Yumna hanya bisa menunduk dan pasrah jika memang harus menerima hukuman dari kekasihnya itu karena Duta menjabat sebagai Ketua BEM.
"Jadi mau di beri hukuman atau di bebaskan saja dan langsung duduk di barisan belakang," tanya salah seorang panitia kepada Duta.
Biar bagaimana pun juga, memberikan hukuman pada anak maba itu adalah hak preogatif Duta selaku ketua panitia sekaligus ketua BEM.
"Suruh masuk saja. Hari pertama kita bebaskan, hukuman kita berlakukan mulai besok pagi. Acara pagi ini hanya perkenalan saja agara para maba dapat feel dan chemistry di kampus kesayangan kita," ucap Duta dengan tegas dan sikap dingin.
Duta memang pintar menyembunyikan perasaannya. Walaupun di depannya ada Yumna, gadis kesayangannya itu. Duta tetap bisa berlaku adil dan tegas sesuai dengan tupoksinya.
"Bukankah kita sudah sepakat akan memberikan hukuman bagi para maba yang telat. Itu tandanya mereka tidak di siplin dan mereka mengabaikan aturan yang sudah kita buat. Berarti mereka tidak menghargai kita," ucap Atika ikut andi dalam mengungkapkan rasa kecewanya pada Duta pagi ini.
"Aku yang bertanggung jawab untuk kesalahan mereka pagi ini. Setelah acara sepuluh orang ini harus menghadap kepadaku. Aku tunggu di ruang dalam auditorium. Kalian dengar?" tanya Duta tegas.
"Dengar Kak!!" teriak sepuluh maba itu bersamaan.
Mendengar jawaban mantap anak maba. Duta pun langsung pergi dari sana dan masuk ke dalam ruang auditorium untuk memberikan sambutan dan sedikit materi pengenalan kampus Tritunggal Bakti.
Yumna dan sembilan orang maba lainnya masuk ke dalam dan duduk di barisan sesuai dengan kelompok yang sudah di bagikan.
Yumna langsung duduk di lantai da melepaskan tas slempangnya ia berada di paling belakang barisan kelompok dan diam menatap le arah depan.
"Hei ... Yumna!!" panggil Yuri setengah berbisik dari arah samping.
Yumna dan Yuri adalah sahabat baik sejak SMA. Ia juga tahu hubungan Yumna dan Duta dan kedua kakak laki -lakinya yang tampan mempesona berada di kursi utama.
"Hei ... Yumna telat," bisik Yumna sambil menunjukkan wajah sedihnya kepada Yuri.
Baru juga kedua sahabat itu slaing bertegur sapa dengan berbisik datk arah depan langsung mengeur keduanya.
"Kalian yqng di belakang. Dengar penhelasan saya baru saja? Hah?" tanya Duta dengan suara lantang dan tegas.
Semua mata memandang ke arah Yumna dan Yuri yang secara langsung di tegur oleh Duta. Kedua mata Duta fokus lekat dan tajam ke arah Yumna.
Tidak sampai di situ saja sindiran Duta kepada Yumna.
"Sudah datang telat, duduk di belakang dan malah bicara sendiri tanpa ada rasa bersalah. Kamu tidak menganggap saya? Saya nerdiri di sini ingin menjelaskan smeuanya agar kalian mengerti aturan di kampus kita. Kalau kalian tidak suka dengan acara ini, lebih baik.tadi tidak perlu datang," tegas Duta dengan lantang.
Semua mata memandang nyinyir dan tak suka pada Yumna dan Yuri. Mereka di anggal sebagai pengacau dan membuat Duta, sang ketua BEM murka.
Jone menyenggol lengan Dafa keras hingga Dafa yang sejak tadi menatap Yumna dengan rasa prihatin pun terkejut.
"Kenapa sih? Lihat yang di marahi itu si bungsu putri solo kesayangan Bunda. Kalau Bunda tahu, putri bungsunya di omelin pasti kita juga yang kena ceramah," ucap Dafa kesal.
"Hemm ... Biarkan saja. Gadis labil itu perlu di kasih sedikit pelajaran biar otak micinnya keluar," ucap Jone sambil terkekeh renyah.
Dafa menatap Jone, sang Kakak yang kadang otaknya gak ada akhlak saat berpikir dan menuangkan idenya.
"Otak micin? Kita makan dari nasi yang sama, sayur yang sama dan lauk pauk yang sama. Kalau adik bungsu kita kena sindrom otak micin itu artinya kita berada di posisi yang sama," ucap Dafa kesal.
"Arghh ... Berdebat sama orang jenius itu sulit. Gak bisa di ajak drbat asyik. Tapi gue salut noh sama Duta. Yumna itu ceweknya, bisa tega gitu ngomelinnya gak pake ketawa ngakak. Kalau gue udah ngakak pastinya," ucap Jone pelan.
Yumna terlihat berdiri dan berjalan ke arah depan mengikuti panggilan Duta yang menyuruhnya segera naik ke atas pamggung. Semua pasang mata memandang ke arah Yumna. Ada tatapan kasihan, tatapan prihatin, tatapan tidak suka dan tatapan benci.
Yumna menaiki dua anak tangga menuju panggung dan berjalan dengan langkah pelan menuju arah Duta.
"Siapa nama kamu. Coba kamuhadap ke teman -teman kamu. Karena kamu, materi kita terhenti. Saya paling gak suka, ada orang yang sama sekali tidak menghargai saya saat saya serius bicara di depan. Kamu paham!!" tegas Duta dengan suara lantang tanpa membentak.
Kedua kakak kandung Yumna hanya menjadi penonton. Selama apa yang di lakukan Duta tidak berkenaan dengan fisik, mereka membiarkan Duta melakukannya. Duta dan kedua Kakak Yumna memiliki hubungan yang baik. Duta bahkan sudah kenal dengan Ayah dan Bunda Yumna dan begitu sebaliknya, Yumna sudah mengenal baik Ayah dan Bunda Duta. Hampir tiap akhir pekan, Yjmna yang datang ke rumah Duta untuk menemui lelaki itu. Karena Duta hampir tak pernah punya waktu untuk berduaan dengan Yumna. Paling hanya memberi kabar dan menelepon di malam hari hingga keduanya tertidur setelah bercerita tentang kejadian satu hari selama mereka tak bersama.
"Siapa nama kamu?" tanya Duta pelan.
"Yumna," jawab Yumna pelan dan ragu.
"Yumna. Tolong kamu jelaskan kembali pada teman -teman kamu, apa yang tadi saya jelaskan. Cepat," titah Duta kemudian kepada Yumna.
Yumna langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa geleng kepala? Gak bisa? Atau lupa?" tanya Duta menyelidik.
"Maaf tadi Yimna tidak menyimak karena Yumna ngantuk," ucap Yumna jujur.
"Apa? Ngantuk? Kamu telat karena ngantuk?" tanya Duta menyelidik. Tatapannya tajam ke arah Yumna.
Ini jelas sekali kalau Yumna pasti marathon nonton drakor hingga pagi, batin Duta. Karena semalam Duta tak sempat video call dengan gadis kesayangannya karena terlalu lelah menyiapkan acara pagi ini.
Yumna mengangguk pasrah. Ia bukan saja di permalukan di depan teman -temannya satu angkatan tapi juga setelah ini ia akan mendapatkan ceramah panjang lebar seluas danau toba dari Duta.
"Sana kembali ke tempat kamu. Duduk yang baik dan dengarkan saat saya bicara," titah Duta tegas.
"Iya Kak. Terima kasih," jawab Yumna lirih. Rasanya kedua matanya sudah basah dan berair. Ingin rasanya menangis saat ini juga. Tapi, Yumna sudah berjanji untuk menjadi perempuan mandiri yang kuat dan tidak cengeng seperti di masa putih abu dulu.
Duta hanya menatap sendu dan merasa bersalah kepada kekasihnya. Ia hanya bisa menatap punggung Yumna berjalan lemas ke arah barisan kelompoknya.
"Jadi perlu kalian ingat!! Hargai orang yang sedang bicara di depan. Mungkin saja suatu hari kalian yang berdiri di sini dan menggantikan posisi saya. Bagaimana saat kalian bicara serius tapi sama sekali tidak di hargai? Tentu kecewa kan? Tolong jangan di ulangi lagi!!" tegas Duta mengingatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments
💗vanilla💗🎶
iya kak 🤭
2023-12-24
0