Ch. 12,1:Pelatihan Bagaikan Neraka

Menarik dan hembuskan nafas, perhatikan baik-baik target yang akan aku serang, melompat-lompat terlebih dahulu lalu mulai bergerak cepat dengan gerakan zig-zag dan siap untuk menusuknya.

"Aduh...."

Sial. Sulit sekali untuk melakukannya.

Dibandingkan apa yang kulihat mudah, ternyata cukup sulit untuk dilakukan. Apakah karena aku tidak memiliki kemampuan dan kekuatan yang membuatku terlihat menyedihkan ataukah aku kurang usaha lebih dalan melakukannya, aku benar-benar bingung.

"Sial. Coba sekali lagi!"

Setiap kali aku mencobanya, aku selalu gagal dalam melakukannya, terutama di gerakan zig-zag yang mengharuskan aku untuk cepat dalam menghindari serangan musuh, aku selalu berakhir jatuh yang bervariasi; kepala terlebih dahulu menyentuh permukaan tanah, lengan kiri aku yang tertekuk karena jatuhnya cukup kuat, serta kakiku yang cidera karena tersandung dan tertekuk, itu adalah hal yang benar-benar menyakitkan.

Jika aku tidak disembuhkan oleh Silvaire, aku mungkin sudah bisa dikatakan struk ringan dengan beberapa tubuhku lumpuh, tapi untungnya dunia ini memiliki sihir, terutama sihir penyembuhan, aku langsung sembuh dari cedera parah berkat dirinya.

"Jangan paksakan anda, Tuan Shirenzo. Anda dapat melakukannya lagi nanti."

Dia benar.

Jika aku terlalu mendorong diri untuk berusaha semaksimal mungkin, aku hanya akan menyakiti diriku sendiri jadi itu tidak baik untuk dilakukan, aku memilih untuk menyerah daripada melakukannya lebih lanjut.

"Terimakasih atas perhatian, Paman, aku minta maaf karena telah memaksakan diriku."

"Tidak apa-apa. Semua orang juga pasti ingin merasakan hal sama seperti yang anda rasakan, Tuan."

Pada akhirnya, aku dan Silvaire memutuskan untuk pergi dari Kamp Pelatihan Prajurit dan berpisah di tengah-tengah koridor di lantai penginapan, dimana aku putuskan untuk masuk ke kamar, dan dia memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.

"Huh..."

Percuma saja ya.

Setelah mengalami adegan dimana aku menjadi seorang pahlawan, aku tidak memiliki kemampuan dan sihir di dalam tubuhku yang membuatku terlihat lemah. Jangankan menebas dan bergerak cepat, memegang pedang saja sudah membutuhkan banyak tenaga yang gagal untuk dilakukan olehku sebelumnya.

Sial. Kenapa aku tidak memiliki kemampuan dan sihir seperti karakter utama dalam novel yang aku baca sebelumnya.

Percuma. Mengeluh dan menyakiti diri sendiri tidak ada gunanya maka aku memutuskan untuk berhenti daripada tanganku terluka karena terus-menerus memukul dinding kamar, itu menyebabkan merah dan sakit yang menjalar ke seluruh telapak tangan membuatku kembali ke kasur, tertelungkup dan memejamkan mata sejenak.

•••••

Di malam hari, seorang pria terus mengayunkan pedang kecilnya di udara berkali-kali. Keringat yang mengalir di seluruh tubuhnya, nafasnya yang terengah-engah karena kelelahan, serta tubuhnya yang berat membuat pria tersebut berhenti berlatih dan duduk di dekat tenda besar, menyandarkan punggungnya di box sambil menatap langit-langit yang terdapat bintang dan bulan.

Aku harap bisa menjadi kuat dengan mudah.

Tidak peduli bagaimana melihatnya, pria itu tampak putus asa saat tahu dirinya tidak akan mampu sehebat dan sekuat yang diduganya sebelumnya. Alih-alih dia kuat, dia justru terlihat lemah, jauh lebih lemah daripada orang-orang di istana kerajaan.

Apakah aku akan dibuang jika tidak memenuhi kriteria sebagai seorang pahlawan?

Pikiran itu sempat terlintas dalam benaknya namun ditepis dengan cepat olehnya yang berdiri dan mulai melanjutkan latihannya kembali usai nafasnya sudah teratur, kelelahannya sudah sirna, serta keringatnya yang sudah mengering membuat dia melakukannya lebih giat dan rajin dari sebelumnya.

"Dia benar-benar terlihat rajin sekali."

Di dalam kegelapan yang tidak jauh dari Kamp Pelatihan Prajurit, seorang pria dengan kacamata yang terlihat kilauan dari obor api yang berada di dinding membuat senyuman terlihat jelas di bibirnya, senyuman yang puas atas tekad dan semangat yang dimiliki oleh pahlawan baru yang dipanggil terbilang memenuhi kriteria.

Meskipun pria itu tahu bahwa pria itu masih jauh dari kriteria pahlawan menurut orang-orang, sikap semangat dan tekadnya tidak padam adalah hal yang patut dibanggakan. Itulah mengapa pria itu senang atas sikap dan tindakan yang dilakukan oleh pria yang mengayunkan pedang di malam-malam hari dengan mudah karena dia ingin bisa menjadi lebih kuat, setidaknya itulah pemikiran pria berkacamata yang memperhatikannya di kejauhan.

"Aku harap kau dapat memenuhi kriterianya ya, Tuan Pahlawan."

Lenyap dalam kegelapan malam, tidak ada tanda-tanda bahwa pria berkacamata itu ada di tempatnya sebelumnya.

•••••

Hiragaki POV

Satu minggu telah berlalu sejak aku berlatih pedang kecil setiap hari si setiap malam, mulai dari; menghunuskan pedang, menghindari serangan, serta bergerak sesuai dengan kecepatan tinggi yang dilakukan oleh Paman Steven, aku berhasil menguasainya.

"Sekarang kita akan lanjutkan latihan lain."

"Latihan lain?"

"Ya. Bisa dikatakan ini adalah latihan ringan yang selalu dilakukan oleh setiap ksatria kerajaan."

"Mungkinkah..."

"Ya, tepat sekali."

Aku mengerti.

Latihan yang dimaksud oleh Paman Steven tidak lain adalah latihan pedang antara satu sama lain tanpa menyakiti musuhnya karena ini sekedar latihan biasa, bukan untuk ajang pamer kehebatan dan kekuatan yang mereka miliki.

"Apakah anda siap, Tuan Shirenzo?"

"Ya."

Meskipun aku telah berlatih pedang sendirian di tiap malam di hari-hari sebelumnya, aku tidak pernah tahu bagaimana cara menghadapi orang lain.

Haruskah aku menggunakan imajinasi dan pengetahuan yang kumiliki sebelumnya dalam novel-novel yang dibaca di masa lalu ataukah aku mengamatinya terlebih dahulu, aku belum bisa memutuskannya karena bingung.

"Siap...."

Kami berdua bersiap dalam ancang-ancang kami masing-masing.

Paman Steven yang menggunakan pedang kayu biasa bersiap dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya saat menebas boneka kayu zirah sebelumnya, tapi aku tidak berpikir dia akan menggunakan sihir padaku karena dia adalah pria yang menjunjung tinggi kehormatan dan keadilan jadi mustahil untuk melukaiku dengan sihir sekalipun.

"Mulai!"

Berlari terlebih dahulu ke arahnya, aku menggunakan pedang kecil untuk dilemparkan ke arahnya. Dia menghindar ke sisi kiri, menebasnya dengan membuat pertahanan pada dirinya lalu menerjang ke arahku.

Orang-orang mungkin berpikir bahwa aku sudah tidak memiliki senjata untuk bertarung, tapi perkiraan itu telah sepenuhnya salah.

"Apa!?"

Dengan beberapa pisau tipis yang tampak seperti jarum, aku melemparkannya ke Paman Steven yang ada di dekatku, dia terkejut atas serangan mendadak yang berusaha menghindarinya namun gagal karena jarak antara dia dan aku sangatlah dekat.

Sekarang adalah kemenangan aku!

Melemparkan pisau tipis seperti jarum, dia terdiam sejenak, mungkin dia sedang berpikir bagaimana harus menghindarinya jadi aku tahu dari ekspresinya yang terlihat rumit.

Senyum itu...

Jangan bilang kalau dia...

Dengan gelombang kejut di udara yang ada di sekitarnya, dia dengan mudah menghempaskan pisau tipis seperti jarum ke permukaan tanah tanpa mengenai tubuhnya sedikitpun.

Gagal ya.

Yah, itu wajar jika gagal mengenainya.

Terlepas dari aku hanya orang lemah yang mengandalkan taktik dan pikiran, Paman Steven unggul dalam kekuatan, taktik, dan pikiran yang membuat jarak antara dia dan aku layaknya langit dan bumi.

"Anda benar-benar hebat sekali, Tuan Shirenzo."

"Tidak, justru kaulah yang hebat, Paman. Kau memiliki kekuatan dan kemampuan sehebat itu bahkan dalam kondisi terdesak jadi aku masih jauh dari kata hebat untukmu."

Itu benar.

Aku sama sekali tidak merendahkan diri karena aku percaya diri bahwa aku lebih lemah dari orang-orang yang ada di sekitar kami, ksatria kerajaan di Kamp Pelatihan Prajurit jadi aku sengaja mencela diriku karena itu nyatanya.

"Harap bersabar, Tuan Shirenzo! Cepat atau lambat, anda pasti mendapat kemampuan dan kekuatan yang ingin anda miliki."

"Aku harap begitu."

Meskipun Paman Steven sebelumnya mengakui aku, dia tetap tidak bangga atas dirinya sendiri, tapi menyuruhku untuk bersabar agar aku bisa meningkatkan serangan aku sebelumnya.

Alasan mengapa aku bisa seperti ini, semuanya berkat Gerald, Penasihat Raja yang secara tak terduga muncul di kamarku.

•••••

Tiga hari yang lalu, di tengah malam di dalam kamar Hiragaki, seseorang memasuki kamar yang sudah terkunci dengan mudah.

Langkah kaki yang mengendap-endap menelusuri setiap tempat, matanya yang mengitari ke setiap furniture yang ada, serta langkahnya yang perlahan-lahan mendekat ke kasur membuka selimut kasur untuk memastikan apakah Hiragaki sudah tertidur atau belum.

"Ini...."

Secara mengejutkan, pria itu terkejut bahwa dia telah ditipu dengan cara tak terduga. Mulai dari; bantal guling yang ditutupi oleh selimut, bantal kepala yang tetap di posisinya seolah-olah terlihat seperti seseorang sedang terlelap dalam tidurnya di kamar Hiragaki.

"Apa yang sedang kau lakukan disini, Pencuri?"

"Pencuri? Anda salah paham, Tuan Shirenzo."

Ketika obor dinyalakan yang terlihat memenuhi ruangan, Hiragaki dikejutkan bahwa orang yang memasuki kamarnya adalah Gerald, Penasihat Raja yang sedang memeriksa kondisinya sekarang.

Alih-alih Hiragaki terkejut, dia penasaran atas kedatangannya kemari. Apakah itu perintah raja yang menyuruhnya memeriksa kondisinya atau membunuhnya, ataukah dia datang untuk keperluan pribadi, Hiragaki yakin salah satu dari pilihan tadi ada di benak Gerald.

"Saya kemari ingin menguji anda untuk bertarung melawan monster. Apakah anda mau ikut bersama saya?"

"Apakah aku akan dijadikan santapan monster?"

"Tidak, saya akan melindungi anda jika anda tidak bisa melakukannya sama sekali."

"....."

Mendengar perkataan Gerald, Hiragaki mengepalkan kedua tangannya, kesal atas dirinya yang lemah yang jauh dari ekspetasinya selama ini saat tiba di dunia lain.

Gerald yang mengetahui Hiragaki menggantungkan kepalanya, tersenyum dan berjalan mendekatinya dan berhenti di sisinya, memegang salah satu pundaknya dengan senyum yang sama.

"Saya tidak akan melaporkan ini pada Raja, sebaliknya, jika anda lemah, saya akan mengajarkan anda cara cepat untuk menangani kelemahan anda."

Mendengar kata-katanya, Hiragaki berpikir bahwa kesempatan itu ada jika dia mempercayai Gerald, tapi dia sendiri tidak tahu atas apa tujuan dan maksud Gerald membantunya, dia lebih memilih melupakannya dan berfokus pada pelatihannya untuk menjadi lebih kuat untuk menutupi dirinya yang lemah seperti sekarang.

"Baiklah, aku terima."

"Terimakasih atas kebaikan dan kebijakan anda, Tuan."

Mengulurkan tangannya pada Hiragaki, Gerald hanya tersenyum riang sambil menatap tangannya yang mempersilahkan Hiragaki untuk berjabat tangan padanya. Hiragaki yang tahu atas aba-aba gerakan Gerald, menerima jabatan tangan dan tersenyum paksa padanya.

Setelah mereka berjabat tangan, sosok mereka berdua lenyap di udara kosong tanpa ada jejak yang menyisakan keberadaan mereka melainkan mereka sepenuhnya telah tiada dari tempat mereka berada.

•••••

Hiragaki POV

Di sepanjang jalan setapak di kedalaman hutan, aku dan Gerald sedang berjalan bersama menyusuri hutan dengan perlahan-lahan.

Gerald yang berada di belakang dan aku ada di depan, kami berada di kegelapan tanpa cahaya satupun melainkan hanya ada bulan yang sempat menerangi jalan kami.

"Suara ini..."

"Bersiap-siaplah, Tuan Pahlawan!"

"Baik."

Suara datang dari arah kiri belakang yang terdengar seperti berasal dari semak belukar. Perlahan-lahan, langkah kaki terdengar ke arah kami dan memunculkan salah satu sosok bermata merah yang muncul dibalik kegelapan yang berada di jalan setapak.

"Babi Hutan?"

"Berhati-hatilah, Tuan, dia bukan Babi Hutan biasa!"

"Baik."

Bagaimana aku melihat monster, dia tampak seperti Babi Hutan yang memiliki kulit kecoklatan tua, bercula dua di antara mulutnya, berukuran 5 meter pada tubuhnya, serta bulu-bulunya yang lebat sama persis seperti Babi Hutan di duniaku di dalam siaran televisi tentang pecinta alam dan hewan.

"Whoa!"

Sial, aku terlalu meremehkannya.

Untungnya aku sempat menghindar dari serudukan culanya, aku berhasil menjatuhkan tubuhku ke permukaan tanah namun ternyata sakit untuk dilakukan. Tapi ini jauh lebih baik daripada aku harus membiarkan dia mendorong dan menabrakkan culanya padaku, aku mungkin akan berakhir patah tulang atau bahkan menyebabkan kematian.

Sekali lagi, Babi Hutan itu menggesekkan kaki kanan depan dan bersuara persis seperti Babi Hutan lalu berlari menerjang langsung ke arahku.

Aku harus lakukan sesuatu.

Menghindari serudukan culanya, aku mengitari pandanganku yang tidak menemukan senjata untuk dapat digunakan melawannya. Alasan mengapa aku tidak membawa pedang kecil yang digunakan selama latihan, aku tidak bisa melanggar aturan yang telah disediakan yaitu meminjam hanya untuk latihan, sesuatu seperti itu akan membuatku dihukum nantinya.

"Sial. Berapa banyak stamina yang dimiliki oleh Babi Hutan?"

Setiap kali aku menghindari serudukan culanya, dia memutar dan mengulangi serudukan itu padaku, lagi dan lagi yang membuatku penasaran sejauh mana staminanya berada.

"Dia berhenti?"

Tidak lagi menyeruduk culanya padaku, Babi Hutan itu bersuara yang aku tidak tahu sedang apa dia karena suasana yang ada di sekeliling aku gelap sepenuhnya. Ya, aku berada di tengah-tengah hutan tanpa berada di jalan setapak demi menghindari serudukan dari culanya padaku.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!