Duta melajukan mobilnya dengan cepat. Ia sudah terlambat datang dan jangan sampai kedua kelyarga besar itu juga lelah menunggu yang berujung murka. Semoga saja, Ayah dan Bunda Yumna bisa paham dengan kesibukan Duta.
Tepat pukul sembilan malam Duta sampai di restaurant yang di tuju. Duta bergegas berlari menuju ruang VIP dan langsung membuka ruangan itu.
"Selamat malam. Maaf terlambat. Saya baru selesai rapat," ucap Duta dengan suara lantang dan keras memohon maaf atas keterlambatannya.
Semua mata memandang ke arah Duta. Mereka padahal sudah bersiap untuk pulang dan mengatur kembali acara pertunangan kedua anak mereka di lain waktu.
Duta berjalan ke arah meja bunda itu dan menatap Yumna yang sudah kecewa. Walaupun semburat kebahagiaan di pipinya terlihat tetap saja gadis manja itu jelas sedang merajuk karena Duta terlambat.
Ayah Roby langsung memeluk Duta sebagai tanda menerima Duta sebagai calon menatunya.
"Duta ... Kami tahu kamu pasti datang di tengah kesibukan kamu. Kamu memang lelaki bertanggung jawab. Tak salah Ayah menerima kamu sebagai calon menantu dan cocok untuk mendampingi Yumna, gadis bungsu Ayah," suara Ayah begitu tegas dan mantap membuat Duta merasa tenang.
"Terima kasih Ayah. Duta akan menjalankan semua amanah Ayah," ucap Duta bahagia.
Acara malam itu pun berjalan lancar walaupun telat. Acara tetap berjalan sesuai rencana walaupun ada sedikit rasa kecewa tapi hilag dengan penyematan cincin tunangan di jari manis Yumna. Betapa bahagianya seorang wanita di perlakukan manis seperti ini. Ia tak hanya di cintai dan di sayangi. Tapi juga di prioritaskan. Cincin emas yang sudah melingkar di jari manis di masing -masing jari mereka adalah suatu bukti keseriusan Duta pada Yumna.
Dengan acara lamaran dan tunangan ini hanya sebagai tanda hubungan mereka serius dan bukanlah hanya main main saja. Hubungan sepasang kekasih yang sudah di ketahui oleh keluarga besar dan ada restu dari dua keluarga besar.
"Syukurlah kalau kalian sudah meresmikan hubungan kalian. Ingat hubungan ini juga bisa salah paham dan putus jika tidak ada komunikasi yang baik," ungkap Ayah Duta tegas.
"Kamu harus bisa bagi waktu dengan baik. Pacar kamu sekarang bukan fakultas dan organisasi. Ada Yumna yang harus kamu perhatikan juga," ucap Bunda Duta yang membuat Yumna tersenyum simpul.
"Ayah hanya minta kamu bisa jaga Yumna dengan baik. Motivasi Yumna agar menjadi wnaita yang lebih baik lagi," pesan Ayah pada Duta.
"Siap Ayah. Duta pasti selalu ingat pesan Ayah," ucap Duta bahagia.
Skip ...
Semua sudah pulang dan sudah berada di rumah. Yumna ikut bersama Duta. Ayah Yumna mengijinkan mereka bersama sampai tengah malam dan Yumna harus sudah kembali. Mengingat Duta yang datang saja sudah terlalu larut.
Di dalam mobil, Yumna memutar musik kesukaannya dari Virgoun yang berjudul Bukti. Lirik lagunya mengungkap apa yang sedang ia rasakan saat ini. Duta dengan bangga memberikan suatu bukti bukan janji.
Tangan Duta memegang tangan Yumna erat. Ia menyetir dengan satu tangannya. Yumna menoleh ke arah Dita yang juga sedang melirik ke.arah Yumna denahn senyum lebar mempesona.
"Belajar jadi wanita yang lebih baik lagi," ucap Duta pelan menasehati.
"Maksud Kakak?" tanya Yumna lirih.
"Harus bisa bangun pagi tanpa di bangunkan oleh Bunda. Harus bisa melakukan sendiri tanpa mereka pada Kak Dafa dan Kak Jone. Jangan buat Ayah lelah memikirkan anak gadisnya yang masih manja," titah Duta pada Yumna. Yumna mengangguk menurut setiap nasihat yang di ucapkan Duta.
