Duta melepas tangan Atika yang terus memeluknya erat. Bukan rasa takut lagi yang di rasakan Atika. Tapi hasrat yang penuh gairah Atika pada Duta.
Duta langsung menyalakan senter dari ponsel dan menyorot langsung tepat di kedua mata Atika hingga Atika berteriak karena silau.
"Awww ... Cukup Ta. Silau, perih mataku," ucap Atika pelan.
"Aku mau pulang. Lain kali jangan seperti ini Atika. Aku tak suka. Dari pada aku harus membenci kamu," ucap Duta ketus.
Duta pun keluar dari kamar Atika. Seketika lampu kost itu pun menyala. Duta menatap ke arah lampu di atasnya cuma tersenyum kecut. Lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju keluar kost.
Atika hanya diam dan bersandar pada papan tempat tidur. Ia menyesali perbuatannya yang terasa mueahan sekali di hadapan Duta.
Atika memang menyukai Duta sejak awal masuk dunia perkuliahan. Atika selalu mencari celah agar bisa selalu dekat dengan Duta. Sampai pada akhirnya ia memberanikan diri untuk melamar menjadi sekertari BEM. Usahanya tak sia -sia dan kini apa yang menjadi tujuannya tercapai. Bisa dekat dengan Duta, sang Idola. Tak hanya dekat tapi juga bisa kenal dengan baik dan tahu kesibukan Duta.
Duta masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesekali Duta memukul setir mobilnya dengan keras. Begitu menyebalkan sekali Atika. Begitu rendah dan murah sekali wanita yang sudah lama ia kenal itu.
"Arghhh ... Kenapa sih!! Kamu kenapa se -gila itu Atika!! Kamu tidak tahu apa? Kalau aku sudah memiliki tunangan. Aku sengaja bertunangan agar kalian tahu tentang cincin yang melingkar di jari manis ini!!" teriak Duta kesal.
Mobil Duta berhenti tepat di depan rumah Yumna. Mobil Duta masuk ke dalam halaman rumah Yumna yang besar dan mewah. Ia mematikan mesin mobilnya dan menelepon gadisnya.
Duta menatap kamar Yumna yang sudah gelap. Memnag Yumna kalaibtidur harus dalam keadaan lampu kamar di matikan.
Yumna sudah berada di kasur empuk miliknya dan tubuhnya terlentang tanpa selimut. Kedua matanya sudah di paksa menuntup tapi tak bisa tertidur pulas. Beberapa kali Yumna menatap ponselnya. Sejak pagi, Duta sama sekali tak mengirim pesan singkat.
Perasaan Yumna makin tak enak dan semakin tak karuan. Yumna malah beranggapan kalau Duta marah pada dirinya karena Yumna tak hadir tadi di hari terakhir acara ospek.
Ponselnya berkedip dan berbunyi nyaring. Yumna menoleh ke arah ponselnya dan bangkit dari tidurnya lalu mengangkat telepon itu.
Tumben sekali, sudah lebih dari tengah malam, Duta masih sempat meneleponnya walaupun tidak dalam keadaan video call.
"Hallo Kak Duta? Kak Duta belum tidur?" tanya Yumna dengan cepat.
Duta melongo hebat sambil menatap ke arah kamar Yumna yang kemudian menyala lampunya.
"Engh ..." Duta hanya berdehem pelan saking kagetnya sambungan teleponnya di angkat karena Yumna belum juga tertidur.
"Kak ... Kak Duta?" panggil Yumna pelan.
"Kakak di bawah Yumna," ucap Duta pelan.
Yumna langsung menoleh ke arah jendela dan membuka tirai jendela lalu melongo ke arah bawah.
Benar sekali, Duta ada di bawah dengan mobil putihnya. Yumna melambaikan tangannya dan bergegas turun ke bawah.
Suara sandal ceplek Yumna begitu berisik hingga membuat Ayah dan Bunda Yumna menoleh ke arah anak gadisnya yang berlari ke arah ruang tamu inhin membuka pintu depan.
"Yumna? Kamu mau kemana?" tanya Bunda Sinta dengan suara keras.
Bunda Sinta takut Yumna terkena sindrom yang gangguan tidur berjalan atau somna bulisme. Ini suatu kondisi dimana seseorang bagun dan berjalan saat sedang tidur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments