Yumna langsung meletakkan alat makannya dan menatap Duta, sang kekasih. Begitu juga kedua kakak Yumna yang tak menyangka dengan keberanian Duta yang masih duduk di bangku perkuliahan.
Yumna menatap Duta dan memegang paha Duta dari bawah meja makan. Yumna bahkan tidak tahu sama sekali dengan keinginan Duta yang benar -benar mengejutkan bagi Yumna tapi juga membuat Yumna bahagia. Ini pertanda memang Duta serius dengan hubungan yang sudah tiga tahun ini mereka jalani. Walaupu mereka jarang bersama karena kesibukan Duta, tapi Duta sama sekali tak mengabaikan Yumna. Ia selalu mencari tahu tentang Yumna dengan caranya sendiri.
Duta memegang erat tangan Yumna tanpa menatap Yumna. Tatapan Duta serius pada wajah Ayah Roby karena Duta menunggu jawaban Ayah Roby.
Ayah Roby menarik napas dalam dan perlahan di hembuskan lalu meletakkan laat makannya dan menatap lekat pada Duta. Di meja makan tidak ada yang berani bicara apalagi menyela pembicaraan Ayah dan Bundanya.
"Datanglah bersama orang tuamu Duta. Pintu ini akan terbuka lebar. Ayah pikir kalian berdua memang cocok. Ayah justru ungin berterima kasih pada Duta karena berhasil menjaga Yumna dan merubah sikap Yumna yang manja dan kekanak -kanakkan bisa lebih dewasa dan mandiri. Kapan kedua orang tuamu siap datang?" tanya Ayah Roby pelan.
"Secepatnya Ayah. Ayah dan Bunda merestui?" tanya Duta pelan dan sopan.
"Siapa yang tidak mau punya menantu sebaik kamu. Tapi ingat, ini hqnya acara lamaran dan tunangan saja. Ayah belum memperbolehkan kalian menikah di usia muda. Menikah itu tanggung jawabnya luar biasa besar. Bukan sekedar menikah dan *** -***. Tidak begitu. Kalian harus lulus dulu, tunjukkan prestasi kalian dan kesuksesan kalian. Anggap saja pertunangan ini adalah langkah awal kalian saling menjaga karena kata menjaga itu sangatlah luas. Menjaga perasaan, menjaga secara fisik, menjaga hubungan agar stabil, menjaga komunikasi agar tidak salah paham. Belajar lah dulu. Menikahnya sesuai urutan, kita tunggu Kak Jone, Kka Dafa baru Yumna karena dia anak bungsu kesayangan Ayah," titah Ayah Roby pelan menasehati.
"Iya Ayah. Duta paham. Duta juga tidak mau buru -buru hanya ingin meyakinkan Yumna saja kalau hubungan kami ini serius bukan sekedar hubungan biasa," ucap Duta tegas lalu melirik ke arah Yumna yang tersenyum lebar menatap ke arah Duta juga.
Skip ...
Malam ini, Yumna di buat bahagia oleh kekasihnya. Tidak ada lagi keraguan di hati Yumna saat ini dalam menjalani hubungannya dengan Duta. Dulu banyak yang mengira hubungan mereka tak berlangsung lama karena Duta terlalu sibuk dengan urusan organisasinya. Tapi, selama ini Yumna menjalaninya dengan enjoy dan santai tanpa ada rasa tertekan. Hanya saja kalau sedang rindu rasanya tak bisa membendubg dan ingin segera bertemu lalu memeluk pemilik tubuh kekar dan tegap itu.
Rasanya malam ini tak mau berakhir agar setiap detik kebahagiaan yang sedang di rasakan Yumna tak sirna begitu saja. Malam ini tebtu ia akan bermimpi dnegan indah. Suatu kepastian hubungan yang sangat di inginkan oleh Yumna.
Skip ...
Duta sedang mengerjakan tugas maketnya yang sudah selesai habya butuh revisi sedikit agar terlihat estetik saja di lihat dari atas.
"Belum tidur sayang?" tanya Bunda Duta sambil membawakansatu gelas susu putih untuk putra tunggalnya.
Kebetulan Bunda Duta terbangun karena menunggu suaminya yang belum pulang dari perjalan dinas luar kotanya. Bunda Duta melihat kamar Duta masih menyala dan berinisiatif membawakannsusu dan cemilan untuk menemani lemburnya.
"Bunda ... Belum tidur. Masih kerjain tugas karean besok pagi harus di kumpulkan. Ayah belum pulang?" tanya Duta pelan sambil memandangi maketbhasil karyamya sendiri. Ia cukup puas dan menikmati hasil karyanya itu.
"Belum. Bunda lagi nunggu. Tadi telepon sudah ada di tol," ucap Bunda Duta pelan.
"Oh gitu," jawab Duta singkat.
Duta memang begitu. Cuek dan dingin tanpa terlihat berekspresi yang berlebihan. Semua terasa datar dan wajar saja.
"Yumna apa kabar? Sudah lama dia tidak main kesini," tanya Bunda Duta pelan.
"Gadis manja itu sibuk ospek sama ninton drama korea Bunda," ucap Duta pelan smabil terkekeh. Tiba -tiba saja bayangan Yumna mengisi otaknya. Duta selalu ingat Yumna yang tidak terima kalau di nasehati. Bibirnya akan mengerucut ke depan dengan rengekan manjanya.
"Itu karena kamu yang terlalu sibuk Duta. Kalau weekend kamu seharusnya ada waktu untuk Yumna. Jangan suka menggantungkan perasaan wanita. Wanita itu sifatnya menunggu kepastian bukan menunggu saja tanpa ada arah tujuannya. Coba ikutin Bunda. Lamar Yumna," titah Bunda Duta pelan.
Duta meletakkan maketnya dan menatao Bundanya.
"Ekhemm ... Duta sudah bicara pada Ayah Yumna kalau Duta akan datang bersama Ayah dan Bunda untuk melamar dan bertunangan. Boleh kan Bun?" tanya Duta pelan. Memang belum ada keputusan mutlak. Tapi Ayah dan Bunda Duta pernah menyarankan seperti itu. Itu karena keduanya memiliki hubungan yang sehat dan baik. Tidak pernah pergi menginal berduaan atau melakukan hal buruk dan negatif.
Bunda Duta selalu mengingatkan Duta untuk menghargai dan menjaga perempuan bukan malah merusak dan meninggalkannya begitu saja setelah manisnya di rampas dan ampasnya di buang.
Kedua mata Bunda Duta berbinar indah. Bunda Duta sangat menyukai Yumna. Yumna adalah gadis baik dan polos serat jujur. Gadis yang tidak lernah neko -neko dan selalu sopan.
"Kamu serius? Susah bilang sama Ayah Yumna? Lalu kapan? Weekend besok? Gimana? Mumpung Ayah ada di rumah. Jangan di tunda, kan sekalian silaturahmi," ucap Bunda Duta menasehati.
"Ekhemmm ... Malam minggu?" tanya Duta memastikan.
"Iya. Kamu harus cancel semua acara kamu. Kalau tidak mau bermasalah," ucap Bunda Duta pelan.
"Baiklah. Malam minggu," ucap Duta pelan.
Skip ...
Pukul lima pagi, Yumna sudah rapi dengan baju hitam putih dan tas slempang yang ia tenteng turun ke bawah.
"Pagi Bunda ...." teriak Yumna penuh semangat lalu mencium pipi Bundanya yang sedang sibuk memasak untuk menyiapkan sarapan pagi.
Bunda Sinta melihat aneh putri bungsunya yang tak biasa bangun pagi dan sudah rapi se -pagi ini. Yumna langsung membuat susu putih sendiri sambil bernyanyi riang. Sampai -sampai Bundanya tertawa dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu bahagia banget," tanya Bunda Sinta pelan.
Yumna yang sedang mengaduk susu pun menoleh ke arah Bunda Sinta dan tersenyum lebar sambil mengedipkan satu matanya.
"Ekhemm ... Kak Duta tadi malam telepon, katanya acaranya malam minggu. Ayahnya mau lerjalanan dinas lagi ke luar kota," ucap Yumna bahagia.
"Ohh gitu. Makanya bahagia. Ini mau belajar masak?" tanya Bunda Sinta mematikan kompornya dan memindahkan nasi goreng yang sudah matang ke dalam wadah besar.
Yumna menggelengkan kepalanya cepat.
"Gak. Cuma berbagi kebahagiaan aja," jawab Yumna terkekeh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments