Degub kantung Yumna begitu keras berdetak hingga suaranya agak terdrngar lirih di telinga Duta.
"Kamu gugup?" tanya Duta lembut.
Yumna hanya mengangguk kepalanya, mengiyakan ucapan Duta barusan.
"Kamu takut?" tanya Duta lembut menatap lekat kedua mata indah Yumna.
Yumna kembali menganggukkan kepalanya pelan.
"Sama Kakak juga takut?" tanya Duta yang makin mendekatkan wajahnya pada wajah Yumna.
Hati Yumna makin berdesir sempurna. Ia takut sekali.
Tangan Duta menguspa pelan pucuk kepala Yumna dan mengacak pelan.
"Tidurlah Na. Mata kamu sudah merah dan pasti kamu sudah ngantuk karena lelah," titah Duta yang menjauhakn wajahnya lalu mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu mobilnya untuk mengantarkan Yumna sampai depan pintu masuk rumahnya.
Kedua mata Yumna mengerjap pelan. Ia sudah takut bila Duta akan melakukan sesuatu di luar kendalinya. Namanya manusia tidak ada yang tahu. Sikap dan sifatnya bisa berubah setiap waktu tergantung pada siapa dia berhadapan atau tergantung keadaan dan kondisi yang terjadi saat itu.
Yumna menarik napas dalam dan menghembuskan pelan napas itu. Ia masih takjub dengan sikap Duta baru saja. Duta sudah keluar dari mobil dan membuka kan pintu mobil untuk bidadari kesayangannya.
"Terima kasih Kak Duta," cicit Yumna yang manja. Tapi itulah Yumna dengan suara manja seperti anak -anak.
Yumna berjalan lebih dulu dan mengetuk pintu rumahnya. Kebetulan Bunda Yumna yang membukanya.
"Bunda ... Maaf agak kemalaman. Duta mau langsung pulang Bunda. Slaam bhat Ayah," ucap Duta berpamitan dengan sopan.
"Iya Duta. Hati -hati di jalan ya," ucap Bunda Yumna.
Bunda Yumna pun masuk ke dalam terlebih dahulu. Ia tidak mau mengganggu Duta dan Yumna yang mungkin ingin bicara sesuatu.
"Kakak pulang ya. Kamu tidur jangan begadang kayak biasanya. Kakak belum cek lagi ponsel kamu. Jangan -jangan sudah instal aplikasi untuk nonton drakor?" tanya Duta posesif.
"Gak Kak. Yumna mau kayak Kakak. Belajar organisasi," ujar Yumna lirih. Agak ragu tapi Yumna harus belajar dan berusaha keras.
"Cobalah ikut organisasi. Kamu akan berkembang di sana," ucap Duta menasehati.
"Iya. Kak Duta hati -hati ya," ucap Yumna.
"Iya. Permisi. Selamat malam," pamit Duta pada Yumna.
Yumna menatap Duta hingga mobil Duta benar -benar pergi dari halaman rumah Yumna dan menghilang dari pandangannya.
Yumna naik ke lantai atas menuju kamarnya. Ia menatap Kak Dafa yang masih asik menonton televisi sambil tertawa sendiri dan menghabiskan satu toples cemilan keripik singkong balado.
"Kak Dafa," sapa Yumna yang tiba -tiba duduk di samping Kak Dafa dan ikut mencomot keripik singkong balado itu.
"Hemm anak manja. Kamu sudah pulang. Duta mana?" tanya Kak Dafa pelan sambil mencari -cari keberadaan Duta.
"Udah pulanglah. Emang rumah Kak Duta di sini?" cicit Yumna asal.
"Ya kan ... Kalian sudah setengah SAH, sudah tunangan tuh. Cieeee .... Kak Dafa aja masih jomblo," ucap Dafa pelan sambil meneguk minuman kaleng yang bersoda ringan itu.
Glek ...
"Dih ... Setengah SAH. Kata Bunda kalau pacaran gak usah aneh -aneh. Sekali coba nanti ketagihan," ucap Yumna mengikuti pesan Bunda padanya.
"Hahah ... Bunda kok di dengerin. Kita kan anak muda," ucap Dagmfa yang mukai menyesatkan.
"Parah Kak Dafa. Ngajarun gak bener nih. Pantas jomblo akut. Gaya pacarannya gitu bikin cewek gak betah," ucap Yumna malas bercengkerama dengan Kak Dafa.
Yumna bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Dafa di ruang tv sendirian.
"Oyy ... Gak usah ngambek juga kali. Dasar anak manja," ucap Dafa setengah berteriak.
"Bodo amat. Yumna mau lurus -lurus aja. Gak mau sesat kayak Kak Dafa," ucap Yumna sambil terkekeh dan masuk ke dalam kamarnya.
"Hey ... Ngajakin duel nih bocah manja. Sini," gertak Dafa bercanda.
Yumna hanya tertawa keras dan menutup pintunya rapat. Ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk dengan sprei bergambar kepala hello kitty. Sepatu high heelnya sudah di lepas dan kini tubuh itu terlentang puas dan lega rasanya berada di lasur empuk miliknya.
Kasur yang sudah bertahun -tahun menemani tidurnya hingga pulas dan nyenyak.
Yumna menatap langit -langit kamar dan menaikkan tangan kirinya dengan jari -jari yang di rentangkan. Terlihat jelas cincin tunangan pemberian Duta yang baru saja beberapa jam lalu di sematkan di jari manis Yumna. Senang sekali rasanya. Penantian akan sebuah status pun sudah ia dapatkan. Restu dari dua keluarga pun juga sudah di rengkuhnya. Tapi ... Kenapa sekarang malah ragu. Bukankah ini yang selama ini di harapkan oleh Yumna.
Pikiran Yumna semakin tak karuan dan bercabang. Ia mulai resah dengan hubungannya yang terasa mengambang walau sudah ada status sebagai tunangan. Jangan sampai status ini malah merugikan Yumna sendiri.
Statusnya bertunangan tapi pada kenyataannya mereka jalan sendiri -sendiri dengan kesibukan mereka dan teman mereka masing -masing.
Ponsel Yumna berbunyi. Tanda satu pesan singkat masuk. Yumna membukanya dan membaca lalu membalas.
Duta memberi kabar bahwa ia sudah sampai di rumah, Yumna pun hanya membalas singkat iya, selamat istirahat.
Sampai pada akhirnya Yumna tertidur pulas di kasur emluknya tanpa pakai selimut seperti biasanya. Yumna terlalu lelah.
Skip ...
"Yumna!! Yumna!! Anak manja!! Bangun woy ... Mau ke kampus gak? Bisa kena tegur dan dapat hukuman ciuman mesra dari Pak Ketua BEM" teriak Kak Jone keras smabil menggedor pintu kamar Yumna yang terkunci rapat.
Tidak biasanya kamar tidur Yumna di kunci. Entah ada emas berlian tersembunyi sampai pintu kamar itu di kunci rapat.
Suara keras itu pun juga tak menggerakkan tubuh Yumna sedikit pun. Telinganya tertutup rapat dengan earphone yang menempel untuk mendengarkan musik sebagai penghantar tidurnya.
Semua keluarganya bergantian membangunkan Yumna sampai ponsel Yumna pun berdering beberpa kali tapi tetap saja malah membuat pulas gadis itu.
"Belum bangun juga?" tanya Bunda pada Kak Dafa yang turun ke bawah untuk sarapan pagi.
"Belum Bun. Udah kayak kebo anak manja tidurnya," ucap Dafa mengambil selembar roti dengan selai srikaya yang kemudia ia olesi hingga penuh.
"Jone ... Bangunkan adikmu. Ini ospek terakhir. Kasihan," titah Bunda pada Jone yang terlihat akan turun ke bawah.
"Iya Bun," jawab Jone dari atas.
Jone terus mengetuk pintu kamar Yuman keras seperti orang yamh sefang menagih hutang uang kontrakan yang sudah setahin tidak bayar. Tapi tetap saja anak manja di dalam kamar itu tidak bergegas membuka pintu.
"Pingsan kali Bun? Terlalu bahagia habis tunangan," ucap Jone tertawa. Ia kesal sendiri membangunkan adiknya yang tak kunjung bangun.
Jone pun turun ke bawah. Ia tidak mau terlambat ke kampus. Ada bimbingan skripsi dengan dosen killernya yang tak kunjung meloloskan bab empatnya.
"Belum bangun juga? Itu gak apa -apa gak masuk ospek?" tanya Bunda pada kedua anak lelakinya.
"Nanti Dafa bilang sama Duta. Bilang aja sakit," ucap Dafa santai.
"Kalau Duta tanya? Sakit apa? Mau jawab apa?" tanya Jone lekat pada Dafa.
"Sakit jiwa!!" tawa Dafa keras menggema.
"Kok sakit jiwa. Itu adik kamu lho," ucap Bunda mengingatkan.
"Iyalah sakit jiwa. Ketawa lihat cincin. Tadi malam gitu Bun," ucap Dafa berbohong.
"Masa sih? Itu bisa -bisa kamu saja," ucap Bunda pelan sambil membereskan piring kotor suaminya yang sudah berangkat barusan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 205 Episodes
Comments