Jone dan Dafa tertawa keras. Membully adik kesayangannya itu memanglah asik. Apalagi kalau Yumna ada di sana. Wajahnya yang berkulit putih tentu akan memerah seperti kepiting rebus.
Bunda pun akan marah pada mereka karena terus menggoda adiknya. Asal tidak di depan Ayahnya. Ayahnya bjsa marah besar. Secara anak manja itu adalah anak kesayangan Ayahnya.
"Dafa berangkat Bun. Nanti Dafa ijinkan Yumna pada Duta," ucap Dafa sambil pamit kepada Bundanya.
Begitu juga dengan Jone sebagai anak tertua. Ia berpamitan untuk berangkat ke kampus.
"Jone berangkat ya Bun. Pulang malem kayaknya sekalian ada makrab. Siapa tahu, ada yang nyantol buat jadi mantu. Iya kan?" goda Jone pada Bundanya.
"Kerja dulu. Baru pada nikah. Mau di kasih makan apa nanti istri kalian," titah Bunda pada kedua anak lelakanya yang suka bertingkah aneh bin ajaib.
"Cari jodoh dulu Bun. Biar semangat cari uangnya. Itu baru bener. Kayak Duta tuh, boleh tunangan duluan," ucap Dafa iri.
"Lha Duta sudah siap mungkin. Secara dia anak tunggal. Gak mungkin kan, Ayah dan Bunda nolak orang mau lamar dan ajak serius adik perempuan kamu. Kalau di tolak bisa bahaya," ucap Bunda menjelaskan.
"Tapi kan Duta belum kerja Bun. Kalau nanti Yumna hamil, gimana?" tanya Jone sengaja membuat Bundanya pusing kembali.
"Husss ... Kamu itu ngomongnya. Duta gak gitu ah. Makanya Ayah percaya, kareba Duta anak baik. Mereka pacaran lama juga gak pernah aneh -aneh. Pulang malem juga gak pernah. Bunda suka sama Duta," ucap Bunda tetap membela calon menantunya itu.
"Lhaa Bunda ... Udah ah pergi sebelum Bundanya bertanduk," ucap Jone segera berlari ke arah depan setelah menyalami Bundanya.
Dafa pun ikut berlari dan masuk ke dalam mobil sebelum Bundanya naik tensinya. Bunda hanya menggelengkan kepalanya pelan. Kedua anak lelakinya memang bukan termasuk anak nakal. Tapi memang tingkat keusilan dan kejahilannya cukup menguras energi dan pikiran kalau di anggap serius.
Tak berselang lama, sekitar setengah jam kemudian suara cempreng Yumna pun terdengar keras berteriak turun ke bawah dengan tergesa -gesa. Ia masih menggunakan gaun pink yang semalam di pakainya.
"Bunda!! Kok gak ada yang bangunin Yumna sih!!" teriak Yumna kesal.
Ini sudah pukul tujuh lebih. Tidak mungkin Yumna ke kampus. Bisa -bisa ia jadi bakwan gulung di kampus. Belum lagi harus ketemu Duta. Bisa di jadikan lemper ayam betul, nantinya.
Bunda yang masih mencuci piring pun santai menanggapi anak gadisnya yang manja itu.
"Bunda ... Bunda denger gak sih? Yumna teriak dari atas!" teriak Yumna kesal.
"Denger," jawab Bundanya pelan tanpa menatap Yumna yang masih marah.
"Kok Bunda diem aja sih? Gak jawab apapun?" tanya Yumna kesal.
"Lha ... Bunda harus jawab apa?" tanya Bunda pelan yang sudah selesai mencuci piring.
"Ya Bunda bangunin Yumna dong. Mana udah jam tujuh lagi. Nanti Yumna bagaimana bilang sama Kak Duta?" tanya Yumna lirih.
Yumna duduk di kursi dan diam melipat tangannya di meja makan.
Bunda membawa satu gelas susu kesukaan Yumna agar gadis itu lebih tenang dan santai.
"Di minum selagi hangat. Gak usah marah -marah malah buang -buang energi saja. Mending minum susu biar hatimu tenang dan stabil," bisik Bunda Yumna.
Yumna menatap susu hangat yang ada di depannya. Perutnya memang sudah minta sarapan sejak tadi. Ia terbangun pun juga karena lapar. Tadi malam tak sempat makan karena cemas Kak Duta tak kunjung datang.
Glek ...
Susu putih itu langsung di teguk hingga habis tak bersisa di dalam gelasnya. Punggung tangannya mengelap asal di arah mulutnya yang terasa masih ada bekas susunya.
"Hemm ... Sudah kuliah lho. Masih kayak anak SD. Pakai tissu, Yumna. Kamu sudah besar, sudah tunangan juga. Gak mungkin sikap kamu terus -terusan seperti anak -anak begini. Iya kalau hanya di depan Bunda. Kalau kamu lakukan itu di depan Bundanya Duta? Kamu pasti malu dan mereka juga malu punya menantu seperti kamu," titah Bunda menasehati.
Bunda Yumna sudah berkali -kali mengingatkan Yumna. Tapi Yumna masih saja sama dan tidak berubah.
Yumna mengambil tisu dan mengelap bersih bekas susu di bagian mulutnya.
"Nah gitu ... Jangan seperti anak kecil terus. Belajar menjadi anak dewasa," titah Bunda Yumna.
"Yumna ke atas dulu Bun. Mau mandi," ucap Yumna pelan.
Yumna segera naik ke atas. Siang ini ia haris siap kena omel Duta perihal tak masuk. Duta adalah oranh yang di siplin tinghi terhadap waktu dan tugas.
Yumna masuk ke.dalam kamar dan melepas gaun pink yang di pakainya lalu mandi.
***
"Duta!!" panggil Dafa pada Duta.
Duta menoleh ke arah Dafa.
"Iya Kak. Ada apa?" tanya Duta pelan pada calon Kakak iparnya itu. Mereka sudah sering berada dalam organisasi yang sama. Jadi mereka kenal tak hanya sebagai saudara saja tapi juga sebagai partner kerja dalam organisasi kampus.
"Yumna gak masuk hari ini," ucap Dafa pelan meminta ijin pada Duta.
"Kenapa Kak? Sakit?" tanya Duta bingung. Tadi malam masih baik -baik saja. Kenapa sekarang tidak masuk. Mustahil bukan kalau sakit.
"Masih di alam mimpi. Mungkin dia masih memimpikan arjunanya datang menjemput," ucap Dafa terkekeh.
"Masih tidur? Kesiangan? Heh ... Kebiasaan," gerutu Duta dengan wajah datar. Bukan kali pertamanya begini. Sudah sangat sering sekali, bukan?
"Tunangan kamu tuh. Lagian kamu kok mau sih sama Yumna yang manja dan masih anak -anak," tanya Dafa pada Duta pelan.
"Bukankah cinta itu gila. Mencintai itu bodoh. Yumna selalu membuat Duta rindu. Suara cemprengnya malah memotivasi Duta untuk terus berusaha. Manjanya Yumna malah membuat Duta untuk terus menjaganya dengan baik. Cinta itu hadirnya tiba -tiba, tidak akan hilang kalau keduanya menginginkan. Duta mencintai Yumna tanpa syarat apapun. Kelebihan Yumna untuk menutup kekurangan Duta dan kelebihan Duta untuk menutup kekurangan Yumna," jelas Duta dengan sabar.
Dafa hanya melongo dan diam seketika.
"Sejak kapan pindah fakultas bahasa? Puitis banget," ucap Dafa dengan senyum manisnya.
"Kak Dafa suka gitu. Nanti Duta mampir ke rumah. Kalau sudah selesai acara," jawab Duta pelan.
"Jangan berjanji Duta. Kalau sekiranya kamu memang belum bisa menepati. Kamu tidak tahu, Yumna sering menangis jika kamu terlambat datang atau membatalkan acara dengan tiba -tiba karena alasan sibuk. Dia sudah dandan dan bersiap diri. Menunggu dengan senyum berakhir dengan tangisan. Bukan sekali atau dua kali. Bahkan berkali -kali," tegas Dafa pada Duta.
"Maaf Kak. Bukan bermaksud mempermainkan perasaan Yumna. Memang kesibukan Duta yang tak bisa di tinggalkan. Makanya Duta mau tunangan secepatnya karena hal ini. Agar Yumna tahu kalau Duta memang serius dan sama sekali tidak mempermainkannya," ucap Duta lirih.
Dafa hanya mengangguk kecil sebenarnya Dafa tidak mau ikut campur urusan Yumna dan Duta. Tapi ... Selama ini, Yumna sering menangis di kamar Dafa dan bercerita kalau Duta sangat sibuk sekali. Pernah chat nya sama sekali tak di balas bahkan tak di baca. Mungkin karena ketumpuk oleh chat grup organisasi atau ketumpuk oleh chat lain dengan teman se -organisasi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments
Kartiani
maaf kak sebelum cerita ini di buat ada cerita sebelumnya gak waktu mereka SMA aku penasaran
2023-10-15
1