusa hanya tidak bisa memaafkannya karena telah melakukan tindakan buruk pada dirinya sendiri.

"Baguslah."

Mitsuki tiba-tiba terdiam sejenak, merenungkan atas kesalahannya yang telah membiarkan Yawagusa terlibat dalam urusan kali ini.

Jika dia tidak mengikuti dan menemui Shirinsa, Yawagusa mungkin tidak akan terlibat sejauh ini yang membuat mentalnya hancur berantakan seperti sebulan yang lalu.

"Maaf jika aku telah membiarkan dirimu terlibat. Sungguh, aku menyesal atas apa yang terjadi."

"Tidak apa-apa, Mitsuki. Aku senang bahwa aku masih hidup, selain itu kamu tidak bersalah melainkan gadis yang menculik aku adalah orang yang bersalah atas semuanya."

"Ya, kau benar."

Menutup panggilan darinya, Yamaguchi yang melihat ke Mitsuki membuatnya yakin dia sedang memikirkan pertanyaan untuknya atas pembicaraan yang mereka lakukan sebelumnya, karena Mitsuki tidak membiarkan speaker aktif saat panggilan suara sedang berlangsung.

"Dia baik-baik saja dan menanyakan kabar tentang Hiragaki."

"Hanya itu?"

"Ya. Dia juga menambahkan bahwa kita telah menyelamatkannya jadi dia berterimakasih pada kita."

Mendengar kata-katanya, Yamaguchi bersorak penuh kesenangan, berpose kemenangan yang membuat Mitsuki menggelengkan kepalanya, pusing atas tingkah laku konyol dari temannya sendiri.

"Baiklah, aku rasa aku akan menyerahkannya padaku, Mitaki."

"Mau kemana kau, Yama?"

"Aku ingin kembali ke rumah untuk beristirahat."

Memperhatikan punggung Yamaguchi, Mitsuki tersenyum tipis pada kebaikannya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan yang dimilikinya dalam membela yang lemah, meskipun cara Yamaguchi menyelesaikannya sangat adil tanpa memihak siapapun, Mitsuki beruntung bahwa dia memiliki teman sepertinya.

Apalagi dia yang memiliki sikap sosialita membuat Mitsuki yakin bahwa Yamaguchi adalah pria yang bisa menjamin masa depan melalui hubungan pertemanan.

•••••

Hiragaki POV

Aku tidak menyangka bahwa Mitaki akan melakukan seluruh upayanya untuk menyelamatkan Yawagusa, teman kami di masa SMA.

Mulai dari mengerahkan beberapa pasukan tentara yang dimilikinya, mengundang Yama untuk mengajak grupnya, beberapa anggota kepolisian yang ikut membantu mengevakuasi Yawagusa, serta helikopter yang sengaja diterbangkan oleh dua kompi tentara yang melihat-lihat benar-benar terbilang cukup mengerikan dan menakutkan.

Jika aku menjadi musuh bagi Mitaki, aku mungkin akan bernasib sama seperti Shirinsa, tapi untungnya aku adalah temannya jadi aman untukku tidak mengalami nasib serupa seperti yang terjadi pada Shirinsa sebelumnya.

"Shirenzo!"

Secara tak terduga, Yawagusa datang membuka pintu dan berlari mendekati aku yang sedang duduk di kasur pasien.

Ekspresinya yang terlihat khawatir pada kondisiku, serta air matanya yang terlihat membasahi pipinya, aku yakin dia sedang memikirkan aku selama dia tidak menjenguk aku.

"Apakah kamu sudah baikan?"

"Ya, aku sudah baikan."

Sudah sekitar satu bulan penuh, aku berhasil menjalani terapi jalan selama ini. Ada pantangan yang tidak boleh kulakukan seperti; begadang tiap malam, makan-makanan pedas dan minum-minuman dingin sekaligus, serta tidak boleh telat makan adalah hal yang harus aku ingat selama ini.

Meskipun aku sudah memiliki satu ginjal berkat orang yang mendonorkan ginjalnya padaku, tetap saja itu masih akan berefek jika aku memaksakan kondisiku selama ini tanpa mengkhawatirkan tubuhku yang masih pemulihan untuk sementara waktu sebelum jahitan dan lukanya sepenuhnya tertutup.

Huh... benar-benar merepotkan.

"Hei Shirenzo, terimakasih atas bantuan darimu!"

"Aku tidak melakukan apapun, Mitaki-lah yang berjasa atas semuanya."

Itu benar.

Jika aku terpancing oleh amarah dan tidak dapat disadarkan oleh kata-kata Mitaki, aku mungkin akan berakhir dalam jebakan Shirinsa yang dapat menghancurkan persahabatan kami selama ini dengan mudahnya.

Tak hanya persahabatan, aku mungkin akan dijadikan sebagai milik Shirinsa sepenuhnya karena dia begitu antusias untuk memiliki aku tanpa menyakitiku seperti yang kulakukan sebelumnya.

"Ya, mungkin kamu benar bahwa Mitsuki adalah orang yang berjasa di atas segalanya. Tapi kamu sendiri juga berjasa untukku, Shirenzo, kamu telah memberanikan diri untuk masuk ke dalam, menyelamatkan aku lalu membiarkan tubuhmu terluka parah karena aku."

Sejujurnya aku melakukannya karena aku juga tidak mengerti atas apa yang kulakukan. Setahuku, aku melakukannya untuk menyelamatkan Yawagusa dan memberikan pelajaran pada Shirinsa, tapi siapa sangka aku malah berakhir terluka parah berkat tusukannya yang dalam menembus salah satu ginjal milikku.

"Aku senang kamu masih hidup dan selamat."

Memelukku dengan erat, Shirinsa kembali menangis.

Aku tidak tahu harus bagaimana, haruskah aku memeluknya atau membiarkan dia memelukku dengan erat, aku bingung dalam situasi seperti sekarang.

"Terimakasih dan maafkan atas kesalahan aku karena kamu jadi terluka parah seperti ini."

Tidak, dia tidaklah salah, Shirinsa-lah yang sepenuhnya disalahkan.

Dia yang terlalu terobsesi padaku menginginkan aku sepenuhnya yang membuat dirinya berakhir di jalan yang salah, jalan yang membuat kami menjadi musuhnya sekaligus berakhir tragis atas kesalahannya sendiri yang telah melukai aku dengan fatal, membuatnya bunuh diri.

"Kau tidaklah salah, Yawagusa melainkan Shirinsa-lah yang seharusnya disalahkan."

Mengelus punggungnya dengan perlahan-lahan, aku tahu rasa sakit dan bersalah yang dimiliki oleh Yawagusa.

Seharusnya aku yang mengatakan minta maaf karena telah merepotkan dirinya yang terlibat dalam urusan yang seharusnya dia tidak terlibat di dalamnya, tapi karena dia mengatakannya, aku enggan untuk mengakuinya dan memilih untuk menenangkan emosinya yang terus-menerus menyalahkan dirinya agar dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Setiap orang pasti memiliki kelemahan sendiri.

Bahkan aku, pria yang selalu ramah dan baik terhadap orang asing, tergantung dari sikap dan tindakan mereka kepadaku. Jika mereka berbuat baik terhadapku, aku akan melakukan hal serupa, sebaliknya, jika mereka memperlakukan aku dengan buruk, aku juga akan melakukan hal serupa seperti yang mereka lakukan terhadapku.

Singkatnya, aku terlihat seperti cermin. Tergantung dari siapa yang berkaca, jika orang itu tampan maka tampan, jika orang itu jelek maka jelek, sesuatu seperti itulah yang aku artikan dalam kehidupan sehari-hari.

"Hei Shirenzo, bisakah aku berbicara denganmu?"

"Ya."

Dia yang melepaskan pelukannya membuat aku bingung atas apa yang akan dia bicarakan terhadapku.

Apakah sesuatu yang penting atau tidak, aku akan mendengarnya sepenuh hati untuk mengetahui apa yang dipikirkannya.

"Maukah kamu menjadi pacarku?"

"Eh..."

Pacar? Tunggu! Bukankah itu terlalu cepat?

Kalau aku dan Yawagusa berpacaran, apakah itu akan baik-baik saja terhadap pertemanan kami, para otaku selama ini tanpa ada satupun dari mereka pacaran.

Aku takut mereka akan iri dan benci padaku karena aku telah lulus dari status jomblo selama ini membuatku merasa bingung untuk menjawabnya.

"Bagaimana menurutmu, Shirenzo? Apakah kamu mau menerimaku?"

"I-itu..."

Sial. Aku harus segera mengatakannya. Jika tidak, aku takut akan menyakiti Yawagusa nantinya yang dapat membuat dia sakit hati yang akan berakhir sama seperti Shirinsa.

"Baiklah, aku terima."

Hanya itu yang bisa aku simpulkan melalui diriku sendiri.

Kekuatan dan keberanian yang berhasil kudapatkan, aku sepenuh yakin bahwa aku tidak ingin membuat Yawagusa terluka maupun berakhir seperti diriku, itulah mengapa aku datang langsung ke dalam ruangan, melukai diriku sendiri, dan membiarkan aku berakhir seperti sekarang, semuanya adalah karena aku menyukainya.

Mungkin saja itulah yang dapat menjadi alasan aku seperti orang yang berbeda dari biasanya.

"Terimakasih!"

Sekali lagi, dia memelukku dengan erat.

Rasa dari sentuhan kenyal yang ada di dadanya membuatku tidak bisa tenang karena itu terasa aneh saat menyentuh tubuhku, tapi aku mencoba menenangkan diri dan melupakannya karena itu tidak sopan untukku berpikir mesum dalam situasi seperti sekarang.

Membalas pelukannya, aku mengelus punggungnya dengan perlahan-lahan dan tersenyum.

"Aku juga berterimakasih padamu, Yawagusa. Berkatmu, aku memiliki keberanian dalam mengatasi ketakutan yang selama ini ada di diriku."

Meskipun ketakutan itu adalah kematian, aku tidak menyesal karena aku telah bertindak gegabah dan ceroboh dalam menyelamatkannya, itulah apa yang membuatku merasa sepenuhnya berbeda dari diriku yang lama.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!