Pandangan Lukas tak berkedip menatap Yumna yang pergi bersama Duta. Lukas menatap Yumna hingga sosok Yuman pun menghilang dari pandangannya. Lukas membalikkan tubuhnya dan menatap Yuri yang masih mengunyah bakso di dalam mulutnya dan menyeruput es teh manis agar tidak tersedak. Tatapan Lukas semakin lekat dan tajam dan meminta penjelasan pada Yuri.
"Yumna? Sama Ketua BEM, siapanya? Sepupu? Atau Kakaknya?" tanya lukas penasaran.
"Kekasihnya, eh salah tunangannya. Kamu lihat cincin yang melingkar di jari Yumna kan?" ucap Yuri pelan.
"Yuri ... Yumna mana?" tanya Dafa yang datang tiba -tiba membuat Devi salah tingkah di meja sebelah.
Belum selesai olah raga jantung itu membuat Devi, Vira dan Atika terus terpacu. Kini jantungnya kembali berdegup keras saat melihat senior idama menyapa Yuri.
"Tadi gadis pemalas yang kena omel Duta. Sekarang temennya gadis pemalas yang kebagian sudah kenal dan akrab dengan Kak Dafa. Mereka itu sebenarnya siapa sih?" ucap Devi bersbiisk.
Vira pun hanya menggelengkan kepalanya cepat. Ia sendiri tidak tahu. Perasaan mereka itu selalu up to date dengan informasi atau gosip yang beredar. Tapi kali ini mereka benar -benar tak mengetahui apapun. Siapa gadis pemalas tadi dan siapa teman gadis pemalas ini.
Lukas kini melongo menatap Yuri yang sudah mengenal baik dengan Dafa, seniornya sekaligus ketua himpunan fakultas prodinya.
"Kamu mau kemana? Mau pulang bareng Kakak gak?" tanya Dafa pelan.
"Ekhemm ... Kakak gak keberatan? Boleh Kak," jawab Yuri pelan.
Pertanyaan Dafa pada Yuri membuat Devi cemburu dan iri di tambah jawaban Yuri yang menginyakan, semakin membuat Devi panas bagai belut tersiram air garam.
***
Yumna sudah berada di dalam mobil Duta. Sejak tadi keduanya diam tak bicara.
"Kita nikah yuk?" tanya Duta tiba -tiba dengan tatapan yang masih fokus menatap jalan raya.
Yumna menatap Duta aneh dengan tatapan lekat tak berkedip.
"Nikah?" tanya Yumna lirih. Ia agak terkejut dengan permintaan Duta siang ini. Tak ada angin, tak ada hujan, minta nikah. Ada apa? Itu yang jadi pertanyaan Yumna.
Duta menoleh dan menatap Yumna lalu tertawa terkekeh.
"Kenapa? Kaget ya? Becanda kok. Kuliah yang benar," titah Duta pada Yumna yang masih tak percaya dengan kebokisan Duta. Sejak kapan kekasihnya ini pintar bercanda.
"Kak Duta gak salah obat kan? Kok becandanya tumben bikin jantung Yumna gak aman," ucap Yumna jujur.
Duta malah tertawa. Sudah lama rasanya tidak bercanda dengan Yumna. Selama ini mereka saling sibuk dan jarang bersama.
"Kak Duta hanya mau memastikan hati kamu masih sama Kakak atau dengan lelaki lain?" ucap Duta yang merasa cemburu dengan kejadian hari ini yang tanpa sengaja ia lihat.
Duta tahu, Lukas ada rasa pada Yumna.
"Lelaki lain? Kita sudah tunangan lho Kak? Bukan sekedar punya hubungan saja. Apa sih yang sebenarnya ada di pikiran Kak Duta?" tanya Yumna pelan.
"Tadi siapa? Dekat banet pake ngelapin sisa makanan di pipi segala. Romantis banget," sindir Duta pada Yumna.
"Hah? Siapa? Lukas? Dia kan teman ospek dan kebetulan teman satu kelas juga," ucap Yumna santai tanpa ada masalah. Yumna jujur dengan keadaannya saat ini bersama Lukas. Memang tidak ada hubungan apapun juga selain teman biasa.
"Oh ... Jadi namanya Lukas?" ucap Duta sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Kak Duta kenapa sih? Kok aneh banget? Memang masalah makan bersama dnegan Lukas dan Yuri? Ada Yuri lho, Kak. bukan cuma berdua saja," ucap Yumna pelan. Yumna berusaha tidak emosi dan tidak marah dnegan kecemburuan Duta.