"Kak ... Kenapa bisa telat datang? Bukankah acara ospek selesai dari sore? Memangnya kalau brifing selama itu? Hampir setengah hari di kampus?" tanya Yumna menggelitik Duta.
Deg ...
Wajah Duta berusaha tenang dan tetap tersenyum.
"Banyak hal yang harus Kakak kerjakan Yumna. Mungkin kalau kamu menyukai organisasi, kamu akan tahu betapa sibuknya menjabat salah satu jabatan penting," ucap Duta pelan.
"Jabatan penting? Seperti Kakak? Jadi Ketua BEM? Gitu? Terus jadi idola? Tebar pesona? Banyak perempuan yang nge- fans terus deket sama Kak Duta, gitu?" tanya Yumna penasaran dengan jawaban yang akan di ungkap Duta sebagai pembelaan.
"Wajah Kakak terlihat seperti pria murahan yang suka tebar pesona?" tanya Duta malah membalikan pertanyaan yang lagi -lagi membuat Yumna terdiam seketika tak bisa menjawab apapun.
"Entah. Yumna kan jarang pergi dengan Kakak. Tidak tahu tentang organisasi juga dan memnag Yumna tidak punua kemamluan seperti itu," ucap Yumna pelan. Ia merasa insecure. Kepercayaan dirinya tiba -tiba saja hilang dan selalu menganggap tidak pantas bersanding dengan Duta.
"Nantilah kalau ada waktu yang pas. Kamu ikut kakak. Biar kamu tahu berorganisasi itu seperti apa. Kamu tahu kan, organisasi sudah mendarah daging bagi Kakak sejak kita SMA," tanya Dura pelan.
"Iya. Tapi dulu ...." ucapan Yumna tak dilanjutkan.
"Tidak sesibuk ini? Ini karena ada ospek. Biasanya juga gak sesibuk ini keculai mau ada program aja," ungkap Duta mencoba menenangkan Yumna.
Sulit rasanya menjelaskan pada Yumna yang anti organisasi dan lebih nyaman rebaham di rumah sambil nonton drakor. Mau di jelaskan berapa kali kuga gak akan paham sma sekali. Karena Yumna sama sekali tidak pernah berkecimpung di dunia itu.
Yumna tak menanggapi dan menatap lurus ke depan. Ada perasaan tak biasa. Bukan rasa kecewa lagi tapi perasaan takut kehilangan. Duta mengulum senyum dan melepas gemggaman erat di tangan Yumna.
"Masih mau jalan -jalan? Atau sudah mau pulang?" tanya Duta sambil menatap jam tangan untuk melihat waktu malam ini.
"Masih ada waktu?" tanya Yumna pelan.
"Baru jam sebelas. Tapi sudahlah besok lagi. Besok pagi kamu bisa kesiangan bangunnya. Oke," ucap Duta pelan.
"Iya Kak," jawab Yumna menurut.
Mobil Duta sudah masuk ke dalam pelataran rumah Yumna. Ia memulangkan Yumna sebelum waktu yanh di tentukan oleh Ayah Yumna. Mobil Duta sudah berhenti dan mesin mobil itu di matikan. Setidaknya Duta ikut masuk dan berpamitan
"Malam minggu jadi pergi kan, Kak?" tanya Yumna pada Duta.
"Iya. Kakak janji kan ngajak kamu nonton dan makan malam," ucap Duta pelan sambil melepaskan sabuk pengaman pada tubuh Yumna.
Kedua wajah mereka sangat dekat sekali. Sebenarnya ini bukan pertama kali mereka sedekat ini. Tapi malam ini terasa berbeda sekali. Mungkin memang karena suasana malam yang cenderung gelap, sunyi dan sepi.
Klek ...
Sabuk pengaman itu terbuka. Duta menghirup aroma wangi parfum Yumna yang khas. Malam ini Yumna terlihat sangat cantik sekali. Wajah cantik alami yang di poles make up tipis sesuai dengan umurnya dan tubuhnya yang di balut dengan gaun cantik berwarna pink.
Duta menatap Yumna. Degub jantung Yumna semakin terasa cepat dan hatinya mulai berdesir.
Tangan Duta mengulur dan membenarkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Yumna.
"Na ... Kamu cantik sekali malam ini," puji Duta mendamba.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments