"Selamat atas dirimu yang telah berhasil lepas dari status jomblo ya, Hiragaki."
"Berisik! Ini semua karena kebetulan aku menyukainya, dia pun sama."
Tersenyum pada kekesalan Hiragaki, Mitsuki sengaja mengejeknya seperti itu karena dia yakin bahwa Yawagusa adalah pilihan yang tepat untuk Hiragaki.
Terlepas dari Shirinsa yang ingin sekali memanfaatkan dirinya dengan menjadikan Hiragaki miliknya, Mitsuki berpikir itu akan menjadi masa depan buruk jika itu terjadi pada sahabatnya. Berbeda dengan Shirinsa, Yawagusa adalah pilihan terbaik untuk Hiragaki.
Sifatnya yang membela orang-orang tak berdaya dalam keadilan yang dijunjung tinggi, kepercayaan yang sudah ada sejak lama saat Yawagusa mengenal dirinya, Yamaguchi, dan Hiragaki, serta kebaikannya dalan memperlakukan temannya, Hiragaki adalah satu-satunya yang benar-benar Mitsuki ingin Hiragaki merasakannya.
"Jadi, apakah kau hanya ingin mengatakan itu padaku?"
"Tidak, ada hal lain yang ingin kukatakan."
"Apa?"
Membenarkan kacamata miliknya, kilatan cahaya yang terpantul di kacamata Mitsuki yang mengarah pada Hiragaki.
"Mengenai biaya rumah sakit, kau tidak perlu membayarnya maupun dipotong gaji dari pekerjaanmu."
"Apakah kau yakin?"
"Ya, aku yakin karena aku telah membuat Yawagusa menjadi korban atas kesalahan aku sebelumnya."
"Tidak-tidak, akulah yang seharusnya salah. Jika Shirinsa tidak mengenal aku, kalian tidak mungkin menjadi korban bukan?"
Menghela nafas atas kata-kata Hiragaki, Mitsuki tentu paham atas maksudnya.
Maksud Hiragaki, dia adalah awal penyebabnya atas Shirinsa yang memiliki ambisi untuk memiliki dirinya sepenuhnya membuat mereka menjadi korban, semuanya tentu dapat dipahami oleh Mitsuki.
Tapi satu-satunya hal yang tidak bisa Mitsuki biarkan adalah gaji Hiragaki yang terpotong maupun beban yang dimilikinya dalam mengganti rugi atas biaya perawatan dan operasi salah satu ginjalnya membuat kehidupan Hiragaki sulit nantinya, dia tidak tega melakukannya.
"Tidak apa-apa. Kau adalah temanku jadi kau tidak perlu mengganti rugi maupun dipotong gaji."
"Baiklah. Terimakasih atas kebaikanmu dan maaf apabila aku selalu merepotkan dirimu."
"Jangan khawatir, selama kau masih mempercayai aku, aku akan selalu membantumu kapanpun kau dalam kesulitan."
Mendengar kata-katanya, Hiragaki tersenyum tulus padanya, begitupun Mitsuki yang memandangnya penuh percaya diri dan tersenyum juga padanya membuat mereka berdua saling memandang sejenak sambil berbincang-bincang mengenai hal-hal lain tentang hobi mereka.
•••••
Hiragaki POV
Setelah badai berlalu, aku pun mendapat kebahagiaan sendiri.
Memiliki pacar baru yang tidak pernah terlintas dalam benakku, aku bersyukur ada orang yang peduli terhadapku selain dari teman-teman, Yawagusa adalah orang yang benar-benar tahu sifat dan tindakanku.
Kalau dipikir-pikir, aku tidak merasakan ini sebelumnya tentang bagaimana memiliki seorang pacar di dunia nyata, aku belum pernah sejauh itu dalam membayangkan hal-hal yang mustahil. Tapi siapa sangka aku malah memilikinya, benar-benar takdir tak terduga untukku.
Yah, untuk sementara waktu aku diberi cuti kerja untuk sementara waktu hingga aku sepenuhnya pulih agar dapat kembali bekerja nanti. Tak hanya cuti kerja, aku juga diberikan keringanan oleh Mitaki untuk mengganti biaya perawatan dan operasi salah satu ginjal aku tanpa memotong gaji aku, dia benar-benar kawan yang bisa diandalkan dan baik.
Kalau aku adalah seorang gadis, aku mungkin sudah jatuh cinta pada kebaikan dan keramahannya atas kepeduliannya terhadapku. Sayangnya aku adalah seorang pria, aku hanya menganggap dia adalah kawan yang benar-benar lebih peduli melebihi Yama.
"Baiklah. Waktunya bagiku untuk tidur dan memulai aktivitas di keesokan harinya dengan membaca novel."
Memikirkan hal yang berlalu sudah tidak penting jadi aku menggantinya dengan memikirkan masa depan, masa yang akan datang atas hubungan kami berdua.
Akankah kami dapat bertahan hingga pernikahan tiba atau tidak, aku sungguh tidak tahu atas takdir yang menanti hubungan antara aku dan Yawagusa di masa depan.
"Bangunlah, Tuan! Bangunlah, Tuan!"
Suara siapa ini? Kenapa berisik sekali? Apakah dia memanggilku Tuan?
Setelah terlelap tidur, aku membuka mata dan melihat ke sekeliling yang terlihat berbeda dari kamar pasien yang aku tempati sebelumnya.
Bisa dikatakan ruangan ini cukup besar, mewah dan indah untuk dilihat. Mulai dari; furniture kayu yang terbilang bagus, bingkai foto yang terdapat suatu keluarga yang berpakaian di abad pertengahan, serta tempat tidur yang aku tempati memiliki kanopi benar-benar terlihat berbeda dari apa yang aku lihat sebelumnya.
Apakah aku masih bermimpi?
"Aduh... sakit sekali."
Tidak, ini bukanlah mimpi.
"Akhirnya kamu sadar ya, Tuan."
"Whoa!"
Secara mengejutkan, seorang gadis berambut putih panjang dengan perawakan cantik, berpakaian mewah dan elegan, serta berkulit putih tersenyum padaku.
Aku tidak tahu siapa dia, mengapa dia berada di kamar ini, dan kenapa aku bisa terjebak di dalam ruangan yang tidak kukenal, aku benar-benar bingung dalam kondisi seperti ini.
Satu-satunya hal yang mungkin dapat disimpulkan adalah aku dipindahkan ke dunia lain, hanya itu jawaban yang tersisa. Tapi, aku tidak mau mengambil kesimpulannya terlalu cepat jadi aku putuskan untuk membiarkan dia menjelaskannya padaku terlebih dahulu daripada kegirangan atas tubuhku yang dipindahkan ke dunia lain.
"Dimana ini? Siapa kau? Apa yang terjadi padaku?"
Sip. Dengan ini aku penasaran atas apa jawabannya nanti, aku akan menunggu dia menjawabnya dengan segera.
"Anda berada di Kerajaan Hando, Ibukota Hando. Aku adalah Silvaire Airen, putri dari ayahku, Yang Mulia yang memimpin Kerajaan Hando sekaligus orang yang telah memanggilmu kemari. Itu sebabnya kamu berada di kamar ini karena kamu sedang tertidur saat dipanggil olehnya sebelumnya."
Sial. Itu artinya dia menculik aku ketika aku sedang tertidur?
Gawat, apa yang harus kulakukan? Kalau ini benar-benar ada dalam skenario fantasi yang seringkali dibaca olehku sebelumnya, harusnya aku tersadar dan salam hormat padanya, tapi aku malah tidur.
Benar-benar tidak ada harapan atas tidurku yang nyenyak.
"Apakah ada masalah, Tuan?"
"Tidak, tidak ada apa-apa."
Sejauh ini aku telah memahami kondisinya, tapi satu hal yang masih perlu diselidiki adalah mengapa aku yang seharusnya dipanggil.
Setahuku, orang lain seharusnya bisa memenuhi kriteria dalam pemanggilan pahlawan seperti Mitaki, Yama, dan Yawagusa yang kehadirannya lebih tinggi dalam bertahan hidup, aku sendiri justru jauh dari kata hebat dan kuat.
Tapi, aku sendiri tidak tahu akan seperti apa di dunia ini.
Akankah aku hebat melebihi dunia asliku yang lemah atau sama saja, aku masih belum memahami sistem yang ada di dunia yang berbeda dari duniaku sebelumnya.
"Alasan kalian memanggilku kemari?"
"Kami ingin anda menjadi pahlawan untuk mempertahankan keberadaan kami, para manusia dari kepunahan yang dilakukan oleh iblis terhadap manusia."
"Kepunahan?"
"Ya. Akhir-akhir ini, pasukan iblis seringkali melenyapkan mereka dengan brutal dan keji tanpa ampun sedikitpun. Kota dan desa dihancurkan, manusia dilenyapkan, serta beberapa monster yang ada di dekat kota dan desa dijadikan sebagai alat untuk menghancurkan tempat tinggal kami, para manusia, itu adalah ulah iblis."
Benar-benar klasik seperti cerita-cerita fantasi yang ada ya.
Tapi, iblis tetaplah iblis jadi aku paham atas kekejaman mereka dalam melenyapkan manusia, musuh mereka sendiri karena aku seringkali membaca novel-novel seperti itu dalam hidupku.
"Tuan, apakah siang nanti anda sibuk?"
"Apakah ada keperluan?"
"Ya. Ayahku, Yang Mulia ingin bertemu anda di Aula Umum Kerajaan Hando untuk mengumumkan bahwa anda adalah seorang pahlawan yang dipanggil oleh kami."
Aku mengerti.
Dengan kata lain, mereka memanggilku secara diam-diam tanpa diketahui oleh seluruh keluarga bangsawan maupun anggota keluarga kerajaan, mereka merahasiakannya agar bisa mengumumkannya nanti.
Ya, itu tidak buruk.
Jika mereka melakukannya saat semua orang sedang berkumpul, aku yang tertidur terpanggil kemari dihadapan banyak orang, aku yakin mereka pasti akan berpikir bahwa aku adalah pahlawan yang tidak sopan karena tertidur pulas saat Yang Mulia memanggilku kemari, sesuatu seperti itu adalah hal pertama yang terlintas dalam benakku.
"Aku tidak sibuk."
"Syukurlah."
"Ngomong-ngomong Nona, bisakah kau mengulangi namamu?"
"Baik. Saya adalah Silvaire Airen, saya ingin anda memanggil saya dengan nama asli tanpa perlu formal. Apakah anda keberatan?"
"Baiklah, Silvaire. Kau juga boleh memanggilku dengan namaku. Bagaimana?"
"Apakah tidak apa-apa?"
Sepertinya dia masih ragu untuk memanggilku dengan nama asli.
Terlihat jelas dari raut wajahnya yang bimbang dan ragu dalam memutuskannya, dia tidak mau memanggilku dengan panggilan biasa karena mungkin saja itu tidak sopan untuknya.
Ya, sejauh ini aku paham atas situasi klise yang terjadi dalam novel-novel yang sama.
"Tidak apa-apa. Kita berdua sama-sama orang penting yang tidak menyukai panggilan formal. Kau menyuruhku memanggil namamu tanpa perlu formal, aku pun sama."
"Baiklah. Jika itu yang an– kamu inginkan maka aku akan memanggil namamu, Shirenzo."
"Ya, bagus sekali."
Baiklah.
Sekarang yang perlu kulakukan adalah mengetahui sejauh mana aku bisa menjelajahi tempat ini.
•••••
Seluruh keluarga bangsawan dan kerajaan berkumpul di aula besar yang berada di kedua sisi, di depan mereka sekaligus Hiragaki, terlihat Raja yang sedang duduk di atas tahtanya yang memainkan janggut putihnya yang panjang, dan di sisinya terlihat seorang Penasihat Raja, seorang pria berambut hijau tua, berwajah tampan, berkacamata, bertubuh sedang dengan tinggi sekitar 170 cm terlihat penuh senyum pada Hiragaki yang menunduk hormat pada mereka berdua, dan di sisinya Silvaire Airen, dia ikut menunduk hormat pada mereka sama seperti Hiragaki.
"Hari ini adalah sejarah baru bagi kita, para manusia yang telah mendapatkan seorang pahlawan."
Sorak-sorai terdengar di kedua sisi aula membuat Hiragaki berpikir itu adalah sambutan meriah bagi mereka atas kedatangannya sebagai seorang pahlawan di dunia ini.
"Kita akan ubah sejarah manusia agar lebih baik di masa depan dan menghabisi seluruh iblis yang ada di permukaan bumi."
Teriakan terdengar lagi setelah deklarasi perang penuh keyakinan diri diucapkan oleh Raja yang bangun dari duduknya, terdiam lalu berjalan menuju Hiragaki, menuruni beberapa anak tangga kecil di depannya.
"Tuan, apakah anda mau mengemban tugas sebagai seorang pahlawan untuk menyelamatkan manusia dari kepunahan?"
"Ya, aku– saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat manusia pulih dari kepunahan yang dilakukan oleh iblis."
Meskipun Hiragaki tidak tahu tentang cerita dan sejarah atas alasan manusia bisa punah oleh serangan iblis, dia sengaja mengikuti perkataannya karena dia dulu pernah dalam masa-masa chuunibyou akut yang seringkali membuat dia halusinasi atas imajinasi yang ingin dia perankan sebelumnya terhadap karakter yang diinginkannya.
Di sisi yang tidak jauh dari Hiragaki berada, Airen tersenyum tulus atas kata-katanya tadi. Bagi Airen, sikap Hiragaki terbilang tegas, penuh tekad, dan berani mengatakannya tanpa ada perasaan gugup di dalamnya.
"Sekarang berdirilah, Tuan!"
Mengikuti perintahnya, Hiragaki berdiri dari hormatnya pada Raja, menatapnya penuh keramahan di wajahnya yang membuat orang-orang merasa senang bahwa pahlawan mereka adalah pria baik yang peduli terhadap kerajaan dan manusia yang akan punah.
Seandainya pahlawan yang dipanggil oleh mereka merupakan pahlawan yang sulit untuk diatur dan diurus, mungkin mereka akan mengumpat dalam hati, mencela atas ketidaksukaannya terhadap sikap pahlawan yang tidak sopan dan bertindak sesuka hati terhadap Raja.
Dia benar-benar pria yang menarik.
Pria yang berada di dekat kursi tahta kerajaan, pria berambut hijau tua yang tersenyum pada sikap dan kata-kata Hiragaki membuat dia yakin bahwa pria ini akan menjadi masa depan manusia yang dapat mendamaikan dunia dari para iblis.
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku ingin kalian, orang-orang yang tinggal di Kerajaan Hando untuk menghormati atas sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Tuan Pahlawan, Hiragaki Shirenzo sebagai orang yang terhormat."
Seluruh orang di sisi aula bertepuk tangan, memeriahkan kata-kata Raja tanpa ada satupun dari mereka yang keberatan.
Hiragaki yang mendengarnya, tersenyum. Seperti sebuah mimpi yang pernah diidamkannya dulu, ini benar-benar terjadi sesuai dengan keinginannya sendiri. Dipanggil menjadi seorang pahlawan, memiliki kekuatan hebat dan kuat, mendapatkan harem, berpetualang ke seluruh dunia untuk memusnahkan iblis, semua adalah impian yang pernah di halusinasinya semasa sekolah dulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments