Ch. 6:Pengkhianat

Diam-diam Mitsuki mengikuti seseorang yang berjalan ke suatu tempat yang dituju olehnya.

Mitsuki tidak tahu kemana orang tersebut pergi, tapi mengingat kalau dirinya pernah melihatnya di suatu tempat selama pembicaraan malam yang dilakukan antara dia dengan Hiragaki, dia yakin kalau itu tidak lain ialah Shirinsa Nao.

Hari itu di malam pembicaraan mereka berdua.

"Apakah aku harus ikut dengannya, Mitaki?"

"Tidak, kau harus bisa pastikan terlebih dahulu untuk tahu situasinya lebih lanjut."

Dalam pikiran Mitsuki, Shirinsa kemungkinan besar adalah wanita pembohong yang mengaku kalau dia tidak memiliki teman yang hobinya sama sepertinya.

Tak hanya tidak memiliki teman, dia juga ingin mengajak Hiragaki agar bisa ikut dengan Shirinsa yang membuat Mitsuki bertanya-tanya mengapa ini bisa terjadi.

Menurut kesimpulan yang didapatkan mentah-mentah dari pemikirannya sendiri berdasarkan pembicaraan Hiragaki dan dirinya sebelumnya, ada tiga kemungkinan yang terjadi.

Pertama, Shirinsa bukanlah wanita yang bisa dipercayai oleh Mitsuki. Alasannya sederhana yaitu sikapnya yang terlihat baik, lemah lembut, peduli, dan penolong padanya seakan-akan ada makna dibalik tindakan tersebut.

Kedua, ada kemungkinan kalau semua perlakuan buruk disebabkan oleh Shirinsa pada Hiragaki. Tak heran apabila Hiragaki selalu berada di posisi korban bully atas apa yang terjadi selama ini dalam pekerjaannya, ini mungkin disebabkan oleh Shirinsa yang berpura-pura baik dan penolong tapi menusuk dari tempat tak terduga.

Ketiga, Shirinsa ingin memiliki Hiragaki sepenuhnya. Tak seperti pasangan pada umumnya yang bisa merelakan maupun membantu satu sama lain, Mitsuki melihat ada ego dan nafsu yang tinggi dalam diri Shirinsa di pembicaraan Hiragaki sebelumnya padanya.

Aku takut kalau yang terakhir adalah perkiraan yang akurat.

Walaupun beberapa spekulasi telah didapatnya, Mitsuki tetap tidak bisa menduga akan hal tersebut. Karena jika dia menuduhnya dan menyuruh Hiragaki untuk tidak mempercayai Shirinsa, ada kemungkinan kalau dia akan membenci Mitsuki karena dianggap sebagai pria jahat yang mencurigai Shirinsa yang baik dan peduli padanya.

"....."

Kembali ke masa sekarang, Mitsuki masih mengikuti Shirinsa yang masuk ke dalam hotel.

Dilihat dari bangunan yang dia masuki, hotel ini terlihat berkelas dengan bangunannya yang menjulang tinggi yang hampir mencapai langit-langit. Tak hanya itu, desain dari interior maupun inferior dari bangunan tersebut bisa dikatakan elite dan berkelas yang setara orang-orang kaya pada umumnya.

Mungkinkah dia...

Sebelum mencurigai sesuatu, Mitsuki membuang pikiran tersebut jauh-jauh dari kepalanya. Karena jika dia kepikiran akan tindakan Shirinsa tadi, dia hanya akan membuat Hiragaki curiga atas sikapnya jadi dia mencoba membuangnya dari pikiran dan merahasiakannya dari Hiragaki, sahabat dekatnya sendiri.

Di tempat yang berbeda, Hiragaki dan Yawagusa sedang sibuk dalam melayani pembeli di toko milik Mitsuki. Mereka semua berasal dari kalangan yang berbeda mulai dari anak kecil, remaja, orang dewasa, dan orang tua, semuanya membeli beberapa kebutuhan mereka.

Terkadang ada perselisihan yang terjadi di kalangan anak kecil karena rebutan es krim yang stoknya tersisa sedikit, tapi diredakan oleh Hiragaki yang mencoba menghibur dan menenangkan situasi yang ada pada suasana di kalangan anak kecil.

Di meja kasir, Reina melihat Hiragaki tersenyum kecil.

Bagi Reina, sikap Hiragaki bisa dikatakan cukup baik. Tidak hanya kepada orang asing yang tidak dikenal, tapi juga orang-orang yang memperlakukan buruk dirinya, dia selalu diam dan tidak pernah melawan atau melakukan tindakan balasan atas perbuatan yang mereka lakukan. Itu sebabnya Yawagusa paham akan sikap baik Hiragaki.

"Kamu masih sama seperti dulu ya, Shirenzo."

"Tidak, aku berbeda dari diriku yang dulu."

"Berbeda?"

"Ya, aku tidak sama seperti diriku di masa SMP dulu. Diriku sekarang bisa melawan balik pada orang-orang yang berbuat buruk dan jahat padaku. Tak hanya itu, aku juga bisa membalaskan dendam atas perbuatan mereka terhadapku."

Sambil meninju satu tangan ke telapak tangan yang terbuka, Hiragaki mengatakannya dengan percaya diri yang membuat Reina tertawa pelan atas sikap percaya dirinya yang terlihat lucu.

Tidak seperti kebanyakan orang yang hanya menarik perhatian untuk mendapatkan cinta dari Reina, Hiragaki terlihat berbeda dari orang lain. Dirinya yang menganggap kalau orang yang baik yang berteman dengannya akan dianggap sebagai sahabat bukan sebagai cinta atau suka antara dia dengan Reina.

Kamu benar-benar berbeda dari pria lain ya, Shirenzo.

Tersenyum, Reina hanya bisa menyatakannya dalam hati.

•••••

Hiragaki POV

Sore telah terlihat. Cuaca yang terlihat berwarna oranye dengan awan dan langitnya yang cerah dan terang membuat aku dan Yawagusa yakin kalau ini adalah waktunya kami pulang.

"Aku tidak menyangka kalau hari pertama akan melelahkan seperti ini."

"Yah, itu wajar apabila terjadi pada toko yang baru buka."

Menurutku, toko baru buka ialah toko yang diminati oleh para pembeli untuk melihat-lihat harga sembako yang mereka butuhkan. Akankah harganya murah atau mahal, semua tergantung pada kebutuhan yang ingin dibeli oleh si pembeli.

Melirik ke arah kiri, aku melihat kalau Yawagusa telah kelelahan.

Itu wajar. Mengingat kalau dia adalah karyawati kasir di toko Mitaki, mustahil apabila dia tidak kelelahan dalam menghitung total jumlah harga dari tiap sembako yang dibeli oleh si pembeli. Tak hanya total harga, Yawagusa juga harus amati dengan teliti dan seksama pada tiap-tiap barang yang dibeli oleh pembeli agar tidak terjadi kesalahan dalam menghitung jumlah barang yang dibeli.

Apabila dia salah hitung harga maupun memasukkan barang ke dalam kantung plastik milik pembeli, Yawagusa akan dipecat oleh Mitaki. Tentu itu tidak akan membuat Yawagusa senang melainkan sebaliknya, dia harus mencari pekerjaan baru lagi yang terbilang cukup mudah bagi wanita sepertinya untuk dapat pekerjaan baru di bandingkan denganku.

"Shirenzo, apakah kamu mau makan bersamaku?"

"Makan ya."

Melihat ke langit-langit, aku rasa sudah waktunya bagiku untuk makan malam di restoran dengan Yawagusa daripada telat makan dirumah sendirian, itu hanya akan menyebabkan aku telat makan yang kemungkinan akan muncul penyakit pada tubuhku.

"Kemana kita akan pergi?"

"Aku akan antar ke restoran tempat yang sering aku kunjungi."

Tempat yang sering dikunjungi ya.

Kuharap tempat ini sangat pas dan cocok dengan seleraku.

Mengingat kalau aku pilih-pilih dalam menu makanan, ada kemungkinan kalau aku tidak cocok terhadap makan di restoran berkelas atau mewah di beberapa tempat. Kebanyakan aku mencoba untuk memaksakan menu makanan yang dipesan di restoran mewah, namun ketika beberapa hari kemudian gejala aneh terjadi pada tubuhku.

Gejala itu sendiri berupa penyakit tenggorokan, pusing, demam, dan pilek. Entah apakah karena aku tidak terbiasa memakan menu mewah di restoran tersebut atau menu dari makanan itu sendiri masih belum pernah aku rasakan dan cicipi dalam kehidupanku sehari-hari, yang jelas keduanya masih menjadi pertanyaan pada tubuhku.

Kalau tidak salah, Mitaki dulu juga pernah mengajak aku untuk makan bersama.

Ketika dia mengundang aku dan Yama ke restoran mewah dan mahal, dia menyuruh kami untuk memilih menu makanan yang ingin kami pesan. Seperti biasanya, Yama memesan apa yang diinginkannya pada menu yang dilihatnya di buku menu, sedangkan aku sendiri tidak memesan melainkan Mitaki yang melakukan pesanan padaku.

Aku akui kalau Mitaku cukup kenal denganku sejak lama. Mulai dari makanan, kesukaan, hobi, serta ketidaksukaan aku terhadap sesuatu membuatku merasa beruntung memiliki teman sepertinya. Walaupun sulit untuk dikatakan kami berdua adalah seorang pria, aku rasa akan beda cerita apabila aku seorang wanita, aku akan jatuh cinta padanya sejak kami berteman lama di masa kecil.

"Ini dia tempatnya, Shirenzo."

"Ini...."

Tempat yang cukup menarik untuk dilihat.

Mulai dari gerobak kayu yang tidak besar melainkan standar yang seringkali ditemukan di setiap pejalan kaki, kursi-kursi plastik yang terdapat di sisi gerobak, panci yang tertutup rapat dengan uap panas di atasnya, serta suasana yang hening dan sunyi di sekitar membuat pas untuk aku bisa menikmati makanan di tempat ini.

Makanan itu sendiri tidak lain ialah gerobak ramen yang seringkali membuka toko di beberapa pejalan kaki yang sepi dan sunyi tanpa mengganggu aktivitas pejalan kaki manapun jadi tidak masalah baginya untuk mangkal di tempat seperti ini.

•••••

Dalam suasana malam yang sunyi dan hening, Hiragaki dan Reina sedang memakan ramen yang mereka pesan tadi dengan perlahan-lahan yang tidak ada siapapun di sekitar mereka melainkan hanya mereka berdua di gerobak ramen yang sedang buka saat ini.

"Bagaimana menurutmu, Shirenzo? Enak bukan?"

"Ya, aku tidak pernah mencoba makanan seperti ini di pinggir jalan."

Walaupun Hiragaki seringkali membeli beberapa menu yang terdapat paket ramen dan bento di dalamnya dari restoran di Mall, dia sendiri tidak pernah merasakan kalau ramen yang dimakannya terasa lezat dan enak daripada menu restoran yang pernah dimakannya.

Mendengar jawaban Hiragaki, Reina tersenyum pada kejujuran yang dia berikan padanya.

Memang Hiragaki adalah pria pengecut yang hanya bisa berbuat baik terhadap orang-orang lain yang baru dikenalnya maupun orang-orang buruk yang membully dirinya, Reina tetap menyukai sikap tolong-menolong yang dilakukannya terhadap siapapun.

"Hei Shirenzo, bisakah aku memanggilmu dengan nama depan?"

"Nama depan ya."

Sebenarnya Hiragaki yakin kalau memanggil nama depan miliknya, ada kemungkinan kalau mereka akan lebih dekat dari teman atau sahabat biasa, yang artinya apabila itu terjadi maka dia dan Reina bisa dikatakan seperti teman dekat atau bahkan bisa juga dikatakan sebagai pacar.

"Aku tolak!"

"Ditolak ya."

"Ya, itu karena akan merepotkan bila kita lebih dekat dari hubungan pertemanan kita sekarang."

"....."

Mendengar dia mengatakan itu, Reina tidak sedih maupun kecewa pada jawabannya melainkan bertekad untuk membiarkan pertemanan yang dia dan Hiragaki jalani selama ini seperti yang dirasakannya sekarang.

Jauh dari tempat mereka berada, Mitsuki berjalan pelan di sepanjang jalan yang sunyi.

Dalam perjalanannya menuju ke rumahnya, tidak ada tanda-tanda satupun dari pejalan kaki yang melewati jalan yang dilewatinya.

Mungkinkah ini....

Berhenti, Mitsuki melihat ke sekitar untuk memastikan sesuatu.

Firasat Mitsuki mengatakan kalau ada sesuatu yang salah pada jalan yang biasa dilewatinya. Terlepas dari jalan yang dilewatinya terkenal cukup ramai oleh pejalan kaki maupun pedagang, ada kemungkinan kalau jalan ini selalu dipenuhi oleh kendaraan yang seringkali lalu-lalang untuk parkir dan membeli beberapa keperluan mereka di toko-toko yang buka di jalan tersebut.

Akan tetapi, dilihat dari kondisi dan suasana yang terasa sangat aneh dan berbeda, Mitsuki yakin pasti ada sesuatu yang tidak beres.

"Siapapun yang melakukan ini padaku, keluarlah!"

Nadanya yang tinggi, ekspresinya yang dingin, dan sorot mata yang tajam membuat atmosfer di sekitar Mitsuki terasa berbeda seakan-akan terlihat seperti hawa membunuh terhadap orang yang melakukan ini padanya.

"Aku akui kamu cukup pintar dalam melihat dan mengamati situasi yang ada ya, Mitsuki Mitaki."

"Ka-kau...."

Terkejut dengan sosok yang ada dibalik pepohonan yang ada pertigaan jalan, Mitsuki tidak dapat berkata apapun pada apa yang dilihatnya.

•••••

Hiragaki POV

Kemarin adalah hari yang menyenangkan.

Walaupun ada sesuatu yang mengejutkan bagiku untuk tahu bahwa Yawagusa ingin memanggil namaku dengan nama depan, aku rasa terlalu cepat bagiku untuk bisa menerima dan menyetujuinya.

Akan lebih baik jika aku dan dia memilih untuk berteman daripada terlalu dekat satu sama lain, itu hanya akan menyebabkan aku dan dia berubah menjadi sepasang kekasih.

Tidak, tidak, apa yang kupikirkan sekarang. Ini bukanlah waktunya bagiku untuk melamun di pekerjaan.

Kalau aku terus melamun dan membiarkan pembeli menanganinya sendiri, ada kemungkinan mereka akan komplain ke pemilik toko, Mitaki yang kemungkinan akan memanggilku dan memecat aku tanpa memberi kesempatan sedikitpun untukku bisa menjelaskan padanya.

"Hmmm...."

Ponselku tiba-tiba bergetar karena ada sebuah pesan.

Melihat ke sekitar toko, aku tidak menemukan adanya pembeli yang meminta bantuan padaku jadi aman untuk bisa melihat siapa yang mengirimkan pesan ke ponselku ketika aku sedang sibuk.

"I-ini...."

Terkejut dengan siapa yang mengirimkan pesan, aku melihat isi dari pesan tersebut.

Awalnya aku berpikir kalau pesan itu berisikan undangan yang akan diajak oleh Shirinsa terhadapku ke sebuah event, tapi dugaanku salah. Alih-alih aku senang mengharapkan dapat undangan ke event, aku merasa kecewa dan kesal atas isi pesan yang kudapatkan sekarang.

Isi dari pesan tersebut ialah sebuah foto pasangan yang berduaan di dalam ruangan kamar.

Foto yang ada di pesan itu tidak lain ialah Mitaki dan Shirinsa, dua teman yang aku kenal yang telah melakukan hubungan gelap tanpa jujur kepadaku sejak awal.

Kenapa... kenapa... kenapa Mitaki menyembunyikannya dariku? Apakah karena aku hanyalah pengganggu bagi hubungan mereka? Akankah aku tetap diam setelah melihat pesan ini?

Tidak, aku tidak akan tinggal diam.

•••••

Reina POV

Kenapa Shirenzo terlihat diam tanpa melayani pembeli yang sedang memilih keperluan mereka di toko kami? Mengapa dia bermain ponsel ketika kami sedang bekerja? Adakah sesuatu yang penting baginya untuk dilihatnya?

Merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Shirenzo, aku hanya bisa memandangnya dari kejauhan pada sikapnya yang diam.

"Kamu mau kemana, Shirenzo?"

"Aku mau menemui Mitaki."

Menemui Mitsuki... mungkinkah dia...

Sebelum aku bisa merespon dan mencegahnya untuk meninggalkan toko, aku baru ingat kalau toko ini ada satu pembeli yang baru datang. Akan terasa sangat tidak sopan bila aku meninggalkan mereka yang menyebabkan uang kasir toko akan sirna dalam sekejap oleh pembeli yang bertindak jahat pada toko kami.

Kurasa hanya bisa lakukan satu hal saat ini.

Mengambil ponselku, aku menyentuh nomor yang ada pada kontak lalu menghubungi seseorang yang telah ada di kontak milikku.

"Halo."

"Halo, Mitsuki. Ini gawat. Shirenzo, dia pergi dari toko untuk menemuimu."

"Dia ingin menemui aku?"

"Ya. Dilihat dari sikapnya, kurasa dia terlihat emosi dan benci pada dirimu. Apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?"

"I-itu...."

Tidak bisa mengatakannya ya.

Aku akui kalau aku hanyalah seorang teman untuk mereka. Teman biasa yang tidak tahu apapun hubungan pertemanan yang mereka jalani selama ini, tapi setidaknya aku berharap kalau Mitsuki bisa menceritakan padaku kejadian sebenarnya antara dia dan Shirenzo.

"Ini ada kaitannya dengan dirimu, Yawagusa. Berhati-hatilah atas apa yang akan terjadi padamu mulai sekarang, Yawagusa."

"Berhati-hati? Apa maksud dari perkataanmu tadi, Mitsu–"

Tepat ketika aku hendak bertanya, suara pistol terdengar dari dalam toko.

Semua pembeli panik dan takut hingga kebanyakan dari mereka keluar dari toko tanpa membeli apapun di toko kami, dan lima orang di dalam toko terlihat membawa pistolnya masing-masing.

"....."

Melihat mereka yang mulai mendekati aku, aku rasa sudah waktunya bagiku untuk bisa melindungi tempatku bekerja dan diriku agar tidak diperlakukan buruk dan kasar oleh mereka.

"Ternyata ini ya wanitanya."

"Apa yang kalian inginkan dariku?"

"Kami ingin kau ikut kami, Nona!"

"Ikut?"

"Ya. Seseorang ingin bertemu denganmu jadi menyerahlah tanpa melakukan perlawanan pada kami."

Menyerah tanpa perlawanan ya.

Aku akui kalau perkataan mereka ada benarnya. Wanita itu lemah. Itu merupakan fakta yang tak terbantahkan bagi kami, para wanita yang diperlakukan rendah oleh pria manapun.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!