Setiap waktu di hari biasa, Hiragaki menjalani latihan yang sama seperti biasanya; makan pagi, berlatih pedang di Kamp Pelatihan Prajurit, membaca di perpustakaan, makan siang, menikmati pemandangan di ruangan paling atas, serta makan malam, semua diterapkan olehnya hingga waktu tengah malam tiba.
"Apakah sudah aman?"
Mengintip dari balik pintu kamar yang terbuka, matanya yang melirik ke kiri-kanan dengan wajahnya yang keluar dari balik pintu tidak melihat ada satupun orang yang berjalan di koridor tepat di depan kamarnya, yang artinya semua orang sudah terlelap dalam tidur dan menikmati mimpi mereka masing-masing.
Keluar dari kamar dengan membawa kalung yang terdapat kunci berwarna perak, Hiragaki menelusuri koridor istana di kesunyian malam. Dengan penerangan yang cukup di beberapa dinding melalui obor, dan cahaya bulan yang masuk melalui jendela persegi panjang berkaca, Hiragaki yakin ini adalah situasi yang tepat untuk mengetahui sekaligus mempelajari apa yang perlu dilakukannya.
Pertama-tama, dia ingin tahu tentang ruangan yang dimaksud oleh Gerald tentang Laboratorium Sains yang ada di Kerajaan Hando. Apakah itu sama seperti Laboratorium Sains di dunia milik Hiragaki sewaktu masa sekolahnya atau berbeda jauh, dia penasaran untuk memeriksanya.
Tak hanya kunci mengenai Laboratorium Sains, ada kunci lainnya yang bertuliskan "Blacksmith" yang bisa diartikan itu adalah kunci ruangan yang dikhususkan; membuat perlengkapan, senjata, aksesoris, dan lain-lainnya yang berkaitan dengan persiapan dan peralatan tempur dalam peperangan.
"Permisi..."
Setelah beberapa lama dia berjalan, Hiragaki memasuki ruangan yang gelap yang tidak memiliki cahaya penerangan. Meraba-raba di sekitar dinding untuk memeriksa adakah obor api yang terletak di beberapa dinding, Hiragaki berniat untuk menyalakannya.
"Ini..."
Secara mengejutkan bagi Hiragaki adalah bukan mengenai tempat obor api kaca berada, tapi sebuah tombol yang kesannya mirip seperti yang ada di dunianya. Karena rasa penasaran yang tinggi, dia pun memberanikan diri untuk menekannya dan terkejut saat tahu bahwa ruangan ini memiliki cara modern dalam menyalakan penerangan di dalamnya.
Ya, itu tidak lain adalah lampu, cahaya yang membutuhkan listrik untuk dapat digunakan hanya dengan satu tekan tombol yang langsung membuat penerangan menjadi luas yang begitu terang.
"Kenapa mereka bisa membuat lampu? Bukankah ini seharusnya masih berada di abad pertengahan?"
Merasa aneh dan bingung, Hiragaki terdiam di salah satu meja yang terdapat buku tebal yang di sampulnya bertuliskan "Buku Tentang Pembuatan Potion" membuat dia penasaran dan tertarik untuk membacanya.
Diluar ruangan Laboratorium Sains, seorang pria berambut hijau tua berwajah tampan dengan kacamata baca yang ada di hidungnya, tersenyum atas pencahayaan yang menyala dari dalam kegelapan dengan pintunya yang terbuka.
"Saya harap anda dapat menikmatinya sesuka hati, Tuan Pahlawan."
Berjalan di koridor istana yang sepi dan sunyi, langkah kaki pria itu terdengar menggema di kegelapan yang terdapat cahaya redup yang menerangi sebagai tempat dan cahaya bulan yang telah tertutup oleh awan membuat seluruh kegelapan di beberapa tempat membuat bayangan sosok pria itu tertelan dalam kegelapan.
•••••
Hiragaki POV
Setelah menunggu seharian penuh dalam pembuatan bahan-bahan yang diperlukan, proses dalam menerapkan apa yang sesuai di buku, serta menunggu hasilnya selama enam jam yang artinya setengah hari, aku berhasil membuat beberapa potion pendukung yang berguna dalam Kamp Pelatihan Prajurit yang akan aku laksanakan nanti.
Ada tiga jenis potion pendukung yang berhasil dibuat; Agility Potion, Strength Potion, Magic Potion, ketiganya memiliki jenis yang berbeda-beda di dalamnya yang terdapat dua jenis yang telah berhasil aku buat dengan total berjumlah 15 barang.
Agility Potion berhasil dibuat menjadi dua jenis yaitu; Agility Potion (S) dan Agility Potion (M), keduanya diletakkan sesuai dengan kebutuhan yang dituliskan, ukuran botol, dan kegunaannya yang berbeda-beda.
Strength Potion berhasil dibuat sama seperti Agility Potion yang memiliki dua jenis serupa; Strength Potion (S) dan Strength Potion (M), keduanya sesuai dengan prosedur yang sama seperti yang ada di buku seperti Agility Potion namun dengan bahan-bahan berbeda.
Begitupun dengan Magic Potion, aku membuatnya serupa dengan kedua jenis potion sebelumnya, dua jenis yang sama yaitu; Magic Potion (S) dan Magic Potion (M), keduanya sesuai dengan apa yang dituliskan buku jadi tidak ada kesalahan sedikitpun.
Alasan mengapa aku memberinya nama seperti potion dalam game, aku bingung atas tulisan panjang dan rumit jadi aku menyebutnya dengan item game untuk memudahkan aku dalam mengingat dan membedakan antara satu sama lain.
Tak hanya potion yang berhasil dibuat, aku juga membuat beberapa keperluan di Blacksmith yaitu; pisau tipis seperti jarum, pedang kecil dengan bahan mahal yaitu Orichalcum dan beberapa bahan lainnya, menghasilkan warna hitam legam pada bagian ujung pedang, dengan pegangannya yang terdapat dua taring di sudut pegangan, serta berbentuk kristal di bagian kepala pegangan benar-benar terlihat indah.
Yah, kurasa dua benda dibuat sudah lebih cukup daripada banyak karena itu akan merepotkan, sisanya ialah menerapkan langsung metode ini di latihan nanti usai aku menggunakan taktik dan pikiranku sendiri untuk menunjukkan bahwa aku kuat dan tidak lemah seperti yang orang lain pikirkan.
Setidaknya itulah yang terjadi sebelumnya.
Sebelum aku memulai latihan adu pedang bersama Paman Steven, aku menyempatkan memasukkan Agility Potion yang terdapat botol kaca kecil yang telah diminum olehku, aku menunggu itu digunakan saat latihan dimulai. Setelah menggunakannya, aku meletakkan sabuk berisikan pisau tipis seperti jarum yang berada di kedua kakiku agar memudahkan aku mengambilnya, meletakkannya di sela-sela jari dan melemparkannya ketika Paman Steven lengah.
Hasilnya seperti yang diduga olehku, Paman Steven bahkan tak bereaksi saat tahu aku menunggu kesempatan dia mendekati aku, aku melemparkan itu padanya sehingga dia terpaksa menggunakan kemampuan sihirnya untuk menjatuhkan beberapa jarum ke permukaan tanah.
Dengan kata lain, situasi yang mengharuskan aku dan Paman Steven yang tidak diperbolehkan untuk menggunakan sihir, aku jauh lebih unggul.
Memang terdengar licik dan curang, tapi setidaknya cara apapun diperbolehkan untuk meningkatkan peluang kelemahan menjadi kekuatan, aku bisa bertahan hidup dan melawan iblis dengan caraku sendiri.
"Tadi itu benar-benar hebat sekali, Tuan Shirenzo."
"Benarkah?"
"Ya. Sepertinya kamu sudah mempelajari dengan baik cara menggunakan kecepatan dan waktu untuk menyerang."
Yah, sebenarnya aku sudah berbuat curang jadi aku tidak bisa bangga atas pernyataan Silvaire, tapi karena dia jujur memujiku, aku lebih baik menerimanya daripada membuat dia bingung dan kecewa pada akhirnya, aku lebih memilih untuk mengikuti alur.
"Terimakasih atas pujiannya, Nona Silvaire. Sebetulnya ini semua berkatmu, aku bisa sehebat ini."
Alasan kenapa aku mengatakannya dengan memujinya, aku sedang berada di Aula Makan untuk makan malam bersama seluruh keluarga bangsawan dan kerajaan yang duduk di kursinya masing-masing.
"Apakah itu benar, Putriku?"
"Tidak-tidak, aku sendiri tidak pernah melakukan apapun dalam membantunya."
Kalau aku biarkan alur ini terjadi, mereka akan curiga bahwa aku memiliki kemampuan dan kekuatan yang akan diukur ulang menggunakan kristal sihir untuk menilai apakah aku memiliki warna di dalamnya atau masih sama, itu akan merepotkan.
"Kau bisa saja, Nona Silvaire. Sebenarnya kau telah membantuku dengan mengajariku teknik dasar, cara untuk menghindari serangan dan hal-hal lainnya dalam upaya pertempuran dan pertahanan, tapi kau malah rendah hati sekali ya."
Sekarang apa yang akan kau katakan, Nona Putri? Mungkinkah kau akan berterus terang dan membiarkan aku dianggap sebagai kebohongan belaka ataukah kau marah terhadapku atas perkataan aku, aku penasaran atas apa yang ingin kau katakan.
"....."
Oh.... dia memilih untuk tetap diam daripada berterus terang yang dapat menyebabkan aku ketahuan bahwa diriku berbohong.
Tapi meskipun dia terdiam, ekspresi yang diarahkan padaku terlihat marah yang sempat ditahannya dengan kedua alisnya yang bergerak ke atas-bawah menandakan pertanda buruk yang akan menanti diriku.
Mungkin saja dia akan menceramahi atau memarahi aku, aku tidak peduli karena yang terpenting adalah aku ingin menghindari masalah yang sedang terjadi sekarang.
"Anda benar-benar berbakat dalam mengajarinya teknik pedang ya, Nona Airen."
"Itu benar. Anda yang merupakan seorang mantan petualang benar-benar ahli dalam mengajarinya yang membuat dia memahaminya dengan cepat dan mudah dalam melakukannya."
Mantan petualang? Mungkinkah dulunya Silvaire Airen adalah seorang petualang? Tapi, kenapa dia menjadi petualang? Apa alasan dia meletakkan dirinya untuk seorang petualang?
Setiap kali aku memikirkan pertanyaan, tidak ada satupun yang mampu terjawab di benakku membuatku merasa frustasi dalam diam sambil memejamkan mata. Entah apakah aku akan terlihat aneh bagi mereka, aku tidak peduli selama aku mampu memainkan ekspresi wajahku sendiri agar terlihat biasa dan tenang dihadapan mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments