Seperti biasa, Duta harus segera ke base camp BEM ada hal yang harus di selesaikan.
"Kamu pulang ya. Kabari Kakak kalau sudah sampai rumah. Inget ... Jangan kelayapan," titah Duta pada Yumna, kekasihnya.
"Siap komandan," kekeh Yumna bersiap. Ia memasukkan earphone dan ponselnya ke dalam tas slempangnya.
"Hemm ... Masih saja suka bercanda," ucap Duta pelan.
Keduanya berpisah di taman kampus. Duta menatap Yumna yang terlebuh dahulu membalikkan tubuhnya menuju parkiran motor. Setelah terlihat menghilang dari ujung jalan, Duta pun baru kembali ke base camp BEM.
Dalam perjalanan pulang Yumna menuju rumahnya. Yumna selalu membeli makanan berupa kue tradisional di kotanya untuk di di nikmati sore hari bersama susu putih.
Malam ini Yumna harus bekerja keras mengerjakan hukumnan yang di berikan oleh Duta tadi. Yumna bertekad untuk lebih serius lagi dan tidak manja lagi. Ia bukan lagi anak SMA yang menye -menye. Tapi ia sudah berubah menjadi perempuan setengah dewasa.
Motor matic pinknya sudah memasuki pelataran rumahnya. Hari sudah semakin sore. Ia melihat Bundanya sedang menyiram tanaman favoritnya di samping rumah. Mobil sport berwarna ungu metalic milik kedua kakaknya pun sudah berada di garasi. Itu tandanya kedua kakaknya sudah ada di rumah.
"Sore Bunda," sapa Yumna menghampiri Bundanya lalu mencium punggung tangan orang tua itu dengan hormat.
"Widih ... Anak bungsu Bunda baru pulang. Bawa apa tuh," ucap Bunda pada Yumna.
"Kue pukis. Makan yuk Bunda di belakang. Yumna mau bikin susu. Yumna lapar Bunda," ucap Yumna mengadu.
"Ayok. Bunda taruh ini dulu," ucap Bunda pada Yumna.
Yumna dan Bunda bersantai di raman belakang. Duduk di gazebo menikmati gemericik air yang masuk ke kolam. Belum lagi melihat marmud milik Yumna pemberuan Duta sebulan yang lalu agar Yumna ada kegiatan setelah lulus. Tidak hanya di rumah saja.
"Gimana ospeknya?" tanya Bunda pelan.
"Hemm ... Telat masuk Bunda," ucap Yumna tertawa.
"Telat? Terus? Duta?" tanya Bunda penasaran.
"Kak Duta marah. Yumna dapat hukuman menulis. Bunda ... malam minggu besok Kak Duta mau ajak Yumna pergi nonton dan makan malam. Boleh kan?" tanya Yumna pelan.
"Boleh. Biasanya kan Duta ijin langsung sama Ayah. Ayah itu kalau kamu pergi sama Duta pasti di perbolehkan tapi kalau dengan yang lain, Bunda gak bisa bantu. Apalagi kamu pergi dengan lawan jenis. Ini kota besar, semua bisa saja terjadi. Kamu itu anak perempuan yang tidak pernah keluar rumah kan. Ayah pasti akan wa -was melepas kamu, Yumna. Jadi bukan tidak boleh pergi atau merasa di bedakan. Kamu perempuan. Kak Jone dan Kak Dafa itu laki -laki," ucap Bunda menasehati.
Yumna mengangguk pasrah. Tetap saja perbedaan gender menjadi salah satu hal yang sensitif. Perempuan akan di anggap selalu nomor dua dan berada di belakang laki -laki. Padahal di balik kesuksesan lelaki ada perempuan hebat yang selalu memotivasi mereka. Lelaki tidak akan bisa menjadi pemimpin bila tak ada perempuan yang terus mendorongnya.
Satu gelas susu putih itu telah habis di teguknya bersama dengan beberapa potong kue pukis.
"Yumna ke kamar dulu ya Bun. Mau mandi," ucap Yumna lembut.
Baru saja ia mau melangkah pergi, ponselnya di dalam.tas berbunyi. Yumna lupa mengabari Duta bahwa dirinya sampai di rumah. Duta adalah orang yang paling keberatan melihat Yumna naik kendaraan roda dua sendirian di jalanan ramai kota besar ini.
Benar saja, Duta yang menelepon Yumna. Tumben sekali.
"Hallo Kak Duta ...." jawab Yumna pelan.
Terdengar suara berisik seorang wanita di dekat Duta. Tapi terdengar juga suara alunan musik kesukaan mereka berdua saat berada di dalam mobil. Apakah Duta bersama wanita lain di dalam mobil? Pikiran Yumna makin kacau. Terbesit rasa cemburu sedikit. Bukankah wajar kalau Yumna cemburu?
"Kamu sudah ada di rumah, Na? Kenapa tidak mengabari Kakak?" tanya Duta datar.
"Baru sampai Kak. Tadi mampir beli kue pukis di tempat biasa untuk Bunda," jawab Yumna lembut.
Lagi -lagi ada suara manja perempuan yang jelas meminta di antarkan pulang ke kostnya.
"Duta ... Antarkan aku pulang ya," suara Atika sengaja keras dan sedikit lantang penuh tekanan agar lawan bicara Duta mendengarnya. Entah siapa yang di ajak bicara oleh Duta saat ini. Atika juga sama sekali tidak tahu. Atika hanya tahu, Duta masih jomblo. Karena tidak lernah melihat Duta bersama permepuan lain kecuali dirinya. Makanya Atika selalu beranggapan, bahwa dirinya adalah wanita yang tepat untuk Duta. Wanita dengan satu frekuesi yang sama. Sepertinya memang tipe Duta adalah wanita yang mandiri dan hebat seperti Atika. Kalau boleh sombong Atika hanya menunggu waktu itu tiba.
Duta hanya mengangguk kecil ke arah Atika dan memberi kode pada sekertarisnya itu untuk diam dengan menunjukkan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Itu siapa Kak? Suara perempuan?" tanya Yumna denga suara lemah.
"Ini Atika, sekertaris BEM yang tadi bersama Kakak. Kakak mau antar Atika pulang ke kostnya dulu. Ininsudah mau maghrib," ucap Duta pelan sambil memasang sabuk pengamannya.
"Ekhemm Iya Kak. Hati -hati di jalan. Kabari Yumna kalau Kakak sudah di rumah," ucap Yumna lirih. Rasanya tidak enak seperti ini. Tersakiti tanpa terasa menyakiti.
"Iya," jawab Duta singkat dan mematikan sambungan teleponnya. Ia meletakkan ponselnya begitu saja di kktak lecil yang ada di dalam mobil.
Atika hanya menatap sekilas namun ponsel itu keburu menutup dan layarnya menjadi gelap.
"Itu siapa? Adikmu?" tanya Atika penasaran.
"Adik tingkat kita," jawab Duta singkat. Belum saatnya ia mempublikasikan Yumna sebagai kekasihnya saat ini. Mungkin setelah acara ospek selesai dan ia sudah tak menjabat lagi sebagai Ketua BEM, Duta akan mempublikasikan hubungannya dengan Yumna.
Duta sudah mengantarkan Atika pulang ke kostnya. Besok pagi ia harus menjemput Atika kembali ke kost putrinya.
Skip ...
Mobil sport merah Duta sudah masuk ke pelataran rumah Yumna. Ia rindu pada kekasih manjanya itu.
Tok ... tok ... tok ...
Ceklek ...
"Duta?" ucap Bunda Yumna pelan.
"Bunda ... Yumna ada? Ini untuk Bunda," ucap Duta pelan.
"Hemm ... Terima kasih. Seharusnya gak perlu repot -repot membawa sesuatu. Datang ya datang saja. Yumna ada di atas. Naik saja ke kamarnya," titah Bunda Yumna kepada Duta.
Duta mengangguk pelan dan masuk ke dalam rumah Yumna dan naik ke atas lantai dua menuju kamar Yumna.
Tiga kamar di atas berjajar milik Kak Jone paling ujung dan di tengah milik Kak Dafa dan di depan milik Yumna.
"Heii Duta!! Tumben loe datang. Kangen ya sama si manja," goda Jone yang sedang duduk bersantai di sofa sambil bermain play station.
"Kak Jone? Sehat? Yumna ada?" tanya Duta basa basi.
"Ada. Kita ketemu tadi Duta," jawab Jone memutar bola matanya dengan malas. Suka aneh dengan sikap dingin Duta tapi memang Duta seperti itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments