Ch. 1:Undangan Mendadak

Hiragaki POV

Ini bohong kan?

Melihat ke arah keranjang yang berantakan yang terdapat banyak celana Hawai yang tidak tertata rapih, aku hanya bisa mengepalkan kedua tangan karena rasa kesal dan benci atas apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa waktu yang lalu, aku tiba di pekerjaan. Setelah beristirahat yang cukup, aku melihat Tenra, pria yang tidak kusukai menjaga konter aku bekerja.

Senyumnya terlihat sangat mencurigakan yang membuat aku bertanya mengapa dia terlihat senang dan bahagia, namun semuanya telah terjawab sekarang.

Mengapa mereka melakukan sesuatu seperti ini? Mungkinkah mereka berniat balas dendam atas apa yang kulakukan pada mereka sebelumnya?

Memang aku pernah melakukan suatu tindakan yang terlalu jauh pada perbuatan dari kelompok brengsek yang selalu melakukan suatu kejahatan terhadap aku. Membully, menuduh, mengotori nama, serta mengotori reputasi aku, semuanya aku tahu dari kebusukan akal dan sikap mereka terhadap aku.

Sejak aku diperlakukan buruk oleh mereka, aku berencana untuk membalas perbuatan mereka. Mengambil smartphone untuk merekam, foto, atau bahkan video, semua kulakukan demi mendapatkan bukti agar aku bisa terbebas dari pencemaran nama baik aku maupun harga diriku yang terinjak-injak oleh mereka.

Hasilnya dapat diketahui, mereka yang terbukti bersalah harus diliburkan selama seminggu maupun dua minggu, dan dipotong gaji selama mereka libur merupakan keputusan yang tepat.

Yah, walaupun Kepala Toko dan Wakil Kepala Toko tidak mempercayai aku, tapi setidaknya ada bukti, mereka dapat mempercayai apa yang aku katakan. Aku masih bersyukur atas keadilan mereka terhadap orang-orang jahat seperti mereka.

"Huh...."

Menyedihkan sekali.

Setelah aku berhasil membuat mereka mengakui perbuatan salah, mereka justru ingin membalas dendam atas apa yang pernah kulakukan terhadap mereka. Tentunya aku tidak akan tinggal diam mengetahui apa yang mereka lakukan sekarang.

Terlepas dari siapa mereka, aku lebih memilih untuk membuat perhitungan yang cukup matang atas perbuatan mereka padaku sekarang. Walaupun mereka tidak melakukannya langsung terhadapku, itu tetap membuatku merasa seperti mereka sengaja melakukan ini untuk menambah beban pekerjaan yang kulakukan sekarang.

Sial. Lupakan masalah mengenai kelompok brengsek. Akan lebih baik jika aku fokus pada pekerjaan dan melayani konsumen seperti biasa untuk menghindari masalah lain yang akan menanti aku.

Waktu berlalu sangat cepat. Suasana yang tadinya sepi di konter aku bekerja, sekarang menjadi ramai dipenuhi oleh pengunjung.

"Lihat ini, Sayang!"

"Apakah kamu ingin membelinya?"

"Ya."

"Bukankah itu terlihat cantik untuk dikenakan sebagai celana buat dalaman?"

"Kamu benar."

Kebanyakan dari pengunjung yang sedang ada di konter ialah sepasang kekasih, sekelompok wanita, serta beberapa para pria yang sedang melihat-lihat tanpa mengatakan apapun yang membuat aku merasa senang atas kehadiran mereka.

"Permisi, bisakah aku tanya celana ukuran 3/4?"

"Celana ukuran 3/4 ya."

Kalau tidak salah, aku rasa celana itu masih ada, namun celana yang dicari kemungkinan besar berbeda dari celana yang ditunjukkan olehnya padaku tadi.

"Ada. Akan tetapi, celana 3/4 seperti ini. Apakah tidak apa-apa, Pak?"

"Biar kulihat dulu!"

Aku harap dia menyukainya.

Jika dia menyukainya, ada kemungkinan kalau dia akan membelinya. Sebaliknya, jika dia tidak menyukainya, dia akan memilih untuk pergi tanpa tertarik pada celana yang aku tunjukkan padanya tadi.

"Apakah hanya ada warna ini?"

"Tidak, ada banyak warnanya."

"Ini dia!"

Menunjukkan padanya celana yang aku tunjukkan tadi, pria itu merasa tertarik untuk melihat-lihat terlebih dahulu.

Akan lebih baik jika aku membiarkan dia memilihnya terlebih dahulu. Kalau tidak, aku hanya akan terlihat memaksanya yang akan membuatnya tidak nyaman sehingga dia pergi begitu saja.

"Apakah ada celana bola?"

"Celana bola ya."

Mengingat letak dimana celana bola berada, aku mencoba untuk mencarinya terlebih dahulu.

Celana bola berada di keranjang yang cukup jauh dari celana Hawai. Mereka biasanya berada di bagian celana basket maupun celana olahraga yang sengaja aku pisahkan agar aku tidak kebingungan mencarinya.

"Ada. Celana bola di bagian sebelah sana!"

Menunjukkan ke arah ranjang yang cukup jauh, kedua pria berjalan ke ranjang yang aku tunjukkan tadi.

•••••

Di konter bagian busana dewasa, ketiga pria melihat keramaian yang ada di celana Hawai.

Ekspresi mereka terlihat jengkel dan kesal atas keramaian yang ada di konter tersebut. Terlepas dari keramaian, mereka juga melihat banyak sekali orang-orang yang datang berkunjung ke konter celana Hawai membeli banyak celana dari beberapa orang yang membuat mereka merasa kalau usaha yang telah mereka lakukan menjadi sia-sia.

Awalnya mereka berpikir kalau menghancurkan pekerjaan Hiragaki akan membuat dia menjadi emosi. Ketika Hiragaki emosi, ada kemungkinan kalau dia tidak akan ramah terhadap konsumen yang dapat menyebabkan dia mendapat surat peringatan pertama atas apa yang dia lakukan di pekerjaannya.

Namun, usaha mereka tidak membuahkan hasil. Hiragaki yang mampu mengendalikan dan mengontrol emosi membuat mereka merasa kalau mereka telah dipermalukan olehnya secara tidak langsung. Dalam pikiran mereka, mereka membayangkan kalau Hiragaki tertawa di belakang mereka atas perbuatan yang sia-sia dari apa yang dilakukannya pada Hiragaki.

"....."

Memandang ke arah ketiga pria, senyum muncul di bibir Hiragaki. Senyum yang menunjukkan kesenangan dan kepuasan atas apa yang dilakukan Hiragaki sekarang ditunjukkan pada mereka, para pencari masalah yang sedang melihatnya.

Alasan sebenarnya Hiragaki memasang senyum ialah memberikan pernyataan kalau dia telah berhasil dan menang dalam menangani emosi miliknya terhadap mereka. Tak hanya itu, alasan lain mengapa Hiragaki sengaja ditunjukkan pada mereka ialah mendeklarasikan kalau perang baru saja dimulai.

"Berani-beraninya dia...."

"....."

Mengabaikan ekspresi Tenra, Hiragaki kembali melayani konsumen satu-persatu hingga akhirnya tidak ada satupun konsumen di konternya berada.

Malam akhirnya tiba. Hiragaki yang telah menyelesaikan pekerjaannya bergegas untuk pulang ke rumah. Dalam perjalanan, dia mengangkat tangannya sedikit menandakan kalau dia telah berhasil memenangkan keributan yang dilakukan oleh kelompok masalah tadi.

Seperti yang Hiragaki perkirakan, mereka melakukan sesuatu pada pekerjaannya sebagai sarana untuk membalas dendam padanya. Kalau misalnya Hiragaki ikut emosi dan jengkel, dia tidak akan bisa melayani konsumen dengan senyuman dan keramahan seperti biasanya yang hasilnya dapat dipastikan kalau dia akan mendapatkan surat peringatan dari toko tempat dia bekerja sekarang.

"Besok hari libur ya."

Menatap tanggal dan hari yang ada di layar smartphone, Hiragaki mencoba mengingat hari apa besok.

Selain hari libur, Hiragaki juga diharuskan untuk menghadiri acara event yang telah mereka janjikan sebelumnya. Event yang diadakan sama seperti event yang ada di tiap tahun. Mulai dari cosplayer, merchandise, restoran anime, panggung, serta beberapa game yang seringkali muncul dalam event di tiap tahunnya membuat suasana menjadi meriah dan ramai di kunjungi oleh semua orang.

Aneh sekali ya.

Dalam diam yang cukup panjang, Hiragaki kembali memikirkan masalah yang dialaminya dengan kelompok pria tadi, kelompok pembuat kekacauan.

Menurut Hiragaki, mereka adalah kelompok yang merepotkan untuk diajak berbicara maupun kerjasama. Selain karena mereka benci dan dendam pada Hiragaki, mereka juga menyukai orang yang sama yaitu Shirinsa Nao.

Shirinsa Nao ialah wanita yang seangkatan dengan Hiragaki sewaktu dia bekerja di toko baju ini. Sikapnya yang baik, peduli, penolong, ramah, dan rendah hati membuat kelompok pria atau semua pria merasa senang atas sikap Shirinsa yang sangat baik terhadap siapapun orangnya.

Sebenarnya Hiragaki hanyalah teman bagi Shirinsa Nao. Dia yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan siapapun membuat Shirinsa mendekati dirinya dan berbicara dengannya sehingga membuat Hiragaki merasa nyaman dan tenang apabila berada di dekatnya. Namun, Hiragaki tahu kalau dia menyukai Shirinsa, dia sama seperti menggali kuburannya sendiri.

Tidak hanya kelompok pria yang menyukai Shirinsa Nao, tapi juga pria-pria lainnya juga ikut menyukainya seperti Majime maupun Supervisor Area lainnya yang ikut bersaing dalam memperebutkan Shirinsa demi diri mereka sendiri.

Kalau dipikir-pikir, aku tidaklah terlalu tampan dan bagus dalam segi atletik. Tapi, mengapa dia melihat ke arahku terus setiap hari?

Mengingat kembali ke kejadian yang tidak terlalu lama, Hiragaki membayangkan apa yang terjadi saat waktu dia masih belum terlalu mengerti dengan kondisi yang dialaminya sekarang.

"Maaf apabila merepotkan dirimu ya, Shirinsa."

"Tidak apa-apa, Shirenzo. Aku hanya melakukannya demi membantu dirimu."

Sikap Shirinsa yang ramah dan rendah hati membuat Hiragaki bertanya-tanya mengapa dia bisa ada di toko baju ini.

Terlepas dari banyaknya pengamatan yang Hiragaki lakukan, karyawan dan karyawati di toko baju ini terbilang tidak cukup ramah. Mereka tidak menampilkan senyum, keramahan, kepedulian, serta pertolongan yang mereka lakukan terhadap konsumen membuat Hiragaki bertanya mengapa mereka menetap di toko ini, sedangkan mereka yang rajin justru berakhir menyedihkan dan mengerikan yang dilakukan oleh para atasan mereka.

Tidak seperti kebanyakan karyawan dan karyawati, Shirinsa tidak memiliki sikap seperti itu. Walaupun banyak orang yang memperlakukan Hiragaki secara kasar dan buruk dengan menyuruhnya untuk melakukan apapun yang tidak seharusnya dia lakukan, Shirinsa tidak pernah melakukan sesuatu yang buruk pada Hiragaki. Sebaliknya, Shirinsa justru membantu dan menolong Hiragaki agar dia dapat memahami pekerjaannya dengan sabar dan tenang tanpa ada sikap buruk dari dirinya pada Hiragaki.

Aku masih tidak mengerti dengan apa yang dilakukannya. Bukankah seharusnya dia melirik ke arah orang lain seperti Majime dan Kirishima? Mengapa dia harus melirik ke arahku terus-menerus setiap hari?

Masih dalam ingatannya, Hiragaki tahu betul kemana arah perginya tatapan mata Shirinsa sewaktu dia dan Shirinsa masuk di shift yang sama.

Ketika Hiragaki bekerja di konter yang sama, konter celana Hawai, dia secara tidak sengaja melihat ke konter sepatu, konter dimana Shirinsa berada. Di konter sepatu, Shirinsa melihat ke arah Hiragaki dengan ekspresi tersenyum dan mata yang fokus padanya.

Awalnya Hiragaki kebingungan dengan apa yang dilihatnya dari dirinya sendiri. Secara tidak langsung, Hiragaki sadar kalau dirinya bukanlah pria yang tampan maupun atletik seperti pria-pria lainnya di toko ini. Hiragaki hanyalah seorang pria biasa yang memiliki hobi Otaku dan tidak memiliki kelebihan lainnya dalam bidang apapun. Itulah sebabnya dia sadar akan posisinya daripada merasa percaya diri yang akan membuat dirinya hancur, Hiragaki memilih untuk memandang dirinya secara nyata dan penuh kesadaran.

Lupakanlah. Kalau aku terus memikirkannya, aku hanya akan merenungkan apa yang dia lihat dari diriku.

Menyudahi pemikirannya, Hiragaki masuk ke dalam rumahnya sendiri.

Di dalam rumah, suasana terasa sepi dan sunyi. Tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan seseorang maupun keluarganya melainkan hanya dia seorang diri.

"Aku pulang!"

Meletakkan sepatunya, Hiragaki berjalan menuju ke kamar dan bergegas untuk mengganti pakaiannya dan mandi.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!