Yumna dan Duta sudah sampai di rumah besar Duta. Bunda Duta sudah memasak banyak makanan kesukaan Yumna. Kebetulan hari ini, Bunda Duta ketempatan untuk arisan mamah muda. Rencananya, Bunda Duta mau mengenalkan Yumna pada semua rekan arisannya. Kalau ia memiliki calon menantu yang sanagt cantik sekali dan calon arsitektur.
"Bunda ...." sapa Yumna yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu dibandingkan Duta.
"Hai Yumna ... Apa kabar, Sayang? Sudah makan siang belum?" tanya Bunda Duta pada Yumna saat bertemu Yumna di ruang tamu. Bunda Yumna memeluk Yumna dan merangkul Yumna, membawa calon menantunya itu ke dapur untuk mencicipi makanan yang telah ia masak untuk makan siang dan sajian acara arisan nanti sore.
"Ada acara apa sih, Bun? Kok tumben banget masak banyak?" tanya Yumna lirih.
"Ekhemm ... Bunda itu mau ketempatan arisan. Nah, rencananya, Yumna mau Bunda ajak kenalan ke semua teman arisan Bunda, kalau Yumna sekarang kan sudah beneran jadi anak Bunda. Biar mereka tahu, kalau Bunda juga bisa punya anak perempuan yang cantik banget," ucap Bunda Duta dengan penuh semangat dan kedua mata berbinar senang.
Duta ikut masuk ke dalam dapur sambil mendengarkan percakapan dua wanita bebeda usia kesayangannya itu. Ya, Bundanya dan Yumna adalah dua wanita yang amat ia sayangi. Mungkin kalau di suruh memilih, tentu Duta tidak akan bisa memilih. Tapi yang jelas keduanya bisa di ganti dnegan nyawanya kalau perlu.
Satu hal lagi, Duta diam -diam hobby mengutak atik sistem. Sampai suatu hari ia di suruh Sang Ayah untuk membuat sebuah sistem keamanan di perusahaan Sang Ayah agar tidak mudah di bobol.
Duta membuka kulkas dan mengambil sebuah minuman kaleng namun bukan jenis minuman bersoda ringan. Duta lebih menyukai minuman cincau, rumput laut atau jenih buah. Ia mengambil gelas dan menumpahkan isi kaleng itu ke dalam gelas. Kedua matanya memang fokus menumpahkan isian dari dalam kaleng minumannya. Tapi, kedua telinganya tetap fokus mendengar ucapan Bundanya.
"Ekhemmm .... Jadi mau pamer? Tahu gitu, Duta gak bawa Yumna kesini. Sudah beberapa kali Duta bilang, Duta gak suka kalau Duta atau Yumna dan hubungan ini di publikasikan Bunda. Bukan masalah publikasikannya, terkadang niatkita baik saja, bisa di salah artikan tidak baik oleh orang lain. Apalagi memang yang kita lakukan ada hubungannya dengan riya dan penuh kesombongan dengan maksud untu membuat iri orang lain. Tentu bisa menjadi boonerang bagi kita sendiri. Bunda tahu, gak smeuanya orang itu baik, ada kalanya mereka itu hanya ingin memanfaatkan kita atau situasi yang ada demi suatu keuntungan pribadi mereka atau untuk kepengingan mereka sendiri," titah Duta panjang lebar.
Duta duduk di salah satu kursi makan dan mengambil bakwan udang buatan Sang Bunda lalu menikmati dengan tenang bersma minuman dingin itu.
Bunda Duta hanya diam dan tak membalas ucapan Duta yang semuanya itu adalah benar.
Yumna sendiri menghamiri Duta dan duduk di smaping Duta.
"Kok Kak Duta bilangnya gitu sih," ucap Yumna pelan.
Duta meneguk minumannya setelah mengunyah bakwan udang itu dan tersenyum pada gadisnya.
"Memang Kak Duta harus bagaimana? Kak Duta hanya bilang hal yang wajar. Itu adalah sifat manusia jaman sekarang, penuh kesombongan, iri, dan serakah. Tiga sifat dasar manusia yang tidak bisa saling di pisahkan," titah Duta tegas.
Yumna menoleh ke arah Bunda Duta yang membalikkan tubhnya dan melanjutkan masak membiarkan kedua putra putrinya bicara.
"Yumna mau ke kamar Kak Duta sebentar boleh?" tanya Yumna pelan.
"Boleh. Masuk saja," jawab Duta singkat.
Yumna bangkit dari duudknya dan naik ke lantai atas. Ini sudah sangat sering ia lakukan dan sudah menjadi terbiasa. Langkah kaki Yumna pelan menaiki anak tangga menuju lantai dua dan membuka kamar Duta. Kamar lelaki yang selalu wangi khas parfumnya berbau aqua atau alam. Kamar yang selalu bersih dan rapi pada setiap detailnya. Duta paling tidak suka kamarnya di acak -acak. Mkaanya beberapa sahabatnya tidak pernah di perbolehkan masuk ke kamarnya kecuali Yumna.
Ada hal yang menarik di akmar Duta. Sampai sekarang teka -teki misteri itu yak pernah bisa Yumna pecahkan selama ia menjalin hubungan dengan Duta. Ada satu lemari yang ukurannay lebih kecil dari lemari pakaiannya. Letaknya juga bersebelahan dengan lemari pakaiannya dan selalu tertutup bahkan terkunci. Yuman memnag penasaran tapi tak sedikit pun bertanya pada Duta. Ada rahasia apa yang tersembunyi di dalamnya.
Yumna menatap meja belajar Duta. Meja belajar yang selalu unik dan selalu Yumna suka. Ada foto mereka berdua dan kini pajangan foto itu bertambah. Ada foto keduanya saat tunangan kemarin, dan foto saat Duta memasangkan cincin tunangan pada Yumna.
"So sweet sekali," lirih Yumna berucap. Ia suka sekali melihat foto itu.
Yumna niatnya ingin mencari buku komik lama tapi tergiur dengan kasur Duta yang memajngkan dua bantal kecil dengan foto mereka.
Yumna berlari ke arah tempat tidur dan memeluk dua bantal itu bersamaan lalu di ajak bicara. Mirip seperti gadis yang sakit jiwa.
Tubuhnya di rebahkan di kasur empuk yang membuatnya nyaman. Dua bantal itu dalam dekapannya dan kedua matanya mulai terpejam.
Di bawah, di ruang makan, Duta mengingatkan Sang BUnda untuk tidak melakukan hal aneh itu.
"Bunda percaya pada Duta. Dari sekian banyak teman Bunda pasti setengahnya adalah orang yang tak suka pada Bunda. Karena mereka iri," ucap Duta pelan.
"Kamu tahu soal teman -teman Bunda?" tanya Bunda Duta.
"Di ruang tamu sudah Duta pasang kamera tersembunyi. Nanti bisa kita lihat dan kita buktika. kalau benar, Bunda harus keluar dari gruparisan ini. Gimana? Setuju?" tanya Duta dengan tegas.
Sejujurnya, Duta tak suka jika Bundanya ikut pengaruh buruk. Ikut grup arisan mamah muda dengan istri -istri para suami yang beekrja di perusahaan miliki Ayahnya.
Bunda Duta nampak sedang menimbang dan belum memutuskan. Akhirnya ...
"Bunda setuju. Bunda mau. Kalau terbukti, Bunda akan keluar dari grup arisan dan fokus sama anak kesyanagan Bunda. Yumna mana? Padahal Bunda mau ajak makan bersama," tanya Bunda Duta pelan.
"Hemm ... Kalau sudah selama ini, itu tandanya Yumna pasti tertidur," ucap Duta pelan dan menggelengkan kepalanya cepat.
Bunda Duta hanya mengulum senyum. Ini adalah awal dari hubungan mereka yang lebih serius.
Duta menaiki anaktangga dan menatap Yumna yang pulas sambil memeluk dua bantal mungil itu.
Duta meletakkan tasnya dan membuka laptp muali mengecek email yang masuk.
Tepat sekali ucapan Yumna tadi. Duta malah sibuk dengan laptopnya dan zoometing bersama yang lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments