Tok ... tok ... tok ...
Terdengar suara ketukan pintu yang agak keras dari arah luar kamar Yumna.
"Masuk aja. Gak di kunci," ucap Yumna keras dari dalam kamar. Yumna sibuk menulis di meja belajarnya yang berfambar hello kitty.
Seluruh ruangan Yumna itu berwarna pink. Mulai dari cat tembok tang kemudian di tempel stiker kepala hello kitty yang begitu besar. Lalu semua furniture di dalamnya tak jauh dari warna pink atau kartun berbentuk kucing menggemaskan itu.
Ceklek ...
Duta menatap kamar Yumna yang selalu bersih, rapi dan wangi. Sudah bebetapa kali Duta main ke kamar Yumna. Dulu saat menjenguk Yumna sakit dan terpaksa ke atas masuk ke kamar pribadi Yumna karena Yumna hanya ingin makan jika di suapi oleh Duta. Sebegitu manjanya Yumna pada Duta. Tapi sikap Yumna yang seperti ini membuat Duta semakin sayang dengan Yumna karena Yumna secara tidak langsung membutuhkan Duta dalam hidupnya.
"Sudah makan Na?" tanya Duta pelan. Ia sengaja tak menutup pintu kamar Yumna dan di biarkan terbuka lebar. Duta tidak ingin merusak kepercayaan kedua orang tua Yumna dan kedua kakak lelaki Yumna yang begitu sayang pada adik bungsunya itu.
Suara itu begitu familiar. Yumna meletakkan alat tulisnya di meja belajar dan menoleh ke arah pintu kamar. Ia terperanjat kaget melihat kedatangan sang kekasih yang tiba -tiba tanpa ada pemberitahuan terlebih dulu.
"Kak Duta?" panggil Yumna lirih. Gadis manja itu langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri Duta lalu memeluk lelaki itu dengan meluapkan rasa rindunya.
"Heii ... Jangan begini. Ada Bunda. Di luar ada Kak Jone juga. Gak enak Yumna," titah Duta sambil mengendurkan pelukan Yumna pada Duta.
Yumna langsung melepaskan pelukan itu dan membawa Duta ke arah meja belajarnya dan memperlihatkan sepuluh lembar folio yang sudah selesai Yumna kerjakan hanya tinggal di baris terakhir saja.
Duta terkekeh lalu mengacak rambut panjang Yumna yang lembut itu sampai Yumna kesal dan mengerucutkan bibirnya ke arah Duta.
"Cepat selesaikan Kakak tunggu lalu masukkan dalam tas agar kamu tidak lupa," ucap Duta menasehati.
"Iya," jawab Yumna yang selalu menurut.
Yumna langsung menyelesaikan tulisannya lalu memasukan tumpukan kertas yang di jadikan satu ke dalam tas slempangnya.
Duta masih menikmati suasana kamar Yumna.
"Selesai!!" ucap Yumna keras dan lantang. Nada suaranya memang terdengar cempreng dan sangat riang sekali.
"Bagus. Jangan sampai telat lagi ya, Sayang," ucap Dura menyemangati.
"Iya sayang," jawab Yumna senang.
Yumna saat ini rasanya seperti ponsel yang sedang di cas. Yumna lebih termotivasi, lebih bersemangat dan bahagia sekali. Mungkin karena ia juga terlalu sayang pada Duta dan ingin hubungannya selalu baik. Tidak pernah terbesit di pikiran Yumna untuk mengganti posisi Duta dari hatinya dengan orang lain.
"Sudah makan?" tanya Duta pelan. Duta duduk di tepi ranjang Yumna dan Yumna sendiri masih duduk di kursi meja belajarnya dengan kaki bersila. Yumna hanya memakai celana pendek warna pink denga kaos oblong pas tubuhnya berwarna putih dengan gambar hello kitty.
"Belum. Tadi Bunda suruh amkan. Tapi belum selesai kerjain hukuman. Kak Duta mau makan, biar Yumna temani?" cicit Yumna senang.
"Ekhem ... semoga Bunda gak ganggu obrolan kalian ya. Ini teh manisnya Duta. Bunda pikir kaljan mau ngobtol di kamar aja gak apa -apa. Ayah sudah datang mau makan malam. Kalian mau makan sama -sama?" ajak Bunda Sinta kepada Yumna dan Duta.
"Iya Bunda. Nanti kita turun. Sekalian mau ada perlu sama Ayah," ucap Duta dengan suara tenang meyakinkan.
"Iya. Baiklah," ucap Bunda Sinta pelan.
Kedua orang tua Yumna sangat menyukai Duta. Selain sudah mengenal Duta dan kedua orang tua Duta dengan baik. Duta memang lelaki bertanggung jawab dan amanah. Ia sama sekali tak pernah melakukan hal tidak senonoh dan macam -macam pada Yumna. Hubungan percintaan mereka sangat sehat dan jauh dari kata mesum seperti anak muda pada umumnya. Bagi Duta, kalau Yumna memang jodohnya ia juga akan merasakan apa yang menjadi haknya nanti.
Bunda Sinta sudah turun. Kini giliran mereka berdua berada di kamar. Keduanya hanya saling menatap tanpa bicara sepatah kata pun.
"Di minum tehnya Kak," titah Yumna pelan.
"Iya," jawab Duta pelan.
Ia berdiri dan menyeruput teh buatan Bunda Yumna. Pandangannya tertuju pada foto lama mereka. Saat itu Yumna masih duduk di kelas dua SMA dan Duta selesai ujian nasional. Mereka foto bersama, hasil jepretan Yuri, sahabat Yumna.
"Kenapa? Fotonya bagus," ucap Yumna mengambil frame itu dan memegangberat. Frame berbentuk hati berwarna pink dengan lampu di pinggirannya bisa menyala.
"Bagus," ucap Duta pelan.
"Yumna cuma punya ini. Kakak kan paling susah di ajak foto bersama. Sampai -sampai di dompet Yumna, Yumna pasang foto Kakak yang buat ijasah," ucap Yumna terkekeh.
Yumna saat itu yang memegang pas foto Duta dan masih ada sisa satu malah Yumna simpan dan kini menghiasi dompetnya.
Duta hanya tersenyum. Ia memang tidak mau dan jarang mau di ajak foto bersama dan hanya untuk keperluan dan urusan tertentu saja. Ternyata urusan foto juga membuat seorang gadis ribet.
"Makan yuk. Kakak mau ijin sama Ayah," ucap Duta pelan.
"Ijin apa? Malam minggu besok?" tanya Yuman pelan sambil meletakkan kembali frame tadi ke ujung meja belajar.
"Itu salah satunya," jawab Duta tersenyum.
"Kok salah satunya? Berarti ada salah duanya dong?" tanya Yumna polos. Yumna itu gadis kepo yang selalu penasaran jika ada hubungannya dengan dirinya.
"Yuk turun," titah Duta sambil merentangkan telapak tangannya untuk menggandeng gadisnya.
Dengan senang hati, Yumna menggapai tangan Duta dengan rasa bahagia. Malam ini Yumna merasa ada yang beda dan sangat berbeda sekali. Rasanya mendebarkan dan malah membuat hatinya bahagia.
Duta dan Yumna turun ke bawah menuju ruang makan. Duta melepaskan gandengannya pada Yumna dan menyalami punggung tangan Ayah Roby dengan sikap hormat dan sopan.
"Hai Duta ... Bagaimana kulaih kamu?" tanya Ayah Roby pelan.
"Baik Ayah," jawba Dura lantang.
Duta dan Yumna duduk bersebelahan. Ia menatap semua orang sudah berkumpul di sana. Kak Jone dan Kak Dafa pun juga ada.
"Ayah, Malam minggu besok, Duta ijin membawa Yumna pergi nonto dan makan," ucap Duta meminta ijin.
"Ayah ijinkan. Asal pulangnya jangan sampai tengah malam," tegas Ayah Roby pada Duta.
"Siap Ayah. Satu lagi, rencananya dalam waktu dekat, Ayah dan Bunda Duta akan datang kesini untuk silaturahmi sekaligus untuk menyeriuskan hubungan Duta dan Yumna. Duta ingin melamar Yumna dan bertunangan," ucap Duta serius.
Ayah Roby hanya melirik ke arah Bunda Sinta sekilas. Permintaan ini bagaikan pistol yang meletus secara tiba -tiba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments
💗vanilla💗🎶
gak ush tunangan2 ya lsg lamar aja trs nikah ... hehe
2023-12-24
0