Tidak sekali Duta begini. Dulu juga pernah salah paham dengan sahabatnya sendiri sewaktu SMA. Yumna pernah jalan bersama hanya sampai pintu gerbang. Itu juga Yumna ingin membuat kejutan untyuk Duta. Tapi pada kenyataannya berujung cemburu. Mulai sejak itu, Yumna selalu mawas diri untuk tidak berteman denganlawan jenis. Kalau pun terpaksa, harus ada Yuri sebagai teman.
"Kak Duta gak cemburu kok. Cuma tanya saja. Ingin tahu saja," ucap Duta membela diri. Bisa jatuh harga dirinya kalau sampai Yumna tahu ia cemburu berat pada Yuman sejak pagi.
"Sudahlah. Yumna gak mau bahas ini. Selalu salah di mata Kak Duta," cicit Yumna lembut.
"Gak salah Yumna. Maafin Kakak ya. Kak Duta cuma gak mau kehilang kamu saja," ucap Duta pelan
Wajahnya kembali serius seperti biasanya. Sesi bercandanya sudah selesai. Sikap recehnya juga hanya sesaat saja.
***
Siang ini Duta membawa Yumna ke rumahnya. Bunda Duta ingin sekali bertemu Yumna. Bunda Duta sudah memasak banyak untuk Yumna di rumahnya. Dan semua masakannya adalah menu masakan kesukaan Yumna. Yumna sudah di anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Bunda Duta begitu menyukai Yumna.
"Kak Duta mau culik Yumna kemana? Tumben banget?" tanya Yumna pelan.
"Menururt kamu mau kemana? Masa gak tahu ini arah mau kemana?" tanya Duta pelan.
"Ke rumah Kak Duta," jawab Yumna.
"Itu tahu. Kenapa mesti tanya?" tanya Duta pelan.
"Ya ... Mau ngapain? Kan gak ada acara apa -apa. Lagi pula ntar pasti Kak Duta sibuk sendiri," cicit Yumna kesal.
Seperti yang sudah -sudah, Duta akan sibuk sendir dengan pekerjaannya seperti tugas atau malah sibuk komunikasi dengan tema- teman organisasinya.
"Bunda yang suruh kamu datang. Bunda mau masakin kamu makanan spesial katanya," ucap Duta pelan.
Yumna mengangguk pasrah.
"Kok kayak gak suka gitu?Mau ketemu Bunda lho? Bunda Kakak kan Bunda kamu juga, Na," titah duta pelan.
"Bukan gak suka. Cuma kaget aja. Lagi pula belum bilang sama Bunda mau ke rumah Kak Duta," cicit Yumna lirih.
Itu bukan sebuah alasan. Biasanya kedua Bunda itu sudah saling bertukar informasi. Secara tidak langsung mereka saling memantau hubungan kedua anak mereka.
"Kalau memang suka dan gak keberatan. Senyum dong," titah Duta pada Yumna.
Yumna pun langsung memberikan senyum terbaik dan termanis.
"Nih ... Udah kan?" jawab Yumna pelan.
"Iya sudah. Gitu dong. Itu baru calon istrinya Kak Duta," titah Duta pelan.
"Kak?" panggil Yumna kemudian.
"Ya? Kenapa?" tanya Duta pelan.
"Ekhemm ... Kak Atika itu cantik ya? Pintar lagi, kayaknya," ucap Yumna lirih.
Duta melirik ke arah Yumna dan tersenyum simpul. Ia tahu, gadisnya sedang cemburu dan sedikit merajuk. Ini kebiasaan Yumna yang negatif tapi membuat Duta suka. Rasa cemburu Yumna itu kadang kelewatan tapi juga kadang membuat dia gemas sendiri.
"Gak usah cemburu. Cuma sekertaris. Kalau memang Kakak suka sama Atika, tentu yang Kakak ajak tunangan Atika dong, bukan kamu," ucap Duta menjelaskan secara realistis.
Bukan tanpa alasan Duta mengajak Yumna tunangan. Ini adalah salah satunya. Agar Yumna merasa bangga dnegan hubungan ini. Tidak ada lagi rasa cemburu yang berelbihan apalagi sampai salah paham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments